Posted in puisi, sastra

Pada Sayap Jiwanya

Kutitipkan pelangi pada seorang dara,
Pada sayap jiwanya

Advertisements
Posted in puisi, sastra

Puisiku Mati Sebelum Menemukan Kalimat Pertamanya

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Mungkin bimbang
Mungkin bosan dengan kebosanan
Letih menari bersama kata

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Mungkin aku jengah
Mungkin aku meragu akan kataku
Terkikis daya membentuk senyawa bernama kalimat

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Laju warna-warniku yang mati
Arus ide di kepala yang mangkrak
Aku kehilangan sentuhan seorang pujangga

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Semenjak kehilangan kamu dari sisi
Loker inspirasiku memucat
Lalu pekat terikat

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Semenjak terbangun dan kutahu kau tiada dalam orbit mimpiku
Ketika malam, selimut, bertaut dengan insomnia nelangsa
Aku resah dalam keresahanku

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Semenjak kamu tidak membisiku lema-lema keajaiban
Aku menjadi biasa
Daya sastraku menjadi abu sisa pembakaran
Kehilangan elan gelora

Sudah lama aku tidak membuat puisi
Semenjak genggamanku menggenggam udara kosong
Terkulai aksara di mangkuk kebimbangan
Tak ada yang menggedor-gedor rasa

Embun pagi,
Sunyi dini hari,
Hujan yang mengharmoni,
Sudah lama aku tidak membuat puisi

Karena aku bimbang
Kehilangan pegangan
Arah, denyut nadi, separuhku
Aku terdiam di depan kanvas kata-kata
Puisiku mati sebelum menemukan kalimat pertamanya

Posted in Aku, Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan, Sosial Budaya

Boneka Voodoo

Pada 7 Juli 2013 tempo hari saya berkesempatan pergi ke Popcon Asia. Bertempat di Jakarta Convention Centre pada tahun ini tema yang diangkat adalah Cross-Dicipline Success Story. Pergi ke suatu tempat dengan membawa buah tangan merupakan upaya terbaik untuk membekukan memori. Saya pun membeli Watchover Voodoo Doll. Apa yang terbetik di pikiran Anda ketika mendengar frasa “boneka voodoo”. Mungkin mistis, gelap, jahat, musuh, balas dendam, merupakan berbagai kata yang dapat memberikan penjelasan mengenai boneka voodoo.

Tentu saja Watchover Voodoo Doll tidak menjual boneka voodoo yang seperti lazim ada di benak kita sekalian untuk melakukan “tindakan” terhadap musuh. Saya kutipkan dari keterangan mainannya: Watchover Voodoo is for fun and if by keeping one of these dolls with you it helps with any aspect of your life then it is a good thing.

watchover voodoo doll

Persepsi, definisi memang dapat bergeser adanya. Semisal mengenai vampir yang menemukan definisi berbeda pada diri Edward Cullen. Singkirkan peti mati, terbakar karena sinar matahari, bawang putih, predator yang kejam. Edward Cullen menjadi sosok vampir yang begitu dicintai dengan sejumlah spesifikasi yang ok bagi kaum hawa. Ia tampan, berbudaya, “vegetarian”, pecinta musik Claude Debussy.

Begitu juga persepsi, definisi ketika melihat Watchover Voodoo Doll. Ada persepsi, definisi yang bergeser dari segala keangkeran, kekelaman, pembalasan dendam dari boneka voodoo yang seperti lazim terdengar. Yang hadir adalah boneka voodoo dalam tampilan yang simpatik, unyu, dan membawakan pesan kebaikan. Saya tidak perlu membayangkan untuk menusuk dengan jarum, mematahkan tangan atau kaki dari boneka voodoo ini. Melainkan menjadi koleksi mainan yang menarik adanya.

Pesan baik dari boneka voodoo yang saya beli adalah sebagai berikut: To help give you strenghth to fight for all the things you believe in. Boneka voodoo yang saya beli bertemakan gladiator. Pesan lainnya ialah dari boneka voodoo yang berwarna pink: To get rid of unwanted love interest and watchover my feelings. Demikianlah pada beberapa hal kita harus berterima kasih kepada kreativitas, kapitalisme yang mampu mengemas segala sesuatu menjadi menarik dan layak menjadi buah tangan.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Pulang

Bulan puasa telah tiba di negeri ini. Budaya mudik untuk kemudian menjadi tradisi yang membungkus pada akhir Ramadhan. Jakarta pun menjadi sepi ketika akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal. Jalan-jalan lenggang adanya. Populasi kota ini menyusut dengan drastis. Di Amerika Serikat tradisi mudik macam begini muncul pada event thanksgiving. Tentunya bagi para perantau kembali ke kampung halaman, tempat diri ketika dahulu kecil memberikan secercah emosi tersendiri.

Pulang. Itulah mungkin salah satu frasa yang terbetik selepas saya menonton film The Lone Ranger (2013). Saya tiada tahu apakah sidang pembaca menonton hingga usai film The Lone Ranger. Saya terbiasa untuk agak lama keluar dari gedung bioskop dan biasanya menjadi penonton terakhir yang bertahan di ruang pemutaran film (para petugas kebersihan biasanya ‘mengusir’ saya dengan tatapan dan gesture mereka). Setelah rangkaian nama, ternyata film The Lone Ranger masih menyisakan potongan gambar. Bagaimana Tonto (Johnny Depp) yang berjalan ke hamparan padang pasir diantara batu-batu yang menjulang. Ia pulang.

Kisah Tonto dalam film tersebut juga merupakan sebuah upaya untuk pulang. Bagaimana Tonto muda yang terkelabui oleh muslihat licik dari Butch Cavendish dan Cole. Dengan barter arloji murahan, Tonto memberikan lokasi tempat bongkahan perak yang luar biasa banyaknya. Ketamakan dua manusia dari Barat itu untuk kemudian membantai, memberangus perkampungan tempat tinggal Tonto. Tonto pun bertekad untuk menuntaskan kedua orang muslihat kata tersebut di tanah kelahirannya, tanah tempat ia kembali pulang.

Namun cerita Tonto adalah kisah kepedihan bagi orang yang merindukan pulang. Ia adalah satu-satunya manusia yang tersisa di perkampungan tempat tinggalnya. Selebihnya musnah. Perkampungannya secara fisik pun telah menjadi bara abu. Pun begitu ketika Tonto dan John Reid ditangkap oleh sekawanan Indian. Sekawanan Indian tersebut melawan dengan gagah berani. Dan mereka mati dengan agung. Mesiu, senapan mesin menjadi “jembatan” yang membawa mereka menuju alam baka. Yang mereka perjuangkan adalah tanah mereka. Tempat kelahiran, tempat mereka pulang.

the lone ranger

Atas nama modernisasi, connectivity, rel kereta dibangun. Ilusi dihidupkan. Suku Comanche dituduh telah melanggar perjanjian dengan menyerang para kulit putih. Yang sesungguhnya terjadi adalah para bandit yang disewa oleh pegawai dari perusahaan kereta api. Bandit itu menyaru menjadi suku Comanche, menjadi Indian. Itu semua untuk memberikan legitimasi aneksasi dari kaum kulit putih terhadap teritori kaum Indian.

Ketika seorang ranger bertanya kepada Tonto sewaktu tertangkap. Percakapan pun terurai.

“Apa kesalahanmu?” tanya si ranger.

“Aku Indian,” jawab Tonto.

Pulang, kata itu akhirnya memang dapat menjadi tafsir politik. Ada politik kekuasaan, ada aneksasi. Maka para pengungsi Sidoarjo telah kehilangan kata pulang. Karena kampungnya kini menjadi daerah semburan lumpur. Maka para perantau yang pulang dari kota akan menemui di desanya relatif yang tersisa para manula dan anak kecil disana. Sebuah potret desa yang kehilangan ceruk usia produktif. Maka para Indian sebagai penduduk asli harus terdepak dari tanah yang semula mereka tempati. Pulang merupakan perebutan terhadap ruang.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}