Posted in Aku, Essai

Blog Saya

Hulu dari semuanya adalah keinginan berbagi. Lalu passion, kompetensi yang saya miliki adalah menulis. Selain itu perkembangan teknologi memungkinkan terjadinya persebaran ide. Secara resmi mulai tanggal 26 November 2010 saya memulai pelayaran pengembaraan di dunia blog. Tentunya setelah mengalami sekian purnama, ada ragam emosi, pemikiran yang mewarnai. Saya bersyukur hingga saat ini masih aktif menurunkan tulisan dan menjaga pertalian pemikiran dengan sidang pembaca sekalian.

Kenapa gerangan nama dari blog ini https://ardova.wordpress.com/? Mengapa saya memilih nama ardova? Nama tersebut merupakan nama tokoh protagonis utama dalam novel yang saya rencanakan. Wow ternyata sampai saat ini, novel saya itu telah sekian lama “terkubur”. Tentunya saya berharap pada tahun 2014 ini saya dapat mengaktifkan kembali panel menulis cerpen dan novel.

Saya juga bersyukur hingga terhitung tanggal 26 Februari 2014 terdapat 29 followers yang mengikuti blog saya ini. Tentunya 29 followers tersebut akan dikirimkan informasi ke email-nya apabila saya menurunkan tulisan baru. Dari segi followers, saya mengucapkan salam persahabatan dan terima kasih. Terima kasih telah mengikuti blog saya. Semoga ragam tulisan yang saya hasilkan bermanfaat adanya.

manga 2

Berbicara tentang followers, saya teringat dengan saran seorang sahabat yang juga followers dari blog saya. Ia menanyakan mengenai saya yang kadang mem-posting beberapa tulisan sekaligus dalam satu hari. Itu membuat inbox-nya berderet dengan tulisan terbaru saya. Tentunya saran dari sobat itu saya tampung. Namun sebenarnya ada sebab mengapa saya mem-posting sekaligus. Sebab pertama adalah praktis dalam satu waktu. Ibaratnya pekerjaan yang harus diselesaikan, maka dalam satu termin waktu, saya dapat menyelesaikannya. Dan biasanya tulisan terbaru itu saya share ke sosial media dengan termin 1 hari 1 tulisan (pada hari kerja).

Alasan kedua adalah saya belum dapat stabil untuk menghasilkan tulisan dalam termin waktu tertentu. Hal ini pernah dipertanyakan oleh sahabat saya. Bahwa saya kerap mem-posting tulisan banyak, lalu butuh waktu beberapa lama lagi, barulah muncul tulisan baru. Ini adalah masukan berharga bagi saya untuk menjaga konsistensi dan kemampuan menelurkan tulisan. Dalam alasan kedua, maka sesungguhnya berbicara tentang stamina menulis. Saya harus konsisten untuk terus menerus berkarya. Dan saya sedang belajar untuk mencapai konsistensi tersebut. Jika dikalkulasi secara matematik, maka dari Senin-Jumat terdapat 5 tulisan yang saya bagi ke sosial media (ini merupakan target pribadi dari saya). Dengan demikian untuk menjaga pasokan tulisan itu, maka saya mentargetkan 5 tulisan baru setiap minggunya telah siap hidang. Menghadirkan tulisan baru yang siap hidang menurut hemat saya membutuhkan waktu dan stamina intelektual. Ada edit, revisi yang membutuhkan kesabaran dan pencarian bahan serta referensi.

watchover voodoo doll

Secara panjang halaman dalam satu postingan, saya berusaha dalam rentang 2-3 halaman standar pengetikan di microsoft word. Pertimbangannya adalah jika terlalu panjang, maka akan melelahkan pembaca dalam membaca. Dan jika terlalu pendek, maka tulisan saya sekadar kudapan selintasan saja. Saya tiada dapat untuk mengeksplorasi apa yang ingin saya sampaikan. Apabila tema yang saya kupas memerlukan jumlah halaman yang lebih banyak, maka akan saya pecah menjadi beberapa bagian.

Hal lainnya adalah terkait kombinasi antara tulisan dan gambar. Saya mendapatkan masukan dari rekan untuk memperbaiki dari sisi gambar. Saran dari rekan saya itu akan coba saya terapkan. Dimana saya tiada akan terlampau berpadat-padat dalam aksara. Saya akan menyelinginya dengan gambar. Hal ini akan memperindah secara artistik dan membuat mata pembaca tiada terlampau lelah. Dengan kombinasi antara tulisan dan gambar yang sinkron, saya berharap membuat sidang pembaca dapat lebih enjoy dalam menikmati hidangan tulisan saya. Penampilan visual penting adanya.

Saya akui secara visual setelah teman saya memberikan saran tersebut, maka saya menelusuri blog miliknya yang banyak menampilkan ulasan tentang game. Secara visual memang menjadi lebih nyaman dan artistiknya mengena. Kemudian ketika saya berkunjung ke bbc.co.uk ternyata kombinasi tulisan dan visual juga terdapati. Berkebulatan hatilah saya untuk menerapkannya.

Hal berikutnya yang terkait dengan blog saya adalah isu kontemporer dan antisipasi isu. Saya akan berusaha untuk lebih menyesuaikan tulisan dengan kondisi kekinian. Di samping itu adalah menurunkan tulisan terkait dengan event-event tertentu. Dengan begitu ada kehangatan dan menyelaraskan tulisan di blog saya dengan orbit yang berada di arus utama pemberitaan. Bukan berarti saya akan terhanyut dengan apa yang diberitakan oleh mainstream ataupun menjadi epigon dan ikut-ikutan belaka. Namun saya berusaha untuk lebih menghadirkan aktualitas dalam karya di blog saya.

Saya cukupkan dulu kali ini. Semangat membaca dan tetap asah penamu.

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Minat Membaca

Dunia literasi erat kaitannya dengan buku. Untuk mengukur daya baca dan daya tulis dari suatu negeri salah satu parameternya ialah dengan melihat buku yang diterbitkan dalam setahun. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Maka dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Jika dibuat komparasi maka jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Apabila menilik standar UNESCO, maka idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Hitung-hitungan tersebut menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.

Upaya untuk meningkatkan minat baca di era sekarang ini menemui hambatan berupa era digital. Era digital dapat menjadi distraksi dari minat membaca. Di negara maju, era digital terjadi ketika masyarakatnya sudah hobi membaca. Sedangkan di Indonesia memasuki era digital ketika minat bacanya masih rendah. Era digital yang bertalian dengan minat baca masih rendah dapat berhilir pada budaya copy paste. Era digital memudahkan untuk terjadinya penjiplakan dan pencuplikan sana-sini. Orisinalitas ide, koherensi gagasan menjadi tanda tanya. Memang boleh dibilang jika ingin memiliki daya tulis yang mumpuni maka harus ditopang oleh daya baca yang baik. Jika meminjam istilah Helvy Tiana Rosa dengan menjadi predator buku.

child

Bagaimana kiranya solusi untuk meningkatkan minat baca? Untuk meningkatkan minat baca harus ada program membaca di level pendidikan dasar. Siswa diwajibkan membaca dan menulis. Dengan begitu masyarakatnya meminjam istilah Taufiq Ismail tidak lagi mengalami rabun membaca dan pincang menulis. Taufiq Ismail sendiri memandang bahwa sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Masyarakatnya sejak dini sudah terlatih dan terbiasa membaca.

Mari menengok ke masa penjajahan Belanda untuk sejenak mengambil pembelajaran. Pada masa penjajahan Belanda, misalnya siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun.

school a

Bagaimana kiranya dengan siswa SMA di masa kini? Nyatanya tidak ada kewajiban membaca buku. Sehingga diistilahkan oleh Taufiq Ismail sebagai generasi 0 buku. Padahal, di belahan dunia lainnya sebagai komparasi, siswanya diwajibkan membaca buku. Siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul. Data kewajiban membaca sejumlah judul tersebut diungkapkan oleh budayawan Taufiq Ismail. Saya pun mencoba untuk men-cross check dengan keponakan saya yang menempuh pendidikan SMA di Amerika Serikat. Keponakan saya berkata bahwa kewajiban membaca buku sastra tidak sebanyak 32 judul karya sastra. Namun memang benar bahwa ada kewajiban untuk membaca karya sastra dan membuat esai. Jika ingin mendapatkan nilai bagus menurut keponakan saya, maka harus membaca secara utuh karya sastra yang ditugaskan. Tentu saja ini jauh berbeda dengan pelajaran mengenai karya sastra di Indonesia. Lebih sibuk dengan angkatan sastra, EYD, sedangkan pembacaan karya sastra dan penugasan menulis tiada dikerjakan secara optimal.

Minat baca yang masih rendah ini tentunya akan berimplikasi pada permintaan dan penawaran buku. Tak bisa dipungkiri bahwa buku adalah sebuah bisnis. Untuk terbitnya satu buku maka digunakan kalkulasi bisnis. Tentunya jika minat baca masyarakat Indonesia meningkat maka akan menggerakkan dan menaikkan bisnis buku. Ragam penawaran dari berbagai jenis buku akan semakin variatif dikarenakan ada pasar yang akan menyerap buku yang dilepas ke pasaran.

imajinasi

Untuk meningkatkan minat baca, jika meminjam ide dari Raisa (penyanyi) adalah dengan menimbulkan rasa keingintahuan. Seperti keluarga Raisa yang merupakan pencinta buku. Dikisahkan oleh Raisa bahwa apabila dirinya diliputi oleh pertanyaan, maka ayahnya akan menjawab bahwa jawaban pertanyaan itu ada di buku ini. Hal itu membuat Raisa tergerak untuk membaca dan mencari jawabannya di buku.

Untuk meningkatkan minat baca menurut hemat saya dapat dilakukan dengan pelajaran menulis. Saya percaya bahwa tugas menulis akan membuat seseorang membaca. Tugas menulis akan membawa pada pencarian literatur. Ditambah lagi revisi tulisan akan membuat ada persesuaian antara apa yang ditulis dengan apa yang dibaca. Untuk menghasilkan satu tulisan misalnya, maka sejumlah literatur terkadang harus dibaca untuk menemukan logika pemikiran dan memperkuat argumen.

Pelajaran menulis saya percaya akan menumbuhkan penulis-penulis handal. Dikarenakan untuk mahir menulis maka dibutuhkan pelatihan. Dan pelatihannya adalah dengan menulis. Menulis bukan pelajaran doktriner yang harus dihafal, melainkan dipraktikkan. Dengan pelajaran menulis maka akan berusaha untuk belajar dari gaya penulisan penulis lainnya, daya logika yang disajikan, dan lain sebagainya.

Minat membaca negeri ini yang masih rendah bukan berarti vonis mati dan tidak bisa diubah. Ada ragam cara, solusi yang dapat dikerjakan untuk mengakselerasi, meningkatkan minat membaca dari rakyat Indonesia. Semoga di hari-hari mendatang bangsa ini tiada lagi menjadi bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

^^Penulisan esai ini harus berterima kasih pada data yang saya dapatkan dari harian Kompas edisi Kamis, 16 Januari 2014.

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Ilmu Kaldera

Pada hari Senin 24 Februari 2014 saya bertemu dengan senior saya sewaktu kuliah di Fisip UI dahulu. Saya terus terang agak kaget ketika dia mengucapkan 2 lema. Lema pertama adalah ‘ardova’. Lema kedua adalah ‘kaldera’. Saya dan senior saya ini berkawan di facebook. Meski begitu sejauh ini ia jarang mengomentari aktivitas saya di sosial media dan begitu juga sebaliknya. Maka terkagetkan saya akan lema ‘ardova’ dan ‘kaldera’ itu mungkin menemukan relevansinya bahwa apa pun yang kita kerjakan memiliki implikasi enigma.

Implikasi enigma dalam artian kita tiada tahu kejutan apa yang akan kita terima dari karya yang telah dihasilkan. Kita tiada pernah tahu hilir dari sebuah karya. Maka yang terpenting adalah berkarya dan berkarya. Kembali ke pembahasan lema, pada poin pertama adalah ‘ardova’. ‘Ardova’ merupakan nama dari blog saya (https://ardova.wordpress.com/). Dan di sosial media saya berusaha untuk rajin men-share tulisan dari blog saya tersebut. Ternyata hal tersebut menimbulkan brand awareness tersendiri.

kalfa b

Pada poin lema kedua adalah ‘kaldera’. Senior saya tersebut bertanya tentang kaldera. Semacam meminta konfirmasi lebih akurat mengenai ‘kaldera’. Saya pun bilang bahwa kaldera adalah komunitas fiksi fantasi untuk menyalurkan hobi. Lalu saya kaitkan antara ‘kaldera’ dengan ‘ardova’, dimana saya berusaha untuk menurunkan banyak ulasan yang terkait dengan fiksi fantasi. Saya katakan bahwa saya tiada ingin fiksi fantasi dianggap underestimate. Padahal jika dikupas secara keilmuan akan banyak hal yang dapat diambil dari fiksi fantasi. Saya contohkan misalnya dari fiksi fantasi kita dapat belajar mengenai politik, pers, ilmu-ilmu sosial.

Senior saya mengangguk tanda setuju. Ia menambahkan bahwa fiksi fantasi memang dapat dimaknai bukan sekadar sebagai hiburan belaka. Fiksi fantasi diantaranya dapat menjadi media propaganda seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Perbincangan selintasan dengan senior saya tersebut seakan mengingatkan saya akan salah satu raison d’etre dari Kaldera Fantasi (Kalfa). Sejak semula memang saya berhasrat untuk mengubah persepsi masyarakat yang minor dan meremehkan mengenai fantasi. Orang dewasa yang menonton anime dianggap kekanak-kanakan; orang dewasa yang bermain game dianggap kekanak-kanakan; hal-hal stereotipe macam itulah yang merupakan salah satu tujuan dari komunitas ini untuk meluruskan. Basisnya adalah landasan ilmiah. Maka dengan pembedahan secara ilmiah saya berharap agar fiksi fantasi tiada lagi dipandang underestimate.

chess

Melalui fiksi fantasi misalnya dapat menjadi medium pembelajaran. Semisal mengenai politik. Beberapa tulisan yang saya turunkan seperti Sisi Politik Voldemort (https://ardova.wordpress.com/2012/07/24/sisi-politik-voldemort/), Sisi Politik Dari Kisah Petruk jadi Raja (https://ardova.wordpress.com/2012/05/28/sisi-politik-dari-kisah-petruk-jadi-raja/), Sejarah Dibentuk Para Penguasa (https://ardova.wordpress.com/2014/01/29/sejarah-dibentuk-para-penguasa/), Bima, Hanoman dan Tokoh Bangsa (https://ardova.wordpress.com/2012/05/15/bima-hanoman-dan-tokoh-bangsa/), Perang Troya (https://ardova.wordpress.com/2012/05/09/perang-troya/), merupakan contoh hibrida antara ilmu politik dengan materi fiksi fantasi. Bayangkan adanya apabila kelas-kelas, baik itu di sekolah ataupun kampus dengan meng-insert fiksi fantasi dalam metode dan materi pembelajarannya. Saya percaya belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan dapat lebih menguasai substansi pembelajaran.

Kisah fiksi fantasi juga dapat diteropong secara multifaset. Misalnya saya banyak membedah berbagai macam hal dari kisah Harry Potter dan The Bartimaeus Trilogy. Beberapa contoh judulnya adalah sebagai berikut: Pers dan Kisah Harry Potter (1) (https://ardova.wordpress.com/2012/02/09/pers-dan-kisah-harry-potter-1/), Murni (https://ardova.wordpress.com/2012/03/09/murni/), Hikayat Nama Nathaniel (The Bartimaeus Trilogy) (https://ardova.wordpress.com/2012/04/12/hikayat-nama-nathaniel-the-bartimaeus-trilogy/), Politik dalam Kisah The Bartimaeus Trilogy (https://ardova.wordpress.com/2012/03/21/politik-dalam-kisah-the-bartimaeus-trilogy/).

kalfa a

Hal tersebut menunjukkan kompleksnya dan banyak segi keilmuan yang dapat direguk dari kisah fantasi. Dan mungkin semisal saya adalah seorang dosen di bidang ilmu politik, maka saya akan menugaskan mahasiswa untuk menonton dan membaca serial Harry Potter. Ada begitu banyak sisi politik yang termaktub dalam kisah Harry Potter. Baik yang tersirat ataupun yang tersurat. Pun begitu dengan novel The Bartimaeus Trilogy. Saya menemukan relevansi keilmuan antara novel tersebut dengan sejumlah konsep, teori, dan peristiwa politik.

Saya percaya bahwa kisah fiksi fantasi dapat ditafsirkan dengan berbagai medan ilmu. Dan menggaungkan bahwa fiksi fantasi itu koheren dengan ilmu sosial ataupun ilmu alam menurut hemat saya akan meluruhkan pendapat dan sinisme dari orang-orang terhadap fiksi fantasi. Tiap dari kita dapat menjadi agen untuk melakukan inseminasi gagasan bahwa ilmu pengetahuan dan fiksi fantasi dapat berada dalam satu keranjang yang sama.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Comic 8: Bukan Sekadar Komedi

Semula saya skeptis ketika sahabat saya dengan militan menyarankan untuk menonton film Comic 8. Terlebih ketika melihat poster filmnya. Perkiraan awal saya humor yang disajikan akan tiada begitu lucu plus lagi seronok yang menghiasi (terdapat Nikita Mirzani yang sudah kesohor dengan lekuk tubuhnya). Namun akhirnya sudah takdirnya bahwa film Comic 8 saya tonton. Saya membutuhkan tontonan di bioskop yang menghibur (ketika itu praktis list film di bioskop tiada banyak pilihan yang menarik). Lalu rekan saya di kantor memutar trailer film tersebut. Dan trailer filmnya lumayan menyakinkan saya untuk mengkonversi Rp 40.000 menjadi selembar tiket.

Film Comic 8 dibuka dengan adegan penyanderaan. Request dari para penyandera boleh dibilang aneh bin lucu. Ada yang menginginkan agar ibukota negara dipindahkan ke Papua, ada yang menginginkan mendapat tiket kursi depan dari konser JKT 48, dan lain sebagainya. “Tonjokan” awal dari film ini cukup menggelitik tawa.

Film Comic 8 sendiri dipenuhi oleh para comic. Comic adalah sebutan dari penampil di Stand Up Comedy. Ada Mongol, Mudy, Ernest, Kemal, Bintang, Babe, Fico, dan Arie Kriting. Peran-peran lainnya juga mampu menampilkan humor dalam takaran yang pas. Sebut saja Candil yang menjadi pengantar pizza, Jeremy Teti yang menjadi pegawai bank, Agung Hercules yang tampil dengan gumpalan ototnya, Agus Kuncoro dengan suara femininnya.

Comic 8

Humor-humor ala comic terjajar sepanjang film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini. Dipadukan dengan aksi action, gambar komikal, serta sejumlah visual effect. Yang saya agak terkejut adalah pada jalinan dan jalan cerita. Semula saya menyangka film ini akan beralur datar dan menyajikan humor dari awal sampai akhir. Ternyata skenario film ini harus saya berikan two thumbs up. Terdapat kedalaman cerita, ilusi dalam cerita. Inilah yang menjadi nilai lebih dari film Comic 8. Bukan sekadar komedi biasa. Melainkan film komedi yang cerdas dikarenakan di-framing oleh jalan cerita yang menyerupai kisah detektif dengan lapisan tirai yang satu demi satu diurai.

Melihat film Comic 8 boleh dibilang saya mendapatkan impresi dari paduan sejumlah film yang pernah saya tonton. Sekurangnya saya teringat pada film Shutter Island, Inception, The Dark Knight, Ocean’s Twelve. Mari saya ulas satu per satu.

Pada fragmen pasien rumah sakit jiwa dan terdapat cuci otak saya pun teringat pada film Shutter Island. Dikisahkan dalam film Comic 8 bahwa 8 pencuri bank ternyata merupakan pasien rumah sakit jiwa. Hal tersebut ditandai dengan gelang dan jam makan obat dari kedelapan orang tersebut. Ternyata 8 pencuri bank tersebut telah ditelusuri track record-nya yang akrab dan memiliki kemampuan dengan kekerasan. Dalangnya adalah Pandji dan Cak Lontong yang mengeksploitasi kedelapan pasien rumah sakit jiwa tersebut untuk mencuri bank Ini. Metode penanaman kesadaran palsu diberikan. Segala macam julukan yang dimiliki, serta kejadian yang berlangsung ternyata berada dalam radius rumah sakit jiwa.

Comic 8-2

Pada fragmen penanaman ide, saya pun teringat film Inception. Saya teringat dengan nukilan kalimat berikut: You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where that train will take you? Penanaman ide dilakukan di rumah sakit jiwa dengan berulang-ulang. Bagaimana definisi sebagai penjahat dan masa lalu yang dicangkokkan merupakan bagian dari pencucian otak.

Pada fragmen pelarian para pencuri bank saya pun teringat film The Dark Knight. Tepatnya dengan bagian ketika Joker menjadikan para sandera sebagai “penjahat”. Hal yang sama persis dilakukan di film Comic 8. Para tawanan dipakaikan baju dan segala aksesoris para pencuri bank. Hal ini untuk mengelabui polisi bahwa para pencuri masih berada di bank.

Pada fragmen penutup saya pun teringat dengan film Ocean’s Twelve. Bagaimana penampilan keren dan bergaya dari delapan orang pencuri bank. Jangan lupakan di bagian akhir lapisan terakhir dari pertanyaan diungkap. Tirai terakhir disingkap. Lapisan ilusi dipertunjukkan. Dan si dalang sesungguhnya diungkap. Tentunya tugas berikutnya menimbulkan kemungkinan akan adanya sekuel dari film Comic 8.

Film Comic 8 pada akhirnya mampu mentransformasi skeptisme saya menjadi rekomendasi kepada sidang pembaca sekalian. Tontonlah Comic 8, sebuah film yang bukan sekadar komedi. Dan saya percaya para penonton di bioskop akan menonton hingga akhir film, dikarenakan di bagian akhir terdapat penampilan stand up comedy dari 8 comic.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

RoboCop: Robot Juga Manusia

Melihat trailer RoboCop ingatan saya pun terpanggil ke masa saya kecil dahulu. Sekelebatan emosi pun terbentang. Dengan berbekalkan semangat nostalgia, saya pun berangkat untuk menonton film RoboCop edisi tahun 2014. Dari tampilan fisiknya yang nyata terlihat adalah perubahan warna. Dari berwarna perak menjadi berwarna hitam. Dari segi kelincahan, RoboCop era sekarang begitu lincah dalam bergerak. Tiada seperti edisi pendahulunya dimana velocity dari RoboCop tiada lincah-lincah amat. Kelincahan gerak itu diantaranya terlihat dalam simulasi ketika RoboCop menghadapi rangkaian robot dan sang komandan. Bagaimana dengan tangkasnya RoboCop bergerak diantara tiang dan melumat robot-robot produksi Omni Consumer Products (OCP).

Dikisahkan bahwa robot-robot produksi OCP telah merambah di berbagai negara konflik, namun di Amerika Serikat penggunaan robot sebagai armada bersenjata dilarang. UU Dreyfus menjadi penghambatnya. Penggunaan robot sendiri digadang-gadang akan menihilkan korban manusia dari pihak tentara. Basis sejarah tentara Amerika yang tewas di Vietnam, Irak, Afghanistan menjadi sampel. Namun UU Dreyfus menemukan momentum kebenarannya ketika di kota Tehran seorang anak kecil yang membawa pisau diberondong peluru oleh robot OCP dikarenakan diklasifikasikan sebagai ancaman.

RoboCop 1

Raymond Sellars (Michael Keaton) pemimpin dari OCP tak hilang akal untuk menjual produknya ke Amerika Serikat. Alasan utamanya adalah bisnis dan uang. Raymond Sellars pun mengistilahkannya sebagai produk yang punya hati nurani. Maka Sellars memiliki ide untuk memasukkan manusia dalam robot. Digandenglah Dr.Dennett Norton (Gary Oldman) sang ilmuwan. Sejak semula Dr.Norton telah mewanti-wanti dan tiada setuju 100% dengan ide dari Sellars. Untuk kemudian boleh dibilang Dr.Norton yang diperankan oleh Gary Oldman menurut hemat saya menjadi bintang paling bersinar dalam film ini. Ia mampu menghadirkan dilema, tekanan, hati nurani.

Alex Murphy (Joel Kinnaman) sang polisi jujur dan dedikatif mencoba untuk mengurai sengkarut kejahatan mafia di kota Detroit. Ditengarai terjadi kongkalikong antara pihak internal kepolisian dengan penjahat bernama Antoine Vallon (Patrick Garrow). Vallon sempat ingin “membungkam” Alex dengan uang melalui kaki tangannya di kepolisian. Namun Alex bukanlah polisi yang mundur jalan dan balik kanan ketika disogok oleh uang. Alhasil Vallon memilih untuk membunuh Alex dengan meledakkan mobil Alex.

Alex Murphy harus menemui kenyataan pahit ketika berusaha memadamkan alarm mobilnya yang untuk kemudian berujung pada ledakan besar. Segenap anggota tubuh Alex berantakan. Ia di ujung maut. Sampai OCP menawarkan opsi lainnya untuk menjadikan Alex sebagai RoboCop.

robocop 2

Maka disinilah titik pusaran konflik terjadi. Pada poros pertama adalah pada Raymond Sellars. Sellars merupakan seseorang yang akan menyingkirkan hati nurani dan berbuat apa saja agar produknya berhasil di pasaran. Ia menafikan RoboCop yang masih perlu penelitian lebih lanjut. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dari penjualan RoboCop-RoboCop untuk kota-kota di Amerika Serikat. Ia berjuang agar UU Dreyfus tidak berlaku lagi. Ia membawa ke arus utama publik RoboCop sebagai jalan tengah antara robot dengan manusia. Sellars berpendapat orang tak tahu apa yang ia inginkan, sampai kau menunjukkannya. Dan RoboCop merupakan produk yang ditunjukkan agar menjadi keinginan dari publik Amerika. Sisi kemanusiaan, efisiensi dan ketangkasan RoboCop dalam menangkap kriminal turut mengerek elektabilitas produk dari OCP ini di mata publik Amerika Serikat.

Pada poros kedua adalah RoboCop. Alex Murphy merupakan seorang polisi jujur yang telah memiliki istri dan anak lelaki. Bagaimana sisi emosional dari Alex mempengaruhi tindakan dari RoboCop. Sisi emosional dan kemanusiaan membuat RoboCop menolak prioritas sistem. Dibandingkan menangkap penjahat, perhatian dari RoboCop menjadi tersita untuk peduli pada gulana, ketakutan anak lelakinya yang menjadi sorotan publik. Bukan sekadar itu, RoboCop juga memilih untuk menyelidiki siapa gerangan yang berusaha untuk membunuh Alex ketika masih menjadi manusia. Penyelidikan yang dilakukan RoboCop ini tentunya menyebabkan terbukanya kebobrokan internal kepolisian Detroit. Bahkan membawa RoboCop pada sang dalang dari pengeboman mobil Alex.

klakson

Poros ketiga adalah Dr.Norton. Bagaimana Dr.Norton berada diantara dua pendulum. Ia ditekan oleh Raymond Sellars, di sisi lain ia bertanggung jawab penuh akan produk buatannya yakni RoboCop. Gary Oldman (pemeran Dr.Norton) di film RoboCop mengingatkan saya akan dilema dan tekanan struktural yang dihadapinya ketika ia bermain sebagai Komisaris Gordon (The Dark Knight). Ilusi kehendak bebas, peluruhan dopamin yang dilakukan oleh Dr.Norton untuk kemudian ditebus dengan menyelamatkan RoboCop dari upaya pemusnahan yang diinstruksikan oleh Sellars. Dr.Norton memenangkan nuraninya dan akal sehatnya.

Benar adanya apa yang diujarkan oleh Dr.Norton bahwa unsur manusia akan selalu ada pada RoboCop. Dalam film RoboCop, sisi kemanusiaan menang. Pertanyaannya dalam kehidupan yang kita jalani akankah yang menang adalah para serigala? Ingat teori homo homini lupus? Ataukah juga yang menang adalah pemimpin yang tanpa hati nurani dan memperlakukan segala hal sebagai produk, keuntungan belaka?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Politik, puisi, sastra, Sosial Budaya

Dengarkan Kami

Tidakkah kau mendengarnya?
Suara rakyat yang bertalu-talu
Lara dalam petang dan pagi
Kecamuk frustasi dalam arus kini dan sukar mendatang

Wahai penguasa,
Dengarkan kami

Tidakkah kau mendengarnya?
Kami sudah banting kami punya tulang,
Namun harga sana-sini mahal kanan-kiri
Kami sudah arungi jam demi jam,
Sampai kami menua di jalan,
Sampai jemu menggerogoti hati perjalanan,
Namun hanya remah-remah kesejahteraan yang kami rengkuh

Wahai penguasa,
Dengarkan kami

Ada letupan keluh yang membujur di pikiran kami
Kaum muda kami frustasi,
Kaum terdidik yang pengangguran,
Lapangan pekerjaan yang menjenuh,
Sehingga kami harus menelan empedu ketika bekerja

Wahai penguasa,
Dengarkan kami
Tidakkah kau mendengarnya wahai penguasa?

Posted in Aku, Essai

Hujan dan Sejumlah Kisah

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Adalah seorang anak kecil yang menikmati nuansa hujan bersama bapaknya. Di beranda rumah mereka duduk berdampingan. Saling menghitung taksi jagoan masing-masing yang melintas. Diselingi dengan sejuk aroma tanah, kedamaian bersama udara, cinta yang menguar di udara.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Muda-mudi yang menembus hujan. Sesekali mereka berteduh dikarenakan intensitas hujan yang menghebat. Ini adalah kisah perjalanan. Ini adalah kisah keteguhan hati. Maka ketika di tempat acara mereka pun kuyup lepek. Namun mereka adalah dua orang muda yang memiliki kecuekan dan kegilaan tersendiri. Mereka pun mengikuti acara yang telah mereka tekadkan itu. Lihatlah mereka yang bertukar senyum.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Ketika anak-anak polos itu bermain bola dengan semangat spartan. Lepas betul tawa mereka. Mengejar bola, berlari, melepaskan umpan. Mereka seakan menari di bawah guyuran hujan. Kemerdekaan ala anak kecil. Dengan bola sepaknya mereka terbebaskan dari nusia dunia.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Ketika yang lain menyurut berteduh, ada seseorang yang memang pantang surut. Diterobosnya hujan. Kuyup sekujur badan merupakan bagian dari perjuangan perjalanan. Yang jelas dia bukanlah orang yang mudah dipatahkan tekadnya. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Saat perbincangan melalui telepon. Hujan adalah latar belakangnya. Mereka berbincang tanpa plot. Tentang rupa-rupa. Tentang boneka yang kebasahan, tentang air terjun di dinding, tentang eksodus sementara ke dekat ruang menonton tv. Hujan memberikan mereka amunisi, bahan untuk berbincang.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Di suatu pagi, selepas hujan sekilasan, pesan itu berpijar. Dalam langkah yang masih terkantuk, ia membuka jendela untuk melihat keadaan. Tak lama kemudian, ia membuka pintu. Ia seakan menemui mimpi yang menjadi nyata. Sesosok keindahan menyapanya di pagi itu. Mereka pun berbincang rupa-rupa. Hingga hujan kembali menyergap. Mereka menemukan kedamaian dan gelora dalam perbincangan itu. Alangkah indahnya kehidupan. Alangkah indahnya rasa yang memanggil gravitasi.

Hujan memang memiliki sejumlah kisah. Yang disulam, dibentuk karena nuansa.