Posted in Buku, Essai, Politik

Generasi Pembuat Sejarah

Dino Patti Djalal merupakan sosok yang percaya bahwa energi positif merupakan hal yang dibutuhkan dalam membangun bangsa. Menurutnya semua bangsa di dunia – tidak peduli bangsa yang sudah ribuan tahun atau baru lahir, besar atau kecil, timur atau barat, kaya atau miskin – semuanya punya energi positif dan energi negatif. Semua bangsa punya energi membangun dan menghancurkan. Kedua energi ini akan selalu ada dalam kehidupan suatu bangsa, dalam takaran dan dinamika yang selau berubah-ubah.

Menurut sosok yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional ini energi negatif adalah energi yang memancarkan aura buruk dan gelap: kebencian, negativisme, rasialisme, pemaksaan kehendak, arogansi, iri hati, dengki, sikap tidak peduli dan fatalistis, malas, paranoia, feodalisme, eksklusivisme, ekstremisme, fitnah, KKN, apatis, pesimisme dan lain sebagainya.

Sebaliknya, energi positif adalah energi yang memancarkan aura sehat dan terang: positivisme, optimisme, idealisme, menghargai pendapat orang, altruisme, good governance, gotong royong, politik santun, sikap moderat, sikap inklusif, pluralisme, multikulturalisme, humanisme, filantropi, egalitarianisme, sikap sportif, toleransi, harmoni dan lainnya.

Bagi sosok yang menjadi arsitek dari forum US-Indonesia Security Dialogue ini nasionalisme yang berlandaskan energi negatif akan menjadi ultra-nasionalisme atau nasionalisme sempit. Sebaliknya, nasionalisme yang dijiwai energi positif akan menjadi nasionalisme yang sehat dan produktif.

Dino meyakini bahwa tugas utama pemimpin adalah untuk menyebarkan energi positif, dalam skala yang jauh melebihi energi negatif bangsanya. Namun untuk melakukan ini, sang pemimpin harus mempunyai energi positif yang mengalir dalam dirinya.

Menurut sosok yang pernah menjadi Juru Bicara Kepresidenan ini Indonesia di masa mendatang memiliki potensi yang luar biasa. Baginya 2014 merupakan pilihan sejarah. Dekade yang dihadapi adalah dekade transformasi. Itu ditunjukkan dengan kita yang akan menjadi generasi Indonesia pertama yang akan mencetak 1 trilyun dolar. Tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di Asia dan berhasil dalam waktu 10 tahun meningkatkan PDB per kapita kita sebesar 4 kali lipat.

Prestasi gemilang tersebut tak pernah terjadi dalam sejarah. Jadi jika ada yang meremehkan pencapaian monumental tersebut maka sesungguhnya yang diremehkan adalah prestasi bangsa sendiri.

Indonesia menurut Dino harus naik ke next level: dari bagus menjadi hebat. Generasi 2014 nanti harus mengubah nasib bangsa dari Indonesia bisa menjadi Indonesia serba bisa. Artinya secara ekonomi kita bisa menjadi raksasa Asia. Secara politik kita bisa menjadi demokrasi yang mapan dengan politik yang berkualitas. Secara budaya, tradisi dan modernitas tumbuh bersama secara harmonis. Dan secara sosial dapat hidup rukun dan bahagia dari Sabang-Merauke.

Bagi Dino Patti Djalal keikutsertaannya dalam Konvensi Demokrat bukanlah untuk melamar pekerjaan. Keikutsertaannya dikarenakan sejarah memanggil. Seperti dulu sejarah memanggil ayahnya yakni Prof.Hasjim Djalal yang seumur hidupnya berjuang untuk diplomasi laut untuk memperluas wilayah Indonesia. Dan hasilnya dapat terlihat dengan dari 2 juta km persegi waktu proklamsi hingga sekarang menjadi 5 juta km persegi.

Dino memandang kalah-menang dirinya dalam Konvensi Demokrat tidak menjadi soal. Dirinya bukanlah sosok yang haus kekuasaan tapi haus pengabdian dan prestasi. Bagi Dino yang menjadi produser film dokumenter “Politik luar negeri bebas aktif” ini dirinya ingin menjadi pelopor meritokrasi dimana setiap orang apa pun kesukuan, agama, punya kans yang sama dalam memimpin Indonesia.

Dino tidak akan mengusung popularisme sesat atau nasionalisme sempit. Dirinya akan menjadi pelopor nasionalisme unggul, modernisasi politik Indonesia, pelopor perubahan permanen. Ia akan menjadi kandidat yang mengedepankan kebenaran, solusi, logika walaupun kadang-kadang tidak harus populer. Ia akan merangkul siapapun yang berjiwa idealis-revolusionis dari partai manapun.

Dino percaya bahwa nasib Indonesia ditentukan oleh para pemimpin yang dedikatif di berbagai bidang di seluruh Indonesia. Kalau mereka semua maju, Indonesia menang, begitulah kiranya keyakinan dari sosok yang mengawali kariernya sebagai tukang cuci piring di KBRI ini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s