Posted in Edukasi, Essai

Kemiskinan Lema

Dalam beberapa tulisan yang saya dapati kerap saya menemui kemiskinan lema. Apa pasal terjadi kemiskinan lema dalam menerjemahkan apa yang ada di pikiran? Tentu ada beberapa jawab yang dapat saya sodorkan. Salah satunya adalah kurangnya daya baca. Daya baca berkorelasi pada kapasitas diksi yang dimiliki. Dengan semakin luas, beragam bahan bacaan yang pernah diserap maka memungkinkan banyaknya pilihan kata yang dimiliki. Dan itu dapat menjadi distingsi. Suatu tema yang dibedah dengan pilihan kata yang lebih beragam dan memikat akan memiliki daya pesona lebih dibandingkan tulisan yang mengalami keterbatasan lema.

Oleh karena itu banyak-banyaklah membaca untuk memperbanyak amunisi lema. Maka dengan kebermelimpahan lema, untuk mengekspresikan sesuatu akan banyak metode yang dimiliki. Ingat-ingat juga persamaan dan lawan kata. Dengan begitu maka diksi yang dipakai tiada akan monoton, dan terus menerus itu saja dari awal sampai akhir karangan.

Defisit lema dalam pandangan saya juga disebabkan oleh budaya mengarang yang tidak digalakkan semenjak dini. Menulis memerlukan latihan. Dan latihan yang terbaik adalah dengan menulis. Dengan mengajarkan kemampuan menulis, maka akan terbiasa untuk mengekspresikan berbagai hal dengan tulisan. Tentunya ini akan membuat tulisan tiada lagi menjadi menu yang asing dalam keseharian. Kemiskinan lema kerap saya temui pada beberapa orang yang memang jarang mengekspresikan pemikirannya melalui tulisan. Disinilah sistem pendidikan baik formal maupun informal dapat menyokong kekayaan khazanah bahasa untuk terkodifikasi melalui jalur literasi.

Lema yang lebih kaya juga dalam hemat saya dapat dilatih. Salah satunya adalah mencatat. Saya sendiri kerap mencatat quote yang menarik dan istilah yang baru saya dengar. Dengan quote yang menarik saya mempelajari pola untuk menyusun kalimat yang baik. Sedangkan untuk istilah baru, digunakan untuk memperkaya memori internal lema saya dan dapat digunakan sewaktu-waktu dalam tulisan. Tentu saja pada akhirnya daya lema berhulu pada daya baca dan daya tulis yang menjadi menu harian dari kehidupan. Selamat membaca dan menulis.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s