Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Tersulut

Matanya jalang melihat para kroco-kroco di hadapannya. Ia adalah pemimpin baru disini. Maka di bawah kepemimpinan baru yang ada adalah cemeti dan cemberut. Tak ada lagi kata santai. Tak ada lagi humor ataupun tawa yang tiba-tiba terlintas di udara. Amboi segalanya dikemas dengan kalimat ‘untuk kebaikan entitas’.

Tentu ia punya sekutu jahat. Si pengutak-atik kombinasi. Maka mereka mengutak-atik kombinasi kemungkinan. Lalu tinggallah nanti dibungkus dengan titel ‘rasionalisasi’. Nasib para kroco? Ah silahkan dengarkan, taati perintah. Kalau tidak berkenan silahkan kemasi koper dan pergi dari teritori ini.

Matanya jalang melihat para kroco-kroco di hadapannya. Selalu ada yang salah pada diri kroco-kroco itu. Kurang ini, kurang itu. Ah payah betul mereka. Centimeter parameter yang dipakai adalah milik sang pemimpin baru. Benar/salah adalah keputusan absolut dari sang pemimpin baru. Para kroco membela diri? Haha..silahkan saja. Karena toh mata, telinga, dan hati sang pemimpin baru lebih keras dari batu. Tertutup. Tanpa kompromi.

Pidatonya di ujung senja membahana. Mengenai kurva naik sembari memeras saripati tenaga, pemikiran para kroco. Bagaimana dengan hak para kroco? “Apa?” tanya sang pemimpin. “Yang ada adalah kewajiban, kewajiban, dan kewajiban. Sudahlah jangan banyak bicara, mengeluh, kerjakan saja,” sang pemimpin menutup ruang dialog dan pertanyaan.

Matanya jalang melihat para…Tapi di mana para kroco-kroco itu? Si pengutak-atik kombinasi datang dengan tergopoh-gopoh setelah panggilan telepon setengah menghardik dari sang pemimpin. Jalannya tentu lambat karena perutnya menyembul dari kemeja. Ia terlalu berat di bobot, sementara substansi otaknya ringan.

“Dimana para kroco-kroco? Kelewatan sudah jam segini tak ada siapa-siapa di tempat ini,” keluh sang pemimpin.

Tak lama kemudian terdengar derak suara kunci yang mengunci. Bau bensin memenuhi ruangan. Sesosok senyum dalam gelap. Aku menyundut korek diantara genangan bensin. Api! Api! Api! Biar mereka berdua terbakar dalam panasnya. Silahkan berteriak. Silahkan memerintah. Silahkan menyerampah. Emosi kalian berdua terbakar bukan? Seperti tubuh kalian yang terbakar hebat.

Sang kroco telah membuat distingsi. Musnahlah para penjajah pikiran. Membusuklah dalam panas.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s