Posted in Essai, Sosial Budaya

Negeri Penjajah

Selamat datang di negeri kami. Ini adalah romusha terselubung. Siapa bilang penjajahan telah mati dari muka bumi? Tapi bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan oleh karena itu penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Yap itu das sollen, namun das sein-nya tetap saja terjadi penjajahan.

Penjajahan itu adalah ketika punishment, raport merah, penilaian negatif yang rutin diberikan. Parameter? Ah persetan. Suka-suka para elite saja untuk melakukan ponten. Pembelaan diri? Silahkan saja berbicara panjang x lebar, tapi kami para elite telah menutup telinga kami, telah menutup mata kami, telah menutup hati kami teruntuk alternatif suara di luar kehendak kami: para elite.

Penjajahan itu adalah ketika weekend-mu adalah teror. Bahkan ketika manusia lainnya merayakan libur, melonjorkan kaki, berkumpul bersama keluarga, maka dirimu terus bergumul dengan tugas. Ini adalah logika pertumbuhan dan demi jayanya entitas. Begitu kiranya argumen cuci otak yang para elite lakukan.

Penjajahan itu adalah disparitas. Sementara yang berada di bawah terus dikuras, terus dituntut, terus dipersalahkan; maka para elitenya sedang menghirup candu dari nilai lebih yang dihasilkan bawahan. Disparitas itu memiliki dua lini. Lini pertama adalah sistem. Jadi sistem yang dibuat memberikan justifikasi agar disparitas itu lancar jaya. Lini kedua adalah behavioural. Ah para elite-elite itu selalu saja punya cara untuk merampok, memotong laba. Nanti tinggallah mereka memintal kata-kata untuk menghaluskan perampokan.

Penjajahan itu adalah ketika pikiranmu dijungkirbalikkan. Maka kau harus merongrong hakmu. Menagihnya, seolah kau mengemis, meski itu sebenarnya adalah hakmu yang nyata. Lalu pertanyaan membodohi dilantunkan: jangan tanya apa yang kau dapatkan, tapi tanya apa yang telah kau berikan. Ah rasanya kami telah beri kami punya waktu, tenaga, pikiran, tapi kami masih saja dipersalahkan. Yang kami dapatkan hanya ampas-ampas keuntungan.

Penjajahan itu adalah dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Maka mereka membayar dengan minimalis. Bahkan kadang tidak membayar sepeser pun. Sementara mereka melakukan penggelembungan harga. Lalu ketika beban ditebarlah ke berbagai penjuru. Ketika mereka mendapatkan laba, sunyilah mereka menghitung untung yang didapatkan.

Selamat datang di negeri penjajah. Tempat logika dan hati nurani diperas untuk padam.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s