Posted in Essai, Sosial Budaya

Yang Terjatuh Pada Lubang yang Sama

Ada adagium bahwa bahkan keledai tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun manusia yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dapat “jatuh pada lubang yang sama” berkali-kali. Apa pasal? Mungkin dikarenakan tertipu oleh ilusi kata yang diujarkan. Mungkin tertipu oleh harapan akan perubahan. Saya percaya bahwa seseorang dapat berubah, melakukan migrasi dari sifat buruknya. Namun dari pengalaman personal yang saya hadapi sangat besar persentasenya orang yang telah mengecewakan lalu berjanji untuk tidak mengecewakan pada akhirnya tetap mengecewakan dan tidak memenuhi janjinya mengenai perubahan.

Saya pun berkesimpulan betapa sulit untuk mengubah tabiat. Jangankan mengharapkan orang lain. Kita sendiri saja untuk melakukan perubahan harus benar-benar bertekad. Oleh karena itu pada beberapa kekecewaan saya sudah cenderung legowo bahwa itu adalah bagian dari karakternya yang sulit..sulit..untuk dirubah. Ambil sampel: ada rekan saya yang kerap melakukan typo dalam penulisan. Sudah bolak-balik saya katakan, kritik dengan berbagai variasi cara agar dirinya terhindar dari typo. Namun tetap saja dia “hobi” menulis dengan typo yang terjadi. Dan saya pun pada titik give up. Ah sudahlah cukup memperingatkan dan mengkritisinya karena typo memang merupakan karakter yang dipeliharanya.

Kemampuan untuk give up ini saya pikir penting. Dari segi organisasi waktu maka waktu tiada terbuang percuma untuk mengharapkan yang tidak tentu. Dari segi sikap kita memiliki sikap yang firm. Memang diperlukan keteguhan hati tertentu untuk give up, dikarenakan orang yang mengecewakan kerap melakukan lobi, bahkan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya dan lebih baik lagi. Pada titik inilah kita harus tega untuk tidak menggubrisnya dan give up terhadap orang tersebut.

Adagium keledai yang tidak terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya, sedangkan manusia dapat terjatuh pada lubang yang sama berkali-kali ini hendaknya dicermati. Kalau mau jujur itu adalah sebentuk kebodohan, sebentuk penafian untuk belajar dari sejarah. Jangan terjatuh lagi pada lubang yang sama karena lidah tak bertulang. Melangkahlah terus dengan meninggalkan orang-orang yang mengecewakan tersebut.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s