Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Menanam

Pada hari Kamis 15 Agustus 2013 tempo hari saya berkesempatan untuk ikut dalam kegiatan Indonesia Diaspora yang bertempat di Banjir Kanal Timur. Kegiatan yang diadakan adalah menanam pohon trembesi. Pohon trembesi atau dikenal dengan pohon Hujan atau Ki Hujan adalah pohon berkanopi seperti payung yang memiliki ukuran daun yang tak lebih dari koin Rp. 100, namun paling unggul dalam menyerap gas CO2. Satu batang pohon Trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya (diameter tajuk 15m). Selain itu pohon Trembesi juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif, tanaman penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat.

Kegiatan menanam tersebut mengingatkan saya pada filosofi hidup untuk berbagi dan memberi. Ketika global warming semakin menunjukkan peningkatan maka upaya untuk memberi pada lingkungan juga bermunculan di mana-mana. Sebagai manusia kita harus menyadari adanya bahwa kehadiran kita merupakan resultan dari para pendahulu. Kita mewarisi berbagai hal dari para pendahulu: nilai, bumi, budaya, dan sebagainya. Seperti ditandaskan dalam Al Qur’an bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Maka manusialah yang seharusnya memakmurkannya. Bukan malahan melakukan kerusakan di darat dan di bumi, seperti disinyalir dalam Al Qur’an surat Ar-Rum ayat 41: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Menanam mengingatkan tentang elemen pewarisan. Apa kiranya yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita? Sebuah bumi yang kian renta, rusak? Nilai-nilai yang terdistorsi? Bumi memang akan menghadapi tantangan dengan kerusakan yang semakin kentara. Darat, laut, udara telah menunjukkan dekadensi serius. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Tentu saja ada berbagai opsi perbaikan, pencegahan untuk menjaga bumi ini. Ancaman menipisnya sumber energi tak terbarukan, lapisan ozon yang kian keropos, pemanasan suhu bumi, laut yang tercemar, merupakan rangkaian tantangan yang mengepung bumi dalam pertanyaan eksistensial.

Kecepatan penghancuran bumi ini sebanding dengan nafsu kerakusan yang membuncah dari manusia. Hal ini tercermin dari protokol Kyoto yang belum diikuti oleh semua negara di dunia. Sepulang dari acara menanam pohon trembesi di Banjir Kanal Timur saya mendapatkan souvenir pohon Kenitu. Souvenir berupa pohon mungkin dapat menjadi opsi untuk menyebarkan semangat dan kepedulian lingkungan. Manusia diajarkan untuk tidak sekadar menuntut, mengkonsumsi, melainkan juga untuk menumbuhkan, merawat, menjaga pohon agar dapat terus tumbuh. Karakter menanam, memberi, saya pikir merupakan poros dari pertanyaan eksistensial mengenai keberlanjutan planet bernama bumi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s