Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Pendidikan Negeri Ini

Wahyu Aditya pendiri HelloFest ketika sekolah memiliki 2 pelajaran resmi yang menjadi favoritnya yakni: Pelajaran Kesenian dan Jam Kosong. Pelajaran Kesenian adalah kesempatan baginya untuk belajar kesenian. Sedangkan Jam Kosong adalah kesempatan baginya untuk melatih lagi pelajaran kesenian.

Bagaimana dengan Anda ketika bersekolah, apa kiranya mata pelajaran favorit Anda? Jika memutar kembali memori ke masa sekolah rasa-rasanya hal yang sering saya lakukan adalah melamun dan cenderung bosan dengan pelajaran di dalam kelas. Sembari melamun dan cenderung bosan itu saya biasanya menggambar. Jadilah buku catatan saya disamping penuh dengan tulisan, juga penuh dengan gambar-gambar abstrak.

Sepanjang menempuh pendidikan, saya merasa begitu berat beban pelajaran. Mulai dari buku pelajaran yang bertumpuk-tumpuk, beban dari kurikulum yang ada, PR, ulangan, test, dan lain-lain. Menjadi pelajar di Indonesia seperti dipecut-pecut oleh waktu. Belum lagi narasi yang dikembangkan oleh sebagian orang tua dan pengajar untuk rajin-rajinlah belajar. Sedangkan untuk rajin-rajin belajar ini banyak sekali materi pelajaran yang harus dipelajari.

Bagi jiwa muda dicekoki pelajaran dan tugas-tugas itu terasa melelahkan. Lalu apa? Berapa banyak yang dipelajari itu untuk kemudian aplikatif di dunia setelah sekolah formal? Jangan lupakan pula horor ranking, ujian akhir ketika kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA, ujian masuk perguruan tinggi.

Baru-baru ini pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba mengenai jam belajar. Durasinya dari jam 7-9 malam. Tujuannya agar anak sekolah tidak keluyuran malam dan rajin belajar. Pertanyaan saya apakah hidup itu sekadar pada radius sekolah? Apakah hidup sekadar berprestasi dalam sekolah? Pola pendidikan menurut hemat saya seyogyanya memberikan ruang leluasa juga bagi murid untuk tiada hanya berkutat pada urusan belajar secara formal.

Ketika dulu di kampus, saya mengenal istilah study oriented. Bagi kalangan aktivis, study oriented masuk dalam kategori pragmatis. Yang pulang-pergi sekadar kuliah. Yang menargetkan lulus kuliah 4 tahun, bahkan kalau bisa 3,5 tahun. Nyatanya dalam kehidupan selepas sekolah formal, ada banyak variabel yang dibutuhkan untuk survive di lingkup pekerjaan. Ada komunikasi sosial, kemampuan negosiasi, kemampuan berorganisasi, dan lain-lain.

Ketika keponakan saya kembali ke Jakarta pada medio Agustus-September 2013 dia bercerita bahwa dirinya di Amerika Serikat bekerja part time. Bekerjanya adalah membantu ibunya (kakak saya) lalu dia mendapatkan sejumlah uang yang digunakannya untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya. Kemudian saya juga membaca testimoni dari Dino Patti Djalal ketika hidup di Amerika Serikat. Dia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring dan kuli gudang di KBRI. Dino juga pernah menjajal sebagai pelatih tenis, koki di restoran, tukang tiket di bioskop, towel boy tim basket, asisten dosen. Menurut Dino, bekerja adalah hal yang biasa bagi remaja di Amerika Serikat. Dengan bekerja Dino menjadi orang yang bertanggung jawab, menghargai aturan, disiplin (karena harus tepat waktu) dan kalkulatif. Dengan bekerja, beliau belajar bekerja sama dengan orang lain dan mengasah social skill (Dino Patti Djalal, Life Stories 2: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Berbagai Negara, hlm. 37).

Berbeda kiranya dengan budaya pendidikan yang berlaku di Indonesia. Dimana murid, mahasiswa yang lebih difokuskan untuk belajar dan belajar dalam lingkup formal. Seolah hidupnya hanya berkutat pada belajar, ujian, belajar, ujian. Alhasil frame berpikir yang terbentuknya adalah belajar, ujian, belajar, ujian.

Ketika awal masuk FISIP UI salah satu terminologi yang diperkenalkan adalah “pesta, buku, dan cinta”. Rupa-rupanya fakultas presitius dalam ilmu sosial di Indonesia ini tiada sekadar pada buku, buku, dan buku. Saya pun selama menjalani kuliah di FISIP UI merasakan nuansa bahwa metode pembelajaran yang digunakan mengharuskan untuk tidak sekadar buku, buku, dan buku. Ada diskusi, ada tugas kelompok, ada presentasi, ada makalah. Kesemuanya yang cukup mengasah skill, kompetensi di berbagai bidang.

Terus terang metode tersebut berbeda dengan 12 tahun di masa dari SD-SMA yang saya jalani. Ada lebih banyak output nyata dari pelajaran yang saya reguk. Dan itu lebih menantang bagi otak. Berbeda kiranya dengan PR di masa sekolah yang lebih seperti menghafal atau copy paste dari buku. Maka di kampus, saya mendapati eksplorasi ilmu lebih mendalam. Daya tulis saya tertantang dengan paper-paper yang harus dikerjakan. Kemampuan berdialektika saya terkembangkan dengan terbiasa berdebat baik di ruang kelas maupun lingkup organisasi.

Metode pendidikan memang boleh dibilang membentuk manusia. Jika sidang pembaca membaca novel ‘Negeri 5 Menara’ akan didapati bagaimana terbentuknya para santri dari pola pembelajaran yang ada. Mulai dari penulisan, berbahasa asing, berpidato, dan sebagainya.

Jika sidang pembaca membaca buku ‘Kreatif Sampai Mati’ akan terdapati bagaimana Wahyu Aditya semenjak di bangku sekolah telah belajar berkreativitas dengan karya. Ia membuat desain kaus olahraga resmi SMA-nya, membuat kop surat resmi SMU-nya menjadi lebih “gaul”, mengubah dekorasi kelasnya menjadi menarik dan memiliki unsur fantasi (Wahyu Aditya, Kreatif Sampai Mati, hlm. 150-151 dan 161-165).

Saya pikir pola pendidikan yang baik adalah mengasah kompetensi, skill di berbagai bidang. Bukan menjadikan murid sekadar menelan bahan pelajaran ataupun dalam kalimat sindiran “Catat Buku Sampai Abis (CBSA)”. Dunia pendidikan seharusnya mengembangkan kemampuan, daya pikir, daya kreasi. Dengan demikian produksi menjadi filosofi yang hidup di manusia negeri ini. Kita tentu miris dengan defisit neraca perdagangan yang terjadi. Ketika impor lebih besar dari ekspor. Ketika barang-barang impor meng-kooptasi pasar Indonesia yang besar. 240 juta rakyat Indonesia adalah jumlah yang besar. 240 juta adalah pasar yang besar. Seharusnya dengan populasi besar tersebut budaya menghasilkan, produksi, berkreativitas juga besar. Dan mungkin letoinya daya produksi jika dicari hulu masalahnya adalah sistem pendidikan yang salah. Sistem pendidikan yang tidak mengembangkan jiwa dan raga manusia Indonesia. Sistem pendidikan yang tidak mengembangkan narasi berpikir, daya kreasi, dan semangat memproduksi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s