Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sejarah, Sosial Budaya

Serba Serbi Komik Indonesia

Ada begitu banyak medium kreativitas yang dapat menarasikan makna. Salah satunya adalah komik. Komik merupakan lini kreativitas yang mendapatkan tanggapan luas dari masyarakat. Sampel sederhananya ialah dengan sudut komik di toko buku yang kerap dipenuhi pembaca muda. Namun minat dan pangsa pasar ini tidak serta merta berkorelasi dengan jayanya komik dalam negeri. Komik Indonesia belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Deretan komik yang memenuhi rak buku komik di toko buku relatif dipenuh sesaki oleh komik-komik terjemahan, terutama dari Jepang. Tak mengherankan pada tahun 2001 Masyarakat Komik Indonesia (MKI) melakukan demo di depan kompleks Kompas-Gramedia, memprotes banjirnya buku komik Jepang yang diproduksi salah satu anak perusahaannya yang dianggap mematikan komik Indonesia.

Sejarah Komik

Komik Indonesia memang telah mengalami masa pasang surut dalam perjalanannya. Sebelum berbicara lebih jauh tentang serba serbi komik Indonesia ada baiknya jika kita melihat definisi komik terlebih dahulu. Komik berasal dari kata comic (lucu), karena bentuk baris komik (comic strip) maupun komik satu panel, dalam dunia berbahasa Inggris sejak 1884 (Ally Sloper’s Half Holiday), terdapat pada halaman khusus akhir pekan yang disebut the funnies (yang lucu-lucu), sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya bertujuan khusus untuk mengejek kebijakan tokoh-tokoh. Ketika dibukukan (sejak tahun 1934, melalui Famous Funnies) dan dijual tersendiri kemudian disebut comic book (buku komik). Di Indonesia, buku komik lazim disebut sebagai komik saja. Kemudian para komikus membuat buku-buku komik sebagai karya mandiri, tanpa harus dimuat surat kabar atau majalah lebih dulu.

Berbicara mengenai sejarah komik di Indonesia, maka nama Kho Wan Gie layak menjadi pionir. Kho Wan Gie melalui baris komik (comic strip) bersambung di media cetak, yang berjudul Put On sebagai komik Indonesia terawal pada tahun 1931. Sedangkan baris komik Mentjari Poetri Hidjaoe, karya Nasroen A.S., mengisi lembaran-lembaran mingguan Ratoe Timoer sejak 1939.

Di Indonesia, sejarah komik harus berterima kasih kepada bungkus ikan asin. Kenapa demikian? Dikarenakan para kreator komik dalam negeri mendapatkan inspirasi dari kertas bungkus tersebut. Sebut saja Kho Wan Gie, pencipta Put On, yang terpikat seri Bringing Up Father, Zam Nuldyn terpesona karya Harold Foster, Abdulsalam oleh Alex Raymond, Taguan Hardjo oleh serial Li’l Abner dan Walt Disney.

Put On

Komik Citarasa Indonesia

Bagaimana kiranya komik yang benar-benar Indonesia? Pertanyaan tersebut rasanya terus mengemuka di tengah jalan kehidupan komik Indonesia. Marilah kita melihat komik wayang R.A. Kosasih sebagai unit analisa. Komik wayang R.A. Kosasih menurut pendapat dari Seno Gumira Ajidarma adalah bentuk negosiasi dalam pertarungan ideologi di wilayah komik, dengan hasil yang menunjukkan suatu kepercayaan diri, karena bentuk yang memperlihatkan kemandirian dalam identitas. Dikatakan negosiasi karena dalam komik wayang masih dapat dimainkan segala tindak kepahlawanan, yang memberi kepuasan pembaca dalam menghancurkan kejahatan. Meskipun begitu, identitas kepribadian para pahlawan itu secara keliru disebut; tidak menunjukkan pengaruh budaya asing (baca: Amerika). Disebut keliru, selain karena komik itu sendiri merupakan idiom yang berkembang pesat di-dan menjadi bagian dari identitas Amerika, dan karena itu sahih sebagai bentuk pengaruh, juga karena R.A. Kosasih ternyata berusaha setia kepada kisah Mahabharata dari sumbernya di India. Dengan absennya panakawan, dan kesetiaan kepada sumber India, cerita wayang Kosasih sebetulnya berbeda dari yang dimainkan para dalang di Indonesia, tetapi pada saat yang sama tak dapat disangkal merupakan komik dengan identitas Indonesia sebagai anak kebudayaan dunia.

Indonesia sendiri sejak semula merupakan negara yang tak dapat terpisah dari internasionalisme. Soekarno bertutur bahwa nasionalisme dan internasionalisme merupakan konsep yang bergandengan erat satu sama lain. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Dalam ranah fantasi Indonesia keterbukaan inspirasi dapat ditilik pada era kejayaan komik Indonesia, seperti diakui oleh Djair Warni (pengarang Jaka Sembung) bahwa para komikus Indonesia terinspirasi dari para komikus Amerika (Marvel Comics).

Menarik kiranya mengambil unit analisa lainnya dengan menelusuri hasil bedah terhadap tokoh Doyok yang merupakan sosok komik yang dilabeli kental dengan nuansa Indonesia. Faktor apa saja yang membuat Doyok teridentifikasi oleh pembaca Pos Kota sebagai bagian diri mereka? Berikut uraian pemikiran dari Seno Gumira Ajidarma:

Pertama, busana Doyok yang mengacu pada budaya Jawa, khususnya Yogyakarta (berdasarkan mondolan pada belangkonnya), ternyata selalu berbahasa Jakarta, sesuai dengan karakter urban yang mencari akar kedaerahan meski sudah bertransformasi menjadi warga Jakarta. Kedua, meski berbahasa Jakarta, lingkungan fisik Jakarta dalam kartun Doyok sungguh mengasingkan warga kelas bawahnya itu, dari cara penggambaraannya yang meski penuh gedung dan mobil lebih sering sepi tak bermanusia. Ketiga, topik perbincangannya, yang mengaitkan peranan peristiwa nasional terhadap nasib mereka sebagai rakyat kelas bawah Jakarta, sering berakhir dengan pandangan mata tokohnya menatap kepada pembaca-seperti menariknya ke dalam bingkai untuk terlibat. Keunikan ini ternyata kemudian banyak ditiru.

Berbicara tentang serba serbi komik Indonesia baiklah jika menelusuri apa yang diungkap oleh Arswendo Atmowiloto, bahwa dulu Kho, Nasroen, sampai generasi Taguan Hardjo dan Yan Mintaraga belajar dari komik luar negeri, tapi apa yang dilahirkan masih berbau Indonesia, dan menginjakkan kaki dengan bumi persoalan yang Indonesia. Wajah tokoh-tokoh yang ditampilkan masih bau keringat kita juga, dan anak-anak yang mulai mengenali ketika dewasa tetap mempunyai idiom itu, bukan yang tak bisa dikenali dari mana asal-usulnya, dan dianggap itu satu-satunya yang terbaik. Dengan nada retoris, Arswendo bertanya “masak, sih, untuk berkhayal saja kita didikte negara lain?”

Kreativitas dengan demikian tidak bergerak dari ruang hampa. Kontemplasi ada tentu saja. Inspirasi yang diambil dari karya lain juga telah melalui saringan dan tidak dijiplak mentah-mentah. Inspirasi karya lainnya bagaikan bahan-bahan yang nantinya diracik menjadi senyawa baru. Para kreator yang tidak kehilangan arah dan sekadar turut arus dari apa yang dikonsumsinya. Ia mampu menunjukkan karakternya. Karena dengan berkarya maka ia menunjukkan karakternya pada dunia.

Panji Tengkorak

Masa Keemasan Komik Indonesia dan Format Mendatang

Indonesia pernah mengalami era keemasan komik pada tahun 1968-1973 seperti dituturkan oleh Djair Warni. Era keemasan tersebut ditandai dengan apresiasi dari penggemar serta menggelembungnya finansial para komikus. Dari sisi penggemar, Djair Warni mendapati begitu banyak surat penggemar, sehingga dirinya mengalami kewalahan dalam menjawab surat penggemar. Apresiasi positif dari penggemar begitu kuat dengan menanyakan edisi berikutnya serta sanjungan terhadap karya dari Djair Warni. Kalaupun ada pertanyaan iseng berkisar pada penggambaran misalnya kenapa pohonnya kok tidak ada buahnya, ataupun baju dari para tokoh.

Era keemasan komik Indonesia tersebut diistilahkan oleh Djair bahwa para komikus seperti artis di era sekarang. Selain termasyhur, sisi finansial para komikus juga dapat menjadi sandaran hidup. Sebagai ilustrasi Djair Warni untuk menikah plus bulan madu dan segala macamnya hanya membutuhkan menghasilkan 1 jilid karyanya yang berjudul Si Tolol (64 halaman).

Sedangkan Hans Jaladra sebagai komikus yang karyanya laris, berapa kiranya ia dibayar? Menurut Hans, penerbit pernah membayar 1 naskah komik (64 halaman) dengan harga 1 ons emas.

Menutup artikel ini ada baiknya jika menelaah apa yang diungkap oleh Hans Jaladara yang termasyhur dengan karyanya – Panji Tengkorak. Di tengah arus besar manga, sebetulnya Hans lebih merasa mencoba menggambar untuk meniru film, yakni lebih memperhatikan unsur gerak ketimbang sebelumnya, bukan meniru komik Jepang itu mentah-mentah. Menghadapi krisis komik Indonesia, ia berpendapat komik Indonesia tidak akan kuat bersaing jika langsung terbit sebagai buku, melainkan harus dimuat dulu secara bersambung di koran untuk mendapat popularitas. Ia juga berpendapat, ketika banyak orang menuntut kembalinya komik Indonesia, maka suatu kebijakan perdagangan untuk membuat keberimbangan di pasar harus dibuat peraturannya. Menurut Hans, suatu institusionalisasi bagi komik Indonesia juga mutlak diperlukan, supaya keberadaan komik tidak hanya hadir dalam keluhan, yakni suatu gerakan yang terorganisasi dengan baik untuk menghidupkan kembali komik Indonesia.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s