Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Orbit Lainnya

Terus terang jadwal baku saya dalam beberapa minggu terakhir berubah secara signifikan. Pakem pola membaca dan menulis yang saya terapkan harus tergeser. Saya tidak mengeluh tentu saja. Dikarenakan saya harus mencicipi orbit yang berbeda. Dengan demikian saya tahu rasanya dimensi lain kehidupan. Alasan lainnya ialah tentu saya harus menjamu keluarga jauh dari Amerika Serikat.

Kedatangan keluarga saya dari Amerika Serikat yang berdurasi dari tanggal 14 Agustus-11 September 2013 memberikan saya amunisi orbit yang berbeda dalam menjalani hidup. Pada beberapa hal saya benar-benar menikmati orbit yang saya jalani di sketsa waktu tersebut. Bahkan saya menjadi lebih mengerti dan melihat kota Jakarta ini dengan kacamata pemahaman yang lebih kaya. Bukankah begitu seharusnya hidup? Tidak terpaku pada kegiatan yang itu-itu terus menerus. Maka sejumlah pengalaman yang saya jumpai adalah bertransportasi dengan taksi, nongkrong di Starbucks, mencicipi BreadTalk, muhibah dari satu mall ke mall yang lain.

Pada poin bertransportasi dengan taksi, saya mendapati kebiasaan lama saya yang kembali terpanggil. Kebiasaan lama itu adalah melamun di pinggir jendela. Dengan transportasi utama saya kini yakni sepeda motor, maka kebiasaan melamun tersebut tereduksi dengan serius. Bertransportasi dengan taksi membuat saya tiada perlu untuk dipusingkan dengan konsentrasi dalam mengemudi. Tinggal menikmati perjalanan, berpikir varian hal, melamun, menelusuri arsitektur kota.

Pada poin nongkrong di Starbucks, saya mendapati kesantaian ibukota. Bagaimana seni menikmati hidup. Saya dan keponakan saya biasanya makan roti dari BreadTalk, menikmati green tea latte, memanfaatkan Wi-Fi, berbincang a-z tanpa skema baku, semua itu benar-benar menyegarkan jiwa saya. Saya tentu saja harus berterima kasih kepada keponakan saya yang bernama Muhammad Zuhdi untuk serangkaian orbit baru yang saya cicipi. Dengan demikian membuka tempurung saya dari pola baku: membaca-menulis. Bahkan dengan serangkaian orbit baru yang saya lalui tersebut merupakan referensi berharga bagi membaca-menulis. Saya bisa saja menulis-membaca di Starbucks sembari menyeruput green tea latte.

Pengalaman mengarungi orbit hidup yang berbeda membuat saya termantapkan untuk menjadi orang kaya. Harus diakui untuk mencicipi ragam pengalaman yang berbeda membutuhkan sokongan finansial. Dengan basis finansial maka pengalaman hidup ini dapat mengarungi aneka tempat dan peristiwa. Mencicipi orbit yang berbeda juga membutuhkan pertemanan dengan orang yang luwes dan mau berkembang. Oleh karena itu saya harus meluaskan jaring-jaring persahabatan. Menemui ragam manusia dengan variasi pikiran dan pengalaman. Saya teringat dengan Rose dalam film Titanic. Ia merampungkan hidupnya dengan sebenar-benarnya hidup. Ia menjalani segala janji petualangan yang didengungkan kepada Jack. Ia hidup dengan sebenar-benar hidup. Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih terpaku di orbit yang sama dengan rutinitas kegiatan yang membelenggu dan itu-itu lagi?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s