Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Sejarah Dibentuk Para Penguasa

Ada hal menarik dalam kisah The Bartimaeus Trilogy, yakni terkait dengan sejarah. Bagaimana sejarah dibentuk oleh para penguasa. Hal tersebut terkonfirmasi dalam 2 sampel. Sampel pertama ialah mengenai peralihan kekuasaan yang dilakukan oleh Gladstone. Simak apa yang diucapkan oleh guru sejarah dari Kitty Jones (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 66):

“Aku hanya dapat menjawab pertanyaan satu demi satu, Kitty; aku bukan penyihir! Inggris mujur, itu saja. Praha memang lamban dalam bertindak; si kaisar menghabiskan banyak waktu untuk minum bir dan pesta pora. Tapi dia pasti akan mengalihkan pandangan ke Inggris juga akhirnya, percayalah. Untung bagi kita, ada beberapa penyihir di London zaman itu, yang dimintai nasihat oleh para menteri malang yang tak memiliki kekuatan apa pun. Dan salah satunya adalah Mr.Gladstone. Dia melihat betapa berbahayanya situasi kala itu dan memutuskan menyerang terlebih dulu. Ada yang ingat apa yang dilakukannya, anak-anak? Ya—Sylvester?”

“Dia meyakinkan para menteri untuk mengalihkan kekuasaan kepada dirinya, Sir. Dia bertemu mereka suatu sore dan berbicara begitu pandainya sehingga mereka memilihnya sebagai Perdana Menteri saat itu juga.”

“Benar sekali, bagus, Sylvester, kau akan mendapatkan imbalan. Ya, itu Malam Perundingan Panjang. Setelah debat yang panjang di Parlemen, kefasihan lidah Gladstone memenangkan perdebatan dan para menteri dengan suara bulat bersedia mengundurkan diri. Dia mengatur penyerangan defensif ke Praha tahun berikutnya, dan menggulingkan Kekaisaran…”

Dalam kajian ilmu politik, apa yang dilakukan oleh Gladstone tersebut merupakan kudeta. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian memerintah. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian mempromosikan para penyihir untuk menempati level-level atas pemerintahan. Dan inilah sisi menarik dari kudeta. Jika gagal, maka pihak yang mengkudeta akan dicap sebagai pemberontak, pesakitan, dan bersalah. Sedangkan jika kudeta berhasil, maka pihak yang mengkudeta akan ditabalkan sebagai pahlawan, perbuatan kudetanya menjadi benar.

Kitty Jones yang merupakan seorang commoner memiliki perspektif tersendiri mengenai pelajaran sejarah. Seperti terungkap dalam nukilan berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 64):

Sejarah mata pelajaran yang juga penting; setiap hari, mereka menerima pelajaran mengenai kejayaan Kerajaan Inggris. Kitty menikmati pelajaran-pelajaran ini, yang berisi banyak cerita magis dan negeri-negeri jauh, namun ia merasakan adanya batasan tertentu dalam apa yang diajarkan kepada mereka. Ia sering mengangkat tangan.

Bagaimana Kitty menggugat bahwa pemerintahan akan baik-baik saja tanpa eksekutif harus dipegang oleh kaum penyihir. Seperti terlihat dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“Tolong, Sir, beritahu kami lagi tentang pemerintahan yang digulingkan Gladstone. Anda berkata pemerintahan kala itu telah memiliki parlemen. Kita punya parlemen sekarang. Jadi mengapa pemerintahan yang lama itu buruk?”

Well, Kitty, jika mendengarkan dengan baik, kau tentunya tahu aku berkata Parlemen Lama lemah. Parlemen itu dijalankan oleh orang-orang biasa, seperti kau dan aku, yang tak memiliki ilmu sihir sedikit pun. Bayangkan itu! Tentu saja, artinya mereka selalu dilecehkan negara-negara lain yang lebih kuat, dan tak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya…”

Nyatanya dalam The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem terdapat stratifikasi yang jelas dimana kaum penyihir berada di lapis teratas. Sedangkan kaum commoner berada di lapis bawah. Hal tersebut terkonfirmasi dengan sikap kedua orang tua Kitty sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 60):

…Tapi tak lama Kitty bisa menentukan mana yang penyihir dari petunjuk lain: pancaran mata keras para pelanggan, pembawaan mereka yang tenang dan berkuasa; di atas segalanya, sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi tegang. Ayahnya selalu tampak canggung bila berbicara dengan para penyihir, pakaiannya segera kusut karena gelisah, dasinya miring. Ia mengangguk dan membungkuk setuju saat mereka berbicara. Tanda-tanda ini nyaris tak tampak, tapi cukup jelas bagi Kitty, dan ini membuatnya bingung bahkan gelisah, meskipun ia tak tahu mengapa.

Mata Golem

Sampel berikutnya yang menunjukkan bahwa sejarah dibentuk para penguasa ialah dalam melihat Kaisar Ceko. Peperangan antara Inggris dan Ceko pada tahun 1800-an dimenangkan oleh pihak Inggris. Bartimaeus yang pada tahun 1868 berada di pihak penyihir Ceko memberikan sudut pandangnya mengenai Kaisar Ceko (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 20):

Akhirnya kami tiba di teras tempat selama empat tahun ini sang Kaisar memelihara burung-burung dalam sangkar. Sangkar itu besar sekali, dibuat dengan amat halus dari perunggu berornamen, dilengkapi kubah, menara, dan birai tempat memberi makan, juga pintu-pintu tempat sang Kaisar dapat keluar-masuk. Interiornya dipenuhi pepohonan dan semak dalam pot, juga berbagai jenis nuri yang menakjubkan, yang nenek moyangnya dibawa ke Praha dari negeri-negeri jauh. Sang Kaisar tergila-gila pada burung-burung ini; akhir-akhir ini, saat kekuatan London meningkat dan kekuasaan Kekaisaran terenggut dari tangannya, ia suka duduk lama di dalam sangkar, berbicara dengan kawan-kawannya.

Namun lihatlah bagaimana dalam pelajaran sejarah yang diberikan di era modern. Jakob (sahabat Kitty) yang memiliki leluhur dari Ceko disudutkan oleh guru sejarahnya. Sedangkan opini yang dibentuk dan dikreasi adalah Kaisar Ceko merupakan pembunuh burung nan kejam. Simak dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“…Kaisar Ceko memimpin sebagian besar daratan Eropa dari istananya di Praha; dia begitu gemuk sehingga duduk di singgasana beroda dari besi dan emas dan ditarik-tarik di sepanjang koridor oleh seekor kerbau putih. Ketika dia berniat meninggalkan istana, mereka harus menurunkannya menggunakan katrol. Dia punya sangkar burung parkit besar dan menembak seekor, warnanya berbeda setiap malam, untuk makan malamnya. Ya, kalian boleh merasa jijik, anak-anak. Begitulah jenis pria yang memimpin Eropa zaman itu, dan Parlemen Lama kita tak berdaya melawannya. Ia memerintah segerombolan penyihir mengerikan yang amat kejam dan korup, dipimpin Hans Meyrink, diduga vampir…”

Sejarah sebagai kajian ilmu memang terkadang bias. Oleh karena itu ketika rezim berganti, berbagai hikayat sejarah yang berbeda dapat muncul. Hikayat sejarah yang berbeda dengan versi sejarah ala pemerintahan sebelumnya. Penguasa dalam hal ini memang berkepentingan untuk mengkreasi sejarah. Melakukan glorifikasi atas pencapaiannya, memburamkan segala catatan negatif. Disinilah diperlukan kearifan penyikapan dan studi literatur yang solid untuk membenderangkan kisah masa lalu yang terjadi. Dari 2 sampel yang saya kemukakan di atas dari kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya memiliki kesamaan substansi dan makna dengan yang terjadi di dunia nyata. Bagaimana sejarah menjadi medan yang juga harus dimenangkan oleh penguasa. Untuk memenangkan memori kolektif dari publik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in Aku, Essai

Perpisahan dan Abang Sam

Pada tanggal 5 Februari 2014 mendatang insya Allah saya akan menghadapi bifurkasi lainnya. Bifurkasi lainnya adalah ibu saya akan kembali ke negeri Abang Sam. Ternyata green card yang dimiliki oleh ibu saya memiliki konsekuensi logis. Konsekuensi logisnya adalah ibu saya berada di Indonesia tiada boleh lebih dari satu tahun. Jika tinggal di Indonesia lebih dari satu tahun, maka green card yang dipegangnya dapat bermasalah secara administrasi.

Bagian dari kehidupan adalah perpisahan. Tiada peduli seberapa kuat, besar, dan cintanya kepada seseorang, perpisahan adalah sebuah kepastian. Itulah kiranya hakikat dari kehidupan di dunia yang fana ini. Tentunya keberangkatan ibu saya ke Amerika Serikat akan disambut dengan gembira oleh keluarga di sana. Ketrampilannya dalam meracik masakan akan membuat nyaman perut keluarga saya yang di Amerika. Ditambah lagi kakak saya, akan mendapatkan tambahan orang yang turut membantu dalam mengasuh 2 keponakan saya yang lumayan rusuh hehe..

Hal positif lainnya yang didapati ibu saya ketika nanti ke Amerika Serikat yakni kemahirannya memasak akan terkonversi menjadi dolar. Jeddah kitchen (Dapur GrandMa) yang sempat vakum akan kembali “menghangat”. Ibu saya sudah mewanti-wanti bahwa uang hasil jerihnya disana akan digunakannya untuk umrah ke Tanah Suci. Berada di negeri Abang Sam memang memungkinkan kuliner racikan ibu saya mendapatkan lidah yang lebih luas. Bukan sekadar dari warga Indonesia yang tinggal di sana, tetapi juga masyarakat Amerika secara lebih luas.

Perpisahan memang tiada harus menjadi kesedihan berlarut. Masing-masing dari diri yang berpisah dapat menemukan kemandirian dan ruang aktualisasinya tersendiri. Meski secara fisik dipisahkan jarak dan waktu, akan selalu ada kata remember dan gravitasi.

Posted in puisi, sastra

Aku Mendongeng Sendiri

Kini saksikan sayapku menua
Kisah-kisah di dekat perapian
Senyummu yang menghangatkan

Bayanganmu yang terdistorsi di ingatan
Kusentuh arsitektur udara yang merapuh
Luruh bagai kertas pasir yang dilahap api

Terbanglah dengan sayap yang terluka
Karena bumi berpaling dari jiwamu
Tanya yang bersenyawa

Cermin retak lagi kusam
Sayapku terbingkai debu
Aku bertanya pada saya
Ini kerut memenuhi profil waktu

Kisah-kisah di dekat perapian
Senyummu yang menghangatkan
Bayanganmu yang terdistorsi di ingatan
Aku mendongeng sendiri

Posted in puisi, sastra

Puisi 365

Seperti detak waktu yang terus bergerak. Seperti sumbu waktu yang menunjukkan perubahan. Maka dengan ini saya menghadirkan Puisi 365. Rangkaian kata puitis yang akan mengarungi setiap harinya. Karena setiap hari adalah makna yang baru.

1. Pada sisa api unggun kutemukan bara yang menggigil. Tentang rasa yang meletup-letup, untuk kemudian tumbang bersama waktu.

2. Kau yang memilih kegelapan. Telah kuberikan nyala ceria hari. Namun kau menampik dan berpaling. Mampuslah sunyi berkepanjangan.

3. Kau seperti buku yang tertutup. Enigmatik.

4. Dikabarkannya kepada angin. Tentang rindu mengelus rindu. Ah angin punya persepsi dan logika sendiri. Ia mengkudeta kisahku satu per satu.

cable car

5. Sekali kita belajar tentang perpisahan, kita akan belajar tentang pertemuan. Dan kita akan menghargai jarum detik yang berdetak. Lembayung yang menyemburat di langit. Genggaman yang meluruh bersama waktu.

6. Kau hanyalah masa lalu bagiku. Tidak lebih.

7. Ada masa lalu yang terhampar kaku. Ada masa kini dan hari esok. Kuharap kamu adalah masa kini dan hari esok itu.

8. Di planet manapun tempat berlabuhmu. Aku ingin berbagi semesta denganmu.

9. Engkaulah bunga kecantikan di tengah dunia yang membusuk. Indah, tanpa kehilangan ronanya.

10. Aku yang kehilangan kata di depanmu. Menyusun alur mozaik perasaan. Kugambarkan hati morat-marit sebagai metafora. Pertanda: dariku yang terluka.

musical fountain

11. Sepenggal nama dalam ingatan. Laju kenangan yang sayup-sayup memanggil jiwa. Di sini pernah berlabuh aneka peristiwa.

12. Dan kau berdiri di atas ilusimu sendiri. Seperti berdiri di lapisan es tipis. Keheningan menghujammu tanpa ampun.

13. Sentuhan seorang hawa dalam arsitektur udara. Keindahan, tanpa perlu banyak kata.

14. Lalu sayap sang penghancur membekukku. Menghajarku lagi dan lagi. Ada darah yang mengalir. Ada luka yang mengikatkan simpul. Lalu sayap sang penghancur membekukku. Terhunus menggigil tanpa daya.

15. Mencuri pandang sekilasan. Dirimu yang bersenyawa dengan keindahan.

16. Kau hanya melihat ke arah yang salah. Pada derajat teropong yang keliru. Yang kau lihat adalah kelamnya langit malam. Kugeser arah teropong ke sudut elevasi. Bintang jatuh dengan eloknya berkelana di langit sana.

singapura

17. Ia tersenyum simpul di kegelapan. Matanya nyalang. Hatinya membara. Ia menyulut ke satu titik. Lalu api. Lalu abu. Rangka bangunan mengoyak dengan segera. Ia tersenyum simpul di kegelapan.

18. Kata-katamu kusimpan cermat. Kuingat-ingat. Kutakar dalam ramuan perasaan. Jadilah senyawa tak terbantahkan.

19. Membangun labirin yang dapat kau jelajahi. Sediakan arah agar kau mengerti. Di persimpangan kebimbangan, aku ada mendengar lara lukamu.

20. Di lipatan waktu ini, tersimpan peristiwa. Kita pernah terlunta dan terluka. Namun kita tiada ingin dihapuskan dari ingatan sejarah.

21. Berhentilah di titik hening ini. Ada lamunan yang tiada terkatakan. Ada lamunan yang tiada terjelaskan.

22. Inflasi kata-kata. Ada bayangan antara kata dan perbuatan. Pecah kongsikah? Kuharap bukan oksimoron.

watchover voodoo doll

23. Tuhan bersama para pemberontak. Yang menuntun keadilan untuk tiba di gerbang.

24. Seperti mainan rusak yang kehilangan fungsi dan alasan hidupnya. Seperti atmosfer yang kehilangan udara. Seperti api yang kehilangan nyala dan hangatnya. Seperti itu. Yang mengalun dan menjejak di nadi saat ini.

25. Sayangnya kamu datang terlambat. Hatiku telah terpikat dan tertambat di dermaga yang satu itu.

26. Pada bisikan angin. Pada pelukan hujan. Aku menunggu tanya menjadi jawab.

27. Kugambar arsip warna-warni. Kutemui kamu dalam tamasya masa lalu. Terima kasih telah menjadi sejarah bagiku.

28. Benteng, tempatmu bertahan. Dari amukan kata-kata. Dari jilat api yang menyulut marah. Dari bedil-bedil logika yang terjungkirbalikkan.

manga 2

29. Kincir angin memutar. Hembus angin yang berbisik. Bunga yang tersabit dari benak. “Ini aku, kematianmu,” ujarmu senyap.

30. Bising itu mengintimidasiku. Dengan suara-suara tanpa makna. Aku rindu hening. Aku rindu sendiri.

31. Tersesat dalam diam waktu. Membekukan pertanyaan. Cendawan berbisa. Tanya-tanya di kepala meracuniku. Pagutan hampa menarik selimutnya. Menggigilkanku tanpa suara.

32. Bendera-bendera yang berkibaran. Deretan anak yang berlarian. Lepas benar mereka. Merdeka betul mereka. Senyum mereka lepas di bawah langit. Merdeka rasa. Merdeka jiwa.

33. Dalam langkah malu-malu dia mendekatiku. Memberiku seikat puisi. “Ini dari hati yang mencinta,” ujarnya dengan wajah bersemu merah.

34. Kau tahu lara jadi abu. Meluruhkan nelangsa. Kamu seperti oven. Menghangatkan hatiku.

baca 1

35. Tuan, boleh pikir tuan punya kuasa. Lalu semena-mena. Lalu semau-maunya. Ada karma tuan. Cepat atau lambat, karma itu akan mengerkahmu.

36. Mari datang ke perjamuan senja. Tempat kita melamunkan masa ketika tangan kita bergenggaman. Mari datang ke perjamuan senja. Tempat bifurkasi waktu kita.

37. Kabut kata-kata yang kau berikan padaku. Metafora yang memerlukan enkripsi. Engkau sungguh enigma yang indah.

38. Lihatlah keresahan orang itu. Bibirnya yang mengerucut. Orbit pikirannya. Gestur tubuhnya. Setialah dalam keresahan wahai durjana penindas kata.

39. Kubuatkan perahu kertas untukmu. Ini dariku untukmu. Biar berlayar mencicipi arus. Biar waktu membuktikan lajunya.

40. Di pagi itu, aku seperti bermimpi. Kamu yang mengetuk jendela kesadaran. Kamu nyata. Kamu ada. Dan kita berbincang tanpa plot. Seolah waktu milik kita yang dipadu rindu dan letupan perasaan.

baca 2

41. Di depan cermin kamu becermin. Kamu tuliskan namamu di udara. Senyummu membentang. Kamu berbisik di udara. Terima kasih Tuhan, aku cantik, itulah bisik katamu di udara.

42. Berikan aku satu kata. Akan kusulam jadi puisi. Kupilah, kupilih lema agar memikat rona. Kata-katamu kuingat cermat. Teruntuk jiwa-jiwa dalam penantian.

43. Dan biarkan waktu memandu cerita. Setelah peluh bercucuran. Setelah lelah menyimak lamunan. Setiap kita akan menemui pertanggungjawabannya masing-masing.

44. Adalah malam yang melamunkan tanya. Mungkinkah tanya bertalian dengan jawab?

45. Yang aku tawarkan adalah sebuah revolusi. Sebuah pemberontakan.

46. Haruskah aku bertanya, aku yang menjawab?

creativity b

47. Arsitek palsu yang menjejalkan imajinasi kerontang.

48. Karena dunia tak pernah satu warna.

49. Yang tewas menggenggam nyala. Habis sisa abu penghabisan mimpi.

50. Jiwa rasa sunyi. Dan hati yang terlalu.

51. Terkadang yang ingin kulakukan hanyalah mendengarkan rinai hujan. Sembari membayangkan dirimu.

52. Hidup adalah pilihan. Namun akankah kau memilihku?

school b

53. Kau hanya melihat ke arah yang salah. Ke sisi terang diriku.

54. Maka biarkan aku berbicara dengan caraku tersendiri. Tentang kata yang tak bisa diungkapkan.

55. Ia tersenyum simpul di kegelapan. Dibunuhnya harapan para arjuna dalam terang.

56. Jalang betul kalimatmu. Liar betul pikiranmu. Koyak basis jiwa ini. Awurkan ke udara.

57. Kau adalah puisi yang belum kususun.

58. Mungkin ini cinta. Mungkin ini luka.

school a

59. Kamu adalah paragraf terakhir dalam kisah cintaku.

60. Yang tersimpan dalam diam. Sunyi berpeluk-peluk.

61. Echo yang hilang di hati.

62. Lalu kunyalakan cahaya di ujung senja. Meski kabut mengilusikan pandang.

63. Kata-katamu kusimpan cermat. Kupatrikan dalam hati. Kujadikan tembang kata-kata bagi taman jiwa.

64. Eskalasi kepedihannya berpotensi menjadi kekal di sepanjang usia.

child

65. Dalam setiap pemberontakan, kau akan selalu menemui para pengkhianat internal.

66. Mungkin sudah lelah kau berlari. Mungkin sudah lelah kau bermimpi.

67. Warna langit yang kau kelirkan untukku. Pelangi yang kau dongengkan untukku. Lara berbentuk hati yang kau sisipkan ke jantung jiwaku.

68. Berbahagialah cinta yang telah cukup untuk cinta.

69. Suasana hati yang benar-benar kuno: cinta.

70. Matanya menangkap mataku. Jiwanya menggenggam jiwaku.

kalfa a

71. Katanya dalam diam.

72. Ketika kata tidak bersambut. Ketika harap tidak berbalas.

73. Ku lihat kamu tertunduk takzim. Seakan merenungi kebusukan dunia.

74. Dan semua tangan kotor harus diadili. Yang berlumuran darah rakyat. Yang menitahkan! Untuk kemudian sekian nyawa tercerabut.

75. Kita bagaikan kutub yang tak pernah akur.

76. Sekilas senyuman dalam hujan. Wajahmu yang menyepi sendiri.

kalfa b

77. Ia menatapku. Menatapku dengan senyum kejinya. Wahai jiwa-jiwa yang kalah. Musnahlah sudah.

78. Bagaimana nasibnya masa depan sebuah masa lalu?

79. Dia mengoyakkan janjinya. Penenun kata-kata artifisial.

80. Kambing hitam bertanya kepada kambing putih. “Mengapa selalu aku yang dipersalahkan?”

81. Sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat. Kehilangan rona pelanginya. Kehilangan imajinasi mimpinya.

82. Kau merasa memiliki semesta, tapi yang kau genggam hanya debu yang meluruh.

chess

83. Pada titik hujan yang lebur di bumi. Saat itulah aku kehilanganmu.

84. Zaman sudah beredar. Musim telah berganti. Namun aku masih tetap mencintaimu. Lagi. Dan lagi.

85. Ini aku, yang terapung-apung antara harapan dan nelangsa.

86. Menatapku seolah aku sampah. Yang tiada berguna. Yang layak untuk dimusnahkan.

87. Pupus dari ingatan masa. Luruh dari ingatan. Kepada yang terlupakan.

88. Kau berusaha mencari pegangan di udara yang melompong. Harapanmu tenggelam. Mimpimu teredam.

museum kaa

89. Membangun ilusi dalam sepi.

90. Kuberi dia crayon warna hitam. Agar dapat memupuskan pelangi yang pernah kuberi.

91. Memberi warna sekaligus prahara.

92. Seperti repihan puzzle yang keping demi kepingnya kutemukan. Sempurnalah kejahatanmu kutemukan.

93. Dan untuk apa aku menunggumu? Dara yang melukaiku. Lagi dan lagi…

94. Duniaku terhenti karena kamu.

pandawa

95. Sang penyair dan dialog kata-kata. Menghembuskan nafas pujangga kepada semesta.

96. Aku ingin mendengar suaramu di koordinat akhir hari. Suara yang mengantarku sebelum ku terlelap.

97. Karena kau adalah gravitasiku. Pusat hidupku saat ini.

98. Kaulah yang menjelaskan aku berdetak.

99. Aku membutuhkan kamu di saat aku merapuh seperti ini. Di kala sayap-sayapku terluka. Di kala terang terenggut dari singgasana hati.

100. Lemparan dadu terakhir. Disanalah asaku berintipan dengan harap.

petruk cs

101. Jadi tenang-tenanglah. Kuninabobokan dirimu dengan satu kata penghabisan.

102. Waduh gempa melanda. Episentrumnya di hatiku.

103. Hari ini tanggal merah di kalender. Tapi aku tak pernah libur memikirkan kamu.

104. Tapi bukankah hidup akan lebih berdenyut bila ada sesuatu yang dinanti?

105. Lahir untuk terluka.

106. Saya tidak ingin kamu berlalu dari orbit saya.

imajinasi

107. Izinkan aku. Pamit dari hatimu.

108. Sebuah ilusi harus dibangun. Dan badut-badut dikerahkan.

109. Dia adalah masa lalumu. Sedangkan aku adalah masa kini dan masa depanmu.

110. Segala luka yang kau titipkan ke udara. Senyummu yang seperti senyum malaikat. Lalu sayap sang penghancur membekukku.

111. Dan kulihat senja di matamu.

112. Berbicaralah padaku tentang senja yang belum selesai. Utarakan perihal mimpi yang tak kunjung tergenggam.

troy b

113. Entah kenapa pena ini berhenti memuntahkan kata. Aku melumpuh tanpa daya. Kehilangan greget aksara.

114. Pada jarak yang kau lepaskan. Sekarat.

115. Aku dan anak-anak sunyi.

116. Saat kau rengkuh jantungku.

117. Menatap matanya selama beberapa denyut jantung.

118. Pelangi kehilangan warna. Ketika kau tidak memberikannya makna.

waiting for superman

119. Kupu-kupu yang tersesat di hatiku.

120. Sayangnya aku tidak menyiapkan rencana untuk patah.

121. Tempat di mana harapan tiada diperbincangkan lagi.

122. Maaf, aku tak bisa lagi jadi protagonis untukmu.

123. Kau tahu apa yang kurindukan? Melihatmu dari pantulan kaca. Aku rindu semua tentang kamu.

124. Mungkin kita terlahir di tempat dan waktu yang salah, tapi kita tetap berjuang.

feather

125. Ingatan yang eksklusif kuhadirkan untukmu.

126. Kuracik rindu dalam kata. Kuhidangkan di malam bertabur bintang.

127. Kutaburkan benih-benih harapan dalam kata. Tumbuhlah jiwa-jiwa revolusi.

128. Menelusup diam-diam dalam jenak mimpiku. Dalam pucuk-pucuk ranting penjaga mimpi.

129. Kugerakkan bidak. Ada yang mengintip. Ada yang siap memangkas gerak. Ada yang karam sebelum jadi apa-apa.

130. Aku tahu apa yang menggelisahkan hatimu? Koalisiku dengan hatinya.

kompetisi

131. Aku melukiskan pelangi di langit hitam.

132. Senyummu pilu melukis langit.

133. Dari masa lalu kamu mengikat masa depanku.

134. Kukirimkan puisi berwatak demokrasi ke fasisnya sikap kukuhmu.

135. Pada bintang yang berkejaran kusebut namamu.

136. Mozaik hati yang berlumuran luka.

pen 2

137. Warna kelabu yang kau titipkan ke hatiku.

138. Terlalu lama dirimu berada di bunker gelap. Kelamnya suram meracuni hatimu.

139. Tangannya berlumuran darah. Senyumnya kecut mengikat udara. Terhunuslah waktu dalam tatapannya.

140. Jam dinding yang berdetak. Sunyi yang melekat bersama kata. Aku sendiri dalam sendiriku.

141. Apa yang kau rindukan dari diriku? Senyum malu-malu yang merona dari hati.

142. Kutimbang dan kutakar segalanya. Sempurnalah racun kata ini dihembuskan.

pen 1

143. Kapan terakhir kali kau melamun? Meresapkan senyawa kata dari puisi-puisiku.

144. Yang aku butuhkan adalah berdialog dengan sunyi.

145. Hei..sunyi sendiri. Sendiri sunyi.

146. Adalah cintamu yang bertaut kepadaku. Menyalakan warna yang senantiasa kelabu. Pigura langit baru.

147. Sunyi merangkai kata. Lengkapi lamunan ini.

148. Bimbang di persimpangan. Berseminya segala warna. Hidup adalah kebimbangan bertalu-talu.

klakson

149. Kudengar bisikmu di udara. Selimuti hatinya dengan rangkaian kataku.

150. Tuan dan nyonya egois berujar. Alangkah malasnya mereka. Hanya anggur di tangan dan semburan perintah. Keringat bukanlah sesuatu yang mereka cari. Malas betul jiwa mereka.

151. Kupilah dan kupilih lema yang tertuang. Terimalah karya ini. Tertanda: pujangga baru.

152. Wahai penyebab kata. Yang menyulamkan mimpi luka.

153. Parasit itu lihai memilin kata. Mengendalikan makna. Jejak ilusi yang mereka konstruksikan. Terkutuklah dalam pikiran dan tindakan lancung kalian.

154. Sudahlah sudah. Aku berlalu dari penat belenggu ini.

earth

155. Setiap puisi mempunyai cerita. Mungkin ini kisahku. Atau ini kisahmu.

156. Ketika pilihan di kantung begitu terbatas. Yang tersisa adalah…Keluarlah kalian para badut-badut.

157. Bagaimana jika segala ini memergokiku pada ingatan tentangmu? Senyum tipis bersama ingatan yang ingin kukubur.

158. Apakah masih dapat kugenggam tanganmu? Kukecup bibirmu? Manakala rasa telah surut dari diri.

159. Kaulah yang menyalakan api, lalu memadamkan mimpi.

160. Akulah senja yang senyap dari horizon perasaan.

isaac 2

161. Tak perlu kau berpihak padaku. Pada suatu hati yang telah koyak dan mengapung dalam lamunan.

162. Wahai jiwa, tenang-tenanglah dalam lamunan tak bertepi.

163. Suratmu ini kembali. Ke pertemuan jiwa-jiwa yang terluka.

164. Adalah yang merendahkan diri hingga ke kawah keputusasaan. Dengan pisau perkataan mencabik-cabik harga diri.

165. Mereka melemparkan dadu. Saling bertaruh. Ah..Pandawa-Kurawa.

166. Bulan itu kuikatkan di senyawa kata bertitel: harapan.

isaac 3

167. O..pangeran dan tuan puteri, kapan kiranya mencicipi keras-bengisnya bumi?

168. Sejak dulu aku terasing. Teralienasi. Sendiri.

169. Jiwa yang Anda hubungi sedang patah hati. Cobalah untuk menanti.

170. Di ruang berpendingin ini, jiwaku panas menanti hati.

171. Tak perlu terombang-ambing begini. Para serigala itu hanya peduli pada santapannya.

172. Mungkin..mungkin..mungkin..

isaac 1

173. Politik adalah perniagaan.

174. Karena kau adalah koma. Never ending question 😀

175. Puisi tanpa kata.

176. Penyamun jiwa. Mereka menggerogoti kemurniannya.

177. Aku ingin dia tahu. Meskipun dia pasti tahu.

178. Ia tiba di pulau utopis. Di sana ia merawat khayalnya.

hugo 4

179. Tentang arus yang surut. Tentang cinta yang kecut.

180. Dia yang berkuasa atas nama kata. Menghegemoni ruang-ruang publik dengan diksinya. Intelektual tersungkur.

181. Kapan terakhir kali kamu bermain pasir di pantai? Membuat istana pasir. Mencetak imajinasi dalam kehendak bebas.

182. Di padang penghabisan. Amis darah menyeruak di udara. Tanpa nyawa bergelimpangan. Hanya darah dan darah.

183. Adalah pagi yang berkonspirasi dengan sepi.

184. Tuan mari kemari. Jangan sibuk saja dengan orbit pikir sendiri. Tuan mari kemari. Rasakan denyut nadi ini yang menepi.

bandung

185. Kau yang menuliskan senja di hubungan ini.

186. Laju kata ini merapuh di hadapanmu. Aku kehilangan pijakan kata.

187. Malam yang bersemayam di jiwa. Turunkan tirainya. Aku terhenti sendiri.

188.Tirani itu mengintaimu. Melucuti daya intelektualmu. Mengunyahmu dengan pola durjana.

189. Mari menari di gerimis ini. Pada jiwa-jiwa yang patah. Pada jiwa-jiwa yang kalah. Taburkan debu di udara. Manakala kemusnahan sempurna sudah.

190. Aku sembunyikan rasa rindu ini di sela kata. Rindu ini membujur dan melintang. Memanggil namamu dalam degup jantung ini.

museum kaa

191. Dibelai ombak. Dihentakkan lamunan. Aku tumpul dalam kata. Kehilangan artikulasi arti.

192. Aku ingin bekerja dengan nyali. Kegembiraan yang bersorak dari diri. Dengan lantang berkata: Ini Aku.

193. Kita berkabung untuk jiwa-jiwa yang kalah sebelum bertarung.

194. Ah sampah peradaban itu membusuk di halaman pekarangan rumahku.

195. Kita ingin sarapan pagi dengan harapan. Bukan dengan luka yang tak kunjung terpulihkan.

196. Senyumnya episentum penjelas segala.

pandawa

197. Kita edarkan piala ini ke seantero. Hirup jiwa kemenangan di sana.

198. Diksiku sesak terhentak. Terpinggirkan di tubir jurang. Bersiap meloncat menemui remuk kata-kata.

199. Mereka menutup mata untuk genangan darah yang jelas-jelas. Mereka menutup telinga untuk suara yang termarginalisasikan.

200. Disini kita jatuh dan terluka. Disini kita merekonstruksi hidup. Yang tak mau terkalahkan bersama waktu.

201. Dan kau bertanya tentang bagaimana kata-kataku dapat begitu bernyawa? Karena ada kombinasi luka dalam tiap takarannya.

202. Dibutuhkan jawaban yang sederhana untuk pertanyaan yang rumit.

imajinasi

203. Bara api yang memanggilmu untuk kembali. Ke sudut sepi ini. Dan menyulutnya dengan luka paripurna.

204. Aku selalu tahu yang menjatuhkan jiwa-jiwa parau. Lukisan yang terhenti tanpa warna. Terlepaslah jiwa-jiwa luka.

205. Aku takkan surut melawan angin.

206. Apa kabar wahai jiwa-jiwa dalam pengasingan? Sudahkah menjenguk senja yang terlambat?

207. Menunda luka mampir di pelukan.

208. Di pertautan mimpi kudapati kamu mencium keningku.

embun

209. Menulis adalah meringkus.

210. Lelaplah tidurmu. Dalam buaian kata-kata malam.

211. Ah kita selalu tiba pada titik itu. Ketika kau mengulangi salahmu, lagi dan lagi.

212. Bersulanglah untuk senyap yang kusulam. Lagu kesunyian berdetak tenang.

213. Di balik tirai itu para badut politik memadu kasih. Dan kita hanya bisa muak dengan narasi buaian mereka di panggung kekuasaan.

214. Di masa perburuan. Para domba menari. Karena serigala telah mengembik dan menjadi pengecut.

books

215. Bintang yang tersesat di kegelapan malam.

216. Ketika terbangun pagi, ku dapati kemarin.

217. Serpihan debu yang menyepi di galaksi.

218. Dari gelap yang merangkul sepi. Dari gelap yang menuju mati.

219. Kugambarkan luka ini dengan sempurna di nadi.

220. Dan tawa yang berhenti jam 7 pagi.

teko

221. Hiduplah hidup dalam ilusimu sendiri. Jangan kau seret kami dalam pelarian ilusimu.

222. Kita dapat berjuang bersama. Hanya jika kamu percaya padaku.

223. Yang terkurung di ranah imajinasinya sendiri.

224. Di depan cermin. Masihkah kau mengenali dirimu?

225. Di malam sepi, kuputar semua kenangan tentangmu. Menakar racun kenangan.

226. Bebaskan aku dari peluk belenggu ini.

games

227. Dan puisi yang mati di tangan pujangga.

228. Dalam putaran purnama. Ada jejak yang terhenti. Ada mimpi yang mati. Takluk dalam kesendirian.

229. Kutuliskan puisi tanpa kata ini. Hanya untukmu.

230. Bara dalam sekam ini meletup. Dan membakar segala fundamen yang bergerilya.

231. Ah, aku bosan dengan bosan.

232. Pada persilangan mimpi, ada yang terluka karena rakus yang terlalu.

troy b

233. Mampuslah kalian egois, rakus, lagi pelit.

234. Dan kau tak bisa mengikatku. Namun mampu memikatku.

235. Biarkan aku menjadi sayapmu. Yang membawamu untuk menjenguk bumi. Mereguk saripatinya. Mendengarkan detak lukanya. Biarkan aku menjadi sayapmu.

236. Dan kita berjalan bersisian. Saling bergenggaman tangan. Kita tahu dunia ini mengeruh. Kita tahu dunia ini membusuk. Namun kita bertahan di tengah polusi pikiran ini.

237. Jalanku mengelam. Cahayaku redup di genggaman. Aku merindukan bayanganku.

238. Dan embun pagi menyepi. Kenangan menepi. Mimpi bertalian dengan sepi.

klakson239. Pada suatu pagi. Ketika angkara telah meluruh. Ketika tirani luruh bagaikan daun yang mengkecup bumi. Pada suatu pagi. Bernafaslah dengan sepenuh udara.

240. Mari genggam tanganku. Percaya padaku. Mari kita melompat dari jengah peristiwa. Kita arungi bumi ini.

241. Kekuasaan itu seperti laron yang terpikat dengan cahaya. Lalu meluruhlah mereka bersama menjadi abu sejarah.

242. Terbang ke ilusi mimpi. Dan tersesat di dalamnya.

243. Kejahatan itu dapat dipermanis dengan kata. Memenangkan opini publik. Yang jahat dapat menjadi baik. Yang pecundang dapat menjadi pahlawan.

244. Sisakan waktu untuk melamun setiap harinya. Maka kau akan dapat menulis puisi.

pen 1245. Tirai telah diturunkan. Sirkus telah berakhir. Mari kembali menjadi manusia.

246. Aku terasing. Terpenjara dalam pikiran sendiri. Aku ingin lari dari semua ini. Namun kembali dan kembali lagi di jeruji pikiran sendiri.

247. Kalian tidak pantas mendapat roti dan anggur dari hidanganku. Kalian tidak layak menerimanya. Kalian tidak layak mereguknya.

248. Di depan kanvas. Aku kehilangan warna.

249. Dan kita berada dalam kenangan hitam. Merenung di sisi luka. Dan tarian sepi hanya kita yang tahu.

250. Ada yang bergerak dalam hening malam. Setelah itu revolusi. Setelah itu robohlah barikade-barikade nilai yang selama ini dipuja-puji.

pen 2251. Tuan dan nyonya tak perlu cerdas otak untuk selamat di pergaulan sosial. Cukuplah takaran kemunafikan menghiasi senyawa kata yang tuan dan nyonya nyatakan.

252. Tatap mataku dan katakan kembang semu dari teater jiwa.

253. Kuldesak. Pada akhirnya aku menyerah pada kebebalan orang-orang yang mengelilingiku.

254. Setiap era punya kegalauannya masing-masing.

255. Dan waktunya bagi kita untuk berkemas. Dari teater kegilaan yang dilantangkan.

256. Maaf aku hanya penjual ilusi yang handal.

road

257. Pada suatu ketika. Saat jarak menjadi dua. Dan kita menggenggam waktu yang merapuh.

258. Adalah puisi tanpa perangko yang kutemui menjenguk sarapan pagiku.

259. Ranjang itu memuntahkan cerita. Tentang getasnya pergumulan tadi malam.

260. Dan kita terbujur tanpa kata. Di ruangan bertitel: ICU.

261. Adalah pertanyaan tanpa waktu yang membekukan jawaban.

262. Dan biarkan sepi tanpa kata yang merangkul kita.

room

263. Selamat datang pagi! Selamat datang sepi!

264. Pada sajak yang terlewat, puisiku terhempas.

265. Yang dimatikan bukan raga, tapi nalar untuk mengkritisi dan menguliti.

266. Karena kita yang menawarkan cerita kepada kertas putih polos itu. Menyajikan hikayat masa dalam spektrum literasi.

267. Berakrobat bersama kata. Makna dimelarkan dan dibolak-balik. Pemain sirkus kata.

268. Di ujung lidahku, kata itu tak kunjung terucap.

chef

269. Kutemukan kau dalam darah, api, abu. Musnah. Semuanya bisa dimulai dari abu penyucian ini.

270. Di tiang gantungan. Jasad itu berkata tanpa suara. Ini mati tanpa penjelasan berarti.

271. Dan kita termenung beratapkan langit yang muram. Tentang sengkarut yang membebat jiwa.

  1. Hubungan ini berdiri di atas lapisan es yang tipis. Rapuh. Rentan. Menenggelamkan perasaan yang lalu-lalu.

273. Aku dan kisah-kisah yang telah lama mati.

274. Di benakku sosok yang menepi dan menyepi. Terbebas hati.

read

275. Yang menitipkan luka dan menyakinkan cinta.

276. Dan mendung datang dengan sejumlah pertanyaan. Akankah terjawab, akankah terhempas dengan lusinan pertanyaan yang masih mengembang?

277. Aku tanpamu menjadi kau.

278. Tuan datang atas nama cinta. Lalu pergi karena cinta.

279. Kita membungkus kelabu dalam cerita suka cita.

280. Tuan hadirkan ingatan yang membekukan imajinasi. Bunuh dalam pikiran. Bekuk dalam struktur impian.

black swan 2

281. Aku bukanlah pemain teater wajah.

282. Ini dariku. Puisi tanpa kata.

283. Kau adalah narasi tanpa kata. Dan aku hanya dapat mengagumimu dari jauh.

284. Tong kosong berbunyi terus. Tergopoh-gopoh tanpa narasi besar dalam hidupnya.

285. Karya besar tak akan lahir dari mereka yang belum selesai dengan dirinya.

286. Kamu adalah jawaban sebelum pertanyaan.

world

287. Kita yang pemalu. Dan membiarkan kata cinta itu terhanyut di jejak waktu.

288. Peluk aku sekali ini. Mari kita hentikan waktu.

289. Yang mengantri dan mengular panjang: antrian BPJS.

290. Yang menimbun harta dan merasa dunia takkan pernah selesai.

291. Ada yang menyepi di sudut-sudut ingatan. Kenangan berdebu siap meluruh.

292. Tuan, tak lelahkah memintal gincu pencitraan?

imajinasi

293. Ketika tulang-tulang kita merapuh. Ketika ingatan kita mulai padam.

294. Tidur-tidur nyenyaklah wahai pengintai gelap. Karena ketika cahaya datang. Benderanglah segala perkara.

295. Lalu saat revolusi itu datang. Kita bersulang di puncak perubahan.

296. Kita berjalan di dunia yang menua. Sementara kita masih muda belia. Kita diwarisi bumi yang luka.

297. Biarkan aku, membusuk dalam ingatanmu.

298. Tangan itu kikir memberi. Mulut itu ringan melepas sarkasme. Perut itu tiada kenyangnya mengunyah bara api pembakaran dari neraka. Apa yang kau cari wahai manusia?

old book

299. Kaulah yang mengagumkan dalam kata. Melemahkan jiwa-jiwa yang tandu. Melambungkan imajinasi setinggi-tingginya. Lalu meremukkan cahaya ketika harapan itu melimpah.

300. Pagi, biarkan ku sembunyi dari kalut politisi.

301. Setelah sunyi kau alirkan ke nadi, kau tangkupkan senyum ke pipi.

302. Dalam luka, kudapati suka.

303. Dalam mimpi, aku berbagi luka ke senyap.

304. Tenggelam dalam lamunan.

old letter

305. Kamu loyo. Seperti Rupiah.

306. Dalam setiap malam yang kelam. Terdapat cahaya yang menunggu.

307. Di antara pedih kau selipkan hampa. Di antara perih kau selipkan hampa. Lelah tatapku menunggu di sini. Bersama dendang kabut nelangsa.

308. Setiap kita memiliki pertarungan personalnya masing-masing.

309. Di negeri ini sungguh banyak pinnokio.

310. Di cermin, aku mengenalimu. Di dunia nyata, kau mengenakan topengmu.

toys photography 2

311. Selamat datang di negeri topeng. Di sini kemunafikan menjadi keharusan.

312. Berhenti mencari diriku. Aku sudah menyesap ke dalam kerangka kenanganmu.

313. Dengan paranoid berlebih, mereka meninggikan benteng. Membuat enggan manusia untuk hinggap. Kastil itu kehilangan sentuhan hangat manusia. Hanya dingin dan aroma tamak memiliki.

314. Hidup ini seperti permainan catur. Kau tak bisa mendapatkan semuanya. Kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kemenangan.

315. Setiap hari adalah penciptaan yang baru.

316. Di perlintasan mimpi, kamu pernah singgah. Sebelum kau lepaskan aku kuat-kuat.

toys photography

317. Di jantung cahaya. Kau padamkan cahaya ini lekat-lekat. “Tidurlah dalam pekat,” ujarmu sembari menutup mataku.

318. Kau takkan bisa mengubah dirinya. Ia telah rusak hingga ke akar-akarnya.

319. Dan kita tertawa di bumi yang mulai terlupakan. Di antara puing peradaban. Kita menanam benih harapan.

320. Kelir warna di langit yang memucat.

321. Bagai senja. Kau hanya terpukau menatap langit. Kau cari titik harapan di permutasi waktu. Berharap nelangsa luruh dari genggaman waktu.

322. Kayu kering yang tersulut. Kata-kata pemantik.

cover kaldera

323. Pada akhirnya kita berpisah dengan waktu.

324. Waktu tidak memihak kepada kita. Manula-manula jiwa.

325. Pendar cahaya di langit hitam. Bukankah harap selalu berkelindan dengan takut?

326. Ada jejakmu di bayanganku.

327. Kata-kata negatif itu seperti kanker. Ia mengerkahmu dari dalam.

328. Adalah masa lalu yang menghunus masa depan.

cr

329. Di langit pertanyaan. Turunlah ke bumi dan jawab segala sengkarut ini.

330. Luka ini tidak dari mana-mana. Dari akar pikiran yang memproduksi negatifisme.

331. Taman para pemimpi dan pengkhayal ulung.

332. Para pencinta karnivora membersihkan meja makan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

333. Mimpi tetap mimpi. Sampai kau tersadar dan mengubah orbitmu.

334. Wahai hati yang mencari. Sudah benarkah apa yang kau cari?

pandora

335. Dan para bajingan itu dapat berpesta lagi. Selepas teater wajah di depan publik. Ya, kami berkuasa 5 tahun lagi.

336. Para pemain teater wajah itu sedang merombak janji. Terkutuklah warga negara yang amnesia sejarah.

337. Di batas pertanyaan, kau genggamkan jawaban. Aku di sisimu, dalam terang dan gelap.

338. Helai demi helai kukupas. Hingga jantung jiwanya terungkap.

339. Genggam jemari ini. Dengarkan lapis memori sejarahku dalam dongeng-dongeng malam. Aku adalah kau. Tiada jauh berbeda.

340. Untuk telinga yang tiada mendengar. Untuk mata yang tiada melihat. Untuk hati nurani yang tertumpulkan gula-gula dunia. Kukirimkan kabar dari neraka untukmu. Ya, untukmu. Private & confidential.

9-5

341. Biarkan dia mengeja senja. Untuk menapaki sisa waktu yang tersisa.

342. Di balik layar sang “pahlawan” tak lebih dari seorang pengecut dengan bumbu gincu tebal.

343. Kabar angin apakah kiranya yang mampir ke telingamu? Hingga kau rontokkan segala tentangku setelah sekian waktu tiada berjumpa.

344. Tahun baru = harga baru.

345. Rezim tanpa visi dan pemberi ilusi.

346. Kau selipkan senyum di dunia yang berkabung. Kau taburkan benih di bumi yang dikangkangi kerakusan. Kau berikan terang saat semesta menggelap dan menjanjikan penghabisan.

night

347. Tak perlu bertanya. Hanya harus terima. Tak perlu bertanya. Harap non aktifkan skeptisme Anda. Isyarat kematian sebuah kata: tanya.

348. Pada titik kematian matahari, aku menanti.

349. Kutemukan kamu dalam sepi. Usai lara ada duka. Orbit tak selamanya terang.

350. Tak usah kau cari kambing hitam. Di sini hanya ada kambing putih.

351. Mereka kikir memberi dan tekun menuntut.

352. Aku sudah lelah menuntut. Para bebal yang piawai berkelit.

desember

353. Masa lalu telah hilang. Masa baru telah datang. Bersiaplah..

354. Pada jejak pagi aku melacak rona jiwa yang tersisa. Masihkah ada aku dalam residu harimu?

355. Dari pikiran tergelapku, kamu muncul. Selamat datang wahai antagonis.

356. Masyarakat yang bergegas mungkin lupa. Lupa menghirup tekstur embun pagi. Lupa menikmati rintik hujan yang menari. Lupa menyesap legitnya sumsum waktu dalam kebersamaan.

357. Dengan mata bertanya, dia menelusuri jawaban dalam hening.

358. Kerakusan itu tak punya ekor.

jalan bercabang

359. Dari peti mainan, dia keluarkan aneka variannya. Ah, tak pernah terpuaskan gelegak pencarian sosok di hadapannya.

360. Di saat terkelam. Di kala tersesak pikiran. Kau tawarkan tangan. Mari, lari dari bumi ini.

361. Ini pita hitam dari kami untuk kamu. Teruntuk nurani yang telah mati.

362. Tidak terucap melihatnya: jiwa-jiwa yang rakus.

363. Tahun baru dengan jiwa lama.

364. Apa resolusimu di tahun 2014?

365. Aku adalah akhir dari awal.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Ide yang Mati

Usia dan pengalaman mampu membuat kita dapat memilah dan memilih orang. Termasuk menyaring apakah ide yang diujarkan oleh seseorang akan dilaksanakan. Ketika dahulu saya ikut dalam kepanitian di suatu acara kampus, ujian tentang ide itu muncul. Ketika itu kami sedang membutuhkan uang untuk pembiayaan acara. Lalu datanglah seorang anggota staf dana usaha yang meminta anggaran. Intinya ia ingin mengadakan semacam acara malam dana untuk mendapatkan pembiayaan yang kami butuhkan. Ia pun meminta sekian juta kepada panitia inti. Ia mencoba menata imajinasi kami dengan menggambarkan format acara, siapa-siapa yang datang, serta penataan ruangan (ia mengusulkan ide meja bundar).

Saya pun menguji kesungguhan orang ini dalam menjalankan idenya. Saya katakan kepadanya silahkan membuat acara itu dengan panitia yang kecil. Satu orang bertanggung jawab mengurusi acara saja, satu orang mengurusi perlengkapan saja, intinya membuat panitia ramping yang lincah dengan tugas, pokok, dan fungsinya. Namun orang ini justru meminta kepanitian dengan jumlah SDM yang besar, plus lagi dia meminta diberikan modal uang untuk mengadakan acara ini. Selepas orang ini pamit, setelah mengutarakan idenya, saya mengatakan kepada panitia inti: acara yang digagasnya tidak akan berhasil. Benar saja selang berapa hari kemudian ia mengibarkan bendera putih terhadap idenya. Dan kami pun panitia inti menjadi punya candaan meja bundar haha..

Saya percaya setiap harinya ada begitu banyak ide yang berkeliaran. Ada yang idenya terlihat besar, mewah, rumit, complicated. Ada yang idenya terlihat sederhana. Namun ternyata ada jarak antara melontarkan ide dengan mengerjakannya. Dan sepanjang umur yang saya dapati saya kerap menemui para pelontar ide yang ketika “ditodong” untuk melaksanakan ide tersebut maka tak mampulah dia.

Menghadapi para pelontar ide, kalau saya boleh memberi saran adalah uji orang tersebut dengan sejumlah pertanyaan. Sejumlah pertanyaan itu dapat menguji apakah orang itu akan melaksanakannya. Jikalau orang itu banyak menuntut a, b, c, maka bersiap-siaplah ide itu akan terbengkalai ataupun kalau terlaksana akan jauh dari harapan. Saya pun teringat dengan perkataan WS Rendra “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Ide awal mulanya dapat berupa kata, namun siapakah yang mau dan mampu memperjuangkannya?

Jikalau Anda merupakan orang yang tipikal banyak ide, namun tanpa realisasi, saya sarankan untuk bertobatlah dan perbaiki hidup Anda. Jikalau Anda menemui pelontar ide, maka ujilah orang itu. Akankah dia menjadi pelontar dan pelaksana ide? Jikalau Anda memiliki ragam ide, marilah laksanakan ide-ide itu. Terjunlah bergumul untuk menuntaskan dan merampungkan ide-ide tersebut. Hidupkan ide itu di bumi ini.

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Sejumlah Proyek Personal

Berjibaku sehari-hari dengan kata ternyata tidak otomatis merampungkan saya dalam menyelesaikan sejumlah proyek personal terkait fantasi. Ya kalau mau berapologi akan ada-ada saja alasan: mulai dari kesibukan pekerjaan yang mengharuskan saya untuk menulis, keinginan untuk menulis karya yang sesempurna mungkin, manajemen waktu yang belum baik, dan rentetan apologi lainnya. Atau terkadang kita terjebak dengan alasan dan apologi yang kita buat sendiri.

Saya kerap menjumpai orang-orang yang seakan begitu sibuk dan tak punya waktu untuk macam-macam. Mungkin sebenarnya mereka terjebak dengan alasan dan apologi mereka sendiri. Waktu sebenarnya dapat disempat-sempatkan dan “dipaksakan” untuk mengerjakan ragam hal. Pertanyaan besarnya maukah kita menggunakan slot waktu untuk mengerjakan ragam hal tersebut.

Itulah kiranya yang membuat saya untuk kembali harus menulis segala proyek personal. Baik itu untuk kepentingan blog, kaldera fantasi, cerpen, novel, puisi. Saya merasa benar-benar haus untuk mengerjakan proyek personal. Saya merasa ada panggilan jiwa yang harus saya tuntaskan. Jika saya mengikuti terus menerus tuntutan menulis di pekerjaan formal maka proyek personal akan sama sekali tidak kebagian. Oleh karena itu saya harus “memaksakan” diri untuk mengerjakan proyek personal setiap harinya. Menulis proyek personal akan membuat saya tetap sehat baik secara pemikiran dan ranah aktualisasi diri.

Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah sebegitunya terbelenggu dalam keseharian? Bahkan weekend pun habis untuk mengerjakan pekerjaan formal? Saya pikir Anda harus memberikan pikiran dan tubuh Anda me time. Anda juga harus memberikan porsi bagi segala keinginan personal yang belum tercapai. Menjadi hard worker memang bagus, namun segala sesuatu ada limitnya. Toh dengan mengerjakan proyek personal juga merupakan serangkaian aktivitas positif. Kuncinya adalah tiada hari tanpa aktivitas. Tentunya aktivitas yang sifatnya positif.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Membaca Novel Ender’s Game

Awal mulanya adalah ketika saya dan keponakan saya menonton trailer film Ender’s Game di bioskop. Keponakan saya langsung bereaksi gembira. Ia merekomendasikan saya untuk menonton filmnya dan membaca novelnya. Saya pun memenuhi pinta dari keponakan saya tersebut. Sebelum menonton film Ender’s Game saya sempat membaca 40-an halaman dari novelnya. Dan saya pun terpikat dengan novelnya. Lalu saya menonton filmnya terlebih dahulu dibanding menamatkan novelnya. Dari pengalaman saya biasanya saya lebih tertarik ketika menonton filmnya terlebih dahulu baru membaca novelnya kemudian. Jika membaca novelnya terlebih dahulu, baru menonton filmnya biasanya saya menemui sejumlah kekecewaan karena terjadi pemangkasan plot dan karakter.

Menonton film Ender’s Game bolehlah saya katakan secara penilaian personal lumayan baik. Secara visual kita disuguhi dengan pemandangan teknologi yang menyakinkan. Secara jalan cerita saya mengalami antiklimaks. Ketika Ender Wiggin dikirim selepas dari battle school, justru drama seperti kehilangan gregetnya. Secara akting saya harus mengapresiasi dan salut kepada Asa Butterfield. Tentu saja dia memiliki track record yang menawan ketika menjadi Hugo Cabret dalam film Hugo. Kali ini ketika menjadi Ender Wiggin, ia mampu menampilkan kompleksitas emosi.

Membaca novel Ender’s Game terjadi pengayaan yang lebih mendalam mengenai Ender Wiggin sebagai sosok sentral. Bagaimana dirinya yang dibentuk untuk menjadi komandan terbaik. Seperti perkataan Graff (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 56): “Tugasku adalah mencetak prajurit-prajurit terbaik di dunia. Dalam sejarah dunia, kita membutuhkan seorang Napoleon. Seorang Alexander.”

Peran dari saudara Ender juga mendapatkan porsi yang lebih signifikan. Simak bagaimana Valentine yang menjadi “provokator ide” dengan menjadi Demosthenes. Simak juga bagaimana Peter yang sadis menjadi Locke ketika merambah dunia maya untuk mendiasporakan gagasannya. Friksi antarketiga saudara lebih terasa dalam versi novelnya. Bagaimana Valentine di akhir cerita novelnya membujuk Ender untuk jangan kembali ke bumi. Seperti terterakan dalam fragmen kalimat dari Valentine berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 464-466):

“Dia punya rencana untukmu, Ender. Dia akan mengungkapkan diri secara terbuka ketika kau tiba, akan menemuimu di hadapan semua media. Kakak tertua Ender Wiggin yang juga merupakan keturunan Locke yang agung, arsitek perdamaian. Dengan berdiri di sampingmu, dia akan terlihat cukup dewasa. Lalu, kemiripan fisik di antara kalian menjadi lebih kentara daripada sebelumnya. Maka, dia akan lebih mudah mengambil alih.”

“…Ender, Bumi milik Peter. Jika kau tak pergi denganku sekarang, dia akan menangkapmu di sana dan memanfaatkanmu habis-habisan sampai kau berharap tidak pernah dilahirkan. Hanya sekarang kesempatanmu satu-satunya untuk pergi.”

Ender's Game Novel

Novel Ender’s Game juga menggambarkan bagaimana Ender ditekan untuk mencapai batas optimal dari dirinya. Bagaimana rangkaian promosi ketika dirinya masih begitu muda, bagaimana Ender diisolasi untuk menjadi seorang pemimpin, bagaimana pressure dari para senior, bagaimana kerinduan Ender terhadap rumah dan bumi, bagaimana Ender ketika menjadi komandan tempur diharuskan untuk bertarung melawan kelompok lain secara terus menerus, dan lain sebagainya.

Novel Ender’s Game dalam hemat saya juga memberikan jawaban akan pertanyaan kenapa mesti anak-anak yang dibebankan tanggung jawab untuk memusnahkan bugger (sesuatu yang belum terjawab di versi filmnya). Simak fragmen berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 446):

“Tentu saja kami menipumu agar melakukan itu. Itulah intinya,” sahut Graff. “Memang harus dengan tipuan atau kau tak sanggup melakukan itu. Kita berada dalam ikatan. Kami harus memiliki seorang komandan dengan empati yang begitu besar sampai dia akan berpikir seperti para Bugger, memahami mereka, dan mendahului mereka. Kasih sayang yang begitu besar sampai doa bisa memenangkan cinta bawahannya dan mempekerjakan mereka seperti mesin yang sempurna, sesempurna para Bugger. Tetapi, seseorang dengan kasih sayang sebesar itu tak akan pernah bisa menjadi pembunuh yang kami butuhkan. Tak akan pernah bisa bertempur dengan keinginan menang, bagaimanapun caranya. Kalau tahu semua itu, kau takkan bisa melakukannya. Kalau kau adalah jenis orang yang akan melakukan tindakan semacam itu meskipun sudah tahu sejak awal, kau tak akan pernah memahami para Bugger dengan baik.”

“Maka, dia haruslah anak-anak, Ender,” ujar Mazer. “Kau lebih cepat dariku. Lebih baik dariku. Aku terlalu tua dan berhati-hati. Orang baik mana pun yang menyadari arti dari perang tak akan pernah bisa bertempur sepenuh hati. Tetapi, kau tidak tahu. Kami pastikan kau tidak tahu. Kau nekat, cerdas, dan masih muda. Itulah alasan kau dilahirkan.”

Novel Ender’s Game sendiri mendapati sejumlah penghargaan seperti Hugo Award dan Nebula Award. Bagi pecinta novel sains fiksi saya pikir Ender’s Game ini layak menjadi koleksi. Boleh dibilang film dan novel Ender’s Game saling menopang dalam memberikan narasi dan penceritaan. Untuk yang ingin versi singkatnya dan secara visual memukau dapat menonton filmnya. Untuk menemui kedalaman, pengayaan, dan kompleksitasnya bacalah versi novelnya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa