Posted in Essai, Politik

Bukan Sekadar Pertarungan Memperebutkan Kekuasaan

Gita Wirjawan merupakan salah satu pejabat publik yang ikut bersaing dalam Konvensi Demokrat. Apa saja kiranya buah pemikiran dari pria kelahiran 21 September 1965 ini? Gita Wirjawan melihat bahwa Konvensi Partai Demokrat bukanlah pertarungan memperebutkan kekuasaan. Dirinya bahkan memandang bahwa Konvensi Demokrat ini lebih penting dari tujuan-tujuan politik sempit. Dan tentunya Indonesia terlalu besar dan terlalu penting untuk dikorbankan sebagai objek pertarungan kekuasaan.

Susilo Bambang Yudhoyono yang akan mengakhiri masa jabatannya pada tahun depan memang telah memonitori Gita Wirjawan sebagai salah satu sosok yang dianggap kompeten untuk menjadi RI-1. List yang dibuat SBY ditenggarai berisi 10-15 nama tokoh. Nama-nama itu masuk dalam radar Yudhoyono dalam dua tahun terakhir. Sebagian besar nama dalam daftar panjang Yudhoyono tidak terafiliasi dengan partai politik. Di sini ada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, pengusaha Chairul Tanjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., serta Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman. Pramono Edhie dan ibu negara Ani Yudhoyono juga masuk daftar.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PBSI ini juga memandang bahwa Konvensi Demokrat merupakan pilihan demokratis yang bisa memberikan pilihan bermutu kepada rakyat agar mereka bisa memilih pemimpin yang bisa membawa Indonesia yang kita cita-citakan. Ia ingin membuktikan bahwa sinisme yang mencurigai Konvensi Partai Demokrat sebagai basa basi itu tidak benar.

Keputusannya untuk ikut dalam Konvensi Demokrat dikarenakan keyakinannya bahwa rakyat banyak berpihak kepada mereka yang berpihak untuk kepentingan luas. Rakyat berpihak kepada mereka yang bersih dan jujur, kepada mereka yang berani dan tegas, kepada mereka yang tiada hentinya bekerja keras.

Menurut Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ini, dirinya mengikuti Konvensi Demokrat karena dia yakin melalui Konvensi bisa melahirkan pemimpin masa depan yang diminati rakyat. Baginya hasil Konvensi Demokrat bukan sekadar siapa yang menang, namun tentang kriteria kepemimpinan mendatang.

Gita sendiri membeberkan kriteria kepemimpinan bahwa dibutuhkan pemimpin yang benar-benar memiliki kriteria seperti harapan semua pihak, salah satunya harus berjiwa nasionalisme.

Gita Wirjawan percaya bangsa Indonesia adalah bangsa yang hebat. Menurutnya bangsa ini lebih berani dari yang kita kira, lebih cerdas dari yang kita pikir. Gita Wirjawan dalam konsep pemikrannya menarasikan 4 prioritas utama, yakni: 1. Menguatkan ekonomi kita yang kental dengan pemerataan; 2. Memerangi korupsi dan melakukan reformasi hukum yang menjadi syarat untuk kesetaraan; 3. Untuk memperbaiki pendidikan kita yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat luas dan dunia kerja; 4. Merawat dan memperbaiki kemajemukan bangsa kita.

Gita Wirjawan yang pernah menjabat sebagai Kepala BKPM dan kini menjabat sebagai Menteri Perdagangan tentunya memiliki pandangan tersendiri mengenai investasi. Dalam hal investasi, Gita meyakini bahwa pembangunan di Indonesia masih memerlukan bantuan keuangan. Menurutnya Indonesia sebagai negara berkembang masih memerlukan investasi asing (foreign investment) sebagai penunjang kekurangan modal (capital) yang terjadi. Gita Wirjawan menganalogikan Indonesia adalah sebuah bangunan yang kekurangan dana untuk membuat atapnya.

Oleh karena itu, menurut pria yang piawai memainkan beberapa jenis alat musik ini, bantuan dari luar sebaiknya tidak ditanggapi negatif. Dengan melihat dari sisi positifnya, maka bantuan ini harus diartikan sebagai modal untuk membangun kekuatan ekonomi. Bantuan dari luar negeri seharusnya diartikan sebagai dukungan untuk membangun ekonomi negara bukan menjual negara.

Gita Wirjawan sendiri memandang Konvensi Demokrat sebagai mekanisme pemilihan pemimpin yang demokratis. Gita menginginkan demokrasi bisa berkesinambungan dengan cara yang indah, memposisikan Indonesia di tempat yang tepat dalam kancah internasional.

Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Perdagangan Gita Wirjawan merasakan bahwa masyarakat di pelosok masih minim pemahaman mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN, interconnected antarnegara.

Sekalipun ikut dalam Konvensi Demokrat bukan berarti, Gita Wirjawan menafikan tugas, pokok, dan fungsi utamanya. Terbukti pada bulan Agustus kemarin, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dan mengalami deflasi. Ini berarti langkah-langkah yang dibuat oleh Kementerian Perdagangan telah berbuah positif.

Menurut Gita, bangsa kita saat ini berada di persimpangan. Apakah akan mundur, mengalami stagnasi, atau maju ke depan. Kita sangat mampu untuk melalui persimpangan ini. Caranya adalah dengan melanjutkan yang sudah baik dari arah pembangunan bangsa ini. Baginya Indonesia bisa menggapai kegemilangan di masa depan apabila bisa mengalahkan keraguan. Keraguan itu akan meruntuhkan keyakinan dan mengkerdilkan keberdayaan kita.
Gita Wirjawan merupakan sosok yang mengusung agar anak negeri ini bangga menggunakan produk anak bangsa. Dengan kebanggaan menggunakan produk anak bangsa maka percayalah Indonesia akan bisa lebih baik lagi dari apa yang dicapai sekarang ini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s