Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Pulang

Bulan puasa telah tiba di negeri ini. Budaya mudik untuk kemudian menjadi tradisi yang membungkus pada akhir Ramadhan. Jakarta pun menjadi sepi ketika akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal. Jalan-jalan lenggang adanya. Populasi kota ini menyusut dengan drastis. Di Amerika Serikat tradisi mudik macam begini muncul pada event thanksgiving. Tentunya bagi para perantau kembali ke kampung halaman, tempat diri ketika dahulu kecil memberikan secercah emosi tersendiri.

Pulang. Itulah mungkin salah satu frasa yang terbetik selepas saya menonton film The Lone Ranger (2013). Saya tiada tahu apakah sidang pembaca menonton hingga usai film The Lone Ranger. Saya terbiasa untuk agak lama keluar dari gedung bioskop dan biasanya menjadi penonton terakhir yang bertahan di ruang pemutaran film (para petugas kebersihan biasanya ‘mengusir’ saya dengan tatapan dan gesture mereka). Setelah rangkaian nama, ternyata film The Lone Ranger masih menyisakan potongan gambar. Bagaimana Tonto (Johnny Depp) yang berjalan ke hamparan padang pasir diantara batu-batu yang menjulang. Ia pulang.

Kisah Tonto dalam film tersebut juga merupakan sebuah upaya untuk pulang. Bagaimana Tonto muda yang terkelabui oleh muslihat licik dari Butch Cavendish dan Cole. Dengan barter arloji murahan, Tonto memberikan lokasi tempat bongkahan perak yang luar biasa banyaknya. Ketamakan dua manusia dari Barat itu untuk kemudian membantai, memberangus perkampungan tempat tinggal Tonto. Tonto pun bertekad untuk menuntaskan kedua orang muslihat kata tersebut di tanah kelahirannya, tanah tempat ia kembali pulang.

Namun cerita Tonto adalah kisah kepedihan bagi orang yang merindukan pulang. Ia adalah satu-satunya manusia yang tersisa di perkampungan tempat tinggalnya. Selebihnya musnah. Perkampungannya secara fisik pun telah menjadi bara abu. Pun begitu ketika Tonto dan John Reid ditangkap oleh sekawanan Indian. Sekawanan Indian tersebut melawan dengan gagah berani. Dan mereka mati dengan agung. Mesiu, senapan mesin menjadi “jembatan” yang membawa mereka menuju alam baka. Yang mereka perjuangkan adalah tanah mereka. Tempat kelahiran, tempat mereka pulang.

the lone ranger

Atas nama modernisasi, connectivity, rel kereta dibangun. Ilusi dihidupkan. Suku Comanche dituduh telah melanggar perjanjian dengan menyerang para kulit putih. Yang sesungguhnya terjadi adalah para bandit yang disewa oleh pegawai dari perusahaan kereta api. Bandit itu menyaru menjadi suku Comanche, menjadi Indian. Itu semua untuk memberikan legitimasi aneksasi dari kaum kulit putih terhadap teritori kaum Indian.

Ketika seorang ranger bertanya kepada Tonto sewaktu tertangkap. Percakapan pun terurai.

“Apa kesalahanmu?” tanya si ranger.

“Aku Indian,” jawab Tonto.

Pulang, kata itu akhirnya memang dapat menjadi tafsir politik. Ada politik kekuasaan, ada aneksasi. Maka para pengungsi Sidoarjo telah kehilangan kata pulang. Karena kampungnya kini menjadi daerah semburan lumpur. Maka para perantau yang pulang dari kota akan menemui di desanya relatif yang tersisa para manula dan anak kecil disana. Sebuah potret desa yang kehilangan ceruk usia produktif. Maka para Indian sebagai penduduk asli harus terdepak dari tanah yang semula mereka tempati. Pulang merupakan perebutan terhadap ruang.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s