Posted in Politik, puisi, sastra

Resistance

Bernafaslah, acuhkan puing bumi
Melompatlah, campakkan tangis peradaban
Bersenandunglah, luapkan oposisi sunyi

Melawanlah, meski tangan terikat
Melawanlah, walau pengasingan sahabatmu

Bicaralah, singkirkan suara sumbang dari kuasa
Berlarilah, sekalipun stagnasi bisu jerat bayangan
Berterusteranglah, kutahu tempat labuhmu di ruang bertopeng lekat

Suarakan apa yang harus disuarakan
Asah pena, walau kertas terserap musnah
Hadapi seketika, tiada kelu di koordinat kusam
Melawanlah, meski hegemoni makna dan wacana di ketiak penguasa

Di ruang manuver yang serba sempit lagi pengap
Teruntuk resistance yang gundah ketika menghirup udara bumi tiada semestinya
Yang menghela nafas di tembok angkuh angkara
Melawanlah, karena kata ‘melawan’ coba dimarginalkan dari kamus tata bahasa

Disini pernah ada kerikil perlawanan
Disini pernah ada kegaduhan makna ketika pedang penguasa telah mengepung dari segala jendela
Melawanlah meski itu kata terakhir yang akan kauingat

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s