Posted in Cerpen, sastra, Sosial Budaya

Wahai Dara

Wahai Dara janganlah kau terbelenggu dengan masa lalumu. Dia yang menjalin anyaman korelasimu selama sekian purnama. Lalu apa? Ia berjanji rupa-rupa. Namun pernahkah kau secara tenang menimbang janjinya? Seberapa banyak yang dia penuhi. Atau sekadar kembang kata-kata, tanpa realisasi.

Wahai Dara, WS Rendra pernah berkata bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Kalau sekadar berkata-kata itu sih perkara mudah. Yang berat adalah merealisasikan kata-kata. Tak sadarkah dirimu bahwa selama ini dia membuaimu dengan kata-kata. Menyanjungmu dengan kata-kata. Meninabobokan kesadaranmu dengan kata-kata manis. Lalu dia berkata cinta..cinta..dan cinta. Wahai Dara, cinta bukan sekadar kata. Bahkan substansi cinta adalah perbuatan. Lalu selama ini adakah perbuatannya menunjukkan daya terhadap cinta. Ataukah sekadar bualan cinta, cinta, cinta dalam kata.

Lalu dia memintamu setia. Dia menginfiltrasi hidupmu. Ikutan riweuh dalam pekarangan sosial mediamu. Tak sadarkah dirimu kata ‘setia’ adalah belenggu darinya?

Dan berapa banyak dia mengecewakanmu? Lalu berkata untuk berubah. Lalu kau percaya kesetiaanmu akan mengubah segala perangai buruknya. Wahai Dara jikalau dia benar-benar rasa maka tanpa menunggu sekian purnama dia akan berubah. Sepanjang perubahan itu baik adanya. Hakikat rasa adalah sama-sama menuju perbaikan. Lalu ketika dia terus menerus status quo dalam keburukan, mengapa kau masih bersikeras kesetiaanmu akan mengubahnya. Mungkin dia telah nyaman dengan perangai teruknya.

Wahai Dara dia berjanji untuk sama-sama meraih sukses di kemudian hari. Namun lihatlah dirinya sekarang? Dia berkata bahwa sedang meniti karier, mimpi, kesuksesan. Dia memintamu tetap di sisinya. Ah Dara, janganlah kau terperdaya macam begitu. Masa kau mau terseret dalam kehidupan blangsak bersamanya. Menderita namun dikacaukan logikamu bahwa itu adalah “menikmati penderitaan”.

Wahai Dara buka matamu. Buka hatimu. Lihat dengan seksama. Bangunlah dari segala ilusi yang dibangunnya dalam rumah kartu imajinasi.

– Draft Sebuah Cerita –

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s