Posted in puisi, sastra

Puisi 365

Seperti detak waktu yang terus bergerak. Seperti sumbu waktu yang menunjukkan perubahan. Maka dengan ini saya menghadirkan Puisi 365. Rangkaian kata puitis yang akan mengarungi setiap harinya. Karena setiap hari adalah makna yang baru.

1. Pada sisa api unggun kutemukan bara yang menggigil. Tentang rasa yang meletup-letup, untuk kemudian tumbang bersama waktu.

2. Kau yang memilih kegelapan. Telah kuberikan nyala ceria hari. Namun kau menampik dan berpaling. Mampuslah sunyi berkepanjangan.

3. Kau seperti buku yang tertutup. Enigmatik.

4. Dikabarkannya kepada angin. Tentang rindu mengelus rindu. Ah angin punya persepsi dan logika sendiri. Ia mengkudeta kisahku satu per satu.

cable car

5. Sekali kita belajar tentang perpisahan, kita akan belajar tentang pertemuan. Dan kita akan menghargai jarum detik yang berdetak. Lembayung yang menyemburat di langit. Genggaman yang meluruh bersama waktu.

6. Kau hanyalah masa lalu bagiku. Tidak lebih.

7. Ada masa lalu yang terhampar kaku. Ada masa kini dan hari esok. Kuharap kamu adalah masa kini dan hari esok itu.

8. Di planet manapun tempat berlabuhmu. Aku ingin berbagi semesta denganmu.

9. Engkaulah bunga kecantikan di tengah dunia yang membusuk. Indah, tanpa kehilangan ronanya.

10. Aku yang kehilangan kata di depanmu. Menyusun alur mozaik perasaan. Kugambarkan hati morat-marit sebagai metafora. Pertanda: dariku yang terluka.

musical fountain

11. Sepenggal nama dalam ingatan. Laju kenangan yang sayup-sayup memanggil jiwa. Di sini pernah berlabuh aneka peristiwa.

12. Dan kau berdiri di atas ilusimu sendiri. Seperti berdiri di lapisan es tipis. Keheningan menghujammu tanpa ampun.

13. Sentuhan seorang hawa dalam arsitektur udara. Keindahan, tanpa perlu banyak kata.

14. Lalu sayap sang penghancur membekukku. Menghajarku lagi dan lagi. Ada darah yang mengalir. Ada luka yang mengikatkan simpul. Lalu sayap sang penghancur membekukku. Terhunus menggigil tanpa daya.

15. Mencuri pandang sekilasan. Dirimu yang bersenyawa dengan keindahan.

16. Kau hanya melihat ke arah yang salah. Pada derajat teropong yang keliru. Yang kau lihat adalah kelamnya langit malam. Kugeser arah teropong ke sudut elevasi. Bintang jatuh dengan eloknya berkelana di langit sana.

singapura

17. Ia tersenyum simpul di kegelapan. Matanya nyalang. Hatinya membara. Ia menyulut ke satu titik. Lalu api. Lalu abu. Rangka bangunan mengoyak dengan segera. Ia tersenyum simpul di kegelapan.

18. Kata-katamu kusimpan cermat. Kuingat-ingat. Kutakar dalam ramuan perasaan. Jadilah senyawa tak terbantahkan.

19. Membangun labirin yang dapat kau jelajahi. Sediakan arah agar kau mengerti. Di persimpangan kebimbangan, aku ada mendengar lara lukamu.

20. Di lipatan waktu ini, tersimpan peristiwa. Kita pernah terlunta dan terluka. Namun kita tiada ingin dihapuskan dari ingatan sejarah.

21. Berhentilah di titik hening ini. Ada lamunan yang tiada terkatakan. Ada lamunan yang tiada terjelaskan.

22. Inflasi kata-kata. Ada bayangan antara kata dan perbuatan. Pecah kongsikah? Kuharap bukan oksimoron.

watchover voodoo doll

23. Tuhan bersama para pemberontak. Yang menuntun keadilan untuk tiba di gerbang.

24. Seperti mainan rusak yang kehilangan fungsi dan alasan hidupnya. Seperti atmosfer yang kehilangan udara. Seperti api yang kehilangan nyala dan hangatnya. Seperti itu. Yang mengalun dan menjejak di nadi saat ini.

25. Sayangnya kamu datang terlambat. Hatiku telah terpikat dan tertambat di dermaga yang satu itu.

26. Pada bisikan angin. Pada pelukan hujan. Aku menunggu tanya menjadi jawab.

27. Kugambar arsip warna-warni. Kutemui kamu dalam tamasya masa lalu. Terima kasih telah menjadi sejarah bagiku.

28. Benteng, tempatmu bertahan. Dari amukan kata-kata. Dari jilat api yang menyulut marah. Dari bedil-bedil logika yang terjungkirbalikkan.

manga 2

29. Kincir angin memutar. Hembus angin yang berbisik. Bunga yang tersabit dari benak. “Ini aku, kematianmu,” ujarmu senyap.

30. Bising itu mengintimidasiku. Dengan suara-suara tanpa makna. Aku rindu hening. Aku rindu sendiri.

31. Tersesat dalam diam waktu. Membekukan pertanyaan. Cendawan berbisa. Tanya-tanya di kepala meracuniku. Pagutan hampa menarik selimutnya. Menggigilkanku tanpa suara.

32. Bendera-bendera yang berkibaran. Deretan anak yang berlarian. Lepas benar mereka. Merdeka betul mereka. Senyum mereka lepas di bawah langit. Merdeka rasa. Merdeka jiwa.

33. Dalam langkah malu-malu dia mendekatiku. Memberiku seikat puisi. “Ini dari hati yang mencinta,” ujarnya dengan wajah bersemu merah.

34. Kau tahu lara jadi abu. Meluruhkan nelangsa. Kamu seperti oven. Menghangatkan hatiku.

baca 1

35. Tuan, boleh pikir tuan punya kuasa. Lalu semena-mena. Lalu semau-maunya. Ada karma tuan. Cepat atau lambat, karma itu akan mengerkahmu.

36. Mari datang ke perjamuan senja. Tempat kita melamunkan masa ketika tangan kita bergenggaman. Mari datang ke perjamuan senja. Tempat bifurkasi waktu kita.

37. Kabut kata-kata yang kau berikan padaku. Metafora yang memerlukan enkripsi. Engkau sungguh enigma yang indah.

38. Lihatlah keresahan orang itu. Bibirnya yang mengerucut. Orbit pikirannya. Gestur tubuhnya. Setialah dalam keresahan wahai durjana penindas kata.

39. Kubuatkan perahu kertas untukmu. Ini dariku untukmu. Biar berlayar mencicipi arus. Biar waktu membuktikan lajunya.

40. Di pagi itu, aku seperti bermimpi. Kamu yang mengetuk jendela kesadaran. Kamu nyata. Kamu ada. Dan kita berbincang tanpa plot. Seolah waktu milik kita yang dipadu rindu dan letupan perasaan.

baca 2

41. Di depan cermin kamu becermin. Kamu tuliskan namamu di udara. Senyummu membentang. Kamu berbisik di udara. Terima kasih Tuhan, aku cantik, itulah bisik katamu di udara.

42. Berikan aku satu kata. Akan kusulam jadi puisi. Kupilah, kupilih lema agar memikat rona. Kata-katamu kuingat cermat. Teruntuk jiwa-jiwa dalam penantian.

43. Dan biarkan waktu memandu cerita. Setelah peluh bercucuran. Setelah lelah menyimak lamunan. Setiap kita akan menemui pertanggungjawabannya masing-masing.

44. Adalah malam yang melamunkan tanya. Mungkinkah tanya bertalian dengan jawab?

45. Yang aku tawarkan adalah sebuah revolusi. Sebuah pemberontakan.

46. Haruskah aku bertanya, aku yang menjawab?

creativity b

47. Arsitek palsu yang menjejalkan imajinasi kerontang.

48. Karena dunia tak pernah satu warna.

49. Yang tewas menggenggam nyala. Habis sisa abu penghabisan mimpi.

50. Jiwa rasa sunyi. Dan hati yang terlalu.

51. Terkadang yang ingin kulakukan hanyalah mendengarkan rinai hujan. Sembari membayangkan dirimu.

52. Hidup adalah pilihan. Namun akankah kau memilihku?

school b

53. Kau hanya melihat ke arah yang salah. Ke sisi terang diriku.

54. Maka biarkan aku berbicara dengan caraku tersendiri. Tentang kata yang tak bisa diungkapkan.

55. Ia tersenyum simpul di kegelapan. Dibunuhnya harapan para arjuna dalam terang.

56. Jalang betul kalimatmu. Liar betul pikiranmu. Koyak basis jiwa ini. Awurkan ke udara.

57. Kau adalah puisi yang belum kususun.

58. Mungkin ini cinta. Mungkin ini luka.

school a

59. Kamu adalah paragraf terakhir dalam kisah cintaku.

60. Yang tersimpan dalam diam. Sunyi berpeluk-peluk.

61. Echo yang hilang di hati.

62. Lalu kunyalakan cahaya di ujung senja. Meski kabut mengilusikan pandang.

63. Kata-katamu kusimpan cermat. Kupatrikan dalam hati. Kujadikan tembang kata-kata bagi taman jiwa.

64. Eskalasi kepedihannya berpotensi menjadi kekal di sepanjang usia.

child

65. Dalam setiap pemberontakan, kau akan selalu menemui para pengkhianat internal.

66. Mungkin sudah lelah kau berlari. Mungkin sudah lelah kau bermimpi.

67. Warna langit yang kau kelirkan untukku. Pelangi yang kau dongengkan untukku. Lara berbentuk hati yang kau sisipkan ke jantung jiwaku.

68. Berbahagialah cinta yang telah cukup untuk cinta.

69. Suasana hati yang benar-benar kuno: cinta.

70. Matanya menangkap mataku. Jiwanya menggenggam jiwaku.

kalfa a

71. Katanya dalam diam.

72. Ketika kata tidak bersambut. Ketika harap tidak berbalas.

73. Ku lihat kamu tertunduk takzim. Seakan merenungi kebusukan dunia.

74. Dan semua tangan kotor harus diadili. Yang berlumuran darah rakyat. Yang menitahkan! Untuk kemudian sekian nyawa tercerabut.

75. Kita bagaikan kutub yang tak pernah akur.

76. Sekilas senyuman dalam hujan. Wajahmu yang menyepi sendiri.

kalfa b

77. Ia menatapku. Menatapku dengan senyum kejinya. Wahai jiwa-jiwa yang kalah. Musnahlah sudah.

78. Bagaimana nasibnya masa depan sebuah masa lalu?

79. Dia mengoyakkan janjinya. Penenun kata-kata artifisial.

80. Kambing hitam bertanya kepada kambing putih. “Mengapa selalu aku yang dipersalahkan?”

81. Sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat. Kehilangan rona pelanginya. Kehilangan imajinasi mimpinya.

82. Kau merasa memiliki semesta, tapi yang kau genggam hanya debu yang meluruh.

chess

83. Pada titik hujan yang lebur di bumi. Saat itulah aku kehilanganmu.

84. Zaman sudah beredar. Musim telah berganti. Namun aku masih tetap mencintaimu. Lagi. Dan lagi.

85. Ini aku, yang terapung-apung antara harapan dan nelangsa.

86. Menatapku seolah aku sampah. Yang tiada berguna. Yang layak untuk dimusnahkan.

87. Pupus dari ingatan masa. Luruh dari ingatan. Kepada yang terlupakan.

88. Kau berusaha mencari pegangan di udara yang melompong. Harapanmu tenggelam. Mimpimu teredam.

museum kaa

89. Membangun ilusi dalam sepi.

90. Kuberi dia crayon warna hitam. Agar dapat memupuskan pelangi yang pernah kuberi.

91. Memberi warna sekaligus prahara.

92. Seperti repihan puzzle yang keping demi kepingnya kutemukan. Sempurnalah kejahatanmu kutemukan.

93. Dan untuk apa aku menunggumu? Dara yang melukaiku. Lagi dan lagi…

94. Duniaku terhenti karena kamu.

pandawa

95. Sang penyair dan dialog kata-kata. Menghembuskan nafas pujangga kepada semesta.

96. Aku ingin mendengar suaramu di koordinat akhir hari. Suara yang mengantarku sebelum ku terlelap.

97. Karena kau adalah gravitasiku. Pusat hidupku saat ini.

98. Kaulah yang menjelaskan aku berdetak.

99. Aku membutuhkan kamu di saat aku merapuh seperti ini. Di kala sayap-sayapku terluka. Di kala terang terenggut dari singgasana hati.

100. Lemparan dadu terakhir. Disanalah asaku berintipan dengan harap.

petruk cs

101. Jadi tenang-tenanglah. Kuninabobokan dirimu dengan satu kata penghabisan.

102. Waduh gempa melanda. Episentrumnya di hatiku.

103. Hari ini tanggal merah di kalender. Tapi aku tak pernah libur memikirkan kamu.

104. Tapi bukankah hidup akan lebih berdenyut bila ada sesuatu yang dinanti?

105. Lahir untuk terluka.

106. Saya tidak ingin kamu berlalu dari orbit saya.

imajinasi

107. Izinkan aku. Pamit dari hatimu.

108. Sebuah ilusi harus dibangun. Dan badut-badut dikerahkan.

109. Dia adalah masa lalumu. Sedangkan aku adalah masa kini dan masa depanmu.

110. Segala luka yang kau titipkan ke udara. Senyummu yang seperti senyum malaikat. Lalu sayap sang penghancur membekukku.

111. Dan kulihat senja di matamu.

112. Berbicaralah padaku tentang senja yang belum selesai. Utarakan perihal mimpi yang tak kunjung tergenggam.

troy b

113. Entah kenapa pena ini berhenti memuntahkan kata. Aku melumpuh tanpa daya. Kehilangan greget aksara.

114. Pada jarak yang kau lepaskan. Sekarat.

115. Aku dan anak-anak sunyi.

116. Saat kau rengkuh jantungku.

117. Menatap matanya selama beberapa denyut jantung.

118. Pelangi kehilangan warna. Ketika kau tidak memberikannya makna.

waiting for superman

119. Kupu-kupu yang tersesat di hatiku.

120. Sayangnya aku tidak menyiapkan rencana untuk patah.

121. Tempat di mana harapan tiada diperbincangkan lagi.

122. Maaf, aku tak bisa lagi jadi protagonis untukmu.

123. Kau tahu apa yang kurindukan? Melihatmu dari pantulan kaca. Aku rindu semua tentang kamu.

124. Mungkin kita terlahir di tempat dan waktu yang salah, tapi kita tetap berjuang.

feather

125. Ingatan yang eksklusif kuhadirkan untukmu.

126. Kuracik rindu dalam kata. Kuhidangkan di malam bertabur bintang.

127. Kutaburkan benih-benih harapan dalam kata. Tumbuhlah jiwa-jiwa revolusi.

128. Menelusup diam-diam dalam jenak mimpiku. Dalam pucuk-pucuk ranting penjaga mimpi.

129. Kugerakkan bidak. Ada yang mengintip. Ada yang siap memangkas gerak. Ada yang karam sebelum jadi apa-apa.

130. Aku tahu apa yang menggelisahkan hatimu? Koalisiku dengan hatinya.

kompetisi

131. Aku melukiskan pelangi di langit hitam.

132. Senyummu pilu melukis langit.

133. Dari masa lalu kamu mengikat masa depanku.

134. Kukirimkan puisi berwatak demokrasi ke fasisnya sikap kukuhmu.

135. Pada bintang yang berkejaran kusebut namamu.

136. Mozaik hati yang berlumuran luka.

pen 2

137. Warna kelabu yang kau titipkan ke hatiku.

138. Terlalu lama dirimu berada di bunker gelap. Kelamnya suram meracuni hatimu.

139. Tangannya berlumuran darah. Senyumnya kecut mengikat udara. Terhunuslah waktu dalam tatapannya.

140. Jam dinding yang berdetak. Sunyi yang melekat bersama kata. Aku sendiri dalam sendiriku.

141. Apa yang kau rindukan dari diriku? Senyum malu-malu yang merona dari hati.

142. Kutimbang dan kutakar segalanya. Sempurnalah racun kata ini dihembuskan.

pen 1

143. Kapan terakhir kali kau melamun? Meresapkan senyawa kata dari puisi-puisiku.

144. Yang aku butuhkan adalah berdialog dengan sunyi.

145. Hei..sunyi sendiri. Sendiri sunyi.

146. Adalah cintamu yang bertaut kepadaku. Menyalakan warna yang senantiasa kelabu. Pigura langit baru.

147. Sunyi merangkai kata. Lengkapi lamunan ini.

148. Bimbang di persimpangan. Berseminya segala warna. Hidup adalah kebimbangan bertalu-talu.

klakson

149. Kudengar bisikmu di udara. Selimuti hatinya dengan rangkaian kataku.

150. Tuan dan nyonya egois berujar. Alangkah malasnya mereka. Hanya anggur di tangan dan semburan perintah. Keringat bukanlah sesuatu yang mereka cari. Malas betul jiwa mereka.

151. Kupilah dan kupilih lema yang tertuang. Terimalah karya ini. Tertanda: pujangga baru.

152. Wahai penyebab kata. Yang menyulamkan mimpi luka.

153. Parasit itu lihai memilin kata. Mengendalikan makna. Jejak ilusi yang mereka konstruksikan. Terkutuklah dalam pikiran dan tindakan lancung kalian.

154. Sudahlah sudah. Aku berlalu dari penat belenggu ini.

earth

155. Setiap puisi mempunyai cerita. Mungkin ini kisahku. Atau ini kisahmu.

156. Ketika pilihan di kantung begitu terbatas. Yang tersisa adalah…Keluarlah kalian para badut-badut.

157. Bagaimana jika segala ini memergokiku pada ingatan tentangmu? Senyum tipis bersama ingatan yang ingin kukubur.

158. Apakah masih dapat kugenggam tanganmu? Kukecup bibirmu? Manakala rasa telah surut dari diri.

159. Kaulah yang menyalakan api, lalu memadamkan mimpi.

160. Akulah senja yang senyap dari horizon perasaan.

isaac 2

161. Tak perlu kau berpihak padaku. Pada suatu hati yang telah koyak dan mengapung dalam lamunan.

162. Wahai jiwa, tenang-tenanglah dalam lamunan tak bertepi.

163. Suratmu ini kembali. Ke pertemuan jiwa-jiwa yang terluka.

164. Adalah yang merendahkan diri hingga ke kawah keputusasaan. Dengan pisau perkataan mencabik-cabik harga diri.

165. Mereka melemparkan dadu. Saling bertaruh. Ah..Pandawa-Kurawa.

166. Bulan itu kuikatkan di senyawa kata bertitel: harapan.

isaac 3

167. O..pangeran dan tuan puteri, kapan kiranya mencicipi keras-bengisnya bumi?

168. Sejak dulu aku terasing. Teralienasi. Sendiri.

169. Jiwa yang Anda hubungi sedang patah hati. Cobalah untuk menanti.

170. Di ruang berpendingin ini, jiwaku panas menanti hati.

171. Tak perlu terombang-ambing begini. Para serigala itu hanya peduli pada santapannya.

172. Mungkin..mungkin..mungkin..

isaac 1

173. Politik adalah perniagaan.

174. Karena kau adalah koma. Never ending question😀

175. Puisi tanpa kata.

176. Penyamun jiwa. Mereka menggerogoti kemurniannya.

177. Aku ingin dia tahu. Meskipun dia pasti tahu.

178. Ia tiba di pulau utopis. Di sana ia merawat khayalnya.

hugo 4

179. Tentang arus yang surut. Tentang cinta yang kecut.

180. Dia yang berkuasa atas nama kata. Menghegemoni ruang-ruang publik dengan diksinya. Intelektual tersungkur.

181. Kapan terakhir kali kamu bermain pasir di pantai? Membuat istana pasir. Mencetak imajinasi dalam kehendak bebas.

182. Di padang penghabisan. Amis darah menyeruak di udara. Tanpa nyawa bergelimpangan. Hanya darah dan darah.

183. Adalah pagi yang berkonspirasi dengan sepi.

184. Tuan mari kemari. Jangan sibuk saja dengan orbit pikir sendiri. Tuan mari kemari. Rasakan denyut nadi ini yang menepi.

bandung

185. Kau yang menuliskan senja di hubungan ini.

186. Laju kata ini merapuh di hadapanmu. Aku kehilangan pijakan kata.

187. Malam yang bersemayam di jiwa. Turunkan tirainya. Aku terhenti sendiri.

188.Tirani itu mengintaimu. Melucuti daya intelektualmu. Mengunyahmu dengan pola durjana.

189. Mari menari di gerimis ini. Pada jiwa-jiwa yang patah. Pada jiwa-jiwa yang kalah. Taburkan debu di udara. Manakala kemusnahan sempurna sudah.

190. Aku sembunyikan rasa rindu ini di sela kata. Rindu ini membujur dan melintang. Memanggil namamu dalam degup jantung ini.

museum kaa

191. Dibelai ombak. Dihentakkan lamunan. Aku tumpul dalam kata. Kehilangan artikulasi arti.

192. Aku ingin bekerja dengan nyali. Kegembiraan yang bersorak dari diri. Dengan lantang berkata: Ini Aku.

193. Kita berkabung untuk jiwa-jiwa yang kalah sebelum bertarung.

194. Ah sampah peradaban itu membusuk di halaman pekarangan rumahku.

195. Kita ingin sarapan pagi dengan harapan. Bukan dengan luka yang tak kunjung terpulihkan.

196. Senyumnya episentum penjelas segala.

pandawa

197. Kita edarkan piala ini ke seantero. Hirup jiwa kemenangan di sana.

198. Diksiku sesak terhentak. Terpinggirkan di tubir jurang. Bersiap meloncat menemui remuk kata-kata.

199. Mereka menutup mata untuk genangan darah yang jelas-jelas. Mereka menutup telinga untuk suara yang termarginalisasikan.

200. Disini kita jatuh dan terluka. Disini kita merekonstruksi hidup. Yang tak mau terkalahkan bersama waktu.

201. Dan kau bertanya tentang bagaimana kata-kataku dapat begitu bernyawa? Karena ada kombinasi luka dalam tiap takarannya.

202. Dibutuhkan jawaban yang sederhana untuk pertanyaan yang rumit.

imajinasi

203. Bara api yang memanggilmu untuk kembali. Ke sudut sepi ini. Dan menyulutnya dengan luka paripurna.

204. Aku selalu tahu yang menjatuhkan jiwa-jiwa parau. Lukisan yang terhenti tanpa warna. Terlepaslah jiwa-jiwa luka.

205. Aku takkan surut melawan angin.

206. Apa kabar wahai jiwa-jiwa dalam pengasingan? Sudahkah menjenguk senja yang terlambat?

207. Menunda luka mampir di pelukan.

208. Di pertautan mimpi kudapati kamu mencium keningku.

embun

209. Menulis adalah meringkus.

210. Lelaplah tidurmu. Dalam buaian kata-kata malam.

211. Ah kita selalu tiba pada titik itu. Ketika kau mengulangi salahmu, lagi dan lagi.

212. Bersulanglah untuk senyap yang kusulam. Lagu kesunyian berdetak tenang.

213. Di balik tirai itu para badut politik memadu kasih. Dan kita hanya bisa muak dengan narasi buaian mereka di panggung kekuasaan.

214. Di masa perburuan. Para domba menari. Karena serigala telah mengembik dan menjadi pengecut.

books

215. Bintang yang tersesat di kegelapan malam.

216. Ketika terbangun pagi, ku dapati kemarin.

217. Serpihan debu yang menyepi di galaksi.

218. Dari gelap yang merangkul sepi. Dari gelap yang menuju mati.

219. Kugambarkan luka ini dengan sempurna di nadi.

220. Dan tawa yang berhenti jam 7 pagi.

teko

221. Hiduplah hidup dalam ilusimu sendiri. Jangan kau seret kami dalam pelarian ilusimu.

222. Kita dapat berjuang bersama. Hanya jika kamu percaya padaku.

223. Yang terkurung di ranah imajinasinya sendiri.

224. Di depan cermin. Masihkah kau mengenali dirimu?

225. Di malam sepi, kuputar semua kenangan tentangmu. Menakar racun kenangan.

226. Bebaskan aku dari peluk belenggu ini.

games

227. Dan puisi yang mati di tangan pujangga.

228. Dalam putaran purnama. Ada jejak yang terhenti. Ada mimpi yang mati. Takluk dalam kesendirian.

229. Kutuliskan puisi tanpa kata ini. Hanya untukmu.

230. Bara dalam sekam ini meletup. Dan membakar segala fundamen yang bergerilya.

231. Ah, aku bosan dengan bosan.

232. Pada persilangan mimpi, ada yang terluka karena rakus yang terlalu.

troy b

233. Mampuslah kalian egois, rakus, lagi pelit.

234. Dan kau tak bisa mengikatku. Namun mampu memikatku.

235. Biarkan aku menjadi sayapmu. Yang membawamu untuk menjenguk bumi. Mereguk saripatinya. Mendengarkan detak lukanya. Biarkan aku menjadi sayapmu.

236. Dan kita berjalan bersisian. Saling bergenggaman tangan. Kita tahu dunia ini mengeruh. Kita tahu dunia ini membusuk. Namun kita bertahan di tengah polusi pikiran ini.

237. Jalanku mengelam. Cahayaku redup di genggaman. Aku merindukan bayanganku.

238. Dan embun pagi menyepi. Kenangan menepi. Mimpi bertalian dengan sepi.

klakson239. Pada suatu pagi. Ketika angkara telah meluruh. Ketika tirani luruh bagaikan daun yang mengkecup bumi. Pada suatu pagi. Bernafaslah dengan sepenuh udara.

240. Mari genggam tanganku. Percaya padaku. Mari kita melompat dari jengah peristiwa. Kita arungi bumi ini.

241. Kekuasaan itu seperti laron yang terpikat dengan cahaya. Lalu meluruhlah mereka bersama menjadi abu sejarah.

242. Terbang ke ilusi mimpi. Dan tersesat di dalamnya.

243. Kejahatan itu dapat dipermanis dengan kata. Memenangkan opini publik. Yang jahat dapat menjadi baik. Yang pecundang dapat menjadi pahlawan.

244. Sisakan waktu untuk melamun setiap harinya. Maka kau akan dapat menulis puisi.

pen 1245. Tirai telah diturunkan. Sirkus telah berakhir. Mari kembali menjadi manusia.

246. Aku terasing. Terpenjara dalam pikiran sendiri. Aku ingin lari dari semua ini. Namun kembali dan kembali lagi di jeruji pikiran sendiri.

247. Kalian tidak pantas mendapat roti dan anggur dari hidanganku. Kalian tidak layak menerimanya. Kalian tidak layak mereguknya.

248. Di depan kanvas. Aku kehilangan warna.

249. Dan kita berada dalam kenangan hitam. Merenung di sisi luka. Dan tarian sepi hanya kita yang tahu.

250. Ada yang bergerak dalam hening malam. Setelah itu revolusi. Setelah itu robohlah barikade-barikade nilai yang selama ini dipuja-puji.

pen 2251. Tuan dan nyonya tak perlu cerdas otak untuk selamat di pergaulan sosial. Cukuplah takaran kemunafikan menghiasi senyawa kata yang tuan dan nyonya nyatakan.

252. Tatap mataku dan katakan kembang semu dari teater jiwa.

253. Kuldesak. Pada akhirnya aku menyerah pada kebebalan orang-orang yang mengelilingiku.

254. Setiap era punya kegalauannya masing-masing.

255. Dan waktunya bagi kita untuk berkemas. Dari teater kegilaan yang dilantangkan.

256. Maaf aku hanya penjual ilusi yang handal.

road

257. Pada suatu ketika. Saat jarak menjadi dua. Dan kita menggenggam waktu yang merapuh.

258. Adalah puisi tanpa perangko yang kutemui menjenguk sarapan pagiku.

259. Ranjang itu memuntahkan cerita. Tentang getasnya pergumulan tadi malam.

260. Dan kita terbujur tanpa kata. Di ruangan bertitel: ICU.

261. Adalah pertanyaan tanpa waktu yang membekukan jawaban.

262. Dan biarkan sepi tanpa kata yang merangkul kita.

room

263. Selamat datang pagi! Selamat datang sepi!

264. Pada sajak yang terlewat, puisiku terhempas.

265. Yang dimatikan bukan raga, tapi nalar untuk mengkritisi dan menguliti.

266. Karena kita yang menawarkan cerita kepada kertas putih polos itu. Menyajikan hikayat masa dalam spektrum literasi.

267. Berakrobat bersama kata. Makna dimelarkan dan dibolak-balik. Pemain sirkus kata.

268. Di ujung lidahku, kata itu tak kunjung terucap.

chef

269. Kutemukan kau dalam darah, api, abu. Musnah. Semuanya bisa dimulai dari abu penyucian ini.

270. Di tiang gantungan. Jasad itu berkata tanpa suara. Ini mati tanpa penjelasan berarti.

271. Dan kita termenung beratapkan langit yang muram. Tentang sengkarut yang membebat jiwa.

  1. Hubungan ini berdiri di atas lapisan es yang tipis. Rapuh. Rentan. Menenggelamkan perasaan yang lalu-lalu.

273. Aku dan kisah-kisah yang telah lama mati.

274. Di benakku sosok yang menepi dan menyepi. Terbebas hati.

read

275. Yang menitipkan luka dan menyakinkan cinta.

276. Dan mendung datang dengan sejumlah pertanyaan. Akankah terjawab, akankah terhempas dengan lusinan pertanyaan yang masih mengembang?

277. Aku tanpamu menjadi kau.

278. Tuan datang atas nama cinta. Lalu pergi karena cinta.

279. Kita membungkus kelabu dalam cerita suka cita.

280. Tuan hadirkan ingatan yang membekukan imajinasi. Bunuh dalam pikiran. Bekuk dalam struktur impian.

black swan 2

281. Aku bukanlah pemain teater wajah.

282. Ini dariku. Puisi tanpa kata.

283. Kau adalah narasi tanpa kata. Dan aku hanya dapat mengagumimu dari jauh.

284. Tong kosong berbunyi terus. Tergopoh-gopoh tanpa narasi besar dalam hidupnya.

285. Karya besar tak akan lahir dari mereka yang belum selesai dengan dirinya.

286. Kamu adalah jawaban sebelum pertanyaan.

world

287. Kita yang pemalu. Dan membiarkan kata cinta itu terhanyut di jejak waktu.

288. Peluk aku sekali ini. Mari kita hentikan waktu.

289. Yang mengantri dan mengular panjang: antrian BPJS.

290. Yang menimbun harta dan merasa dunia takkan pernah selesai.

291. Ada yang menyepi di sudut-sudut ingatan. Kenangan berdebu siap meluruh.

292. Tuan, tak lelahkah memintal gincu pencitraan?

imajinasi

293. Ketika tulang-tulang kita merapuh. Ketika ingatan kita mulai padam.

294. Tidur-tidur nyenyaklah wahai pengintai gelap. Karena ketika cahaya datang. Benderanglah segala perkara.

295. Lalu saat revolusi itu datang. Kita bersulang di puncak perubahan.

296. Kita berjalan di dunia yang menua. Sementara kita masih muda belia. Kita diwarisi bumi yang luka.

297. Biarkan aku, membusuk dalam ingatanmu.

298. Tangan itu kikir memberi. Mulut itu ringan melepas sarkasme. Perut itu tiada kenyangnya mengunyah bara api pembakaran dari neraka. Apa yang kau cari wahai manusia?

old book

299. Kaulah yang mengagumkan dalam kata. Melemahkan jiwa-jiwa yang tandu. Melambungkan imajinasi setinggi-tingginya. Lalu meremukkan cahaya ketika harapan itu melimpah.

300. Pagi, biarkan ku sembunyi dari kalut politisi.

301. Setelah sunyi kau alirkan ke nadi, kau tangkupkan senyum ke pipi.

302. Dalam luka, kudapati suka.

303. Dalam mimpi, aku berbagi luka ke senyap.

304. Tenggelam dalam lamunan.

old letter

305. Kamu loyo. Seperti Rupiah.

306. Dalam setiap malam yang kelam. Terdapat cahaya yang menunggu.

307. Di antara pedih kau selipkan hampa. Di antara perih kau selipkan hampa. Lelah tatapku menunggu di sini. Bersama dendang kabut nelangsa.

308. Setiap kita memiliki pertarungan personalnya masing-masing.

309. Di negeri ini sungguh banyak pinnokio.

310. Di cermin, aku mengenalimu. Di dunia nyata, kau mengenakan topengmu.

toys photography 2

311. Selamat datang di negeri topeng. Di sini kemunafikan menjadi keharusan.

312. Berhenti mencari diriku. Aku sudah menyesap ke dalam kerangka kenanganmu.

313. Dengan paranoid berlebih, mereka meninggikan benteng. Membuat enggan manusia untuk hinggap. Kastil itu kehilangan sentuhan hangat manusia. Hanya dingin dan aroma tamak memiliki.

314. Hidup ini seperti permainan catur. Kau tak bisa mendapatkan semuanya. Kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kemenangan.

315. Setiap hari adalah penciptaan yang baru.

316. Di perlintasan mimpi, kamu pernah singgah. Sebelum kau lepaskan aku kuat-kuat.

toys photography

317. Di jantung cahaya. Kau padamkan cahaya ini lekat-lekat. “Tidurlah dalam pekat,” ujarmu sembari menutup mataku.

318. Kau takkan bisa mengubah dirinya. Ia telah rusak hingga ke akar-akarnya.

319. Dan kita tertawa di bumi yang mulai terlupakan. Di antara puing peradaban. Kita menanam benih harapan.

320. Kelir warna di langit yang memucat.

321. Bagai senja. Kau hanya terpukau menatap langit. Kau cari titik harapan di permutasi waktu. Berharap nelangsa luruh dari genggaman waktu.

322. Kayu kering yang tersulut. Kata-kata pemantik.

cover kaldera

323. Pada akhirnya kita berpisah dengan waktu.

324. Waktu tidak memihak kepada kita. Manula-manula jiwa.

325. Pendar cahaya di langit hitam. Bukankah harap selalu berkelindan dengan takut?

326. Ada jejakmu di bayanganku.

327. Kata-kata negatif itu seperti kanker. Ia mengerkahmu dari dalam.

328. Adalah masa lalu yang menghunus masa depan.

cr

329. Di langit pertanyaan. Turunlah ke bumi dan jawab segala sengkarut ini.

330. Luka ini tidak dari mana-mana. Dari akar pikiran yang memproduksi negatifisme.

331. Taman para pemimpi dan pengkhayal ulung.

332. Para pencinta karnivora membersihkan meja makan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

333. Mimpi tetap mimpi. Sampai kau tersadar dan mengubah orbitmu.

334. Wahai hati yang mencari. Sudah benarkah apa yang kau cari?

pandora

335. Dan para bajingan itu dapat berpesta lagi. Selepas teater wajah di depan publik. Ya, kami berkuasa 5 tahun lagi.

336. Para pemain teater wajah itu sedang merombak janji. Terkutuklah warga negara yang amnesia sejarah.

337. Di batas pertanyaan, kau genggamkan jawaban. Aku di sisimu, dalam terang dan gelap.

338. Helai demi helai kukupas. Hingga jantung jiwanya terungkap.

339. Genggam jemari ini. Dengarkan lapis memori sejarahku dalam dongeng-dongeng malam. Aku adalah kau. Tiada jauh berbeda.

340. Untuk telinga yang tiada mendengar. Untuk mata yang tiada melihat. Untuk hati nurani yang tertumpulkan gula-gula dunia. Kukirimkan kabar dari neraka untukmu. Ya, untukmu. Private & confidential.

9-5

341. Biarkan dia mengeja senja. Untuk menapaki sisa waktu yang tersisa.

342. Di balik layar sang “pahlawan” tak lebih dari seorang pengecut dengan bumbu gincu tebal.

343. Kabar angin apakah kiranya yang mampir ke telingamu? Hingga kau rontokkan segala tentangku setelah sekian waktu tiada berjumpa.

344. Tahun baru = harga baru.

345. Rezim tanpa visi dan pemberi ilusi.

346. Kau selipkan senyum di dunia yang berkabung. Kau taburkan benih di bumi yang dikangkangi kerakusan. Kau berikan terang saat semesta menggelap dan menjanjikan penghabisan.

night

347. Tak perlu bertanya. Hanya harus terima. Tak perlu bertanya. Harap non aktifkan skeptisme Anda. Isyarat kematian sebuah kata: tanya.

348. Pada titik kematian matahari, aku menanti.

349. Kutemukan kamu dalam sepi. Usai lara ada duka. Orbit tak selamanya terang.

350. Tak usah kau cari kambing hitam. Di sini hanya ada kambing putih.

351. Mereka kikir memberi dan tekun menuntut.

352. Aku sudah lelah menuntut. Para bebal yang piawai berkelit.

desember

353. Masa lalu telah hilang. Masa baru telah datang. Bersiaplah..

354. Pada jejak pagi aku melacak rona jiwa yang tersisa. Masihkah ada aku dalam residu harimu?

355. Dari pikiran tergelapku, kamu muncul. Selamat datang wahai antagonis.

356. Masyarakat yang bergegas mungkin lupa. Lupa menghirup tekstur embun pagi. Lupa menikmati rintik hujan yang menari. Lupa menyesap legitnya sumsum waktu dalam kebersamaan.

357. Dengan mata bertanya, dia menelusuri jawaban dalam hening.

358. Kerakusan itu tak punya ekor.

jalan bercabang

359. Dari peti mainan, dia keluarkan aneka variannya. Ah, tak pernah terpuaskan gelegak pencarian sosok di hadapannya.

360. Di saat terkelam. Di kala tersesak pikiran. Kau tawarkan tangan. Mari, lari dari bumi ini.

361. Ini pita hitam dari kami untuk kamu. Teruntuk nurani yang telah mati.

362. Tidak terucap melihatnya: jiwa-jiwa yang rakus.

363. Tahun baru dengan jiwa lama.

364. Apa resolusimu di tahun 2014?

365. Aku adalah akhir dari awal.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Puisi 365

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s