Posted in Buku, Edukasi, Essai, Resensi Buku, Sosial Budaya

Filosofi Lima Jari

Judul Buku: Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan
Penulis: Agun Gunandjar Sudarsa
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: II-2014
Tebal: 156 halaman + Xiii

Hidup Sukses 5 Jari

Malam itu hujan menderas, kilat memecut udara, dingin merambati sumsum tulang saya, gelap menyelubungi. Bahkan saking gelapnya saat itu, saya tidak tahu bahwa baju yang saya kenakan tidak hanya basah oleh air hujan, namun juga oleh darah yang mengucur deras dari hidung. Saya tidak menyadari bahwa telah mimisan dan sebelumnya hanya mengira air hujan yang membasahi baju. Di saat itulah saya tetap menjalankan dengan ikhlas dan tetap berdoa “Ya Allah, hidup kok susah amat dan sulit-sulit amat. Berikanlah kami kemudahan, kesejahteraan hidup”. Saat itu saya tetap mencoba menjalankan pekerjaan dengan pikiran positif. Di saat itulah saya mendapatkan filosofi “hidup sulit, jangan dipersulit” (Agun Gunandjar Sudarsa, Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan, hlm. 35).

Buku Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan ini merupakan ide praktis yang dirumuskan dari pengalaman hidup Agun Gunandjar Sudarsa. Inilah contoh orang yang menulis dan bertutur kata bukan sekadar dengan teori, tetapi bertutur tentang apa yang secara nyata telah ia lakukan dalam kehidupan. Buku tentang motivasi ini menjadi unik adanya dikarenakan ditulis oleh seorang politisi yang kini menjadi Ketua Komisi II DPR RI.

Apa saja kiranya langkah untuk meraih hidup sukses yang ditawarkan oleh Agun Gunandjar? Langkah pertama adalah: “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”. Jadi untuk tidak mempersulit hidup dibutuhkan kearifan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Filosofi hidup berikutnya, yaitu “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”. Artinya untuk mencapai sesuatu yang tinggi atau berharga itu, maka temboknya (tantangan) pasti akan semakin tinggi. Filosofi hidup berikutnya adalah “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”. Lalu aktivitas seperti apa? Jawabannya adalah aktivitas sehari-hari yang bermakna. Jadi aktivitas itu adalah peran yang harus kita jalankan di manapun kita berada.

Menurut Agun, filosofi kelima jari tangan ini mengandung makna yang dalam sebagai prinsip kita dalam meraih masa depan yang sukses dan bahagia. Kelima jari dari jempol hingga kelingking itu mengandung makna. Jari jempol menunjukkan sesuatu yang bagus, disukai orang, dan terpuji, yang itu semua terangkum dalam istilah prestasi.

Setelah kita mendapatkan prestasi terpuji dari segala tindakan kita, maka pada akhirnya kita akan memperoleh pengakuan (jari telunjuk) dari orang lain dan masyarakat.

Untuk menggapai sukses dan bahagia, kita juga perlu melakukan pendekatan elegan dengan prinsip jari tengah. Kita bisa lihat bagaimana posisi jari tengah, letaknya di tengah. Begitu juga kita dalam melakukan pendekatan dan komunikasi, perlu menggunakan prinsip jari tengah, sehingga mudah ke kiri dan ke kanan, ke atas dan bawah. Kita mampu ke segala arah dalam menjalani komunikasi dan pendekatan yang baik terhadap atasan, bawahan dan teman selevel.

Selanjutnya jika prestasi, pengakuan dan komunikasi yang elegan sudah diperoleh, maka dengan sendirinya akan diperoleh janji manis yaitu pendapatan. Pendapatan ini berwujud dalam beberapa hal seperti kedudukan, pendapatan, dukungan, kepercayaan, pekerjaan, pangkat dan jabatan.

Pada akhirnya kita memerlukan prinsip terakhir yaitu jari kelingking. Walaupun ukurannya kecil, jari ini bisa mematikan jika tidak dimanfaatkan. Jari kelingking menggambarkan simbol perawatan. Sesuatu yang tidak dirawat maka akan hilang. Perawatan tidak bisa juga berjalan sendiri. Kita tidak akan bisa merawat apa yang dimiliki tanpa terlebih dahulu memiliki prestasi yang berdampak pengakuan, komunikasi, dan pendapatan.

Setelah menjalankan prinsip terakhir, yaitu jari kelingking maka sudah seharusnya kembali lagi pada filosofi hidup pertama yaitu “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”; “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”; “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”, dan pada akhirnya kembali ke prinsip lima jari.

Filosofi lima jari yang digagas ini kiranya merupakan upaya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin segala anugerah yang telah diberikan kepada kita. Segala potensi yang ada itu hendaknya tidak tersia-siakan. Dan sukses hidup pun terengkuh dalam kenyataan bukan sekadar angan-angan kosong.

Author:

Suka menulis dan membaca

4 thoughts on “Filosofi Lima Jari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s