Posted in Buku, Essai, Politik

Si Pengambil Risiko

During the first period of a man’s life the greatest danger is not to take the risk. When once the risk has really been taken, then the greatest danger is to risk too much. – Kahlil Gibran

Kaliber seorang pemimpin dapat diukur dari kemampuannya membuat keputusan yang berani. Keberanian seorang pemimpin dapat diukur dari risiko yang diambilnya: kalau risikonya kecil, maka keputusannya biasa-biasa saja; kalau risikonya besar, baru keputusan itu bisa dianggap berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil risiko tidak akan mencapai prestasi besar.

Setiap perjuangan ada risikonya. Begitu juga dengan perjuangan untuk memajukan bangsa. Bagi seorang Dino Patti Djalal keputusan untuk mundur dari Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, serta melepas kariernya yang cemerlang sebagai diplomat karier merupakan keputusan historis. Ia melihat ada tanggung jawab moril yang diembannya manakala Indonesia berada di persimpangan sejarah.

Dino memandang perlu adanya regenerasi politik di Indonesia. Pelopor gerakan Modernisator ini melihat bahwa ada kejenuhan masyarakat dalam melihat politik. Apa yang dilihat oleh Dino ini terkonfirmasi dengan tingkat golput yang semakin besar dari pemilu ke pemilu. Itulah kiranya yang membuat Konvensi Demokrat merupakan mekanisme politik yang dapat mengikis kejenuhan masyarakat terhadap politik serta memberikan ruang bagi regenerasi politik.

Dengan adanya Konvensi Demokrat maka memberikan akses bagi berbagai tokoh dari ragam latar belakang untuk running menjadi RI-1. Konvensi bisa menjadi embun penyejuk bagi mampat, mandeknya sirkulasi kepemimpinan nasional. Alangkah membosankannya jika politik nasional sekadar diisi oleh orang-orang lama ataupun tokoh daur ulang yang telah berkontestasi dalam pemilihan sebelumnya.

Bagi Dino Patti Djalal budaya sinis yang semakin tinggi ini harus ditanggulangi. Oleh karena itu dirinya memilih untuk berdiri di garis terdepan pada politik 2014. Dan baginya tidak ada kehormatan yang lebih besar daripada itu. Keputusannya untuk mundur dari jabatan Dubes RI untuk Amerika Serikat dikarenakan Dino ingin menawarkan ide, konsep Indonesia Unggul ke berbagai pelosok negeri. Baginya lebih baik dirinya fokus menginspirasi dan memperkenalkan diri kepada bangsa Indonesia. Untuk misi besar yang satu ini, suami dari Drg. Rosa Rai ini rela untuk menanggalkan jaminan karier ataupun prestise yang mengiringinya dikarenakan kariernya yang cemerlang.

Di bawah tangan dinginnya, hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai pada tingkat puncak. Hal itu tercermin dari angka-angka investasi Amerika Serikat di Indonesia yang jumlahnya begitu besar. Prestasi lainnya dari Dino Patti Djalal tak terlepas dari kemampuannya dalam menjalin relasi. Diantaranya adalah pemecahan Guinness Book of World Record for Largest Angklung Ensemble, International Conference on Futurology, American Batik Design, produksi film “The Philosopher”, pertandingan sepakbola LA Galaxy vs PSSI, dan lain-lain.

Bagi Dino Patti Djalal yang pernah bekerja sebagai tukang cuci piring di KBRI keikutsertaannya dalam Konvensi Demokrat merupakan momen sejarah dan tanggung jawab moril. Baginya melakukan sesuatu yang baik akan berdampak lebih besar. Ia juga ingin membangun bangsa ini bukan dengan energi negatif, dan bukan dengan budaya sinis. Dino memandang orang yang negatif dan sinis tidak akan sukses.

Dino yang memulai karier diplomatiknya pada tahun 1986 dengan menjadi lokal staf bidang penerangan di Konsulat RI di Vancouver ini memandang bahwa segala prestasi yang ditorehkan merupakan kombinasi dari keberanian mengambil risiko, berinovasi, dan karena pengabdian. Mental pengabdian memang telah didoktrinasi dan di-brain wash oleh kedua orang tuanya semenjak dirinya kecil. Ayah dari Dino Patti Djalal sendiri merupakan seorang diplomat yakni Prof.Hasjim Djalal.

Bagi Dino yang menentukan arah Indonesia ke depannya bukan sekadar politik prosedural tapi politik konseptual. Politik prosedural yakni segala prosedur demokrasi seperti terselenggaranya pemilu setiap 5 tahun sekali. Sedangkan politik konseptual merupakan politik yang berintikan pada ide, gagasan. Politik konseptual merupakan antitesa dari politik pragmatisme-transaksional.

Dengan keyakinan pada politik konseptual, bagi seorang Dino kalaupun dirinya kalah dalam Konvensi Demokrat, namun jika 30-40% rakyat Indonesia telah mendengar nasionalisme unggul maka sesungguhnya dirinya telah menang.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s