Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Manga (1)

Manga tiada bisa dipungkiri merupakan bagian dari keseharian banyak manusia Indonesia saat ini. Bukan hanya segmentasi anak-anak, namun juga menyentuh berbagai lapisan umur. Lalu bagaimana kiranya manga jika dikupas secara ilmiah? Berikut ini akan saya sarikan dari tulisan Seno Gumira Ajidarma dari buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan. Selamat menikmati.

Kata manga dalam bahasa Jepang bisa berarti karikatur, kartun, strip komik, buku komik, atau animasi. Sejarah komik Jepang sudah dimulai sejak abad VII, tetapi fenomena manga yang menjadi sangat populer itu dimulai setelah Perang Dunia II usai, ketika Osamu Tezuka membuat komik dengan cara bercerita yang baru; yakni mengadopsi bahasa-bahasa film animasi Amerika, sehingga dikenal antara lain apa yang disebut gaya sinematik (cinematic style). Namun catatan atas manga bukanlah sekadar soal gaya, melainkan segenap aspek perbedaannya dengan fenomena komik Amerika, karena perbedaannya yang memang tajam. Perbedaan itu membuat manga bisa disebut sebagai bahasa komik yang baru. Bahasa komik baru ini terekspor ke mana-mana seiring dengan distribusi bisnisnya dan memberi pengaruh kepada perkembangan komik dunia (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 515).

Ada beberapa ciri yang membedakan antara manga dengan komik Amerika. Berikut tuturannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 516):

Pengenalan pertama adalah perbedaannya secara fisik, yakni (1) ukuran ketebalannya: buku komik Amerika biasa terdiri dari 30-50 halaman, berisi satu cerita bersambung yang terbit bulanan; di Jepang buku semacam terbit tiap minggu dengan 400 halaman dan berisi 20 cerita bersambung ataupun cerita yang selesai—beberapa majalah komik bahkan mencakup 1.000 halaman dengan 40 cerita. Ketika tiap cerita bersambung tamat dan diterbitkan tersendiri akan mencapai 50 jilid dan setiap jilid bisa mencapai 250 halaman. Dengan kemewahan halaman ini, terlihat perbedaan selanjutnya, yakni (2) harganya yang hanya 1/6 dari harga komik Amerika; selain karena perbedaan dalam skala ekonomi, juga karena murahnya jenis kertas yang digunakan di Jepang, yakni kertas daur ulang kualitas rendah dan umumnya cetak monokrom. Ini merupakan akibat perbedaan lain, yakni (3) status sang buku komik, yang siap untuk dibuang di Jepang, dan sebaliknya menjadi koleksi di Amerika; selain bahwa (4) warna merupakan kecenderungan komik Amerika dan hitam-putih sudah cukup bagus bagi orang Jepang.

Lalu bagaimana jika melihat manga secara tema dan pembaca. Berikut uraiannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 518-521).

Keberagaman manga berlanjut kepada tema. Komik Amerika dan Eropa sejak lama sudah berurusan dengan tema-tema yang sangat serius, yang kemudian akan berkembang dalam novel grafis. Meski begitu, walaupun banyak eksperimen menarik, bagian terbesar materi pokok soal dalam komik Amerika adalah untuk golongan pria muda dan dari jenis superhero. Di Jepang, betapapun, terdapat cerita untuk hampir seluruh persoalan yang bisa dibayangkan. Selain terdapat manga yang berkelas sastra, terdapat juga manga berkategori pornografi ringan ataupun berat, untuk pria ataupun wanita. Terdapat cerita tentang masalah hubungan hierarkis dalam pekerjaan kantor yang membosankan, atau kepuasan batin menjual kamera bekas di distrik Shinjuku, Tokyo. Sebagai media massa tulen, manga menyediakan sesuatu bagi pria ataupun wanita, untuk hampir setiap kelompok umur dan nyaris bagi selera apa pun.

manga 1

Kedahsyatan manga yang terpenting terletak dalam kenyataan bahwa mereka merayakan kehadiran orang-orang biasa. Disebutkan, dalam komik Amerika terlihat orang hebat melakukan hal-hal yang luar biasa; dalam komik Jepang bisa diikuti bagaimana orang-orang biasa melakukan kegiatan yang biasa-biasa saja. Tentu juga tidak dipungkiri betapa banyak sampah dalam industri komik Jepang ini. Bahkan cerita yang baik pun akan kehilangan daya pukau dalam kejar-terbit dari minggu ke minggu. Tekanan produksi massa kepada penggubah dan kerakusan penerbit yang berniat memeras sapi perahnya sampai kering, sering berakibat dengan menjadi terlalu panjangnya sebuah cerita.

Tema-tema komik Jepang sebetulnya jauh lebih bervariasi daripada pembacanya. Komik untuk anak laki-laki dengan sangat hati-hati menyeimbangkan ketegangan dengan humor: cerita dramatik tentang olahraga, petualangan, setan, fiksi ilmiah, dan kehidupan sekolah disambung dan diselipi lelucon dan guyon yang ganas. Majalah komik untuk remaja putri juga mencari keseimbangan tetapi terbedakan oleh usaha mereka atas cerita pemujaan cinta, dengan tokoh pria dan wanita yang tampak lebih Kaukasian daripada seperti orang Jepang. Majalah komik dewasa mempunyai tema-tema yang meliputi agama, ataupun yang mengganggu agama seperti para pemerang, penjudi, dan gigolo.

Dalam setiap kategori terdapat kecenderungan atas meningkatnya kecanggihan. Pembaca komik Jepang menuntut, dan penggubah memberikannya, tema yang bukan sekadar pemuda ketemu pemudi ataupun kemenangan yang baik terhadap yang jahat. Maka Osamu Tezuka selama bertahun-tahun menggubah kisah epik mengenai kehidupan Buddha, Reiji Matsumoto menggubah parodi tentang ronin atau calon mahasiswa yang tidak kunjung diterima oleh suatu perguruan tinggi, dan Kazuo Kamimura menggubah kisah tentang masalah kejiwaan pasangan muda yang hidup bersama tanpa menikah. Konsensus umum pembaca komik Jepang adalah bahwa komik harus mengungkap kehidupan sama seperti novel dan film. Namun bisa dipastikan bahwa mereka sangat terpuaskan oleh tema-tema tak terduga yang memberikan pesona visual seperti mah jongg, memotong sayur, bahkan juga ujian sekolah. Para penggubah melebih-lebihkan tindakan dan emosi sampai taraf melodrama dan dengan penuh cinta menghayati setiap perincian dari kehidupan sehari-hari. Dalam istilah Jepang sendiri, komik mereka adalah “basah”; tidak usah malu-malu menjadi manusiawi dan sentimental.

Siapa yang membaca komik di Jepang? Meskipun banyak penerbitan secara khusus ditujukan kepada pria, perempuan, dan kanak-kanak, terlihat pertukaran yang disadari antarpembaca. Dalam sebuah penelitian disebutkan, empat dari sepuluh majalah komik terpopuler di antara para mahasiswa adalah yang ditujukan untuk kanak-kanak. Di Jepang, tidaklah aneh bahwa di dalam kereta api atau bus umum seorang dewasa duduk bersebelahan dengan anak kecil dan keduanya membaca komik yang sama. Juga sering terdengar pengakuan bahwa banyak lelaki dewasa sangat menggemari komik yang ditujukan khusus untuk gadis remaja.

Lima puluh tahun sebelumnya, pola membaca di Jepang mirip dengan Amerika Serikat sekarang. Buku komik adalah untuk anak kecil dan remaja; orang dewasa mengisi diri mereka sendiri dengan karikatur di koran dan kadang-kadang baris komik (comic strip). Kemudian, seteleh perang, dengan berkembangnya struktur naratif yang kuat dalam kisah-kisah untuk majalah komik untuk anak, pada saat menjadi dewasa mereka menolak melepaskan jenis komik yang dibacanya, dan orang dewasa mulai membaca materi yang dirancang untuk anak. Lima penerbitan besar komik Jepang menjadikan kanak-kanak usia antara 10-11 tahun sebagai sasaran pembacanya, tetapi pembaca mereka ternyata meliputi anak yang lebih muda sampai lelaki dewasa paruh baya. Perubahan pola permintaan jadinya menghasilkan terciptanya jalur baru majalah komik bagi anak sekolah dasar, dan merangsang produksi komik yang ditujukan khusus untuk dewasa.

Statistik sirkulasi dan penjualan sulit menggambarkan jumlah pembaca yang sesungguhnya di Jepang, karena tidak mencerminkan jaringan pinjam-meminjam atau baca bersama komik yang disebut mawashiyomi. Setidaknya, satu milyar komik yang telah dipublikasikan pada 1984 saja menunjukkan bahwa terdapat sepuluh komik lelaki, perempuan, dan anak di Jepang, atau 27 komik untuk setiap keluarga. Artinya, buku dan majalah komik ada di mana-mana selama ada manusia. Di toko buku hampir separuh ruangan selalu dipersembahkan kepada komik, dengan tulisan Dilarang Mengkelebet (No Browsing) dan gang tempat buku komik selalu penuh sesak.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s