Posted in puisi, sastra

Pada Akhirnya Kita Bertemu Pada Kanvas yang Sama

Aku rindu senyumnya
Yang melumerkan lara dari genggaman

Aku rindu tawanya
Yang menotasikan partitur keceriaan ke kabut jiwa

Aku rindu perbincangan tanpa plot kami
Bicara ngalor-ngidul
Dan lalu kita tertawa di satu garis horizon yang sama

Aku rindu pada seruput kecerdasannya
Lalu aku bertanya rupa-rupa

Tak Lagi Sama

Aku rindu keisengannya
Dan kita saling “mem-bully” dengan berbagai cara

Aku rindu berdampingan dengannya
Tanpa kata
Asyik dengan lamunan dan kesibukan masing-masing

Aku rindu melihat kanvas kehidupanmu
Di sisi yang lain, aku bercerita tentang kanvas kehidupanku
Ataupun melihat kanvas yang satu dari perspektif kita masing-masing

Setelah mengarungi titian waktu,
Kugenggam tanganmu
Kurasakan detak jantung kehidupan
Kita berdampingan di satu garis horizon yang sama

Di depan kanvas,
Senyum kita bergenggaman
Pada akhirnya kita bertemu pada kanvas yang sama

^Puisi ini terinspirasi dari plot video clip ‘Tak Lagi Sama’ oleh NOAH

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Orbit Lainnya

Terus terang jadwal baku saya dalam beberapa minggu terakhir berubah secara signifikan. Pakem pola membaca dan menulis yang saya terapkan harus tergeser. Saya tidak mengeluh tentu saja. Dikarenakan saya harus mencicipi orbit yang berbeda. Dengan demikian saya tahu rasanya dimensi lain kehidupan. Alasan lainnya ialah tentu saya harus menjamu keluarga jauh dari Amerika Serikat.

Kedatangan keluarga saya dari Amerika Serikat yang berdurasi dari tanggal 14 Agustus-11 September 2013 memberikan saya amunisi orbit yang berbeda dalam menjalani hidup. Pada beberapa hal saya benar-benar menikmati orbit yang saya jalani di sketsa waktu tersebut. Bahkan saya menjadi lebih mengerti dan melihat kota Jakarta ini dengan kacamata pemahaman yang lebih kaya. Bukankah begitu seharusnya hidup? Tidak terpaku pada kegiatan yang itu-itu terus menerus. Maka sejumlah pengalaman yang saya jumpai adalah bertransportasi dengan taksi, nongkrong di Starbucks, mencicipi BreadTalk, muhibah dari satu mall ke mall yang lain.

Pada poin bertransportasi dengan taksi, saya mendapati kebiasaan lama saya yang kembali terpanggil. Kebiasaan lama itu adalah melamun di pinggir jendela. Dengan transportasi utama saya kini yakni sepeda motor, maka kebiasaan melamun tersebut tereduksi dengan serius. Bertransportasi dengan taksi membuat saya tiada perlu untuk dipusingkan dengan konsentrasi dalam mengemudi. Tinggal menikmati perjalanan, berpikir varian hal, melamun, menelusuri arsitektur kota.

Pada poin nongkrong di Starbucks, saya mendapati kesantaian ibukota. Bagaimana seni menikmati hidup. Saya dan keponakan saya biasanya makan roti dari BreadTalk, menikmati green tea latte, memanfaatkan Wi-Fi, berbincang a-z tanpa skema baku, semua itu benar-benar menyegarkan jiwa saya. Saya tentu saja harus berterima kasih kepada keponakan saya yang bernama Muhammad Zuhdi untuk serangkaian orbit baru yang saya cicipi. Dengan demikian membuka tempurung saya dari pola baku: membaca-menulis. Bahkan dengan serangkaian orbit baru yang saya lalui tersebut merupakan referensi berharga bagi membaca-menulis. Saya bisa saja menulis-membaca di Starbucks sembari menyeruput green tea latte.

Pengalaman mengarungi orbit hidup yang berbeda membuat saya termantapkan untuk menjadi orang kaya. Harus diakui untuk mencicipi ragam pengalaman yang berbeda membutuhkan sokongan finansial. Dengan basis finansial maka pengalaman hidup ini dapat mengarungi aneka tempat dan peristiwa. Mencicipi orbit yang berbeda juga membutuhkan pertemanan dengan orang yang luwes dan mau berkembang. Oleh karena itu saya harus meluaskan jaring-jaring persahabatan. Menemui ragam manusia dengan variasi pikiran dan pengalaman. Saya teringat dengan Rose dalam film Titanic. Ia merampungkan hidupnya dengan sebenar-benarnya hidup. Ia menjalani segala janji petualangan yang didengungkan kepada Jack. Ia hidup dengan sebenar-benar hidup. Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih terpaku di orbit yang sama dengan rutinitas kegiatan yang membelenggu dan itu-itu lagi?

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Pendidikan Negeri Ini

Wahyu Aditya pendiri HelloFest ketika sekolah memiliki 2 pelajaran resmi yang menjadi favoritnya yakni: Pelajaran Kesenian dan Jam Kosong. Pelajaran Kesenian adalah kesempatan baginya untuk belajar kesenian. Sedangkan Jam Kosong adalah kesempatan baginya untuk melatih lagi pelajaran kesenian.

Bagaimana dengan Anda ketika bersekolah, apa kiranya mata pelajaran favorit Anda? Jika memutar kembali memori ke masa sekolah rasa-rasanya hal yang sering saya lakukan adalah melamun dan cenderung bosan dengan pelajaran di dalam kelas. Sembari melamun dan cenderung bosan itu saya biasanya menggambar. Jadilah buku catatan saya disamping penuh dengan tulisan, juga penuh dengan gambar-gambar abstrak.

Sepanjang menempuh pendidikan, saya merasa begitu berat beban pelajaran. Mulai dari buku pelajaran yang bertumpuk-tumpuk, beban dari kurikulum yang ada, PR, ulangan, test, dan lain-lain. Menjadi pelajar di Indonesia seperti dipecut-pecut oleh waktu. Belum lagi narasi yang dikembangkan oleh sebagian orang tua dan pengajar untuk rajin-rajinlah belajar. Sedangkan untuk rajin-rajin belajar ini banyak sekali materi pelajaran yang harus dipelajari.

Bagi jiwa muda dicekoki pelajaran dan tugas-tugas itu terasa melelahkan. Lalu apa? Berapa banyak yang dipelajari itu untuk kemudian aplikatif di dunia setelah sekolah formal? Jangan lupakan pula horor ranking, ujian akhir ketika kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA, ujian masuk perguruan tinggi.

Baru-baru ini pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba mengenai jam belajar. Durasinya dari jam 7-9 malam. Tujuannya agar anak sekolah tidak keluyuran malam dan rajin belajar. Pertanyaan saya apakah hidup itu sekadar pada radius sekolah? Apakah hidup sekadar berprestasi dalam sekolah? Pola pendidikan menurut hemat saya seyogyanya memberikan ruang leluasa juga bagi murid untuk tiada hanya berkutat pada urusan belajar secara formal.

Ketika dulu di kampus, saya mengenal istilah study oriented. Bagi kalangan aktivis, study oriented masuk dalam kategori pragmatis. Yang pulang-pergi sekadar kuliah. Yang menargetkan lulus kuliah 4 tahun, bahkan kalau bisa 3,5 tahun. Nyatanya dalam kehidupan selepas sekolah formal, ada banyak variabel yang dibutuhkan untuk survive di lingkup pekerjaan. Ada komunikasi sosial, kemampuan negosiasi, kemampuan berorganisasi, dan lain-lain.

Ketika keponakan saya kembali ke Jakarta pada medio Agustus-September 2013 dia bercerita bahwa dirinya di Amerika Serikat bekerja part time. Bekerjanya adalah membantu ibunya (kakak saya) lalu dia mendapatkan sejumlah uang yang digunakannya untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya. Kemudian saya juga membaca testimoni dari Dino Patti Djalal ketika hidup di Amerika Serikat. Dia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring dan kuli gudang di KBRI. Dino juga pernah menjajal sebagai pelatih tenis, koki di restoran, tukang tiket di bioskop, towel boy tim basket, asisten dosen. Menurut Dino, bekerja adalah hal yang biasa bagi remaja di Amerika Serikat. Dengan bekerja Dino menjadi orang yang bertanggung jawab, menghargai aturan, disiplin (karena harus tepat waktu) dan kalkulatif. Dengan bekerja, beliau belajar bekerja sama dengan orang lain dan mengasah social skill (Dino Patti Djalal, Life Stories 2: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Berbagai Negara, hlm. 37).

Berbeda kiranya dengan budaya pendidikan yang berlaku di Indonesia. Dimana murid, mahasiswa yang lebih difokuskan untuk belajar dan belajar dalam lingkup formal. Seolah hidupnya hanya berkutat pada belajar, ujian, belajar, ujian. Alhasil frame berpikir yang terbentuknya adalah belajar, ujian, belajar, ujian.

Ketika awal masuk FISIP UI salah satu terminologi yang diperkenalkan adalah “pesta, buku, dan cinta”. Rupa-rupanya fakultas presitius dalam ilmu sosial di Indonesia ini tiada sekadar pada buku, buku, dan buku. Saya pun selama menjalani kuliah di FISIP UI merasakan nuansa bahwa metode pembelajaran yang digunakan mengharuskan untuk tidak sekadar buku, buku, dan buku. Ada diskusi, ada tugas kelompok, ada presentasi, ada makalah. Kesemuanya yang cukup mengasah skill, kompetensi di berbagai bidang.

Terus terang metode tersebut berbeda dengan 12 tahun di masa dari SD-SMA yang saya jalani. Ada lebih banyak output nyata dari pelajaran yang saya reguk. Dan itu lebih menantang bagi otak. Berbeda kiranya dengan PR di masa sekolah yang lebih seperti menghafal atau copy paste dari buku. Maka di kampus, saya mendapati eksplorasi ilmu lebih mendalam. Daya tulis saya tertantang dengan paper-paper yang harus dikerjakan. Kemampuan berdialektika saya terkembangkan dengan terbiasa berdebat baik di ruang kelas maupun lingkup organisasi.

Metode pendidikan memang boleh dibilang membentuk manusia. Jika sidang pembaca membaca novel ‘Negeri 5 Menara’ akan didapati bagaimana terbentuknya para santri dari pola pembelajaran yang ada. Mulai dari penulisan, berbahasa asing, berpidato, dan sebagainya.

Jika sidang pembaca membaca buku ‘Kreatif Sampai Mati’ akan terdapati bagaimana Wahyu Aditya semenjak di bangku sekolah telah belajar berkreativitas dengan karya. Ia membuat desain kaus olahraga resmi SMA-nya, membuat kop surat resmi SMU-nya menjadi lebih “gaul”, mengubah dekorasi kelasnya menjadi menarik dan memiliki unsur fantasi (Wahyu Aditya, Kreatif Sampai Mati, hlm. 150-151 dan 161-165).

Saya pikir pola pendidikan yang baik adalah mengasah kompetensi, skill di berbagai bidang. Bukan menjadikan murid sekadar menelan bahan pelajaran ataupun dalam kalimat sindiran “Catat Buku Sampai Abis (CBSA)”. Dunia pendidikan seharusnya mengembangkan kemampuan, daya pikir, daya kreasi. Dengan demikian produksi menjadi filosofi yang hidup di manusia negeri ini. Kita tentu miris dengan defisit neraca perdagangan yang terjadi. Ketika impor lebih besar dari ekspor. Ketika barang-barang impor meng-kooptasi pasar Indonesia yang besar. 240 juta rakyat Indonesia adalah jumlah yang besar. 240 juta adalah pasar yang besar. Seharusnya dengan populasi besar tersebut budaya menghasilkan, produksi, berkreativitas juga besar. Dan mungkin letoinya daya produksi jika dicari hulu masalahnya adalah sistem pendidikan yang salah. Sistem pendidikan yang tidak mengembangkan jiwa dan raga manusia Indonesia. Sistem pendidikan yang tidak mengembangkan narasi berpikir, daya kreasi, dan semangat memproduksi.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Yang Terjatuh Pada Lubang yang Sama

Ada adagium bahwa bahkan keledai tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun manusia yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dapat “jatuh pada lubang yang sama” berkali-kali. Apa pasal? Mungkin dikarenakan tertipu oleh ilusi kata yang diujarkan. Mungkin tertipu oleh harapan akan perubahan. Saya percaya bahwa seseorang dapat berubah, melakukan migrasi dari sifat buruknya. Namun dari pengalaman personal yang saya hadapi sangat besar persentasenya orang yang telah mengecewakan lalu berjanji untuk tidak mengecewakan pada akhirnya tetap mengecewakan dan tidak memenuhi janjinya mengenai perubahan.

Saya pun berkesimpulan betapa sulit untuk mengubah tabiat. Jangankan mengharapkan orang lain. Kita sendiri saja untuk melakukan perubahan harus benar-benar bertekad. Oleh karena itu pada beberapa kekecewaan saya sudah cenderung legowo bahwa itu adalah bagian dari karakternya yang sulit..sulit..untuk dirubah. Ambil sampel: ada rekan saya yang kerap melakukan typo dalam penulisan. Sudah bolak-balik saya katakan, kritik dengan berbagai variasi cara agar dirinya terhindar dari typo. Namun tetap saja dia “hobi” menulis dengan typo yang terjadi. Dan saya pun pada titik give up. Ah sudahlah cukup memperingatkan dan mengkritisinya karena typo memang merupakan karakter yang dipeliharanya.

Kemampuan untuk give up ini saya pikir penting. Dari segi organisasi waktu maka waktu tiada terbuang percuma untuk mengharapkan yang tidak tentu. Dari segi sikap kita memiliki sikap yang firm. Memang diperlukan keteguhan hati tertentu untuk give up, dikarenakan orang yang mengecewakan kerap melakukan lobi, bahkan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya dan lebih baik lagi. Pada titik inilah kita harus tega untuk tidak menggubrisnya dan give up terhadap orang tersebut.

Adagium keledai yang tidak terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya, sedangkan manusia dapat terjatuh pada lubang yang sama berkali-kali ini hendaknya dicermati. Kalau mau jujur itu adalah sebentuk kebodohan, sebentuk penafian untuk belajar dari sejarah. Jangan terjatuh lagi pada lubang yang sama karena lidah tak bertulang. Melangkahlah terus dengan meninggalkan orang-orang yang mengecewakan tersebut.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Teruslah Berjalan

Tak perlu dengar kata mereka/ Teruslah berjalan
– Melawan Dunia: Peterpan

Dalam hidup ini terkadang harus mencuekkan perkataan dan kalimat dari beberapa orang. Sekurangnya ada dua tipikal yang layak “ditendang” dan tidak usah terlampau dipikirkan perkataannya. Tipikal yang pertama adalah orang negative thinking. Perkataan dari orang tipikal negative thinking ibarat racun kata-kata. Aura negatif selalu berhasil mereka temukan dalam berbagai peristiwa. Segala hal bisa saja mereka lihat dari sisi yang begitu negatif. Maka saran saya adalah sebisa mungkin adalah tiada mendengar perkataan mereka. Bahkan kalau bisa jangan terlalu sering bergaul dengan orang-orang tipikal negative thinking.

Apa pasal sebisa mungkin menghindari tipikal negative thinking? Itu dikarenakan kita dapat tertular dan menjadi terbiasa memproduksi skenario negatif pada segala peristiwa. Saya sendiri secara personal pernah mengalami hal macam begini. Ketika berada di kelas III SMA saya mendapatkan bangku di belakang. Lalu beberapa hari saya jalani dan saya mendapatkan pasokan negatif baik secara pemikiran maupun semangat hidup. Saya pun memutuskan untuk bertindak dan mengubah semua ini. Apalagi itu adalah momentum krusial yakni di kelas III SMA. Saya pun migrasi ke bagian depan yang di konstelasi berikutnya menyisakan satu bangku kosong.

Migrasi saya ke bangku depan dikarenakan saya ingin sukses di kelas III SMA tersebut. Berada di deret depan ternyata atmosfer pikiran yang saya rasakan benar-benar berbeda. Ada semangat, pemikiran untuk mengejar mimpi dan berusaha untuk mendapatkan universitas ternama. Dan itu membantu saya dalam radius pemikiran positif dan kompetisi. Alhasil atas berkat rahmat Allah dan didorongkan oleh keinginan luhur saya pun berhasil menyabet ranking pertama di kelas III pada caturwulan 1 dan 2. Kalau boleh dianalisa dan dievaluasi keberhasilan itu tidak terlepas dari saya yang mendepak atmosfer negatif pemikiran dari kehidupan sehari-hari. Berada dalam lingkungan yang beratmosfer negatif dapat menjerumuskan dalam kegagalan hidup dan membuat kesuksesan meleset dari genggaman.

Tipikal manusia berikutnya yang layak “ditendang” dan tidak usah terlampau dipikirkan perkataannya yakni orang-orang yang egois. Dikarenakan orang egois sesungguhnya hanya berfokus pada kepentingannya. Jadi mereka tidak hirau, peduli dengan kemajuan kita. Kritik yang mereka lakukan tak terlepas dari keuntungan apa yang akan mereka peroleh. Orang egois biasanya juga suka mencari kesalahan orang lain, mencari kambing hitam. Jadilah kita kadang dikambinghitamkan melalui perkataan, disalahkan di forum terbuka.

Orang yang egois sesungguhnya adalah orang yang “rabun” dan dalam orbit pikirnya hanya dirinya. Jadi ketika mereka menurunkan kata maka itu untuk kepentingan dirinya.

Memilah dan memilih perkataan yang masuk dalam pikiran dan kontemplasi dapat menjadi distingsi orang yang sukses dan gagal. Jangan terlampau murah hati mendengarkan segala perkataan. Karena bisa jadi perkataan itu muncul dari orang yang negative thinking dan orang yang egois. Terkadang diperlukan sikap EGP (Emangnya Gue Pikirin) terhadap beberapa perkataan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya. Percayalah sebaik apa pun kerja dan karya Anda tetap saja ada feedback negatif. Dan beberapa feedback negatif tersebut teramat mungkin muncul dari para negative thinking dan orang-orang egois. Jadi, selamat berkarya, berkreatif, dan teruslah berjalan.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Limit

24 jam adalah limit. Diri yang hanya satu adalah limit. Dua tangan, dua kaki adalah limit. Pada akhirnya ada keterbatasan yang menyertai diri. Seberapa kuasa diri, seberapa tinggi jabatan, tetap saja ada limit yang membentang. Oleh karena itu terdapat pemisahan dan pembagian kekuasaan. Karena masing-masing organ politik memiliki keterbatasan. Karena ada kemungkinan melewati garis, hukum, dan etika apabila bertumpu di satu tangan.

Limit juga yang mengajarkan untuk realistis. Bukan berarti menyerah terhadap mimpi. Namun mimpi yang ditargetkan hendaknya masih berada dalam logika pencapaian. Karena mimpi yang terlalu tinggi dan banyak dapat membuat frustasi dan malahan membuyarkan panel-panel harapan.

Dengan limit yang ada maka terdapat fokus. Untuk memilah dan memilih mana yang harus didahulukan dikerjakan. Mana yang harus dengan forsir tenaga dan waktu yang lebih. Membagi hidup dalam sejumlah panel pencapaian yang terukur. Dengan berfokus itulah maka keahlian juga dapat tercapai. Terdapat latihan terus menerus. Seperti dalam buku pengembangan diri untuk menjadi expert dalam suatu hal maka dibutuhkan 10.000 jam latihan. Itulah kiranya yang membuat tindakan yang stabil dilaksanakan meski sedikit lebih baik dibandingkan tindakan yang ujug-ujug namun seperti hangat-hangat tahi ayam. Mudah lepas, tidak memiliki keteguhan hati untuk mewujudkannya.

Dengan limit maka kita bekerja sama. Percaya pada orang lain. Percaya pada unit lain. Karena tiada mungkin semua pekerjaan dapat ter-cover sendirian. Dengan itulah kita berinteraksi dan bersosial. Saling mengenal. Saling tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Limit juga berbicara tentang beban kerja. Oleh karena itu terus “menghajar” seseorang untuk “kerja! kerja! kerja!” adalah sebuah kezaliman. Ada saatnya bekerja, ada saatnya beristirahat. Beristirahat bukan berarti pemalas. Namun memang begitulah adanya hidup ini. Telah dibagi peruntukan dan waktunya.

Limit, itulah yang menyadarkan untuk bersyukur akan apa yang sudah dicapai. Ambisius boleh, namun jangan rakus. Rakus untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Bukankah tumpukan kekayaan itu dapat melalaikan kamu? Lalu merasa paling hebat. Lalu merasa itu semua karena daya kinerja sendiri.

Limit, kata itu rupanya mendedah banyak mana. Masing-masing dari kita yang dapat memberinya makna dan arti tersendiri. Selamat memberi makna.