Posted in Essai, Sosial Budaya

Ide yang Mati

Usia dan pengalaman mampu membuat kita dapat memilah dan memilih orang. Termasuk menyaring apakah ide yang diujarkan oleh seseorang akan dilaksanakan. Ketika dahulu saya ikut dalam kepanitian di suatu acara kampus, ujian tentang ide itu muncul. Ketika itu kami sedang membutuhkan uang untuk pembiayaan acara. Lalu datanglah seorang anggota staf dana usaha yang meminta anggaran. Intinya ia ingin mengadakan semacam acara malam dana untuk mendapatkan pembiayaan yang kami butuhkan. Ia pun meminta sekian juta kepada panitia inti. Ia mencoba menata imajinasi kami dengan menggambarkan format acara, siapa-siapa yang datang, serta penataan ruangan (ia mengusulkan ide meja bundar).

Saya pun menguji kesungguhan orang ini dalam menjalankan idenya. Saya katakan kepadanya silahkan membuat acara itu dengan panitia yang kecil. Satu orang bertanggung jawab mengurusi acara saja, satu orang mengurusi perlengkapan saja, intinya membuat panitia ramping yang lincah dengan tugas, pokok, dan fungsinya. Namun orang ini justru meminta kepanitian dengan jumlah SDM yang besar, plus lagi dia meminta diberikan modal uang untuk mengadakan acara ini. Selepas orang ini pamit, setelah mengutarakan idenya, saya mengatakan kepada panitia inti: acara yang digagasnya tidak akan berhasil. Benar saja selang berapa hari kemudian ia mengibarkan bendera putih terhadap idenya. Dan kami pun panitia inti menjadi punya candaan meja bundar haha..

Saya percaya setiap harinya ada begitu banyak ide yang berkeliaran. Ada yang idenya terlihat besar, mewah, rumit, complicated. Ada yang idenya terlihat sederhana. Namun ternyata ada jarak antara melontarkan ide dengan mengerjakannya. Dan sepanjang umur yang saya dapati saya kerap menemui para pelontar ide yang ketika “ditodong” untuk melaksanakan ide tersebut maka tak mampulah dia.

Menghadapi para pelontar ide, kalau saya boleh memberi saran adalah uji orang tersebut dengan sejumlah pertanyaan. Sejumlah pertanyaan itu dapat menguji apakah orang itu akan melaksanakannya. Jikalau orang itu banyak menuntut a, b, c, maka bersiap-siaplah ide itu akan terbengkalai ataupun kalau terlaksana akan jauh dari harapan. Saya pun teringat dengan perkataan WS Rendra “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Ide awal mulanya dapat berupa kata, namun siapakah yang mau dan mampu memperjuangkannya?

Jikalau Anda merupakan orang yang tipikal banyak ide, namun tanpa realisasi, saya sarankan untuk bertobatlah dan perbaiki hidup Anda. Jikalau Anda menemui pelontar ide, maka ujilah orang itu. Akankah dia menjadi pelontar dan pelaksana ide? Jikalau Anda memiliki ragam ide, marilah laksanakan ide-ide itu. Terjunlah bergumul untuk menuntaskan dan merampungkan ide-ide tersebut. Hidupkan ide itu di bumi ini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s