Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Perihal Pengejaran Cinta

“Stardust” pertama kali memikat saya dalam versi film. Film “Stardust” (2007) yang dibintangi oleh Charlie Cox, Claire Danes, Sienna Miller ini memikat saya dengan kisah roman yang dibalut dengan petualangan fantasi. Versi novelnya baru saya dapati ketika ada pameran buku di bilangan Istora Senayan. Tanpa pikir panjang saya pun membeli novel gubahan Neil Gaiman ini. Dan saya pun terpikat dengan edisi novelnya yang begitu indah. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, saya akan memilah beberapa dialog dalam novel “Stardust” perihal pengejaran cinta. Semoga sidang pembaca dapat menikmatinya.

Berikut ini adalah nukilan dialog antara Tristran Thorn dengan Victoria Forester (Neil Gaiman, Stardust-Serbuk Bintang, hlm. 53-56):

“Menikah denganmu? ulangnya, tak percaya. “Dan kenapa pula aku mau menikah denganmu, Tristran Thorn? Apa yang bisa kauberikan padaku?”

“Berikan padamu?” kata Tristran. “Aku rela pergi ke India demi kau, Victoria Forester, dan membawakan gading gajah untukmu, dan mutiara sebesar jempolmu, dan batu mirah sebesar telur burung berencet.

“Aku rela pergi ke Afrika, dan membawakanmu berlian sebesar bola kriket. Akan kucari mata air Sungai Nil dan kunamai dengan namamu.

“Aku rela pergi ke Amerika—hingga ke San Francisco, ke ladang emas, dan aku tak akan pulang sampai kukumpulkan emas yang sebobot denganmu. Lalu akan kubawa pulang kemari, dan kupersembahkan di kakimu.

“Aku rela pergi ke negeri utara yang jauh, andai kau mengucap perintah, dan membunuh beruang kutub yang perkasa, dan membawakan pulang kulit bulunya untukmu.”

Menurutku rayuanmu cukup bagus,” kata Victoria Forester, “hingga kau mulai bicara tentang membunuh beruang kutub. Meskipun demikian, pelayan toko dan penggembala cilik, aku tak akan menciummu; maupun menikahimu.”

Mata Tristran menyala dalam cahaya bulan. “Aku rela pergi ke Cathay demi kau dan membawakanmu kapal jung besar yang kurampas dari raja bajak laut, berisikan giok dan sutra dan candu.

“Aku rela pergi ke Australia, di dasar bumi,” kata Tristran, “dan membawakanmu. Mm.” Dia mencari-cari dalam novel-novel petualangan di benaknya, mencoba mengingat apakah ada tokoh yang mengunjungi Australia. “Kanguru,” katanya. “Dan baiduri,” tambahnya. Dia cukup yakin tentang baiduri.

Victoria Forester meremas tangannya. “Dan buat apa aku punya kanguru?” tanyanya. “Nah, sebaiknya kita beranjak. Kalau tidak, ayah dan ibuku akan bertanya-tanya mengapa aku terlambat pulang, dan mereka akan mengambil kesimpulan yang sama sekali tidak benar. Karena aku tidak menciummu, Tristran Thorn.”

“Ciumlah aku,” pemuda itu memohon. “Apa pun rela kulakukan demi ciumanmu, gunung mana pun akan kudaki, sungai apa pun akan kuarungi, gurun mana pun akan kuseberangi.”

Dia menyapukan tangannya lebar, menunjuk desa Tembok di bawah mereka, langit malam di atas mereka. Dalam gugus bintang Belantik, rendah di cakrawala Timur, sebuah bintang berdenyar dan berkemilau dan jatuh.

“Demi sebuah ciuman, dan ikrar pernikahan,” kata Tristran dengan berbunga-bunga, “aku rela membawakanmu bintang jatuh itu.”

Si pemuda menggigil. Jaketnya tipis, dan tampak jelas dia tak akan mendapatkan ciuman yang dimintanya, membuatnya heran. Pahlawan perkasa dalam novel-novel petualangan tak pernah bermasalah saat minta dicium.

“Pergilah, kalau begitu,” kata Victoria. “Dan kalau kau berhasil, aku mau.”

“Apa?” kata Tristran.

“Kalau kau membawakan bintang itu untukku,” kata Victoria, “bintang yang baru saja jatuh, bukan bintang lain, maka aku akan menciummu. Entah apa lagi yang akan kulakukan. Nah: sekarang kau tak perlu pergi ke Australia, ataupun ke Afrika, ataupun ke Cathay yang jauh.”

“Dan kalau kubawakan bintang jatuh itu untukmu?” tanya Tristran ringan. “Kau mau memberiku apa? Ciuman? Janjimu akan menikah denganku?”

“Apa pun yang kauinginkan,” kata Victoria geli.

“Kau bersumpah?” tanya Tristran.

Mereka sedang menempuh satu meter terakhir menuju rumah Forester. Jendela-jendela menyala dengan cahaya lampu, kuning dan jingga.

“Tentu saja,” kata Victoria sambil tersenyum.

Jalan setapak menuju peternakan Forester berupa lumpur terbuka, terinjak-injak menjadi rawa oleh kaki kuda dan sapi dan domba dan anjing. Tristran Thorn berlutut dalam lumpur, tak memedulikan jaketnya atau celana wolnya. “Baiklah,” katanya.

Angin pun bertiup dari timur.

“Akan kutinggal kau di sini, nonaku,” kata Tristran Thorn. “Karena aku ada urusan mendesak, ke Timur.” Dia berdiri, tak memedulikan lumpur dan rawa yang menempel pada lutut dan jaketnya, dan dia membungkuk pada sang dara, lalu mengangkat topi bundarnya.

Victoria Forester menertawakan pelayan toko ceking itu, tertawa panjang dan nyaring dan geli, dan denting tawanya mengikuti Tristran kembali menuruni bukit dan menjauh.

Stardust

Berikut ini adalah nukilan dialog antara Tristran Thorn dengan si katai berbulu lebat (Neil Gaiman, Stardust-Serbuk Bintang, hlm. 85-87):

“Coba kauceritakan apa tujuanmu,” kata si katai berbulu lebat saat mereka duduk di tanah dan menenguk teh.

Tristran berpikir beberapa saat, lalu berkata, “Aku dari desa Tembok. Di sana ada gadis bernama Victoria Forester, yang tiada taranya di antara wanita, dan kepadanya semata kuberikan hatiku. Wajahnya…”

“Pujian standar tentang kecantikannya?” tanya makhluk kecil itu. “Mata? Hidung? Gigi? Semua yang standar?”

“Tentu saja.”

“Nah, bagian itu dilompati saja,” kata si katai berbulu lebat. Kita anggap saja sudah diceritakan. Jadi, hal konyol dan dungu apa yang disuruh dara ini kepadamu?”

Tristran meletakkan cangkir teh kayunya, dan berdiri, tersinggung.

“Apa,” tanyanya, dalam nada yang dia yakin terdengar agung dan menegur, “yang membuatmu membayangkan bahwa dara-kasihku menugaskan pekerjaan konyol padaku?”

Lelaki kecil itu menengadah dan menatapnya dengan mata seperti manik arang. “Karena itulah satu-satunya alasan yang menyebabkan pemuda sepertimu menjadi bodoh sehingga mau melintasi perbatasan ke Negeri Peri. Pemuda-pemuda yang datang kemari dari negerimu hanyalah penyanyi-kelana, kekasih, dan orang gila. Dan penampilanmu tidak mirip penyanyi, dan kau—maafkan aku berkata begini, Nak, tapi benar kok—kau tampak biasa-biasa saja, sebiasa rumah keju. Jadi ini soal cinta, kalau kau tanya aku.”

“Karena,” Tristran menyatakan, “setiap kekasih adalah orang gila dalam hatinya dan penyanyi dalam benaknya.”

“Oh ya?” kata si katai ragu. “Aku belum pernah memerhatikan. Jadi, ada seorang pemudi. Apakah dia menyuruhmu ke sini untuk mencari kekayaan? Dulu itu pernah populer juga. Banyak anak-anak muda lalu-lalang di mana-mana, mencari tumpukan emas yang berabad-abad dikumpulkan oleh raksasa atau naga.”

“Bukan. Bukan kekayaan. Lebih berupa janjiku pada dara tersebut. Aku… kami sedang mengobrol, dan aku menjanjikan dia berbagai hal, dan kami melihat bintang jatuh ini, dan aku berjanji membawakannya untuknya. Dan bintang itu jatuh…” dia melambaikan tangan ke deretan gunung, ke arah matahari terbit “…di sana.”

Si katai berbulu lebat menggaruk dagu. Atau moncong; bisa saja itu moncongnya. “Kau tahu apa yang kulakukan, kalau aku jadi kau?”

“Tidak,” kata Tristran, harap memuncak dalam dirinya, “apa?”

Lelaki kecil itu menyeka hidung. “Akan kusuruh gadismu itu membenamkan wajah ke kandang babi, dan akan kucari gadis lain yang mau mencium tanpa meminta bumi. Pasti ketemu satu. Di negeri asalmu, hampir mustahil kau bisa melempar setengah batu bata tanpa menghantam satu gadis semacam itu.”

“Tak ada gadis lain,” kata Tristran yakin.

Demikianlah 2 cuplikan dialog dari novel “Stardust-Serbuk Bintang”. Saya pikir saya tidak perlu menyimpulkan apa-apa. Biarlah sidang pembaca yang memaknai 2 cuplikan dialog tersebut dengan perspektif masing-masing.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s