Posted in Essai, Politik

Monokrom Informasi

Apa kiranya yang menjadi keunggulan dari demokrasi? Saya pikir salah satunya adalah pilihan, alternatif, berkembangnya kontestasi dan kreatifitas. Dengan demokrasi, warna menjadi beragam. Negeri ini patut bersyukur bahwa demokrasi substansial terus bergulir dan terjadi. Salah satunya dapat dilihat dengan perkembangan dari dunia maya. Kini setiap dari kita dapat menyuarakan aspirasi, entah itu lewat twitter, facebook, blog, dan lain sebagainya.

Alangkah membosankannya hidup, apabila menu pemikiran yang diberikan itu-itu saja. Informasi disajikan dengan monokrom. Tak ada perbantahan yang berarti. Segala alternatif lainnya diberantas. Selama masa Orde Baru ada budaya sensor, ada juga bredel. Hal itu menyebabkan ruang artikulasi ide menjadi terbatas. Simak misalnya tuturan dari Eep Saefulloh Fatah dalam pengantar bukunya Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru. Buku tersebut diangkat dari skripsi Eep yang dikerjakannya selama 4 tahun. Berikut saya kutipkan pendapat dari Eep (Eep Saefulloh Fatah, Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru, hlm. XVIII):

Pembiaran ini dilakukan untuk membuat naskah ini bisa bercerita tentang satu zaman ketika para mahasiswa dan akademisi dikekang oleh banyak sekali pembatasan. Pada masa itu, kebebasan adalah barang mahal yang tak terbeli. Aktivitas penulisan, pencarian data, riset, dan berekspresi pun mesti dilakukan di ruang manuver yang serba sempit.

Dari ide, pemikiran, memang dapat menyentakkan kesadaran. Tulisan pun dapat menjadi kategori subversi bagi penguasa yang kelewat sensitif. Maka cara kerja kekuasaan ialah dengan memenangkan apa yang diistilahkan oleh Asvi Warman Adam sebagai hegemoni makna dan wacana. Hal itu tercermin dalam labelling yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru terhadap gerakan oposisi. Ekstrem kanan, ekstrem kiri, gerakan pengacau keamanan, merupakan sejumlah terminologi yang digunakan. Dengan begitu masyarakat luas telah dibuat berjarak dengan gerakan oposisi. Masyarakat juga disuguhi untuk memusuhi, memandang gerakan oposisi sebagai patologi.

Undang-Undang No.40 tentang Pers merupakan salah satu buah dari reformasi. Undang-Undang tersebut memberikan jaminan hukum terhadap wartawan dalam menjalankan profesinya, termasuk kemerdekaan membentuk organisasi wartawan lebih dari satu. Kini media dapat bebas menurunkan tulisan, mengkritisi pemerintahan. Publik memperoleh referensi yang beragam tentang suatu duduk perkara. Sejumlah acara dialog yang mempertemukan dua kubu yang berbeda pandangan menjadi acara yang diminati publik. Sebuah hal yang rasanya tiada terjadi di era pemerintahan despotik, otoriter, dan tirani. Benar adanya reformasi memang masih menyisakan sejumlah celah, agenda yang belum terselesaikan. Namun kita juga patut bersyukur akan kebebasan informasi yang kini kita dapatkan. Seperti kata Francis Bacon bahwa knowledge is power. Dengan mekanisme demokrasi, pengetahuan dapat tertampil dengan tone, warna yang berbeda. Dan disitulah letak keunggulannya. Disitulah letak kekuatannya.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s