Posted in Aku, Essai

2014 Menyapa

2014 menyapa. Dan bergulat lagi dengan waktu serta pencapaian mimpi. Boleh dibilang pada tahun 2013 kemarin terdapat berbagai macam dinamika kehidupan yang saya alami. Beberapa biarlah tersimpan dalam arsip pikiran. Tanpa harus saya ujarkan kepada publik. Mungkin arsip pikiran itu telah terkristalisasi dalam bentuk metafora ataupun sejumlah karya.

2013 membawa saya pada penerbitan 4 buku dimana saya menjadi editor. Ada kelegaan dan kepuasan tertentu. Keempat buku itu adalah ‘Republik Akal-Akalan: Mengungkap Kebohongan Rezim di Atas Ketidakberdayaan Rakyat’ karya Fuad Bawazier, ‘Membangun Indonesia Sejahtera: Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020’, ‘Pancasila sebagai Rumah Bersama: Bunga Rampai Pemikiran tentang Kebangsaan’, ‘Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan’, ketiga buku yang saya sebutkan terakhir merupakan karya dari Agun Gunandjar Sudarsa.

Pada tahun 2013 saya juga merampungkan bacaan sekurangnya 28 buku. Barulah pada tahun ini saya secara skema mencatat buku-buku apa saja yang saya khatamkan setiap bulannya. Tentunya saya berharap pada tahun 2014 terdapat peningkatan secara signifikan mengenai banyaknya buku yang saya tamatkan.

Membaca bertalian dengan menulis. Maka jika boleh berapologi maka 2013 adalah periode yang cukup menguras waktu dan tenaga untuk sejumlah proyek formal. Sampai di penghujung tahun 2013 saya kembali diingatkan untuk menengok sejumlah proyek personal. Tentunya pada tahun 2014 merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk mengkombinasikan antara proyek formal dan proyek personal. Harus dicari equilibrium yang tepat antara keduanya. Oleh karena itu saya mencanangkan untuk mengalokasikan waktu yang lebih banyak secara kuantitas dan kualitas. Ini ditempuh agar sukses didapat pada proyek formal dan proyek personal.

Saya juga berharap pada 2014 dapat mencicipi ragam petualangan yang menawan hati. Tentunya untuk mencicipi ragam petualangan itu memerlukan daya dukung finansial. Maka saya berharap secara finansial dapat lebih “berotot” pada tahun 2014 ini. Sudah saatnya untuk lebih mengaktifkan sebagai homo economicus.

Tentunya memaknai waktu adalah memaknai kehidupan. Kita belajar dari masa lalu, melangkah di masa kini, dan merencanakan masa depan. Saya percaya bahwasanya masa depan direbut hari ini. Dan untuk merebut masa depan itu maka kerja-kerja kekinian membutuhkan perjuangan dengan cara saksama.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s