Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi

Membaca Novel Jepang

Pada tanggal 8 Maret 2013 tempo hari saya menamatkan membaca novel the Tokyo Zodiac Murders. Apa gerangan yang membuat saya membaca dan menamatkan novel ini? Terus terang keputusan saya dahulu untuk membeli novel the Tokyo Zodiac Murders disebabkan oleh beberapa faktor. Ada faktor cover yang menarik. Paduan warna dan tampilan yang bagi saya excellence secara estetik menjadi magnet tersendiri yang membuat mata dan pikiran saya menuju buku karangan Soji Shimada ini. Ini sekaligus menabalkan keyakinan saya untuk 180 derajat dengan terminologi don’t judge a book by its cover. Pada kenyataannya cover memegang saham tertentu dalam keputusan membeli atau tidak membeli buku.

the tokyo zodiac murders

Alasan lainnya adalah sinopsis di belakang buku yang menarik adanya. Berikut saya kutipkan:

Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth-sang wanita sempurna-dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr.Watson versinya sendiri-seorang ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka-dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.

Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

Membaca novel the Tokyo Zodiac Murders memberikan saya dimensi berbeda dalam pembacaan novel. Saya pikir itu ada kaitannya dengan asal negara karyanya. Tiap negara memiliki karakteristiknya. Dan hal tersebut mempengaruhi daya kreasi dan daya cipta. Maka menikmati karya yang beragam dari belahan dunia merupakan suatu kekayaan intelektual. Dan frasa buku sebagai jendela dunia seperti menemui relevansinya disini.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s