Posted in Politik, puisi, sastra, Sosial Budaya

Dengarkan Kami

Tidakkah kau mendengarnya?
Suara rakyat yang bertalu-talu
Lara dalam petang dan pagi
Kecamuk frustasi dalam arus kini dan sukar mendatang

Wahai penguasa,
Dengarkan kami

Tidakkah kau mendengarnya?
Kami sudah banting kami punya tulang,
Namun harga sana-sini mahal kanan-kiri
Kami sudah arungi jam demi jam,
Sampai kami menua di jalan,
Sampai jemu menggerogoti hati perjalanan,
Namun hanya remah-remah kesejahteraan yang kami rengkuh

Wahai penguasa,
Dengarkan kami

Ada letupan keluh yang membujur di pikiran kami
Kaum muda kami frustasi,
Kaum terdidik yang pengangguran,
Lapangan pekerjaan yang menjenuh,
Sehingga kami harus menelan empedu ketika bekerja

Wahai penguasa,
Dengarkan kami
Tidakkah kau mendengarnya wahai penguasa?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s