Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Sosial Budaya

Visual Memikat 99 Cahaya

Melihat film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah melihat keindahan visual kota-kota di Eropa. Penonton dibawa untuk menelusuri kota Wina dan Paris. Paris yang tiada sekadar Menara Eiffel, museum Louvre. Film 99 Cahaya di Langit Eropa berangkat dari novel best seller karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

Dalam versi novelnya sentral utama cerita adalah Hanum. Hanum yang menemukan cahaya dan kebesaran Islam justru ketika berada di benua Eropa. Hal yang tidak berlebihan dikarenakan seperti dituturkan oleh Ahmad Suhelmi bahwa ada tiga peradaban yang mempunyai peranan penting terhadap pembentukan tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat: Yunani-Romawi, Judeo-Kristiani dan Islam.

Menarik adanya jika menilik apa yang diungkap oleh Ahmad Suhelmi tentang pengaruh Islam dalam tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 18-19):

Watak Islam yang demikian ini pulalah yang menyebabkan penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi oleh proses penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukkan. Islam membiarkan, bahkan dalam tingkat tertentu, memperkaya peradaban-peradaban negeri-negeri taklukan itu. Tidak seperti yang dilakukan para penakluk Cina, kaisar Hulagu misalnya, yang secara biadab menghancurkan kekayaan khazanah intelektual, membakar perpustakaan-perpustakaan dan warisan sejarah Islam ketika berhasil menaklukkan kota Baghdad. Watak Islam yang demikian itu juga yang secara gemilang berhasil menaklukkan, mempersatukan dan mensintesakan berbagai peradaban dunia yang tumbuh subur mulai dari kawasan Andalusia Spanyol hingga dataran Cina.

Umat Islam menerima secara kreatif warisan Yunani-Romawi, juga warisan peradaban negeri-negeri taklukan lainnya, karena watak mereka yang kosmopolis dan universalis. Mereka, seperti ditulis Nurcholis Majid, memandang diri mereka sebagai bagian dari seluruh kemanusiaan universal dan yang berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia. Dalam wujud historisnya sikap kosmopolitan dan universalis itu, menurut Nurcholish mengutip Halkin: “Adalah pujian untuk orang-orang Arab (baca: Muslim, pen.) bahwa meskipun mereka menjadi pemenang secara militer dan politik namun tidak memandang hina peradaban-peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan. Kekayaan budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka adaptasi ke bahasa Arab segera setelah mereka temukan. Para khalifah, gubernur dan lain-lain menjadi pelindung para sarjana yang melakukan kegiatan penerjemah, sehingga sangat luas ilmu bukan Islam dapat diperoleh dalam bahasa Arab.”

99 cahaya

Kembali ke ulasan film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum (Acha Septriasa) yang ber-traveling bersama Fatma (Raline Shah) dan Ayse (Geccha Tavara) di kota Wina. Disanalah Hanum mendapatkan makna mengenai roti croissant, lukisan Kara Mustafa, restoran Der Wiener Deewan yang memiliki slogan “All You Can Eat. Pay As You Wish”. Hanum yang belajar dari Fatma perihal menjadi agen muslim yang baik seperti tecermin dari bagaimana penyikapan Fatma yang lebih memilih untuk membayari biaya makan dua orang bule yang mendiskreditkan Turki dan Islam melalui perlambangan roti croissant yang dimakan.

Sementara itu Rangga (Abimana Aryasatya) yang menempuh pendidikan S3 dihadapkan pada aplikasi Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memilih makanan yang halal, menunaikan ibadah shalat wajib, shalat Jumat yang bertabrakan waktunya dengan waktu ujian, dan sebagainya. Rangga juga mendapatkan godaan dari Maarja (Marissa Nasution) dan bagaimana Rangga dengan cara elegan menghindar dan menampik godaan Maarja.

Rangga juga memiliki teman yakni Khan (Alex Abbad) dan Stefan (Nino Fernandes). Khan digambarkan sebagai Islam garis keras yang tanpa kompromi dalam bersikap. Sedangkan Stefan merupakan seorang skeptis yang terus mempertanyakan mengenai esensi dari ajaran Islam. Simaklah bagaimana perbincangan menarik antara Stefan dengan Rangga dalam hal makanan halal, shalat Jumat, pelaksanaan ibadah wajib yang dianalogikan dengan asuransi, dan sebagainya.

Rangga juga mampu menampilkan sisi romantis yang menghibur dengan sejumlah candaannya kepada istrinya Hanum. Bagaimana pasangan muda ini saling menguatkan dalam kata dan perbuatan.

Sisi drama dari film 99 Cahaya di Langit Eropa didapati ketika Ayse ternyata terkena penyakit kanker. Sejumlah jejak seperti rambut yang rontok, hidung yang mimisan, kiriman dari Marion terkonklusi dengan pengetahuan bahwa Ayse ternyata terkena penyakit kanker.

Menyaksikan film 99 Cahaya di Langit Eropa mengasyikkan secara visual. Mata kita dimanjakan dengan keindahan, kerapihan kota Wina dan Paris. Kita dibawa untuk mengunjungi Menara Eiffel, museum Louvre, Arc de Triomphe du Carrousel, museum Wina, Kahlenberg. Film ini boleh dibilang mampu memotret Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Bagaimana dahulunya Islam mampu merengkuhkan pengaruhnya hingga benua Eropa dan sejumlah peninggalannya masih jelas terlihat. Di samping itu para penganut Islam di benua Eropa menjadi duta-duta Islam yang menebarkan kebaikan dan pesan perdamaian.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s