Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

RoboCop: Robot Juga Manusia

Melihat trailer RoboCop ingatan saya pun terpanggil ke masa saya kecil dahulu. Sekelebatan emosi pun terbentang. Dengan berbekalkan semangat nostalgia, saya pun berangkat untuk menonton film RoboCop edisi tahun 2014. Dari tampilan fisiknya yang nyata terlihat adalah perubahan warna. Dari berwarna perak menjadi berwarna hitam. Dari segi kelincahan, RoboCop era sekarang begitu lincah dalam bergerak. Tiada seperti edisi pendahulunya dimana velocity dari RoboCop tiada lincah-lincah amat. Kelincahan gerak itu diantaranya terlihat dalam simulasi ketika RoboCop menghadapi rangkaian robot dan sang komandan. Bagaimana dengan tangkasnya RoboCop bergerak diantara tiang dan melumat robot-robot produksi Omni Consumer Products (OCP).

Dikisahkan bahwa robot-robot produksi OCP telah merambah di berbagai negara konflik, namun di Amerika Serikat penggunaan robot sebagai armada bersenjata dilarang. UU Dreyfus menjadi penghambatnya. Penggunaan robot sendiri digadang-gadang akan menihilkan korban manusia dari pihak tentara. Basis sejarah tentara Amerika yang tewas di Vietnam, Irak, Afghanistan menjadi sampel. Namun UU Dreyfus menemukan momentum kebenarannya ketika di kota Tehran seorang anak kecil yang membawa pisau diberondong peluru oleh robot OCP dikarenakan diklasifikasikan sebagai ancaman.

RoboCop 1

Raymond Sellars (Michael Keaton) pemimpin dari OCP tak hilang akal untuk menjual produknya ke Amerika Serikat. Alasan utamanya adalah bisnis dan uang. Raymond Sellars pun mengistilahkannya sebagai produk yang punya hati nurani. Maka Sellars memiliki ide untuk memasukkan manusia dalam robot. Digandenglah Dr.Dennett Norton (Gary Oldman) sang ilmuwan. Sejak semula Dr.Norton telah mewanti-wanti dan tiada setuju 100% dengan ide dari Sellars. Untuk kemudian boleh dibilang Dr.Norton yang diperankan oleh Gary Oldman menurut hemat saya menjadi bintang paling bersinar dalam film ini. Ia mampu menghadirkan dilema, tekanan, hati nurani.

Alex Murphy (Joel Kinnaman) sang polisi jujur dan dedikatif mencoba untuk mengurai sengkarut kejahatan mafia di kota Detroit. Ditengarai terjadi kongkalikong antara pihak internal kepolisian dengan penjahat bernama Antoine Vallon (Patrick Garrow). Vallon sempat ingin “membungkam” Alex dengan uang melalui kaki tangannya di kepolisian. Namun Alex bukanlah polisi yang mundur jalan dan balik kanan ketika disogok oleh uang. Alhasil Vallon memilih untuk membunuh Alex dengan meledakkan mobil Alex.

Alex Murphy harus menemui kenyataan pahit ketika berusaha memadamkan alarm mobilnya yang untuk kemudian berujung pada ledakan besar. Segenap anggota tubuh Alex berantakan. Ia di ujung maut. Sampai OCP menawarkan opsi lainnya untuk menjadikan Alex sebagai RoboCop.

robocop 2

Maka disinilah titik pusaran konflik terjadi. Pada poros pertama adalah pada Raymond Sellars. Sellars merupakan seseorang yang akan menyingkirkan hati nurani dan berbuat apa saja agar produknya berhasil di pasaran. Ia menafikan RoboCop yang masih perlu penelitian lebih lanjut. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dari penjualan RoboCop-RoboCop untuk kota-kota di Amerika Serikat. Ia berjuang agar UU Dreyfus tidak berlaku lagi. Ia membawa ke arus utama publik RoboCop sebagai jalan tengah antara robot dengan manusia. Sellars berpendapat orang tak tahu apa yang ia inginkan, sampai kau menunjukkannya. Dan RoboCop merupakan produk yang ditunjukkan agar menjadi keinginan dari publik Amerika. Sisi kemanusiaan, efisiensi dan ketangkasan RoboCop dalam menangkap kriminal turut mengerek elektabilitas produk dari OCP ini di mata publik Amerika Serikat.

Pada poros kedua adalah RoboCop. Alex Murphy merupakan seorang polisi jujur yang telah memiliki istri dan anak lelaki. Bagaimana sisi emosional dari Alex mempengaruhi tindakan dari RoboCop. Sisi emosional dan kemanusiaan membuat RoboCop menolak prioritas sistem. Dibandingkan menangkap penjahat, perhatian dari RoboCop menjadi tersita untuk peduli pada gulana, ketakutan anak lelakinya yang menjadi sorotan publik. Bukan sekadar itu, RoboCop juga memilih untuk menyelidiki siapa gerangan yang berusaha untuk membunuh Alex ketika masih menjadi manusia. Penyelidikan yang dilakukan RoboCop ini tentunya menyebabkan terbukanya kebobrokan internal kepolisian Detroit. Bahkan membawa RoboCop pada sang dalang dari pengeboman mobil Alex.

klakson

Poros ketiga adalah Dr.Norton. Bagaimana Dr.Norton berada diantara dua pendulum. Ia ditekan oleh Raymond Sellars, di sisi lain ia bertanggung jawab penuh akan produk buatannya yakni RoboCop. Gary Oldman (pemeran Dr.Norton) di film RoboCop mengingatkan saya akan dilema dan tekanan struktural yang dihadapinya ketika ia bermain sebagai Komisaris Gordon (The Dark Knight). Ilusi kehendak bebas, peluruhan dopamin yang dilakukan oleh Dr.Norton untuk kemudian ditebus dengan menyelamatkan RoboCop dari upaya pemusnahan yang diinstruksikan oleh Sellars. Dr.Norton memenangkan nuraninya dan akal sehatnya.

Benar adanya apa yang diujarkan oleh Dr.Norton bahwa unsur manusia akan selalu ada pada RoboCop. Dalam film RoboCop, sisi kemanusiaan menang. Pertanyaannya dalam kehidupan yang kita jalani akankah yang menang adalah para serigala? Ingat teori homo homini lupus? Ataukah juga yang menang adalah pemimpin yang tanpa hati nurani dan memperlakukan segala hal sebagai produk, keuntungan belaka?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s