Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Sejarah Dibentuk Para Penguasa

Ada hal menarik dalam kisah The Bartimaeus Trilogy, yakni terkait dengan sejarah. Bagaimana sejarah dibentuk oleh para penguasa. Hal tersebut terkonfirmasi dalam 2 sampel. Sampel pertama ialah mengenai peralihan kekuasaan yang dilakukan oleh Gladstone. Simak apa yang diucapkan oleh guru sejarah dari Kitty Jones (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 66):

“Aku hanya dapat menjawab pertanyaan satu demi satu, Kitty; aku bukan penyihir! Inggris mujur, itu saja. Praha memang lamban dalam bertindak; si kaisar menghabiskan banyak waktu untuk minum bir dan pesta pora. Tapi dia pasti akan mengalihkan pandangan ke Inggris juga akhirnya, percayalah. Untung bagi kita, ada beberapa penyihir di London zaman itu, yang dimintai nasihat oleh para menteri malang yang tak memiliki kekuatan apa pun. Dan salah satunya adalah Mr.Gladstone. Dia melihat betapa berbahayanya situasi kala itu dan memutuskan menyerang terlebih dulu. Ada yang ingat apa yang dilakukannya, anak-anak? Ya—Sylvester?”

“Dia meyakinkan para menteri untuk mengalihkan kekuasaan kepada dirinya, Sir. Dia bertemu mereka suatu sore dan berbicara begitu pandainya sehingga mereka memilihnya sebagai Perdana Menteri saat itu juga.”

“Benar sekali, bagus, Sylvester, kau akan mendapatkan imbalan. Ya, itu Malam Perundingan Panjang. Setelah debat yang panjang di Parlemen, kefasihan lidah Gladstone memenangkan perdebatan dan para menteri dengan suara bulat bersedia mengundurkan diri. Dia mengatur penyerangan defensif ke Praha tahun berikutnya, dan menggulingkan Kekaisaran…”

Dalam kajian ilmu politik, apa yang dilakukan oleh Gladstone tersebut merupakan kudeta. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian memerintah. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian mempromosikan para penyihir untuk menempati level-level atas pemerintahan. Dan inilah sisi menarik dari kudeta. Jika gagal, maka pihak yang mengkudeta akan dicap sebagai pemberontak, pesakitan, dan bersalah. Sedangkan jika kudeta berhasil, maka pihak yang mengkudeta akan ditabalkan sebagai pahlawan, perbuatan kudetanya menjadi benar.

Kitty Jones yang merupakan seorang commoner memiliki perspektif tersendiri mengenai pelajaran sejarah. Seperti terungkap dalam nukilan berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 64):

Sejarah mata pelajaran yang juga penting; setiap hari, mereka menerima pelajaran mengenai kejayaan Kerajaan Inggris. Kitty menikmati pelajaran-pelajaran ini, yang berisi banyak cerita magis dan negeri-negeri jauh, namun ia merasakan adanya batasan tertentu dalam apa yang diajarkan kepada mereka. Ia sering mengangkat tangan.

Bagaimana Kitty menggugat bahwa pemerintahan akan baik-baik saja tanpa eksekutif harus dipegang oleh kaum penyihir. Seperti terlihat dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“Tolong, Sir, beritahu kami lagi tentang pemerintahan yang digulingkan Gladstone. Anda berkata pemerintahan kala itu telah memiliki parlemen. Kita punya parlemen sekarang. Jadi mengapa pemerintahan yang lama itu buruk?”

Well, Kitty, jika mendengarkan dengan baik, kau tentunya tahu aku berkata Parlemen Lama lemah. Parlemen itu dijalankan oleh orang-orang biasa, seperti kau dan aku, yang tak memiliki ilmu sihir sedikit pun. Bayangkan itu! Tentu saja, artinya mereka selalu dilecehkan negara-negara lain yang lebih kuat, dan tak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya…”

Nyatanya dalam The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem terdapat stratifikasi yang jelas dimana kaum penyihir berada di lapis teratas. Sedangkan kaum commoner berada di lapis bawah. Hal tersebut terkonfirmasi dengan sikap kedua orang tua Kitty sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 60):

…Tapi tak lama Kitty bisa menentukan mana yang penyihir dari petunjuk lain: pancaran mata keras para pelanggan, pembawaan mereka yang tenang dan berkuasa; di atas segalanya, sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi tegang. Ayahnya selalu tampak canggung bila berbicara dengan para penyihir, pakaiannya segera kusut karena gelisah, dasinya miring. Ia mengangguk dan membungkuk setuju saat mereka berbicara. Tanda-tanda ini nyaris tak tampak, tapi cukup jelas bagi Kitty, dan ini membuatnya bingung bahkan gelisah, meskipun ia tak tahu mengapa.

Mata Golem

Sampel berikutnya yang menunjukkan bahwa sejarah dibentuk para penguasa ialah dalam melihat Kaisar Ceko. Peperangan antara Inggris dan Ceko pada tahun 1800-an dimenangkan oleh pihak Inggris. Bartimaeus yang pada tahun 1868 berada di pihak penyihir Ceko memberikan sudut pandangnya mengenai Kaisar Ceko (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 20):

Akhirnya kami tiba di teras tempat selama empat tahun ini sang Kaisar memelihara burung-burung dalam sangkar. Sangkar itu besar sekali, dibuat dengan amat halus dari perunggu berornamen, dilengkapi kubah, menara, dan birai tempat memberi makan, juga pintu-pintu tempat sang Kaisar dapat keluar-masuk. Interiornya dipenuhi pepohonan dan semak dalam pot, juga berbagai jenis nuri yang menakjubkan, yang nenek moyangnya dibawa ke Praha dari negeri-negeri jauh. Sang Kaisar tergila-gila pada burung-burung ini; akhir-akhir ini, saat kekuatan London meningkat dan kekuasaan Kekaisaran terenggut dari tangannya, ia suka duduk lama di dalam sangkar, berbicara dengan kawan-kawannya.

Namun lihatlah bagaimana dalam pelajaran sejarah yang diberikan di era modern. Jakob (sahabat Kitty) yang memiliki leluhur dari Ceko disudutkan oleh guru sejarahnya. Sedangkan opini yang dibentuk dan dikreasi adalah Kaisar Ceko merupakan pembunuh burung nan kejam. Simak dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“…Kaisar Ceko memimpin sebagian besar daratan Eropa dari istananya di Praha; dia begitu gemuk sehingga duduk di singgasana beroda dari besi dan emas dan ditarik-tarik di sepanjang koridor oleh seekor kerbau putih. Ketika dia berniat meninggalkan istana, mereka harus menurunkannya menggunakan katrol. Dia punya sangkar burung parkit besar dan menembak seekor, warnanya berbeda setiap malam, untuk makan malamnya. Ya, kalian boleh merasa jijik, anak-anak. Begitulah jenis pria yang memimpin Eropa zaman itu, dan Parlemen Lama kita tak berdaya melawannya. Ia memerintah segerombolan penyihir mengerikan yang amat kejam dan korup, dipimpin Hans Meyrink, diduga vampir…”

Sejarah sebagai kajian ilmu memang terkadang bias. Oleh karena itu ketika rezim berganti, berbagai hikayat sejarah yang berbeda dapat muncul. Hikayat sejarah yang berbeda dengan versi sejarah ala pemerintahan sebelumnya. Penguasa dalam hal ini memang berkepentingan untuk mengkreasi sejarah. Melakukan glorifikasi atas pencapaiannya, memburamkan segala catatan negatif. Disinilah diperlukan kearifan penyikapan dan studi literatur yang solid untuk membenderangkan kisah masa lalu yang terjadi. Dari 2 sampel yang saya kemukakan di atas dari kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya memiliki kesamaan substansi dan makna dengan yang terjadi di dunia nyata. Bagaimana sejarah menjadi medan yang juga harus dimenangkan oleh penguasa. Untuk memenangkan memori kolektif dari publik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s