Posted in Essai, Sosial Budaya

Limit

24 jam adalah limit. Diri yang hanya satu adalah limit. Dua tangan, dua kaki adalah limit. Pada akhirnya ada keterbatasan yang menyertai diri. Seberapa kuasa diri, seberapa tinggi jabatan, tetap saja ada limit yang membentang. Oleh karena itu terdapat pemisahan dan pembagian kekuasaan. Karena masing-masing organ politik memiliki keterbatasan. Karena ada kemungkinan melewati garis, hukum, dan etika apabila bertumpu di satu tangan.

Limit juga yang mengajarkan untuk realistis. Bukan berarti menyerah terhadap mimpi. Namun mimpi yang ditargetkan hendaknya masih berada dalam logika pencapaian. Karena mimpi yang terlalu tinggi dan banyak dapat membuat frustasi dan malahan membuyarkan panel-panel harapan.

Dengan limit yang ada maka terdapat fokus. Untuk memilah dan memilih mana yang harus didahulukan dikerjakan. Mana yang harus dengan forsir tenaga dan waktu yang lebih. Membagi hidup dalam sejumlah panel pencapaian yang terukur. Dengan berfokus itulah maka keahlian juga dapat tercapai. Terdapat latihan terus menerus. Seperti dalam buku pengembangan diri untuk menjadi expert dalam suatu hal maka dibutuhkan 10.000 jam latihan. Itulah kiranya yang membuat tindakan yang stabil dilaksanakan meski sedikit lebih baik dibandingkan tindakan yang ujug-ujug namun seperti hangat-hangat tahi ayam. Mudah lepas, tidak memiliki keteguhan hati untuk mewujudkannya.

Dengan limit maka kita bekerja sama. Percaya pada orang lain. Percaya pada unit lain. Karena tiada mungkin semua pekerjaan dapat ter-cover sendirian. Dengan itulah kita berinteraksi dan bersosial. Saling mengenal. Saling tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Limit juga berbicara tentang beban kerja. Oleh karena itu terus “menghajar” seseorang untuk “kerja! kerja! kerja!” adalah sebuah kezaliman. Ada saatnya bekerja, ada saatnya beristirahat. Beristirahat bukan berarti pemalas. Namun memang begitulah adanya hidup ini. Telah dibagi peruntukan dan waktunya.

Limit, itulah yang menyadarkan untuk bersyukur akan apa yang sudah dicapai. Ambisius boleh, namun jangan rakus. Rakus untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Bukankah tumpukan kekayaan itu dapat melalaikan kamu? Lalu merasa paling hebat. Lalu merasa itu semua karena daya kinerja sendiri.

Limit, kata itu rupanya mendedah banyak mana. Masing-masing dari kita yang dapat memberinya makna dan arti tersendiri. Selamat memberi makna.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s