Posted in Essai, Sosial Budaya

Definisi

Karena mungkin tiada yang final dari manusia. Definisi, klasifikasi. Begitulah kiranya bagian dari linimasa yang kita lakukan. Kita mendefinisikan manusia. Kita mendefinisikan keadaan. Kita mendefinisikan masa lalu, masa kini, masa mendatang. Namun adakah definisi kita itu kokoh dan terus menerus sepanjang waktu? Saya percaya banyak definisi yang mengalami pergeseran dan perubahan. Buatlah catatan harian, lalu simaklah di bilangan waktu mendatang sekian lama tentang apa-apa yang dialami di masa lalu. Adakah definisi itu mengalami pergeseran, perubahan, redefinisi.

Definisi itu termasuk dengan manusia dan perasaan. Itulah kiranya mungkin yang mendasari janji suci untuk tetap setia dalam keadaan senang dan susah, dalam keadaan sehat dan sakit. Dikarenakan definisi kita dapat berubah. Seperti pendulum. Maka syair dari lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals berjudul ‘Entah’ menjadi tepat adanya. “Seperti biasa aku tak sanggup berjanji/Hanya mampu katakan/Aku cinta kau saat ini/Entah esok hari/Entah lusa nanti/Entah”.

Saya pikir dari lirik lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals itu terdapat kejujuran. Sekalipun cinta, maka ia harus mengalami uji definisi setiap kalinya. Ini bukan definisi yang tiada dapat dikutak-katik. Bukan berarti saya menyarankan untuk menjadi pribadi yang berubah-ubah serta tidak setia. Melainkan jadilah pribadi yang senantiasa membuka diri, membuka mata, dan hati. Karena sejatinya seiring waktu, perubahan adalah bagian yang senantiasa melekati. Itulah kiranya yang menyebabkan diperlukan kalimat verbal penegasan di durasi waktu yang berbeda. Itulah sebabnya diperlukan bukti dalam tindakan bahwa definisi itu masih dapat dipertahankan.

Definisi dengan demikian seharusnya membuka ruang bagi tafsiran ulang. Ia yang telah diberikan waktu selama sekian purnama namun tiada berubah-ubah dalam laku layaklah untuk dipertimbangkan masak-masak. Sangat mungkin itu hanya bunga kata-kata yang tiada berbuah tindakan. Sedangkan ada yang berupaya menaikkan elektabilitasnya, berusaha memperbaiki dirinya terus menerus. Layaklah definisi orang tersebut dievaluasi.

Saya teringat dengan sebuah kisah tentang seorang Pangeran. Untuk mendapatkan cinta perempuan yang dicintainya, si Pangeran berubah menjadi rajin belajar, piawai bertarung. Ia menginginkan definisi ideal bagi sang Dara. Ia tidak final dalam kondisi biasa-biasa saja. Ia menjadi lebih baik setiap kalinya. Ia memperbaiki dirinya terus menerus. Karena tak ada yang final dalam diri manusia. Begitu juga dengan cinta.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s