Posted in Essai, Politik

Dahlan Iskan Bicara Korupsi

Pada sesi pidato peserta Konvensi Demokrat, Dahlan Iskan berhasil mencuri dengar dan perhatian khalayak ramai. Ia dengan cerkas mengawali pidatonya dengan mengucapkan terima kasih kepada istrinya. Istrinya semula menentang keras Dahlan Iskan untuk menjadi pejabat pemerintahan. Apa pasal? Hal itu dikarenakan korupsi yang menjerat banyak pejabat negara. Seperti baru-baru ini bagaimana jagat hukum dan sosial politik Indonesia terguncang dengan tertangkap tangannya Akil Mochtar yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.

Dahlan Iskan sendiri memiliki visi tersendiri dalam menghadapi koruptor. Ia memandang koruptor agar jangan hanya masuk penjara, tapi juga digugat secara perdata. Dengan gugatan secara perdata maka harta negara bisa kembali pada negara. Perspektif dari Dahlan Iskan ini berarti menghendaki agar para koruptor mengembalikan segala hasil korupsinya kepada negara. Hal ini tentu merupakan sebuah konsep yang perlu untuk dilaksanakan. Mengingat korupsi telah demikian sistemik, bahkan ditenggarai telah menjadi budaya.

Dengan gugatan perdata maka akan menimbulkan efek jera. Bagi mereka-mereka yang mencoba-coba untuk melakukan korupsi akan berpikir ulang. Selain bisa masuk penjara, segala hasil korupsi dapat dikejar oleh negara. Korupsi yang menggurita di negeri ini salah satu penyebabnya adalah hukuman terhadap koruptor yang relatif ringan serta setelah bebas para koruptor dapat menikmati harta korupsinya.

Dahlan Iskan yang kini ikut berkontestasi dalam Konvensi Demokrat tentu dinantikan visi misinya mengenai pembangunan negeri ini ke depannya. Salah satu poin rawan yang didedahkan terkait Konvensi Demokrat yakni perihal biaya untuk kegiatan kandidat. Jika menilik Aturan Pokok Konvensi Partai Demokrat maka terdapati: Peserta konvensi atau kandidat tidak dipungut biaya. Dalam semua kegiatan konvensi yang diselenggarakan, biaya ditanggung oleh komite konvensi. Biaya konvensi berasal dari sumber-sumber yang sah dan halal. Biaya-biaya untuk kegiatan kandidat yang dilakukan di luar konvensi disediakan oleh kandidat itu sendiri dan diwajibkan berasal dari sumber yang sah dan halal.

Dahlan Iskan sendiri yang menjabat sebagai pejabat publik menyadari betul bahwa posisinya kini (Menteri BUMN dan peserta Konvensi Demokrat) dapat rawan gratifikasi dengan kedok sumbangan dana untuk keikutsertaannya di Konvensi Demokrat. Sejak semula kerawanan macam itu telah ditangkis oleh Dahlan Iskan. Bagi Dahlan Iskan jika dirinya tidak terpilih sebagai capres dari Partai Demokrat bukanlah suatu masalah. Ia lebih concern untuk membangun politik Indonesia. Dahlan Iskan ingin menciptakan politik murah. Dirinya tidak ingin menyumbangkan konsep politik yang mahal. High cost politics bagi Dahlan Iskan akan membuat kandidat yang menang akan mencari kembalian uang setelah terpilih nantinya. High cost politics inilah yang dapat menjadi hulu dari korupsi.

Jenderal Hoegeng pernah menganalogikan memberantas korupsi dengan mandi. Diawali dengan membasuh kepala. Dengan demikian yang berada di level teratas merupakan pihak yang paling punya daya untuk memberantas korupsi. Kita nantikan saja kiprah dari Dahlan Iskan selanjutnya. Mampukah Dahlan Iskan untuk memenangkan Konvensi Demokrat ini untuk kemudian menjadi RI-1. Tentunya dengan berada di posisi RI-1 upaya untuk memberantas korupsi akan teruji antara kata dan perbuatan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s