Posted in Essai, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Perang

People have an innate desire for conflict. So what you are fighting is not me, but rather mankind. War, on an industrial scale, is inevitable. I’m just supplying the bullets and bandages. – James Moriarty

Tarikh sejarah menyatakan bahwa Perang Dunia telah terjadi dua kali di bumi ini. Jutaan nyawa harus meregang dikarenakan Perang Dunia. Perdamaian menjadi sesuatu yang diharapkan. Flower generation, PBB, merupakan sederetan sampel yang menunjukkan gerakan perdamaian dan anti perang. Namun benarkah sejatinya manusia bisa benar-benar berhenti berperang?

Konflik fisik yang terjadi di Indonesia sebagai contoh terus menerus terjadi. Darah mengalir secara periodik. Dalam berbagai berita baik di media cetak, maupun elektronik, bentrok fisik menjadi santapan sehari-hari sehingga lama kelamaan kita menjadi resisten dan merasa biasa-biasa saja. Sederetan ajaran cinta kasih, perdamaian pun mengemuka baik dari mainstream agama ataupun berbagai sekte. Namun tetap saja bentrok fisik terjadi dimana-mana. Anggaran pertahanan militer dari suatu negara tetap tinggi. Si vis pacem, para bellum (siapa yang menginginkan perdamaian, maka harus bersiap untuk berperang).

Simak cuplikan kalimat berikut:

Pemerintah kami membiarkan warganya dalam keadaan takut yang terus-menerus, membiarkan kami tunggang-langgang dalam semangat patriotisme yang tak ada habis-habisnya sambil berteriak bahwa negara dalam keadaan darurat. Selalu saja ada musuh jahat di dalam negeri atau kekuatan asing yang sangat mengerikan dan siap memangsa kami bila kami tidak secara membabi-buta berkumpul di belakangnya dengan memberikan tuntutan dana yang sangat tinggi. Walau demikian, dalam refleksinya, seluruh bencana tersebut tak pernah benar-benar terjadi dan sepertinya tak pernah ada. – Jenderal Douglas MacArthur

Perang membuat paranoid dan menciptakan musuh entah itu nyata betulan atau sekadar ilusi. Perang dingin membuat blok Barat dan blok Timur bersiap sewaktu-waktu. Pihak sana adalah musuh. Mari merapatkan diri. Dalam teori konflik memang diperlukan identifikasi siapa kawan, siapa lawan. Namun jika dirunut secara jernih dan tenang, benarkah identifikasi itu dengan utuh mengenai kawan-lawan. Atau jangan-jangan stereotip, labelisasi telah terjadi, lalu kehilangan substansi.

Pasca perang dingin, Huntington meramalkan benturan peradaban. Lagi-lagi yang ada adalah vis a vis. Tengoklah Amerika Serikat dengan pre-emptive strike. Yang membuat mereka menyerang berbagai negara di Timur Tengah dikarenakan kekhawatiran akan radikalisme, senjata pemusnah massal. Hal yang untuk kemudian terbukti merupakan bualan ilusi saja.

Ah mungkin benar adanya John Lennon hanyalah seorang pemimpi.

You, you may say
I’m a dreamer, but I’m not the only one
I hope some day you’ll join us
And the world will be as one

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s