Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, sastra, Sosial Budaya

Pembacaan Karya Sastra Kita

Keponakan saya yang tinggal di Amerika Serikat datang pada medio Agustus-September tempo hari ke Jakarta. Rupanya sekalipun ia menempuh liburan musim panas secara resmi, namun dirinya mendapat tugas membaca. Ada dua buku yang masuk dalam opsi yakni ‘Song of Solomon’ karangan Toni Morrison dan ‘1984’ karangan George Orwell. Saya pun bertanya apakah karya sastra ini wajib dibaca? Keponakan saya menjawab bahwa itu tidak wajib, namun kalau ingin mendapatkan nilai bagus maka haruslah membaca karya sastra yang direkomendasikan tersebut. Dikarenakan pertanyaan dalam soal ujian yang diajukan biasanya mengharuskan untuk mengetahui “jeroan” dari novel, bukan sekadar tahu dengan menggunakan sudut pandang orang lain.

Lalu bagaimana dengan pelajaran sastra kita? Saya sendiri yang berkecimpung di dunia literasi mendapatkan saran dari seorang rekan bahwa untuk melakukan resensi buku cukup dengan membaca pembukaan dan kesimpulan. Pola macam begini bukan barang baru. Ada juga yang sekadar menjahit copy paste dari resensi yang telah ada sehingga seolah-olah telah rampung membaca buku yang ditugaskan. Ini berarti ada yang salah dalam pola pendidikan baik itu perihal membaca ataupun menulis.

Sedari usia sekolah kita tiada diajarkan untuk melakukan riset dengan membaca. Bagi saya yang mengalami kurikulum di masa Orde Baru pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengingat dan menduplikasi apa yang ada di buku. Itulah yang benar menurut pola pendidikan waktu itu. Padahal kiranya bahan bacaan terkadang mengalami silang sengketa pendapat dan data. Contohnya adalah dalam pelajaran sejarah. Satu peristiwa dapat ditafsirkan berbeda. Siapakah Soekarno? Siapakah Soeharto? Dapat berbeda-beda definisi tergantung sudut pandang dan buku mana yang digunakan.

Saya pikir pola pendidikan kini dan ke depannya harus menyertakan keragaman. Keragaman dalam membaca dan menulis. Biasakan murid untuk membuat esai ataupun laporan tulisan. Dengan begitu tiadalah rabun membaca dan pincang menulis. Daya logika, nalar, daya argumentasi juga akan terbangun dengan konstruksi membaca dan menulis.

Ender's Game

Dari bahan bacaan yang direkomendasikan juga selayaknya beragam dan memberi ruang pada karya sastra. Seperti keponakan saya yang mendapatkan berkah dari sistem pendidikan di Amerika Serikat. Alhasil dia telah membaca sejumlah karya sastra berikut: Ender’s Game, To Kill a Mockingbird, The Scarlet Letter, The Kite Runner, Animal Farm, Romeo and Juliet, The Catcher in the Rye, The Crucible, Their Eyes Were Watching God, The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian, Flowers for Algernon.

Bukankah ilmu tidak melulu dari buku pelajaran yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Lagian dalam sejumlah kasus faktual kita dapati sejumlah buku bermasalah. Mulai dari pornografi, kekerasan, yang justru ter-insert dalam buku pelajaran.

Saya percaya keragaman, daya intelektual merupakan cerminan dari apa yang dibaca dan ditulis. Maka buka lebar-lebar ruang itu dari apa yang dibaca dan apa yang ditulis. Demikianlah.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s