Posted in Aku

Keponakan Saya

Waktu memang seakan mencuri kehidupan. Rasanya masih hangat di ingatan bagaimana keponakan saya mengisap jempolnya menjelang dia tidur. Kini dia bahkan lebih tinggi dari saya. Keponakan saya ini kini telah berumur 17 tahun. Ia meninggalkan Jakarta dan beranjak ke Philadelphia semenjak umur 10 tahun. Boleh dibilang 10 tahun pertama dalam larik kisah hidupnya memiliki banyak irisan pertemuan fisik dengan saya. Bahkan saya menganggap dia sebagai adik saya. Dikarenakan saya adalah anak terakhir dalam keluarga, maka tiada memiliki adik. Kehadiran keponakan saya ke bumi pada 3 Juni 1996 menerbitkan kegembiraan bagi saya. Rentang waktu selama lebih dari 1 dekade yang terbentang dari tahun kelahiran kami tiada menyurutkan kedekatan kami. Saya bahkan merasa dekat dengan keponakan saya ini semenjak kecilnya.

Vakansi keponakan saya ke Jakarta terhitung mulai tanggal 14 Agustus 2013 menghadirkan ragam cerita baru bagi kami. Kami telah berpisah secara fisik semenjak beberapa tahun yang lalu. Maka pertemuan kembali kami tentu dapat dimaknai dengan definisi terhadap diri yang masing-masing telah berbeda. Keponakan saya kini bakalan bersiap untuk menempuh pendidikan di universitas.

Selama berada di Amerika Serikat keponakan saya tentu beradaptasi dengan nilai-nilai yang berlaku di sana. Menyenangkan kiranya mendengarkan cerita rupa-rupa dari dirinya mengenai negara di belahan dunia lain yang berbeda. Sebut saja dengan mall di kota Philadelphia yang hanya ada satu, sedangkan ruang terbuka hijau teramat banyak di kota tersebut. Tentu hal itu kontradiktif dengan Jakarta yang dikepung oleh mall dan mengalami defisit ruang terbuka hijau.

Dalam sejumlah perjalanan yang saya jalani bersama keponakan saya terdapati bahwa ia kini telah menjadi fashionista. Untuk memilih baju dia memakan waktu yang lumayan lama, saya pun kepayahan daya dibuatnya untuk ulang-alik memenuhi militansinya memilih baju. Di sisi lain dengan fashionista yang dimilikinya, saya terbantu untuk memilih baju. Saran-sarannya menguatkan dan meneguhkan saya untuk memilih opsi baju tertentu. Perjalanan bersama keponakan saya ini boleh dibilang membuat saya berada pada orbit yang berbeda dari keseharian. Saya dibawanya “nongkrong” di berbagai tempat shopping. Saya dibawanya untuk menghabiskan waktu dalam memilih baju dan sepatu. Berbeda kiranya dengan saya yang biasanya ringkas dan memilih baju dan sepatu dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Pertemuan kembali dengan keponakan saya mengajarkan bahwa dalam hidup ini ada sesuatu yang tetap dan berubah. Perubahan merupakan hukum kehidupan. Tinggal pertanyaannya seberapa adaptif kita dengan perubahan. Dan seberapa positif perubahan tersebut dalam memperbaiki kehidupan.

Posted in puisi, sastra

Kupinjam Tanganmu Sejenak

Hidup ini indah
Cinta ini nyata adanya
Teruntuk rasa yang bergenggaman

Untuk pertama kalinya cinta bersemi
Meredakan sunyi
Semarak cahaya di taman jiwa

Lalu kulalui panel-panel cahaya
Menerangkan menyenangkan

Aku menemukan gelora
Disini
Di dalam diri

Seperti api yang menari
Membakar dalam keindahan
Menghangatkan jiwa

Kutemukan juga kedamaian
Bagaikan alun sungai di waktu pagi
Hening tanpa perlu penjelasan

Gemericik arus yang meniti nadi perjalanan
Perahu imaji berlayar

Perjalanan jiwa
Perjalanan rasa

Masing-masing dari kita pernah mengalami ngarai
Jatuh angan lalu patah

Masing-masing dari kita pernah saling memunggungi cahaya
Dan pekat menjadi warna pelangi personal

Sampai kita bertemu
Saling memberi arti dan membagi dunia
Saling mengerti arah pikir masing-masing
Saujana dengan sekoci harapan

Kupinjam lema dari dirimu
Kubuatkan perahu kertas
Biar ia berlayar ke hatimu

Kupinjam diksi dari dirimu
Kubuatkan jadi baling-baling kertas
Biar ia mendarat ke hatimu

Kupinjam tanganmu sejenak
Untuk menggenggam rasa yang berdetak

Posted in Aku, Jalan-Jalan

Vakansi Lebaran

Manusia memang membutuhkan liburan. Dengan demikian itu seperti mengendurkan segala ketegangan. Dan yang terlebih penting adalah memberikan opsi pada jalan kehidupan. Ada orbit lain yang bisa dijalani. Vakansi pada libur lebaran tahun ini cukup memberikan berbagai perspektif bagi saya. Apa saja yang saya lakukan pada vakansi lebaran tahun ini? Secara garis besar terdapat dua panel yakni berkunjung ke rumah saudara dan ikut ke sejumlah tempat dengan kakak saya yang sedang vakansi ke Indonesia.

Pada kunjungan ke rumah saudara saya menemukan poin ada yang ajek dan berubah. Nyatanya keluarga besar telah mengalami pertambahan jumlah. Ini sebagai konsekuensi logis dari pernikahan. Ada yang menikah, ada yang melahirkan, tentu berimplikasi pada pertambahan secara kuantitatif pada keluarga besar. Pertemuan dengan keluarga besar memberikan warna bahwa kita hidup di dunia memiliki keterikatan darah tertentu. Dan ikatan itu dapat membantu, dan ikatan itu dapat menjadi alur historis dari mana kita berasal.

Pada vakansi lebaran tahun ini saya juga mendapati kunjungan keluarga dari Amerika Serikat. Kakak saya beserta 3 anaknya berkunjung ke Jakarta. Anak pertama kini telah berumur 17 tahun, sedangkan kedua adiknya berumur 3 tahun dan 1 tahun. Ini pertama kalinya untuk melihat secara langsung kedua keponakan saya yang berumur 3 tahun (Haiqal) dan 1 tahun (Putera). Vakansi ini mengingatkan saya bahwa kakak saya begitu mobile bergerak setiap harinya. Ia dalam sehari dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Di hari-hari awal kedatangan, berbagai pergerakan kakak saya masih antusias saya ikuti. Lama kelamaan saya seperti kehabisan stamina dan daya. Pada dasarnya saya adalah orang rumahan yang tiada terlampau senang untuk spartan pergi dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Iya saya suka bepergian, namun kalau setiap hari harus ulang-alik pergi ke sejumlah titik maka ada resistensi dari tubuh dan jalan pikiran saya. Yang terkena implikasi langsungnya adalah jam membaca dan menulis. Dengan bepergian spartan setiap hari, maka saya mengalami defisit dalam membaca dan menulis. Pola hidup ajek yang telah saya bangun dengan membaca dan menulis mengalami pergeseran ketika saya mengikuti kakak saya berkunjung ke sejumlah spot.

Biar bagaimanapun sejumlah muhibah yang dilakukan oleh kakak saya memberikan distingsi bagi saya untuk menjalani hari. Saya “dipaksa” untuk lebih banyak mencicipi matahari dan udara luar ruangan. Saya akui pada beberapa hal itu menyegarkan, namun pada beberapa hal itu menggerus sisi intelektual dan kekaryaan saya dikarenakan membuat saya tiada leluasa dalam jam membaca dan menulis. Kurang lebih begitulah vakansi lebaran saya pada tahun ini, bagaimana dengan vakansi lebaran Anda?