Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Minat Membaca

Dunia literasi erat kaitannya dengan buku. Untuk mengukur daya baca dan daya tulis dari suatu negeri salah satu parameternya ialah dengan melihat buku yang diterbitkan dalam setahun. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Maka dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Jika dibuat komparasi maka jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Apabila menilik standar UNESCO, maka idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Hitung-hitungan tersebut menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.

Upaya untuk meningkatkan minat baca di era sekarang ini menemui hambatan berupa era digital. Era digital dapat menjadi distraksi dari minat membaca. Di negara maju, era digital terjadi ketika masyarakatnya sudah hobi membaca. Sedangkan di Indonesia memasuki era digital ketika minat bacanya masih rendah. Era digital yang bertalian dengan minat baca masih rendah dapat berhilir pada budaya copy paste. Era digital memudahkan untuk terjadinya penjiplakan dan pencuplikan sana-sini. Orisinalitas ide, koherensi gagasan menjadi tanda tanya. Memang boleh dibilang jika ingin memiliki daya tulis yang mumpuni maka harus ditopang oleh daya baca yang baik. Jika meminjam istilah Helvy Tiana Rosa dengan menjadi predator buku.

child

Bagaimana kiranya solusi untuk meningkatkan minat baca? Untuk meningkatkan minat baca harus ada program membaca di level pendidikan dasar. Siswa diwajibkan membaca dan menulis. Dengan begitu masyarakatnya meminjam istilah Taufiq Ismail tidak lagi mengalami rabun membaca dan pincang menulis. Taufiq Ismail sendiri memandang bahwa sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Masyarakatnya sejak dini sudah terlatih dan terbiasa membaca.

Mari menengok ke masa penjajahan Belanda untuk sejenak mengambil pembelajaran. Pada masa penjajahan Belanda, misalnya siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun.

school a

Bagaimana kiranya dengan siswa SMA di masa kini? Nyatanya tidak ada kewajiban membaca buku. Sehingga diistilahkan oleh Taufiq Ismail sebagai generasi 0 buku. Padahal, di belahan dunia lainnya sebagai komparasi, siswanya diwajibkan membaca buku. Siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul. Data kewajiban membaca sejumlah judul tersebut diungkapkan oleh budayawan Taufiq Ismail. Saya pun mencoba untuk men-cross check dengan keponakan saya yang menempuh pendidikan SMA di Amerika Serikat. Keponakan saya berkata bahwa kewajiban membaca buku sastra tidak sebanyak 32 judul karya sastra. Namun memang benar bahwa ada kewajiban untuk membaca karya sastra dan membuat esai. Jika ingin mendapatkan nilai bagus menurut keponakan saya, maka harus membaca secara utuh karya sastra yang ditugaskan. Tentu saja ini jauh berbeda dengan pelajaran mengenai karya sastra di Indonesia. Lebih sibuk dengan angkatan sastra, EYD, sedangkan pembacaan karya sastra dan penugasan menulis tiada dikerjakan secara optimal.

Minat baca yang masih rendah ini tentunya akan berimplikasi pada permintaan dan penawaran buku. Tak bisa dipungkiri bahwa buku adalah sebuah bisnis. Untuk terbitnya satu buku maka digunakan kalkulasi bisnis. Tentunya jika minat baca masyarakat Indonesia meningkat maka akan menggerakkan dan menaikkan bisnis buku. Ragam penawaran dari berbagai jenis buku akan semakin variatif dikarenakan ada pasar yang akan menyerap buku yang dilepas ke pasaran.

imajinasi

Untuk meningkatkan minat baca, jika meminjam ide dari Raisa (penyanyi) adalah dengan menimbulkan rasa keingintahuan. Seperti keluarga Raisa yang merupakan pencinta buku. Dikisahkan oleh Raisa bahwa apabila dirinya diliputi oleh pertanyaan, maka ayahnya akan menjawab bahwa jawaban pertanyaan itu ada di buku ini. Hal itu membuat Raisa tergerak untuk membaca dan mencari jawabannya di buku.

Untuk meningkatkan minat baca menurut hemat saya dapat dilakukan dengan pelajaran menulis. Saya percaya bahwa tugas menulis akan membuat seseorang membaca. Tugas menulis akan membawa pada pencarian literatur. Ditambah lagi revisi tulisan akan membuat ada persesuaian antara apa yang ditulis dengan apa yang dibaca. Untuk menghasilkan satu tulisan misalnya, maka sejumlah literatur terkadang harus dibaca untuk menemukan logika pemikiran dan memperkuat argumen.

Pelajaran menulis saya percaya akan menumbuhkan penulis-penulis handal. Dikarenakan untuk mahir menulis maka dibutuhkan pelatihan. Dan pelatihannya adalah dengan menulis. Menulis bukan pelajaran doktriner yang harus dihafal, melainkan dipraktikkan. Dengan pelajaran menulis maka akan berusaha untuk belajar dari gaya penulisan penulis lainnya, daya logika yang disajikan, dan lain sebagainya.

Minat membaca negeri ini yang masih rendah bukan berarti vonis mati dan tidak bisa diubah. Ada ragam cara, solusi yang dapat dikerjakan untuk mengakselerasi, meningkatkan minat membaca dari rakyat Indonesia. Semoga di hari-hari mendatang bangsa ini tiada lagi menjadi bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

^^Penulisan esai ini harus berterima kasih pada data yang saya dapatkan dari harian Kompas edisi Kamis, 16 Januari 2014.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s