Posted in Politik, puisi, sastra

Stone

Tapi batu itu tidak bicara atas nama sendiri
Dia adalah wakil otentik bagi kemerdekaan
Dia adalah jiwa mardika dari kangkangan nafsu kuasa

Hari ini begitu banyak yang mati jiwanya
Bernafas tanpa tahu arti hidup
Melangkah tanpa tahu arah

Tidak dengan mereka yang senantiasa hidup jiwanya
Diantara keprihatinan yang setia
Muntahan peluru
Amuk darah
Bangunan luluh lantak
Perasaan yang tercabik
Tapi tidak di inti
Ada ruang yang senantiasa terang

Maka segerombolan pengecut dengan senapan di tangan
Dengan pongahnya seolah melipat dunia
Senyum konyol mereka
Hadapi mereka dengan batu
Menciut mereka
Pandir jiwa menyeruak
Atas nama apa perjuangan mereka terpapar tegas
Tak ada darah kesatria di pembuluh nadi

Sementara itu…
Lantunan ayat suci yang indah
Hafalan sepenuh jiwa
Ini tanah kami
Ini negeri kami
Maka bukan sekadar raga yang berontak
Jiwa yang hidup pun akan tergerak

Maka saksikanlah dari seluruh penjuru dunia
Aliran bantuan
Doa… demi doa di saat sunyi sendiri
Ataupun dalam himpunan besar kemanusiaan

Para pemberani yang tidak perlu pita film untuk mengabadikannya
Atau setumpuk novel dengan ramuan bumbu heroik dramatik
Para pemberani yang tahu sumsum anatomi keberanian

Ada yang bernafas tidak dengan sepenuh nafas
Namun bukan mereka, para pemberani itu
Ada yang hidup tidak dengan sepenuh hidup
Namun bukan mereka, para pemberani itu

Di bintang yang paling terang
Di arah yang paling tegas
Di kutub keberanian
Senyum para pemimpi dan para pemberani
Mereka yang tahu arti kefanaan dan makna keabadian

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s