Posted in Politik, puisi, sastra

Resistance

Bernafaslah, acuhkan puing bumi
Melompatlah, campakkan tangis peradaban
Bersenandunglah, luapkan oposisi sunyi

Melawanlah, meski tangan terikat
Melawanlah, walau pengasingan sahabatmu

Bicaralah, singkirkan suara sumbang dari kuasa
Berlarilah, sekalipun stagnasi bisu jerat bayangan
Berterusteranglah, kutahu tempat labuhmu di ruang bertopeng lekat

Suarakan apa yang harus disuarakan
Asah pena, walau kertas terserap musnah
Hadapi seketika, tiada kelu di koordinat kusam
Melawanlah, meski hegemoni makna dan wacana di ketiak penguasa

Di ruang manuver yang serba sempit lagi pengap
Teruntuk resistance yang gundah ketika menghirup udara bumi tiada semestinya
Yang menghela nafas di tembok angkuh angkara
Melawanlah, karena kata ‘melawan’ coba dimarginalkan dari kamus tata bahasa

Disini pernah ada kerikil perlawanan
Disini pernah ada kegaduhan makna ketika pedang penguasa telah mengepung dari segala jendela
Melawanlah meski itu kata terakhir yang akan kauingat

Posted in puisi, sastra, Sejarah

Kenangan

Bangunan kuno sambut ekspedisi ini
Pikiran pun melayang
Jelajahi waktu jauhari
Kala kota ini memainkan lakon berbeda

Sungai-sungai mengalir bening membelah kota
Anak-anak kecil berenang bahagia menyambut senja
Kedai-kedai pendarkan aroma memikat
Cita rasa dalam sarapan pagi
Ataupun menikmati mentari terbenam

Kota ini tuturkan sejarah
Bagaimana etnis yang ada
Lika-likunya
Intrik dan intimidasinya
Desir bisikan rasis
Kematian yang merahkan seisi sungai
Darah yang mewaris dapat menentukan nasib kemanusiaan

Desir pasir membelai terik
Kapal-kapal pengangkut singgahi pelabuhan
Selepas mengarungi laut nan ganas
Jangkar melibas air
Di pesisir ini
Ragam bangsa masuki kota ini
Di sini kita belajar berbagi
Di sini kita belajar mengerti
Di sini para pelancong dari jauh sauhkan jiwa petualangannya
Tempat baru yang menjadi labuhan hati

Menara tinggi tuturkan titik nol kota ini
Tempat tertinggi di masa lampau
Pengawas hilir-mudik kapal
Lambang beragam cerita

Kota ini tuturkan cerita pelaut
Mereka yang arungi derasnya ombak
Pancaroba cuaca
Ancaman kematian di tengah samudera
Bercumbu dengan angin di laut lepas

Kota ini memaparkan perjuangan
Dari majelis-majelis ilmu
Risalah bukan sekadar teks-teks tanpa manifestasi
Risalah pergerakan yang hidupkan ruh-ruh untuk beranjak
Gelorakan semangat tuk tuntut keadilan

Bangunan antik di rimbun petualangan
Pilar-pilar angkuh menatap dari posisinya
Benteng di titik tertinggi
Garda depan pertahanan
Lingkaran sejarah yang terulang

Di stasiun itu
Pertemuan dan perpisahan bertumbukan
Rel-rel bisu dalam perjalanan waktu
Keramik warna-warni warnai konstelasi
Diantara keriuhan manusia
Terselip cerita insan manusia
Lorong di bawah kota
Saksi rebel
Jalan-jalan berkorelasi tanpa suara
Kegelapan berpenerangan obor
Jalan sunyi seolah tanpa ujung
Konflik selalu punya misterinya sendiri

Takzim di sore yang cerah
Menatap pucuk menara
Menara dengan atap langit biru berawan
Dari susunan batu dan pilar kota ini tegak
Dari cerita dan sejarah jalinan ini disulam
Sediakan jendela tuk menjenguk
Suram ceria perjalanan masa lampau

Posted in puisi, sastra

Dunia yang Sakit

Kota-kota yang runtuh
Mereka yang bergelimpangan diantaranya
Tangis yang meluluhkan
Sedih yang berkelindan
Merah dimana-mana

Desing peluru beserta mortir
Tandu serta keranda
Potret durjana dalam invasi
Bengis tak terperi

Langit menjadi saksi
Bumi yang bergolak
Panik yang memuncak
Perang beserta memorinya

Berlutut diantara puing mengapung
Menatap langit nan terbentang
Dunia yang sakit

Posted in Politik, puisi, sastra

Stone

Tapi batu itu tidak bicara atas nama sendiri
Dia adalah wakil otentik bagi kemerdekaan
Dia adalah jiwa mardika dari kangkangan nafsu kuasa

Hari ini begitu banyak yang mati jiwanya
Bernafas tanpa tahu arti hidup
Melangkah tanpa tahu arah

Tidak dengan mereka yang senantiasa hidup jiwanya
Diantara keprihatinan yang setia
Muntahan peluru
Amuk darah
Bangunan luluh lantak
Perasaan yang tercabik
Tapi tidak di inti
Ada ruang yang senantiasa terang

Maka segerombolan pengecut dengan senapan di tangan
Dengan pongahnya seolah melipat dunia
Senyum konyol mereka
Hadapi mereka dengan batu
Menciut mereka
Pandir jiwa menyeruak
Atas nama apa perjuangan mereka terpapar tegas
Tak ada darah kesatria di pembuluh nadi

Sementara itu…
Lantunan ayat suci yang indah
Hafalan sepenuh jiwa
Ini tanah kami
Ini negeri kami
Maka bukan sekadar raga yang berontak
Jiwa yang hidup pun akan tergerak

Maka saksikanlah dari seluruh penjuru dunia
Aliran bantuan
Doa… demi doa di saat sunyi sendiri
Ataupun dalam himpunan besar kemanusiaan

Para pemberani yang tidak perlu pita film untuk mengabadikannya
Atau setumpuk novel dengan ramuan bumbu heroik dramatik
Para pemberani yang tahu sumsum anatomi keberanian

Ada yang bernafas tidak dengan sepenuh nafas
Namun bukan mereka, para pemberani itu
Ada yang hidup tidak dengan sepenuh hidup
Namun bukan mereka, para pemberani itu

Di bintang yang paling terang
Di arah yang paling tegas
Di kutub keberanian
Senyum para pemimpi dan para pemberani
Mereka yang tahu arti kefanaan dan makna keabadian

Posted in Politik, puisi, sastra

Senandung Komprador

Perih apa yang kau bawa dari negeri seberang
Senandung luka, selipkan luka
Resep mana lagi yang kau cangkokkan ke otak domestik
Dari para profesor tuturmu dengan kepala terangkat

Kalian dari Negara dunia ketiga…
Lihatlah kami…
Tiru kami melompat…
Berdiri…
Berlari…
Tahu apa kalian soal mengurus hidup??
Benarkah? tanyaku berkuadrat

Dan apa yang kalian berikan kepada dunia, dalam takaran sebenarnya?
Bumi yang berontak
Ekonomi yang gelagapan
Politik para serigala berdasi
Moral yang terdekadensi
Cermin itukah yang harus kurefleksikan sempurna?

Dan kulihat tanah yang bergejolak
Darah yang tertumpah dengan aroma minyak
Pekat yang mengusir embun
Air yang membisu kelu
Pusara di tempatku berpijak

Rahasia apa yang kau selipkan dalam cawan-cawan jamuan pagi petinggi negeri?
Konsesi apa yang kau terjemahkan dalam angka-angka statistik?
Tersandera di jendela sendiri
Terkungkung di pekarangan sendiri
Terluka di sisi pelangi
Dan para komprador pun menari dan bernyanyi-nyanyi

Posted in puisi, sastra

Paris

Hangati sunyi yang temaram
Nadakan bisikan-bisikan hampa
Desir sungai yang tenang
Menara cahaya dari kejauhan
Tuntun jiwa nan resah ini
Susuri jalan berbatu
Lewati angin tersesat pedih

Lukisan keindahan di distrik cahaya
Seniman jalanan sepanjang perjalanan
Aroma hidangan berikatan dengan partikel udara
Jembatan hubungkan mimpi-mimpi tercerai
Patung-patung guratan arsitek karya
Jalan-jalan lapang entaskan gembira
Gerbang meninggi yakinkan daya imajinasiku

Taman-taman hijau
Museum bersinar kala malam
Lampu-lampu binarkan pekat
Papan petunjuk jalan

Hujan yang turun menderas
Aku masih berlari
Susuri kota ini sekali lagi
Temukan kepingan harapan yang terserpih
Redakan resah jiwa ini
Di keanggunan menara cahaya
Kuikatkan arah hidupku sekali lagi
Kuterbangkan larik-larik mimpi bersama hembus udara

Posted in puisi, sastra

Fatwa Tak Bernyawa

Tatap mata ini untuk terakhir kalinya
Genggam tangan ini sebelum jari ini menepi
Rekam kuat-kuat senyum ini
Karena tubuhku tiada bertahan lama lagi

Bercerai raga ini
Memucat wajah ini
Tawa ini menjadi fatwa tak bernyawa

Nafas yang merintih
Dan waktu merapuh ditiup angin berdebu
Dan secepat kertas yang dilahap api yang lahap

Tiadalah mampu raga kita menyatu di bumi ini
Tercerai rasanya tak lama lagi
Tapi tidak cinta ini
Cinta ini jernih, suci, tulus adanya

Jiwa hanya dapat menyentuh jiwa
Tiada tidak
Cinta hanya dapat memagut cinta
Tahu benar kita
Kenangkan cinta ini
Hikayatkan dalam hidangan sastra terindah
Agar tinggi rendah kisah ini jadi pembelajaran
Buat esok dan lusa