Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Perjalanan dan Waktu

Menulis memang membutuhkan energi dan waktu tersendiri. Oleh karena itu saya kerap kesal dengan orang-orang yang menggampangkan tulisan. Seperti tulisan saya di blog yang untuk sekian waktu vanish dari peredaran. Hal tersebut tak terlepas dari kesibukan pekerjaan formal serta beberapa adaptasi terhadap pola hidup yang saya jalani. Tentunya melalui tulisan ini saya berharap dapat kembali konsisten, rutin menyapa netizen melalui berbagai ragam variasi buah pena.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya bagi ke sidang pembaca. Mulai dari pemikiran, laporan perjalanan, lamunan, dan sebagainya. Dalam laporan perjalanan, saya merasa terkayakan dalam beberapa waktu belakangan. Saya pergi ke Yogyakarta, Bandung, serta beberapa spot di Jakarta. Dan perjalanan-perjalanan tersebut menyegarkan dan memantapkan makna bahwa sesungguhnya hakikat dari kehidupan ini adalah sebuah perjalanan. Dengan menempuh perjalanan, kita melihat dunia, melihat realita yang berbeda.

Perjalanan juga mengajarkan tentang transformasi. Bagaimana dalam linimasa yang ada sebenarnya kita dapat melakukan perubahan. Kitalah yang memegang kendali penuh mengenai definisi yang ingin digariskan. Dan belum ada kata terlambat untuk berubah. Dalam ragam perjalanan yang saya tempuh, saya bersyukur bertemu dengan ragam manusia, ragam pemikiran. Bagi saya itu adalah pengalaman yang berharga. Sebagai sosok yang introvert ketika berada dalam lingkungan yang baru saya biasanya lebih banyak mendengarkan. Mendengar dan memperhatikan bagi saya merupakan amunisi yang berharga dalam menghasilkan tulisan. Apa yang saya lihat, dengar, rasakan, mengayakan pengetahuan dan pengalaman yang nantinya bermanfaat dalam menghasilkan tulisan.

Dengan perjalanan, saya juga belajar untuk “meletakkan pena dan buku”. Sekadar menikmati arsitektur bangunan, aroma udara, budaya di tempat yang saya singgahi. Dan hal-hal tersebut memberikan alternatif lainnya dalam menjalani hidup. Menemui ragam manusia, saya pun belajar untuk mendengar dan berbicara. Sebuah keahlian bersosialisasi yang harus terus menerus saya asah.

Perjalanan juga mengajarkan saya untuk lebih rendah hati. Ada begitu banyak ilmu yang tertemui dalam perjalanan. Baik itu dari manusia-manusia yang saya temui, dari lingkup kebudayaan, dan lain sebagainya. Maka tak mengherankan jika Aidh Al-Qarni dalam bukunya ‘La Tahzan’ menyarankan perjalanan untuk menghilangkan kesedihan. Hikayat para nabi juga menuturkan bagaimana perjalanan yang ditempuh dalam mengemban risalah Ilahi. Saya akan bertekad untuk lebih banyak menghabiskan slot perjalanan dalam hidup. Bagaimana dengan Anda? Apakah kemajuan teknologi dan kesibukan keseharian telah membelenggu Anda dalam siklus tempat yang itu-itu lagi?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s