Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Membaca Novel Ender’s Game

Awal mulanya adalah ketika saya dan keponakan saya menonton trailer film Ender’s Game di bioskop. Keponakan saya langsung bereaksi gembira. Ia merekomendasikan saya untuk menonton filmnya dan membaca novelnya. Saya pun memenuhi pinta dari keponakan saya tersebut. Sebelum menonton film Ender’s Game saya sempat membaca 40-an halaman dari novelnya. Dan saya pun terpikat dengan novelnya. Lalu saya menonton filmnya terlebih dahulu dibanding menamatkan novelnya. Dari pengalaman saya biasanya saya lebih tertarik ketika menonton filmnya terlebih dahulu baru membaca novelnya kemudian. Jika membaca novelnya terlebih dahulu, baru menonton filmnya biasanya saya menemui sejumlah kekecewaan karena terjadi pemangkasan plot dan karakter.

Menonton film Ender’s Game bolehlah saya katakan secara penilaian personal lumayan baik. Secara visual kita disuguhi dengan pemandangan teknologi yang menyakinkan. Secara jalan cerita saya mengalami antiklimaks. Ketika Ender Wiggin dikirim selepas dari battle school, justru drama seperti kehilangan gregetnya. Secara akting saya harus mengapresiasi dan salut kepada Asa Butterfield. Tentu saja dia memiliki track record yang menawan ketika menjadi Hugo Cabret dalam film Hugo. Kali ini ketika menjadi Ender Wiggin, ia mampu menampilkan kompleksitas emosi.

Membaca novel Ender’s Game terjadi pengayaan yang lebih mendalam mengenai Ender Wiggin sebagai sosok sentral. Bagaimana dirinya yang dibentuk untuk menjadi komandan terbaik. Seperti perkataan Graff (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 56): “Tugasku adalah mencetak prajurit-prajurit terbaik di dunia. Dalam sejarah dunia, kita membutuhkan seorang Napoleon. Seorang Alexander.”

Peran dari saudara Ender juga mendapatkan porsi yang lebih signifikan. Simak bagaimana Valentine yang menjadi “provokator ide” dengan menjadi Demosthenes. Simak juga bagaimana Peter yang sadis menjadi Locke ketika merambah dunia maya untuk mendiasporakan gagasannya. Friksi antarketiga saudara lebih terasa dalam versi novelnya. Bagaimana Valentine di akhir cerita novelnya membujuk Ender untuk jangan kembali ke bumi. Seperti terterakan dalam fragmen kalimat dari Valentine berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 464-466):

“Dia punya rencana untukmu, Ender. Dia akan mengungkapkan diri secara terbuka ketika kau tiba, akan menemuimu di hadapan semua media. Kakak tertua Ender Wiggin yang juga merupakan keturunan Locke yang agung, arsitek perdamaian. Dengan berdiri di sampingmu, dia akan terlihat cukup dewasa. Lalu, kemiripan fisik di antara kalian menjadi lebih kentara daripada sebelumnya. Maka, dia akan lebih mudah mengambil alih.”

“…Ender, Bumi milik Peter. Jika kau tak pergi denganku sekarang, dia akan menangkapmu di sana dan memanfaatkanmu habis-habisan sampai kau berharap tidak pernah dilahirkan. Hanya sekarang kesempatanmu satu-satunya untuk pergi.”

Ender's Game Novel

Novel Ender’s Game juga menggambarkan bagaimana Ender ditekan untuk mencapai batas optimal dari dirinya. Bagaimana rangkaian promosi ketika dirinya masih begitu muda, bagaimana Ender diisolasi untuk menjadi seorang pemimpin, bagaimana pressure dari para senior, bagaimana kerinduan Ender terhadap rumah dan bumi, bagaimana Ender ketika menjadi komandan tempur diharuskan untuk bertarung melawan kelompok lain secara terus menerus, dan lain sebagainya.

Novel Ender’s Game dalam hemat saya juga memberikan jawaban akan pertanyaan kenapa mesti anak-anak yang dibebankan tanggung jawab untuk memusnahkan bugger (sesuatu yang belum terjawab di versi filmnya). Simak fragmen berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 446):

“Tentu saja kami menipumu agar melakukan itu. Itulah intinya,” sahut Graff. “Memang harus dengan tipuan atau kau tak sanggup melakukan itu. Kita berada dalam ikatan. Kami harus memiliki seorang komandan dengan empati yang begitu besar sampai dia akan berpikir seperti para Bugger, memahami mereka, dan mendahului mereka. Kasih sayang yang begitu besar sampai doa bisa memenangkan cinta bawahannya dan mempekerjakan mereka seperti mesin yang sempurna, sesempurna para Bugger. Tetapi, seseorang dengan kasih sayang sebesar itu tak akan pernah bisa menjadi pembunuh yang kami butuhkan. Tak akan pernah bisa bertempur dengan keinginan menang, bagaimanapun caranya. Kalau tahu semua itu, kau takkan bisa melakukannya. Kalau kau adalah jenis orang yang akan melakukan tindakan semacam itu meskipun sudah tahu sejak awal, kau tak akan pernah memahami para Bugger dengan baik.”

“Maka, dia haruslah anak-anak, Ender,” ujar Mazer. “Kau lebih cepat dariku. Lebih baik dariku. Aku terlalu tua dan berhati-hati. Orang baik mana pun yang menyadari arti dari perang tak akan pernah bisa bertempur sepenuh hati. Tetapi, kau tidak tahu. Kami pastikan kau tidak tahu. Kau nekat, cerdas, dan masih muda. Itulah alasan kau dilahirkan.”

Novel Ender’s Game sendiri mendapati sejumlah penghargaan seperti Hugo Award dan Nebula Award. Bagi pecinta novel sains fiksi saya pikir Ender’s Game ini layak menjadi koleksi. Boleh dibilang film dan novel Ender’s Game saling menopang dalam memberikan narasi dan penceritaan. Untuk yang ingin versi singkatnya dan secara visual memukau dapat menonton filmnya. Untuk menemui kedalaman, pengayaan, dan kompleksitasnya bacalah versi novelnya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s