Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Boneka (1)

Aku berdiri terpaku diantara riuh boneka yang menyesaki ruangan. Ruangan itu dipenuhi kelir pink. Terpanalah aku di sana. Betapa setiap boneka memiliki presisi yang begitu akurat seperti makhluk hidup. Seakan di pergelangan tangan boneka-boneka tersebut, terdapat nadi yang mengalirkan darah. Oh simak juga bagaimana detail-detail kecil begitu akurat. Tahi lalat di area tertentu, jerawat yang menggempur wajah, anomali jari, segala bentang perbedaan yang begitu unik.

“Sudah melihat koleksi bonekaku rupanya,” suara manis seorang perempuan menyentuh udara.

Wajahnya sendiri terus terang seperti boneka. Begitu imut-imut. Begitu lucu dan menggemaskan. Dari bibir tipisnya, ia kembali bertutur,”Membuat boneka adalah seni tingkat tinggi. Seperti memberi nyawa pada kekosongan bentuk.”

Aku mengangguk saja mendengar penjelasannya. Terpukau oleh eloknya dan pilihan katanya yang memikat.

“Jadi?” tanyanya menatap mataku.

Aku kehilangan aksara untuk diujarkan.

Dia tersenyum menenangkan.

“Jadi boneka macam apa yang sedang kau cari? Untuk kekasih, adik, atau …,” ia mengambangkan kalimatnya di udara.

“Boneka binatang yang lucu,” aku akhirnya berhasil merangkai kata.

“Untuk…kekasihku,”

Entah kenapa ada rasa sesal ketika aku mengucapkan ‘Untuk…kekasihku’.

Perempuan itu berjalan di depanku. Kelihatannya dia ingin aku untuk mengikuti arah kakinya melangkah. Sepanjang perjalanan mengikuti derap langkahnya, semakin kagum aku dengan boneka-boneka yang tersusun di rak. Keluasan tema dari boneka itu begitu memukau. Sebagai tambahan, perempuan ini berjalan sembari bersenandung kecil lagu tipikal lullaby, juga sekali-kali seperti meloncat kecil.

“Untuk yang tercinta,” ujarnya seolah membentangkan harta karun.

Di hadapanku kini seperti dikepung oleh aneka boneka binatang. Pegasus dengan tanduk kecilnya, kuda poni, beruang, lebah, kucing, anjing, gajah, dan spesies-spesies lainnya. Seperti karya asli yang diawetkan. Seperti ada jantung yang berdetak dari boneka-boneka itu. Seperti ada darah yang mengalir dari pembuluh boneka-boneka itu. Ah, kurasa aku terlalu terbawa sisi melankolisku.

“Aku ingin penciptaan,” ujarku.

“Tak adakah diantara boneka-boneka binatang ini yang menarik hatimu?” tanya perempuan itu membujuk.

“Aku ingin karya baru. Yang belum terciptakan dari semua ini. Aku dengar kau menerima pesanan penciptaan?” tanggapku.

“Tentu saja. Harga untuk sebuah penciptaan, tentu lebih mahal dari harga normal. Dan aku harus mengetahui setiap detail yang kau inginkan,” jawab perempuan itu.

“Harga bukan masalah. Dan aku akan siap berdiskusi untuk setiap detail dari boneka ini. Jadi kapan aku bisa bertemu arsiteknya?”

“Kau sudah bertemu dengannya sedari tadi. Aku arsiteknya,” perempuan itu tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s