Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Ilmu Kaldera

Pada hari Senin 24 Februari 2014 saya bertemu dengan senior saya sewaktu kuliah di Fisip UI dahulu. Saya terus terang agak kaget ketika dia mengucapkan 2 lema. Lema pertama adalah ‘ardova’. Lema kedua adalah ‘kaldera’. Saya dan senior saya ini berkawan di facebook. Meski begitu sejauh ini ia jarang mengomentari aktivitas saya di sosial media dan begitu juga sebaliknya. Maka terkagetkan saya akan lema ‘ardova’ dan ‘kaldera’ itu mungkin menemukan relevansinya bahwa apa pun yang kita kerjakan memiliki implikasi enigma.

Implikasi enigma dalam artian kita tiada tahu kejutan apa yang akan kita terima dari karya yang telah dihasilkan. Kita tiada pernah tahu hilir dari sebuah karya. Maka yang terpenting adalah berkarya dan berkarya. Kembali ke pembahasan lema, pada poin pertama adalah ‘ardova’. ‘Ardova’ merupakan nama dari blog saya (https://ardova.wordpress.com/). Dan di sosial media saya berusaha untuk rajin men-share tulisan dari blog saya tersebut. Ternyata hal tersebut menimbulkan brand awareness tersendiri.

kalfa b

Pada poin lema kedua adalah ‘kaldera’. Senior saya tersebut bertanya tentang kaldera. Semacam meminta konfirmasi lebih akurat mengenai ‘kaldera’. Saya pun bilang bahwa kaldera adalah komunitas fiksi fantasi untuk menyalurkan hobi. Lalu saya kaitkan antara ‘kaldera’ dengan ‘ardova’, dimana saya berusaha untuk menurunkan banyak ulasan yang terkait dengan fiksi fantasi. Saya katakan bahwa saya tiada ingin fiksi fantasi dianggap underestimate. Padahal jika dikupas secara keilmuan akan banyak hal yang dapat diambil dari fiksi fantasi. Saya contohkan misalnya dari fiksi fantasi kita dapat belajar mengenai politik, pers, ilmu-ilmu sosial.

Senior saya mengangguk tanda setuju. Ia menambahkan bahwa fiksi fantasi memang dapat dimaknai bukan sekadar sebagai hiburan belaka. Fiksi fantasi diantaranya dapat menjadi media propaganda seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Perbincangan selintasan dengan senior saya tersebut seakan mengingatkan saya akan salah satu raison d’etre dari Kaldera Fantasi (Kalfa). Sejak semula memang saya berhasrat untuk mengubah persepsi masyarakat yang minor dan meremehkan mengenai fantasi. Orang dewasa yang menonton anime dianggap kekanak-kanakan; orang dewasa yang bermain game dianggap kekanak-kanakan; hal-hal stereotipe macam itulah yang merupakan salah satu tujuan dari komunitas ini untuk meluruskan. Basisnya adalah landasan ilmiah. Maka dengan pembedahan secara ilmiah saya berharap agar fiksi fantasi tiada lagi dipandang underestimate.

chess

Melalui fiksi fantasi misalnya dapat menjadi medium pembelajaran. Semisal mengenai politik. Beberapa tulisan yang saya turunkan seperti Sisi Politik Voldemort (https://ardova.wordpress.com/2012/07/24/sisi-politik-voldemort/), Sisi Politik Dari Kisah Petruk jadi Raja (https://ardova.wordpress.com/2012/05/28/sisi-politik-dari-kisah-petruk-jadi-raja/), Sejarah Dibentuk Para Penguasa (https://ardova.wordpress.com/2014/01/29/sejarah-dibentuk-para-penguasa/), Bima, Hanoman dan Tokoh Bangsa (https://ardova.wordpress.com/2012/05/15/bima-hanoman-dan-tokoh-bangsa/), Perang Troya (https://ardova.wordpress.com/2012/05/09/perang-troya/), merupakan contoh hibrida antara ilmu politik dengan materi fiksi fantasi. Bayangkan adanya apabila kelas-kelas, baik itu di sekolah ataupun kampus dengan meng-insert fiksi fantasi dalam metode dan materi pembelajarannya. Saya percaya belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan dapat lebih menguasai substansi pembelajaran.

Kisah fiksi fantasi juga dapat diteropong secara multifaset. Misalnya saya banyak membedah berbagai macam hal dari kisah Harry Potter dan The Bartimaeus Trilogy. Beberapa contoh judulnya adalah sebagai berikut: Pers dan Kisah Harry Potter (1) (https://ardova.wordpress.com/2012/02/09/pers-dan-kisah-harry-potter-1/), Murni (https://ardova.wordpress.com/2012/03/09/murni/), Hikayat Nama Nathaniel (The Bartimaeus Trilogy) (https://ardova.wordpress.com/2012/04/12/hikayat-nama-nathaniel-the-bartimaeus-trilogy/), Politik dalam Kisah The Bartimaeus Trilogy (https://ardova.wordpress.com/2012/03/21/politik-dalam-kisah-the-bartimaeus-trilogy/).

kalfa a

Hal tersebut menunjukkan kompleksnya dan banyak segi keilmuan yang dapat direguk dari kisah fantasi. Dan mungkin semisal saya adalah seorang dosen di bidang ilmu politik, maka saya akan menugaskan mahasiswa untuk menonton dan membaca serial Harry Potter. Ada begitu banyak sisi politik yang termaktub dalam kisah Harry Potter. Baik yang tersirat ataupun yang tersurat. Pun begitu dengan novel The Bartimaeus Trilogy. Saya menemukan relevansi keilmuan antara novel tersebut dengan sejumlah konsep, teori, dan peristiwa politik.

Saya percaya bahwa kisah fiksi fantasi dapat ditafsirkan dengan berbagai medan ilmu. Dan menggaungkan bahwa fiksi fantasi itu koheren dengan ilmu sosial ataupun ilmu alam menurut hemat saya akan meluruhkan pendapat dan sinisme dari orang-orang terhadap fiksi fantasi. Tiap dari kita dapat menjadi agen untuk melakukan inseminasi gagasan bahwa ilmu pengetahuan dan fiksi fantasi dapat berada dalam satu keranjang yang sama.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s