Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Tersulut

Matanya jalang melihat para kroco-kroco di hadapannya. Ia adalah pemimpin baru disini. Maka di bawah kepemimpinan baru yang ada adalah cemeti dan cemberut. Tak ada lagi kata santai. Tak ada lagi humor ataupun tawa yang tiba-tiba terlintas di udara. Amboi segalanya dikemas dengan kalimat ‘untuk kebaikan entitas’.

Tentu ia punya sekutu jahat. Si pengutak-atik kombinasi. Maka mereka mengutak-atik kombinasi kemungkinan. Lalu tinggallah nanti dibungkus dengan titel ‘rasionalisasi’. Nasib para kroco? Ah silahkan dengarkan, taati perintah. Kalau tidak berkenan silahkan kemasi koper dan pergi dari teritori ini.

Matanya jalang melihat para kroco-kroco di hadapannya. Selalu ada yang salah pada diri kroco-kroco itu. Kurang ini, kurang itu. Ah payah betul mereka. Centimeter parameter yang dipakai adalah milik sang pemimpin baru. Benar/salah adalah keputusan absolut dari sang pemimpin baru. Para kroco membela diri? Haha..silahkan saja. Karena toh mata, telinga, dan hati sang pemimpin baru lebih keras dari batu. Tertutup. Tanpa kompromi.

Pidatonya di ujung senja membahana. Mengenai kurva naik sembari memeras saripati tenaga, pemikiran para kroco. Bagaimana dengan hak para kroco? “Apa?” tanya sang pemimpin. “Yang ada adalah kewajiban, kewajiban, dan kewajiban. Sudahlah jangan banyak bicara, mengeluh, kerjakan saja,” sang pemimpin menutup ruang dialog dan pertanyaan.

Matanya jalang melihat para…Tapi di mana para kroco-kroco itu? Si pengutak-atik kombinasi datang dengan tergopoh-gopoh setelah panggilan telepon setengah menghardik dari sang pemimpin. Jalannya tentu lambat karena perutnya menyembul dari kemeja. Ia terlalu berat di bobot, sementara substansi otaknya ringan.

“Dimana para kroco-kroco? Kelewatan sudah jam segini tak ada siapa-siapa di tempat ini,” keluh sang pemimpin.

Tak lama kemudian terdengar derak suara kunci yang mengunci. Bau bensin memenuhi ruangan. Sesosok senyum dalam gelap. Aku menyundut korek diantara genangan bensin. Api! Api! Api! Biar mereka berdua terbakar dalam panasnya. Silahkan berteriak. Silahkan memerintah. Silahkan menyerampah. Emosi kalian berdua terbakar bukan? Seperti tubuh kalian yang terbakar hebat.

Sang kroco telah membuat distingsi. Musnahlah para penjajah pikiran. Membusuklah dalam panas.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Gravitasi Ingatan

Kita punya jalan sukses masing-masing. Hidup memang dipenuhi hal yang tidak pasti, tapi perpindahan adalah sesuatu yang pasti. -DM

Benar adanya perpindahan adalah sesuatu yang pasti. Kita sesungguhnya mengalami perpindahan baik sadar ataupun tidak sadar. Banyak ketidakabadian yang sesungguhnya telah kita alami. Dalam perpindahan itu kita mengalami equilibrium yang baru. Kita beradaptasi. Menyesuaikan dengan “suhu yang baru”. Kenangan tentu sekali-kali mampir, namun hidup harus terus berjalan. Kita hidup dalam kekinian, tiada dapat terus hidup dalam lembah kenangan. Mereka yang melihat terlampau kerap dalam kenangan dapat terjebak dalam jebakan nostalgia.

Jalan sukses masing-masing itulah kiranya yang membuat perpindahan terjadi. Ada yang harus berpindah untuk memburu mimpi dan harapannya. Ada yang masih di suatu tempat untuk meningkatkan performa dan mencapai cita-citanya. Masing-masing dari kita punya mimpi, masing-masing dari kita dapat bertemu dalam satu fragmen waktu, lalu menemui bifurkasinya masing-masing.

Jalan sukses adalah misteri tersendiri. Terkadang ia datang dari masa lalu yang kembali bertemu pada masa mendatang. Yang harus dilakukan adalah fokus untuk memberi kebaikan pada masa kekinian.

Hidup memang dipenuhi hal yang tidak pasti. Kita dihadapkan pada sejumlah tantangan-tantangan pada setiap fase hidupnya. Yang harus kita lakukan adalah bertahan, survive, beradaptasi. Mungkin kita harus mempelajari ragam keahlian baru. Mungkin kita harus meningkatkan keahlian yang dimiliki. Mungkin kita harus membuat aliansi baru. Banyak hal kiranya yang dapat dimanajemeni terkait ketidakpastian.

Kemanapun seseorang itu pergi, tentunya ada jejak-jejak yang ditinggalkannya. Gravitasi ingatan yang terkait dengan dirinya. Semoga adalah gravitasi ingatan kebaikan yang menjadi dominasi utama dalam jejak yang ditinggalkan.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Cangkang Rutinitas

Seberapa seringkah Anda terkungkung dalam durasi waktu yang lama? Semenjak sekolah, lalu kuliah, dan kini bekerja, bagaimana terdapat durasi waktu pengekangan. Ketika sekolah terdapat keharusan masuk jam sekian hingga pulang jam sekian. Ketika kuliah juga terdapat mata kuliah yang harus diikuti pada jam-jam tertentu. Ketika bekerja, maka terdapat jam kantor yang membentang.

Harus diakui durasi metode rutin itu dapat menumpulkan kreativitas dan membuat Anda seolah tidak memiliki alternatif lainnya. Dahulu ketika masa sekolah, saya pernah tidak masuk sekolah untuk mencicipi orbit lainnya. Pun begitu ketika kuliah, saya memaksimalkan jatah bolos maksimal (hehe..). Ketika kini bekerja di lingkup kantor pun, saya terkadang menghilang dari peredaran kantor. Pernah suatu hari, saya cabut ke Bandung untuk mengikuti satu event yang bertemakan kreativitas. Sebenarnya saya lebih mengincar untuk merasakan perjalanan dan mencicipi orbit lainnya.

Karena saya percaya kita adalah manusia bukan robot. Maka segala order, tatanan itu dapat membuat kita lama-lama menjadi seperti mesin. Yang kaku, yang membosankan, yang menjemukan, yang kehilangan daya kreativitas. Maka “bandellah” sekali-kali. Jika masih sekolah, sekali-kalilah membolos. Jika masih kuliah, sekali-kalilah membolos. Jika bekerja, sekali-kalilah tidak usah masuk kantor. Tesis utamanya adalah untuk melihat alternatif lainnya. Anda akan melihat realitas yang selama ini terlewat. Anda akan menemukan ritme yang berbeda.

Simak apa yang dikatakan Yoris Sebastian (praktisi kreatif) mengenai break your routine (Yoris Sebastian, 101 Creative Notes, hlm. 11):

Salah satu cara yang simpel untuk menjadi lebih kreatif adalah mulai melawan rutinitas. Yup, rutinitas adalah salah satu penghambat kreativitas. Bukankah pada dasarnya kreativitas adalah sesuatu yang berbeda. Bagaimana kita mau melakukan sesuatu yang beda kalau sudah terlalu terbiasa dengan berbagai rutinitas.

Sejak mendirikan OMG Consulting, saya sudah tidak rutin lagi ke kantor. Saya bekerja di tempat-tempat yang berbeda. Tentunya ini adalah keuntungan saya sebagai owner dari perusahaan.

Tentunya pada beberapa orang apa yang dilakukan oleh Yoris terlampau ekstrem (tidak rutin lagi ke kantor. Anda dapat dipecat jika melakukannya apabila kantor Anda disiplin keras dalam absensi kehadiran), maka simaklah saran kreatif lainnya dari Yoris perihal change how you do your routine (Yoris Sebastian, 101 Creative Notes, hlm. 12):

Tidak semua orang seberuntung saya. Seringkali kita tidak bisa mengubah rutinitas kita. Ada yang harus kerja di kantor 9 to 5, ada yang harus kuliah, dan masih banyak lagi rutinitas yang wajib kita lakukan. Tapi kita bisa mengubah cara kita menjalankan rutinitas tersebut.

Di buku Creative Junkies, saya pernah kasih contoh mengubah posisi jam tangan. Di buku 101 Creative Notes ini saya kasih contoh lain lagi. Mengubah posisi handphone kita. Yang biasa menyimpan handphone di saku kanan kantung celana, coba deh dipindahkan ke kantung sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya. Sehingga pada saat handphone berbunyi, kebiasaan kita otomatis berlawanan arah.

Cara ini setidaknya membiasakan kita untuk tidak biasa. Sehingga saat kita ingin melakukan sesuatu yang kreatif alias tidak biasa, kita tidak terlalu susah lagi.

Saya cukupkan esai saya kali ini. Saya harap selepas membaca esai ini, Anda berani untuk keluar dari cangkang rutinitas. Mari melihat dunia dengan mencicipi orbit lainnya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Sosial Budaya

Negeri Penjajah

Selamat datang di negeri kami. Ini adalah romusha terselubung. Siapa bilang penjajahan telah mati dari muka bumi? Tapi bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan oleh karena itu penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Yap itu das sollen, namun das sein-nya tetap saja terjadi penjajahan.

Penjajahan itu adalah ketika punishment, raport merah, penilaian negatif yang rutin diberikan. Parameter? Ah persetan. Suka-suka para elite saja untuk melakukan ponten. Pembelaan diri? Silahkan saja berbicara panjang x lebar, tapi kami para elite telah menutup telinga kami, telah menutup mata kami, telah menutup hati kami teruntuk alternatif suara di luar kehendak kami: para elite.

Penjajahan itu adalah ketika weekend-mu adalah teror. Bahkan ketika manusia lainnya merayakan libur, melonjorkan kaki, berkumpul bersama keluarga, maka dirimu terus bergumul dengan tugas. Ini adalah logika pertumbuhan dan demi jayanya entitas. Begitu kiranya argumen cuci otak yang para elite lakukan.

Penjajahan itu adalah disparitas. Sementara yang berada di bawah terus dikuras, terus dituntut, terus dipersalahkan; maka para elitenya sedang menghirup candu dari nilai lebih yang dihasilkan bawahan. Disparitas itu memiliki dua lini. Lini pertama adalah sistem. Jadi sistem yang dibuat memberikan justifikasi agar disparitas itu lancar jaya. Lini kedua adalah behavioural. Ah para elite-elite itu selalu saja punya cara untuk merampok, memotong laba. Nanti tinggallah mereka memintal kata-kata untuk menghaluskan perampokan.

Penjajahan itu adalah ketika pikiranmu dijungkirbalikkan. Maka kau harus merongrong hakmu. Menagihnya, seolah kau mengemis, meski itu sebenarnya adalah hakmu yang nyata. Lalu pertanyaan membodohi dilantunkan: jangan tanya apa yang kau dapatkan, tapi tanya apa yang telah kau berikan. Ah rasanya kami telah beri kami punya waktu, tenaga, pikiran, tapi kami masih saja dipersalahkan. Yang kami dapatkan hanya ampas-ampas keuntungan.

Penjajahan itu adalah dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Maka mereka membayar dengan minimalis. Bahkan kadang tidak membayar sepeser pun. Sementara mereka melakukan penggelembungan harga. Lalu ketika beban ditebarlah ke berbagai penjuru. Ketika mereka mendapatkan laba, sunyilah mereka menghitung untung yang didapatkan.

Selamat datang di negeri penjajah. Tempat logika dan hati nurani diperas untuk padam.

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Perihal Pengejaran Cinta

“Stardust” pertama kali memikat saya dalam versi film. Film “Stardust” (2007) yang dibintangi oleh Charlie Cox, Claire Danes, Sienna Miller ini memikat saya dengan kisah roman yang dibalut dengan petualangan fantasi. Versi novelnya baru saya dapati ketika ada pameran buku di bilangan Istora Senayan. Tanpa pikir panjang saya pun membeli novel gubahan Neil Gaiman ini. Dan saya pun terpikat dengan edisi novelnya yang begitu indah. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, saya akan memilah beberapa dialog dalam novel “Stardust” perihal pengejaran cinta. Semoga sidang pembaca dapat menikmatinya.

Berikut ini adalah nukilan dialog antara Tristran Thorn dengan Victoria Forester (Neil Gaiman, Stardust-Serbuk Bintang, hlm. 53-56):

“Menikah denganmu? ulangnya, tak percaya. “Dan kenapa pula aku mau menikah denganmu, Tristran Thorn? Apa yang bisa kauberikan padaku?”

“Berikan padamu?” kata Tristran. “Aku rela pergi ke India demi kau, Victoria Forester, dan membawakan gading gajah untukmu, dan mutiara sebesar jempolmu, dan batu mirah sebesar telur burung berencet.

“Aku rela pergi ke Afrika, dan membawakanmu berlian sebesar bola kriket. Akan kucari mata air Sungai Nil dan kunamai dengan namamu.

“Aku rela pergi ke Amerika—hingga ke San Francisco, ke ladang emas, dan aku tak akan pulang sampai kukumpulkan emas yang sebobot denganmu. Lalu akan kubawa pulang kemari, dan kupersembahkan di kakimu.

“Aku rela pergi ke negeri utara yang jauh, andai kau mengucap perintah, dan membunuh beruang kutub yang perkasa, dan membawakan pulang kulit bulunya untukmu.”

Menurutku rayuanmu cukup bagus,” kata Victoria Forester, “hingga kau mulai bicara tentang membunuh beruang kutub. Meskipun demikian, pelayan toko dan penggembala cilik, aku tak akan menciummu; maupun menikahimu.”

Mata Tristran menyala dalam cahaya bulan. “Aku rela pergi ke Cathay demi kau dan membawakanmu kapal jung besar yang kurampas dari raja bajak laut, berisikan giok dan sutra dan candu.

“Aku rela pergi ke Australia, di dasar bumi,” kata Tristran, “dan membawakanmu. Mm.” Dia mencari-cari dalam novel-novel petualangan di benaknya, mencoba mengingat apakah ada tokoh yang mengunjungi Australia. “Kanguru,” katanya. “Dan baiduri,” tambahnya. Dia cukup yakin tentang baiduri.

Victoria Forester meremas tangannya. “Dan buat apa aku punya kanguru?” tanyanya. “Nah, sebaiknya kita beranjak. Kalau tidak, ayah dan ibuku akan bertanya-tanya mengapa aku terlambat pulang, dan mereka akan mengambil kesimpulan yang sama sekali tidak benar. Karena aku tidak menciummu, Tristran Thorn.”

“Ciumlah aku,” pemuda itu memohon. “Apa pun rela kulakukan demi ciumanmu, gunung mana pun akan kudaki, sungai apa pun akan kuarungi, gurun mana pun akan kuseberangi.”

Dia menyapukan tangannya lebar, menunjuk desa Tembok di bawah mereka, langit malam di atas mereka. Dalam gugus bintang Belantik, rendah di cakrawala Timur, sebuah bintang berdenyar dan berkemilau dan jatuh.

“Demi sebuah ciuman, dan ikrar pernikahan,” kata Tristran dengan berbunga-bunga, “aku rela membawakanmu bintang jatuh itu.”

Si pemuda menggigil. Jaketnya tipis, dan tampak jelas dia tak akan mendapatkan ciuman yang dimintanya, membuatnya heran. Pahlawan perkasa dalam novel-novel petualangan tak pernah bermasalah saat minta dicium.

“Pergilah, kalau begitu,” kata Victoria. “Dan kalau kau berhasil, aku mau.”

“Apa?” kata Tristran.

“Kalau kau membawakan bintang itu untukku,” kata Victoria, “bintang yang baru saja jatuh, bukan bintang lain, maka aku akan menciummu. Entah apa lagi yang akan kulakukan. Nah: sekarang kau tak perlu pergi ke Australia, ataupun ke Afrika, ataupun ke Cathay yang jauh.”

“Dan kalau kubawakan bintang jatuh itu untukmu?” tanya Tristran ringan. “Kau mau memberiku apa? Ciuman? Janjimu akan menikah denganku?”

“Apa pun yang kauinginkan,” kata Victoria geli.

“Kau bersumpah?” tanya Tristran.

Mereka sedang menempuh satu meter terakhir menuju rumah Forester. Jendela-jendela menyala dengan cahaya lampu, kuning dan jingga.

“Tentu saja,” kata Victoria sambil tersenyum.

Jalan setapak menuju peternakan Forester berupa lumpur terbuka, terinjak-injak menjadi rawa oleh kaki kuda dan sapi dan domba dan anjing. Tristran Thorn berlutut dalam lumpur, tak memedulikan jaketnya atau celana wolnya. “Baiklah,” katanya.

Angin pun bertiup dari timur.

“Akan kutinggal kau di sini, nonaku,” kata Tristran Thorn. “Karena aku ada urusan mendesak, ke Timur.” Dia berdiri, tak memedulikan lumpur dan rawa yang menempel pada lutut dan jaketnya, dan dia membungkuk pada sang dara, lalu mengangkat topi bundarnya.

Victoria Forester menertawakan pelayan toko ceking itu, tertawa panjang dan nyaring dan geli, dan denting tawanya mengikuti Tristran kembali menuruni bukit dan menjauh.

Stardust

Berikut ini adalah nukilan dialog antara Tristran Thorn dengan si katai berbulu lebat (Neil Gaiman, Stardust-Serbuk Bintang, hlm. 85-87):

“Coba kauceritakan apa tujuanmu,” kata si katai berbulu lebat saat mereka duduk di tanah dan menenguk teh.

Tristran berpikir beberapa saat, lalu berkata, “Aku dari desa Tembok. Di sana ada gadis bernama Victoria Forester, yang tiada taranya di antara wanita, dan kepadanya semata kuberikan hatiku. Wajahnya…”

“Pujian standar tentang kecantikannya?” tanya makhluk kecil itu. “Mata? Hidung? Gigi? Semua yang standar?”

“Tentu saja.”

“Nah, bagian itu dilompati saja,” kata si katai berbulu lebat. Kita anggap saja sudah diceritakan. Jadi, hal konyol dan dungu apa yang disuruh dara ini kepadamu?”

Tristran meletakkan cangkir teh kayunya, dan berdiri, tersinggung.

“Apa,” tanyanya, dalam nada yang dia yakin terdengar agung dan menegur, “yang membuatmu membayangkan bahwa dara-kasihku menugaskan pekerjaan konyol padaku?”

Lelaki kecil itu menengadah dan menatapnya dengan mata seperti manik arang. “Karena itulah satu-satunya alasan yang menyebabkan pemuda sepertimu menjadi bodoh sehingga mau melintasi perbatasan ke Negeri Peri. Pemuda-pemuda yang datang kemari dari negerimu hanyalah penyanyi-kelana, kekasih, dan orang gila. Dan penampilanmu tidak mirip penyanyi, dan kau—maafkan aku berkata begini, Nak, tapi benar kok—kau tampak biasa-biasa saja, sebiasa rumah keju. Jadi ini soal cinta, kalau kau tanya aku.”

“Karena,” Tristran menyatakan, “setiap kekasih adalah orang gila dalam hatinya dan penyanyi dalam benaknya.”

“Oh ya?” kata si katai ragu. “Aku belum pernah memerhatikan. Jadi, ada seorang pemudi. Apakah dia menyuruhmu ke sini untuk mencari kekayaan? Dulu itu pernah populer juga. Banyak anak-anak muda lalu-lalang di mana-mana, mencari tumpukan emas yang berabad-abad dikumpulkan oleh raksasa atau naga.”

“Bukan. Bukan kekayaan. Lebih berupa janjiku pada dara tersebut. Aku… kami sedang mengobrol, dan aku menjanjikan dia berbagai hal, dan kami melihat bintang jatuh ini, dan aku berjanji membawakannya untuknya. Dan bintang itu jatuh…” dia melambaikan tangan ke deretan gunung, ke arah matahari terbit “…di sana.”

Si katai berbulu lebat menggaruk dagu. Atau moncong; bisa saja itu moncongnya. “Kau tahu apa yang kulakukan, kalau aku jadi kau?”

“Tidak,” kata Tristran, harap memuncak dalam dirinya, “apa?”

Lelaki kecil itu menyeka hidung. “Akan kusuruh gadismu itu membenamkan wajah ke kandang babi, dan akan kucari gadis lain yang mau mencium tanpa meminta bumi. Pasti ketemu satu. Di negeri asalmu, hampir mustahil kau bisa melempar setengah batu bata tanpa menghantam satu gadis semacam itu.”

“Tak ada gadis lain,” kata Tristran yakin.

Demikianlah 2 cuplikan dialog dari novel “Stardust-Serbuk Bintang”. Saya pikir saya tidak perlu menyimpulkan apa-apa. Biarlah sidang pembaca yang memaknai 2 cuplikan dialog tersebut dengan perspektif masing-masing.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in puisi, sastra

Dan Bumi Tersenyum

Dan bumi tersenyum
Hanya pandangi kamu yang melamun
Di pinggir jendela
Di antara rintik hujan

Apa gerangan perasaan?
Bagaimana kabarnya dilema?
Karena kamu adalah keindahan
Dan kamu harus memilih, sungguh

Dan bumi tersenyum
Engkau tetap cantik dalam risaumu
Dalam tanya yang membeku
Dalam percabangan-percabangan kemungkinan

Kau layangkan pandang dari pinggir jendela
Kau amati arsitektur kota
Kau amati pertanda tersembunyi dari harmoni alam
Adakah isyarat dari hujan?
Adakah isyarat dari bumi?

Kau tuliskan perlahan keputusanmu
Setelah cakap kau timang-timang dalam pikiran
Kau terbangkan bersama angin hujan
Keputusanmu terhanyut udara hujan bulan November

Melentingkan senyum di wajah yang satu
Mengirimkan tabir luka di wajah yang lainnya

Dan bumi tersenyum,
Hanya tersenyum,
Kau telah memilih

Posted in Essai, Politik

Dahlan Iskan Bicara Korupsi

Pada sesi pidato peserta Konvensi Demokrat, Dahlan Iskan berhasil mencuri dengar dan perhatian khalayak ramai. Ia dengan cerkas mengawali pidatonya dengan mengucapkan terima kasih kepada istrinya. Istrinya semula menentang keras Dahlan Iskan untuk menjadi pejabat pemerintahan. Apa pasal? Hal itu dikarenakan korupsi yang menjerat banyak pejabat negara. Seperti baru-baru ini bagaimana jagat hukum dan sosial politik Indonesia terguncang dengan tertangkap tangannya Akil Mochtar yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.

Dahlan Iskan sendiri memiliki visi tersendiri dalam menghadapi koruptor. Ia memandang koruptor agar jangan hanya masuk penjara, tapi juga digugat secara perdata. Dengan gugatan secara perdata maka harta negara bisa kembali pada negara. Perspektif dari Dahlan Iskan ini berarti menghendaki agar para koruptor mengembalikan segala hasil korupsinya kepada negara. Hal ini tentu merupakan sebuah konsep yang perlu untuk dilaksanakan. Mengingat korupsi telah demikian sistemik, bahkan ditenggarai telah menjadi budaya.

Dengan gugatan perdata maka akan menimbulkan efek jera. Bagi mereka-mereka yang mencoba-coba untuk melakukan korupsi akan berpikir ulang. Selain bisa masuk penjara, segala hasil korupsi dapat dikejar oleh negara. Korupsi yang menggurita di negeri ini salah satu penyebabnya adalah hukuman terhadap koruptor yang relatif ringan serta setelah bebas para koruptor dapat menikmati harta korupsinya.

Dahlan Iskan yang kini ikut berkontestasi dalam Konvensi Demokrat tentu dinantikan visi misinya mengenai pembangunan negeri ini ke depannya. Salah satu poin rawan yang didedahkan terkait Konvensi Demokrat yakni perihal biaya untuk kegiatan kandidat. Jika menilik Aturan Pokok Konvensi Partai Demokrat maka terdapati: Peserta konvensi atau kandidat tidak dipungut biaya. Dalam semua kegiatan konvensi yang diselenggarakan, biaya ditanggung oleh komite konvensi. Biaya konvensi berasal dari sumber-sumber yang sah dan halal. Biaya-biaya untuk kegiatan kandidat yang dilakukan di luar konvensi disediakan oleh kandidat itu sendiri dan diwajibkan berasal dari sumber yang sah dan halal.

Dahlan Iskan sendiri yang menjabat sebagai pejabat publik menyadari betul bahwa posisinya kini (Menteri BUMN dan peserta Konvensi Demokrat) dapat rawan gratifikasi dengan kedok sumbangan dana untuk keikutsertaannya di Konvensi Demokrat. Sejak semula kerawanan macam itu telah ditangkis oleh Dahlan Iskan. Bagi Dahlan Iskan jika dirinya tidak terpilih sebagai capres dari Partai Demokrat bukanlah suatu masalah. Ia lebih concern untuk membangun politik Indonesia. Dahlan Iskan ingin menciptakan politik murah. Dirinya tidak ingin menyumbangkan konsep politik yang mahal. High cost politics bagi Dahlan Iskan akan membuat kandidat yang menang akan mencari kembalian uang setelah terpilih nantinya. High cost politics inilah yang dapat menjadi hulu dari korupsi.

Jenderal Hoegeng pernah menganalogikan memberantas korupsi dengan mandi. Diawali dengan membasuh kepala. Dengan demikian yang berada di level teratas merupakan pihak yang paling punya daya untuk memberantas korupsi. Kita nantikan saja kiprah dari Dahlan Iskan selanjutnya. Mampukah Dahlan Iskan untuk memenangkan Konvensi Demokrat ini untuk kemudian menjadi RI-1. Tentunya dengan berada di posisi RI-1 upaya untuk memberantas korupsi akan teruji antara kata dan perbuatan.