Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Comic 8: Bukan Sekadar Komedi

Semula saya skeptis ketika sahabat saya dengan militan menyarankan untuk menonton film Comic 8. Terlebih ketika melihat poster filmnya. Perkiraan awal saya humor yang disajikan akan tiada begitu lucu plus lagi seronok yang menghiasi (terdapat Nikita Mirzani yang sudah kesohor dengan lekuk tubuhnya). Namun akhirnya sudah takdirnya bahwa film Comic 8 saya tonton. Saya membutuhkan tontonan di bioskop yang menghibur (ketika itu praktis list film di bioskop tiada banyak pilihan yang menarik). Lalu rekan saya di kantor memutar trailer film tersebut. Dan trailer filmnya lumayan menyakinkan saya untuk mengkonversi Rp 40.000 menjadi selembar tiket.

Film Comic 8 dibuka dengan adegan penyanderaan. Request dari para penyandera boleh dibilang aneh bin lucu. Ada yang menginginkan agar ibukota negara dipindahkan ke Papua, ada yang menginginkan mendapat tiket kursi depan dari konser JKT 48, dan lain sebagainya. “Tonjokan” awal dari film ini cukup menggelitik tawa.

Film Comic 8 sendiri dipenuhi oleh para comic. Comic adalah sebutan dari penampil di Stand Up Comedy. Ada Mongol, Mudy, Ernest, Kemal, Bintang, Babe, Fico, dan Arie Kriting. Peran-peran lainnya juga mampu menampilkan humor dalam takaran yang pas. Sebut saja Candil yang menjadi pengantar pizza, Jeremy Teti yang menjadi pegawai bank, Agung Hercules yang tampil dengan gumpalan ototnya, Agus Kuncoro dengan suara femininnya.

Comic 8

Humor-humor ala comic terjajar sepanjang film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini. Dipadukan dengan aksi action, gambar komikal, serta sejumlah visual effect. Yang saya agak terkejut adalah pada jalinan dan jalan cerita. Semula saya menyangka film ini akan beralur datar dan menyajikan humor dari awal sampai akhir. Ternyata skenario film ini harus saya berikan two thumbs up. Terdapat kedalaman cerita, ilusi dalam cerita. Inilah yang menjadi nilai lebih dari film Comic 8. Bukan sekadar komedi biasa. Melainkan film komedi yang cerdas dikarenakan di-framing oleh jalan cerita yang menyerupai kisah detektif dengan lapisan tirai yang satu demi satu diurai.

Melihat film Comic 8 boleh dibilang saya mendapatkan impresi dari paduan sejumlah film yang pernah saya tonton. Sekurangnya saya teringat pada film Shutter Island, Inception, The Dark Knight, Ocean’s Twelve. Mari saya ulas satu per satu.

Pada fragmen pasien rumah sakit jiwa dan terdapat cuci otak saya pun teringat pada film Shutter Island. Dikisahkan dalam film Comic 8 bahwa 8 pencuri bank ternyata merupakan pasien rumah sakit jiwa. Hal tersebut ditandai dengan gelang dan jam makan obat dari kedelapan orang tersebut. Ternyata 8 pencuri bank tersebut telah ditelusuri track record-nya yang akrab dan memiliki kemampuan dengan kekerasan. Dalangnya adalah Pandji dan Cak Lontong yang mengeksploitasi kedelapan pasien rumah sakit jiwa tersebut untuk mencuri bank Ini. Metode penanaman kesadaran palsu diberikan. Segala macam julukan yang dimiliki, serta kejadian yang berlangsung ternyata berada dalam radius rumah sakit jiwa.

Comic 8-2

Pada fragmen penanaman ide, saya pun teringat film Inception. Saya teringat dengan nukilan kalimat berikut: You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where that train will take you? Penanaman ide dilakukan di rumah sakit jiwa dengan berulang-ulang. Bagaimana definisi sebagai penjahat dan masa lalu yang dicangkokkan merupakan bagian dari pencucian otak.

Pada fragmen pelarian para pencuri bank saya pun teringat film The Dark Knight. Tepatnya dengan bagian ketika Joker menjadikan para sandera sebagai “penjahat”. Hal yang sama persis dilakukan di film Comic 8. Para tawanan dipakaikan baju dan segala aksesoris para pencuri bank. Hal ini untuk mengelabui polisi bahwa para pencuri masih berada di bank.

Pada fragmen penutup saya pun teringat dengan film Ocean’s Twelve. Bagaimana penampilan keren dan bergaya dari delapan orang pencuri bank. Jangan lupakan di bagian akhir lapisan terakhir dari pertanyaan diungkap. Tirai terakhir disingkap. Lapisan ilusi dipertunjukkan. Dan si dalang sesungguhnya diungkap. Tentunya tugas berikutnya menimbulkan kemungkinan akan adanya sekuel dari film Comic 8.

Film Comic 8 pada akhirnya mampu mentransformasi skeptisme saya menjadi rekomendasi kepada sidang pembaca sekalian. Tontonlah Comic 8, sebuah film yang bukan sekadar komedi. Dan saya percaya para penonton di bioskop akan menonton hingga akhir film, dikarenakan di bagian akhir terdapat penampilan stand up comedy dari 8 comic.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s