Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Pembahasan Komik Indonesia

Sebagian besar topik perbincangan selalu berkisar kepada dua hal: (1) bahwa komik Indonesia pernah mengalami masa keemasan yang berpuncak pada tahun ’70-an, saat Bonneff melakukan penelitiannya; (2) bahwa pasar komik Indonesia kini dipenuhsesaki oleh komik terjemahan yang sebagian besar berasal dari Jepang. Dengan kata lain, hanya terdapat nostalgia dan keluhan yang selalu sama. Ini berarti bahwa perbincangan tentang komik yang berlangsung tidak produktif, karena cara memuji komik Indonesia masa lalu ataupun cara mengeluhkan keterpurukannya sekarang telah menjadi sangat klise dan dapat dianggap sebagai penanda kebuntuan.

– Seno Gumira Ajidarma

Dua poin yang dikemukakan oleh Seno Gumira Ajidarma di atas saya hakul yakin masih mewarnai perbincangan komik Indonesia sampai sekarang ini. Saya pun ketika berbincang dengan rekan kantor yang bergelut di dunia perkomikan topik pembahasan perbincangan kami cukup banyak berkisar tentang dua poin tersebut. Rekan saya tersebut begitu membanggakan era komik lawas dan cukup “menyerang” komik-komik Indonesia sekarang yang dinilainya kejepang-jepangan serta tidak memiliki karakter khas yang kuat.

Padahal sejatinya banyak hal yang bisa dibedah dari komik. Komik sebenarnya dapat dibedah secara kajian ilmiah sebagai barang dagangan, karya seni, maupun media komunikasi. Apa pasal kiranya komik sebagai kajian ilmiah belum terlalu banyak yang meminatinya? Saya pikir setidaknya ada dua hal jawaban. Yang pertama adalah tradisi ilmiah dari negeri ini yang masih kurang. Tradisi membaca, menulis, meneliti di negeri ini masih jauh panggang dari api. Tentunya ini berhulu dari sistem pendidikan yang kurang merangsang rasa keingintahuan, eksplorasi, serta kemampuan berkarya.

Alasan kedua adalah stereotip bahwa komik bukanlah karya serius. Jika menilik dari asal katanya, komik dari asal kata comic (lucu), karena bentuk baris komik (comic strip) maupun komik satu panel, dalam dunia berbahasa Inggris sejak 1884 (Ally Sloper’s Half Holiday), terdapat pada halaman khusus akhir pekan yang disebut the funnies (yang lucu-lucu), sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya bertujuan khusus untuk mengejek kebijakan tokoh-tokoh (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 1).

Panji Tengkorak

Saya sendiri pernah menghadapi langsung stereotip yang menganggap bahwa komik bukanlah karya yang serius. Ketika itu saya mengusulkan dalam proyek buku yang sedang dibuat agar tiap awal bab diberikan gambar karikatur. Ide ini terinspirasi dari buku ‘Catatan Pinggir’ dari Goenawan Mohamad dimana setiap memasuki tahun yang baru terdapat gambar karikatur mengawalinya. Lalu rekan saya menimpali ide saya bahwa ini buku serius.

Saya percaya stereotip bahwa komik, karikatur sebagai karya main-main, digemari anak kecil masih menghujam di banyak kepala penduduk negeri ini. Padahal jika mereka-mereka mau membuka diri, membuka pikiran, maka mereka akan mengerti bahwa komik merupakan karya yang serius.

Inilah kiranya yang membuat kajian ilmiah tentang komik perlu kiranya digalakkan. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia komik dibandingkan berbincang kerap mengenai tema masa kejayaan yang telah berlalu ataupun invasi komik Jepang, alangkah lebih produktifnya apabila melakukan bedah kajian ilmiah terhadap komik. Memang beberapa acara yang pernah saya ikuti telah mampu memberikan dimensi berbeda perihal komik. Sebut saja acara ‘Penjaga Marcapada, Nusantaranger’ dimana diterangkan mengenai inspirasi senjata yang dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada juga acara ‘Retro Man 50 Tahun Berkarya’ yang menguak bagaimana lintas waktu telah membuat sejumlah adaptasi karya baik secara cerita maupun penggambaran.

Saya pikir dengan kajian bedah ilmiah dari komik-komik Indonesia akan menguak berbagai tabir khazanah kekayaan budaya dan kreativitas dari anak negeri. Tentunya budaya bedah ilmiah terhadap komik Indonesia berhulu dari rasa ingin tahu. Pertanyaannya ingin tahukah kita? Dan sebenarnya masing-masing dari kita dapat menyumbangkan karya kecil-kecilan dalam studi komik Indonesia. Dibanding mengutuk zaman, lebih baik berkarya bukan?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s