Posted in Aku, Essai, Jalan-Jalan

Pusing-Pusing ke Singapura

Telah berbilang tahun lamanya saya menginjakkan kaki ke Singapura. Ketika itu saya dan keluarga melakukan vakansi ke negeri singa tersebut. Baiklah berikut ini akan saya hidangkan mengenai sekelumit kisah dan perjalanan yang saya alami.

Personil keluarga yang ikut ke Singapura terdiri dari: saya, Zuhdi, ibu, teh Hani, dan aa Imron. Beruntunglah semenjak dahulu saya gemar untuk mencatatkan segala sesuatu sehingga kepingan perjalanan di Singapura tersebut dapat terlacak kembali. Dari basis catatan kecil tersebut tulisan ini akan menemukan alurnya. Kami berada di Singapura selama 5 hari (Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu). Sedangkan tahun kami menginjakkan kaki di Singapura adalah tahun 2006.

singapura

Sabtu

Kami berangkat dengan menggunakan pesawat terbang. Destinasi tujuan adalah Batam. Dari Batam kami naik ferry untuk kemudian touch down di Singapura. Ferry yang kami tumpangi untuk menuju Batam bernama wavemaster. Selama perjalanan laut kami menikmati hembusan angin, cita rasa laut, untuk kemudian dari kejauhan terlihatlah gedung-gedung pencakar langit yang menyambut kami dengan cita rasa modernitas. Setelah menyelesaikan urusan imigrasi, kami pun naik taxi cab. Pengemudi taxi cab-nya perempuan. Sesekali sang pengemudi menggunakan bahasa melayu dalam percakapan. Dan tahulah saya dengan istilah ‘pusing-pusing’ yang berarti ‘jalan-jalan’ atau ‘keliling’.

Setelah sampai di hotel yang kami tempati, kami pun bersiap untuk pusing-pusing di Singapura. Saya dan Imron tinggal di hotel yang berbeda dengan teh Hani, ibu, dan Zuhdi. Dikarenakan teh Hani merupakan perencana keuangan yang hemat, maka kami menempati hotel yang agak unik secara pengalaman. View dari jendela hotel yang kami lihat adalah para WTS yang mangkal mencari konsumennya. Alhasil saya dan kakak saya merasa terusik dengan view tersebut. Esoknya saya dan kakak saya migrasi ke hotel yang sama dengan teh Hani, Zuhdi, ibu.

MRT

Jalan-jalan di hari Sabtu di bulan Agustus tahun 2006 tersebut memperkenalkan saya dengan sarana transportasi efektif, efisien, manusiawi yakni: MRT. MRT adalah kepanjangan dari Mass Rapid Transit. Sarana transportasi ini dapat diandalkan dari segi ketepatan waktu, kemampuan mengangkutnya yang banyak. Sehingga hal ini dapat menekan angka kemacetan. Di samping itu pajak untuk kendaraan pribadi begitu tinggi di Singapura. Pemberian pelayanan fasilitas umum yang nyaman seperti MRT tentunya memudahkan warga negara tersebut untuk melakukan muhibah dari satu titik ke titik yang lain.

Di MRT tersebut boleh dibilang cukup ramai. Namun jangan ditanya soal kebersihan dan presisi waktunya. MRT tersebut sekalipun padat penumpang, bersih adanya. Dalam hal presisi waktu maka sekian menit sekali MRT akan tiba. Tiket MRT sendiri dapat dibeli di sebuah mesin yang menyerupai ATM. Setelah mengkonversi sejumlah uang maka penumpang mendapatkan kartu. Kartu ini digunakan dengan cara di-tab pada palang pintu masuk dan keluar.

peta mrt

Destinasi pertama kami di hari itu adalah Takashimaya. Di sana kami mencari makan dan mencicipi pemandangan keriuhan penduduk Singapura. Setelah mengisi perut di daerah Takashimaya kami pun beranjak ke tempat tinggal teman dari Teh Hani yakni mbak Riri. Tempat tinggal disana kebanyakan adalah di apartemen. Tanah yang terbatas di Singapura membuat hunian berbentuk vertikal tersebut menjadi opsi paling memungkinkan. Di tempat mbak Riri yang suaminya bekerja di kepolisian Singapura tersebut, saya, Imron, dan Zuhdi memilih untuk bermain games sepakbola Fifa. Sementara itu teh Hani, ibu, mbak Riri dan suami saling berbincang mengenai rupa-rupa perkara.

Sepulang dari tempat mbak Riri kami menikmati durian di pinggir jalan. Untuk kemudian kami beristirahat dan bersiap untuk hari selanjutnya.

Ahad

Pada hari Ahad tujuan utama kami adalah menuju Sentosa Island. Sebagai sarapan pagi kami mencicipi roti Prata dan teh Tarik. Roti Prata nikmat adanya dengan kuah serta daging. Sedangkan teh Tarik merupakan campuran antara teh dengan susu. Dalam proses pembuatannya terjadi tarik-menarik antara teh dengan susu. Sebuah atraksi yang menarik melihat pembuatan teh Tarik. Hal tersebut menambah khazanah pengetahuan saya tentang dunia kuliner.

teh tarik

Setelah sarapan kami pun memilih sarana transportasi bus. Bus yang kami tumpangi merupakan bus bertingkat. Tentu saja kami memilih untuk berada di tingkat 2. Menikmati rangkaian bangunan, budaya, sejarah dari bangunan-bangunan yang kami lewati. Setelah sampai di terminal, kami pun membeli tiket Sentosa Island. Tiket yang dipilih adalah Ticket Tour 1. Untuk menuju Sentosa Island kami menggunakan cable car. Dari atas ketinggian itulah kami dapat melihat Singapura dari perspektif yang berbeda.

Di Sentosa Island kami melihat Underwater World. Wahana yang setipe dengan Sea World di Jakarta. Aneka ragam binatang laut tersaji disana. Selepas dari Underwater World kami menuju Cinemania. Untuk kemudian kami menjajal tontonan 4 dimensi. Film yang diputar bertemakan pirates. Di pertunjukan tersebut selain disuguhi visual memikat 4 dimensi terdapat kejutan berupa semprotan air skala mini yang menerpa kaki.

Kami kemudian mencoba wahana Sky Tower. Disana kami dibawa pada ketinggian. Setelah sekian meter dari tanah, Sky Tower tersebut berputar secara pelan. Dari Sky Tower dapat dilihat Singapura dari ketinggian tertentu. Selepas dari Sky Tower kami beranjak ke wahana Dolphin Lagoon. Disana kami melihat atraksi lumba-lumba. Namun rupanya atraksi lumba-lumba tersebut kalah secara teknik dengan lumba-lumba di Ancol. Hal tersebut diceletukkan oleh pengunjung yang juga berasal dari Indonesia. Dan kami pun mengamini pendapat tersebut dengan cara saksama.

roti prata

Kami menuju spot berikutnya yakni Musical Fountain. Disana terdapat atraksi air yang seperti menari serta dikombinasikan dengan musik. Selepas air yang menari terdapat sajian tarian yang memaparkan kebudayaan Asia. Rupanya bagi keponakan saya: Muhammad Zuhdi sajian dari Musical Fountain ini membosankan. Dia pun manyun sepanjang pertunjukan haha..

Selepas dari Musical Fountain kami menuju Merlion. Namun dikarenakan waktu telah sore dan dikenakan biaya yang cukup menguras kantong untuk sampai di kepala Merlion, kami memutuskan untuk sekadar melihat Merlion dari bawah. Malam pun menjelang dan kami kembali naik cable car. Dari atas ketinggian kami melihat kota Singapura. Kali ini dengan kompi cahaya yang mewarnai bangunan-bangunan di negeri yang dibangun oleh Raffles tersebut.

musical fountain

Kami pun tiba di Mount Faber. Mount Faber yang terletak di ketinggian menyajikan pemandangan serta arah. Untuk menuju Mount Faber, selepas dari cable car kami berjalan kaki. Di Mount Faber terdapat sejumlah teleskop. Disana kita dapat melihat berbagai arah. Seperti misalnya sudut yang memperlihatkan arah ke Jakarta. Puas di Mount Faber kami naik cable car untuk menuju tempat makan di Harbour Front. Selepas dari cable car kami melanjutkan dengan menumpang MRT. Di Harbour Front kami bertemu dengan teman teh Hani yakni mbak Clara, mas Jack, dan Aidil. Di sana kami makan di tepi sungai. Adapun restoran yang dipilih bernama Kinba. Makanannya enak banget. Makanan di Kinba merupakan masakan India. Kami juga mencicipi es krim jahe. Kombinasi unik bukan?

Senin

Pada hari Senin ibu kami me-request agar makan makanan Indonesia. Alhasil teh Hani membawa kami pada restoran Hajah Maimunah. Sajian yang disajikannya seperti makanan rumahan. Selepas mengisi perut, kami pun beranjak ke Mustafa Centre. Mustafa Centre buka 24 jam dan merupakan tempat perbelanjaan yang harganya relatif murah. Disanalah kami membeli berbagai souvenir yang memiliki tag line Singapore. Gantungan kunci, kaus, kotak musik merupakan sekelumit tentengan kami selepas dari Mustafa Centre.

cable car

Arah perjalanan untuk kemudian kembali ke hotel tempat kami menginap. Di kamar hotel kami menonton film The Devil’s Advocate. Film yang imho merupakan tipikal film kueren united. Kami agak lama di kamar hotel dikarenakan teh Hani berkeras untuk membeli tiket bioskop via internet. Sementara teh Hani berkutat dengan pemesanan tiket via internet, kami pun menggunakan waktu dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya untuk tidur siang haha..Akhirnya teh Hani menyerah dengan pemesanan tiket bioskop via internet. Pusing-pusing pun dilanjutkan.

Pusing-pusing diarahkan ke China Town. Disana ibu saya dibelikan baju khas Tiongkok oleh teh Hani. Malam pun tiba dan kami pun sampai di Orchard Road yang tersohor itu. Sebuah jalan yang kiranya memaparkan banyak mall. Kami hanya melewati Orchard Road tanpa singgah untuk berbelanja. Kami lebih memilih untuk menonton film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest. Selepas menonton film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest, kami berpapasan dengan seorang nenek yang menjual tisu dan sarden. Teh Hani pun menjelaskan mengenai etos kerja orang Singapura. Bagaimana sekalipun usia telah sepuh namun mereka memilih untuk bekerja. Bukan sekadar nenek tersebut pandangan mata yang saya temui, di tempat makan pun saya temui yang membersihkan piringnya adalah seorang kakek.

Malam kami di hari Senin ditutup dengan makan seafood. Sebuah sajian yang memanjakan lidah.

carribean

Selasa

Pada hari Selasa, awal hari kami dijelajahi dengan naik MRT. Sarapan pagi kali ini dengan BreadTalk. Tempat yang kami tuju adalah Esplanade. Esplanade digunakan sebagai gedung pertunjukan. Esplanade juga berbentuk unik yakni seperti durian. Setelah dari Esplanade kami naik bis menuju Chijmes. Berjalan kaki kami pun sampai di patung Raffles. Tak jauh dari patung Raffles kami menikmati sarana transportasi berupa perahu dengan menggunakan mesin. Dengan menggunakan perahu itu kami menjelajahi Singapura melalui jalur air.

Titik pusing-pusing kami berikutnya adalah Singapore Zoo. Sebelum menjelajah kebun binatang, kami mampir di KFC. Tidak ada nasi dalam menu yang disajikan. Di Singapore Zoo, Zuhdi saya “bully” dengan binatang siamang hehe..Binatang yang menggelantung di pepohonan tersebut membuat Zuhdi bergegas keluar dari area yang ditempati oleh siamang.

Selepas dari Singapore Zoo kami pergi ke hotel Four Season. Di hotel Four Season mbak Riri bekerja. Di sana kami makan malam sekaligus foto-foto di dalam hotel. Boleh dibilang ini adalah salam perpisahan dengan mbak Riri dikarenakan besoknya kami akan meninggalkan Singapura.

singapore zoo

Rabu

Pada hari Rabu kami pun berkemas untuk kembali ke Jakarta. Di taksi kami berpisah jalan. Teh Hani melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat, sedangkan sisa rombongan kembali ke Jakarta. Tiba di HarbourFront, kami pun akhirnya resmi mengucapkan bye..bye..ke Singapura. Di bandar udara Batam ternyata tiket kami ke Jakarta terbawa oleh teh Hani. Alhasil kami pun harus membeli tiket pesawat.

Kembali ke bandara Soekarno-Hatta, kami pun menumpang taksi untuk kemudian touch down di rumah.

Begitulah kiranya hikayat perjalanan yang saya lakukan. Semoga di waktu mendatang saya dapat berkunjung ke negeri tersebut.

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis, Lamunan, dan Waktu Tertentu

Saya selalu percaya bahwa menulis membutuhkan lamunan dan waktu tertentu. Lamunan itu untuk menghasilkan tema dan menakar perspektif yang digunakan. Itulah kiranya yang membedakan penulis dengan mesin kata-kata. Terdapat sentuhan kemanusiaan. Ini bukan sekadar menggelar data. Namun bagaimana mengolah data, menafsirkannya. Ini juga tentang kemampuan untuk memilah dan memilih data. Ini juga tentang memilah dan memilih artikulasi, diksi, kata, ataupun kalimat.

Menulis yang membutuhkan lamunan juga tiada terlepas dari pertanyaan internal dalam diri. Untuk menyusun tulisan misalnya kadang diperlukan percakapan internal mengenai aneka sudut yang dapat dikupas dari tulisan. Lamunan juga dibutuhkan untuk menyusun peta akan dibawa kemana tulisan tersebut. Oleh karena itu saya percaya menulis adalah momentum personal. Biarkan penulis tenggelam dalam lamunannya. Bercakap-cakap dengan pikirannya. Diperlukan keheningan tertentu, terlepas dari kebisingan perbincangan ataupun distraksi macam-macam.

baca 2

Menulis yang membutuhkan lamunan juga dikarenakan menulis merupakan ranah kerja imajinasi. Menulis bukan sekadar menjejalkan fakta, memuntahkan pengetahuan yang diketahui. Melainkan juga menempatkan “nyawa“ pada fakta dan pengetahuan yang diketahui. Misalnya dalam novel gubahan dari Jonathan Stroud seperti The Bartimaeus Trilogy terdapat sejumlah fakta yang dikemas dalam balutan imajinasi. Pun begitu yang dilakukan oleh J.K.Rowling dalam kisah Harry Potter yang mendedah sejumlah hal terkait mitologi. Bukan sekadar dalam kisah fiksi-fantasi, dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi misalnya, sidang pembaca diajak untuk melakukan tamasya intelektual ke pemikiran para filsuf dari berbagai era. Kiranya lamunan itulah yang membuat hasil tulisan bukan sekadar aksara yang berderet, melainkan memiliki kemampuan tutur yang memikat.

Saya percaya bahwa menulis membutuhkan waktu tertentu dikarenakan diperlukan cross check, validasi. Dalam menghasilkan tulisan, dari pengalaman saya bukanlah proses yang sekali jadi. Diperlukan pencocokan data, penelaahan mengenai typo, dan segalanya agar hasil tulisan itu sesempurna dan sebaik mungkin. Itulah kiranya saya kerap senewen kalau ada yang menggampangkan tulisan. Baik itu dalam waktu dan kualitas. Pada hakikatnya tulisan adalah menyusun bukti yang sifatnya tertulis, terdokumentasi. Dan bilangan waktu mendatang dapat dicek mengenai segalanya dari hasil tulisan tersebut. Maka adalah sebuah kebodohan besar manakala menulis secara serampangan. Ibaratnya eksebisionis teledor yang menceplokkan bukti otentik dan dapat diverifikasi di masa mendatang.

school a

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu juga untuk mematangkan gagasan. Tulisan perlu untuk “dibiarkan” beberapa lama. Untuk kemudian setelah berbilang waktu ditengok kembali. Dengan demikian sudut pandang, kemungkinan pendalaman juga akan lebih kaya secara pengayaan.

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu dapat dikaitkan dengan jam menulis. Jules Verne misalnya menulis setiap habis Subuh. Raditya Dika yang memiliki jam menulis setiap harinya. Haruki Murakami yang memiliki 5-6 jam setiap harinya untuk menulis. Dalam menulis di ceruk waktu tertentu dibutuhkan kepompong perlindungan. Kepompong perlindungan dalam artian terhindar dari segala distraksi yang ada. Disinilah kemajuan teknologi dapat menjadi distraksi tertentu. Kemampuan untuk terhubung kapan saja, dimana saja, waktu kapan saja, dapat menjadi distraksi yang menggoda untuk menulis. Mungkin teramat mungkin ketika daya tulis Anda terlampau lamban, begitu-begitu saja dikarenakan Anda tiada disiplin dalam waktu tertentu untuk menulis. Jika serius untuk menekuni tulisan menurut hemat saya alokasikan waktu tertentu untuk menulis. Buat disiplin waktu tertentu yang digunakan untuk menulis. Singkirkan segala distraksi. Dan saya percaya jika disiplin itu diterapkan maka output berupa tulisan juga akan terlihat.

pen 2

Sejumlah tempat misalnya dapat menyokong lamunan dan waktu tertentu. Keponakan saya misalnya ketika mengerjakan tugas memilih tempat di salah satu gerai kopi terkemuka. Ia biasanya memesan green tea latte, lalu dalam waktu tertentu mengerjakan tugas sekolahnya. View yang bagus, pemandangan yang nyaman, akses internet, membuat waktu tertentu dapat menjadi produktif.

Tentu masih banyak tempat untuk memasok lamunan dan waktu tertentu dalam menulis. Tergantung selera masing-masing. Saya misalnya memilih untuk menulis di rumah. Diantara tumpukan buku, kenyamanan rumah, daya lamunan dan waktu tertentu saya dapat lebih teroptimalkan.

Demikianlah sekelumit tulisan saya. Semoga bermanfaat adanya dalam ranah penulisan. Selamat melamun dan menyediakan waktu tertentu untuk menulis.

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Introvert

Dalam bukunya Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati Wahyu Aditya mengurai sejumlah keunggulan dari seorang bertipe introvert. Salah satunya adalah kebutuhan untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sendiri, bukan dengan berkelompok. Saya memang belum pernah mengikuti test yang menunjukkan apakah saya adalah seorang introvert ataukah ekstrovert, namun dari segala ciri-ciri yang ada pada saya, maka rasa-rasanya saya orang bertipikal introvert. Maka saya pun menyambut dengan gembira bab 5 yang berjudul introvert is cool! di buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Saya seperti menemukan diri saya. Saya seperti menemukan segala tudingan yang mengepung sosok introvert.

Dalam lingkup pergaulan menjadi introvert terkadang disalahpahami. Dibilang tidak mau bergaullah, asyik dengan dunia sendirilah, dan lain sebagainya. Saya sendiri merasa bahwa saya bukanlah orang yang menyukai keramaian dan kebisingan. Dibandingkan perayaan tahun baru yang penuh bejibun dengan orang, terompet yang berlengkingan, saya pastinya lebih memilih untuk membaca buku sendirian.

Dengan ilmu saya percaya kita akan dapat lebih mengerti. Inilah kiranya pentingnya ilmu psikologi, untuk tidak memukul rata manusia. Untuk tidak memaksakan paham yang monolitik. Kita hidup dengan keragaman dan perbedaan. Jadi in my humble opinion jangan paksakan seseorang untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Biarlah introvert menjadi introvert. Biarlah ekstrovert menjadi ekstrovert. Yang kita butuhkan adalah jembatan ilmu untuk saling memahami dan mengerti.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Antagonis-Protagonis

Film Constantine membuka tirai penutupnya dengan menjadikan Gabriel sang malaikat sebagai tokoh antagonis. Bagaimana Gabriel menjadi perencana dan pelaksana bagi upaya dari anak Lucifer untuk menguasai bumi. Tuhan pun menghukum Gabriel dan menjadikannya sebagai manusia. Sebuah pukulan menghantam wajah dari John Constantine menjadi “ucapan” selamat menjadi manusia wahai Gabriel.

Film Angel & Demons yang digubah dari novel karangan Dan Brown juga menyingkap bagaimana pendeta Camerlengo Patrick Mckenna sebagai tokoh antagonis. Camerlengo Patrick Mckenna menunjukkan sisi angel and demons dalam dirinya.

Novel The Name of the Rose juga memaparkan sang antagonis adalah si buta pendeta Jorge Burgos. Jorge Burgos memiliki basis alasan bahwa tawa adalah bid’ah paling bejat dan bahwa buku para filsuf (karya Aristoteles yakni Poetics yang mengulas kedudukan penting komedi dan menyatakan tawa adalah satu-satunya tempat pengungsian dari doktrin kebenaran universal). Buku tersebut dianggap akan menjungkir-balikkan pemahaman manusia akan semesta seisinya dan akan terus membentangkan tafsir terbuka terhadap apa saja yang sanggup dijangkau akal (http://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/taman-umberto-eco/).

shinzanmono

Serangkaian sampel di atas menunjukkan bahwa siapapun dapat tergelincir dalam peran antagonis. Manusia selama hidupnya adalah sebuah koma. Hingga dirinya mati, barulah akan menemui titik. Itu pun tetap menarik adanya, dikarenakan berbagai bedah sejarah dapat mengungkap sejumlah fakta yang belum terkuak dari diri seorang tokoh sepanjang hidupnya. Tengoklah bagaimana Soekarno, Hitler yang masih menarik untuk dikaji secara sejarah dari berbagai sisi, meski mereka telah meninggal dunia semenjak lama. Definisi, penempatan sejumlah tokoh dalam sejarah memerlukan kehati-hatian dalam membedah hikayat masa lampau.

Saya pun teringat dengan kisah Shinzanmono. Bagaimana mula-mula penonton akan dihadapkan pada sejumlah fakta tindakan. Lalu di akhir episode barulah diungkap alasan dari tokoh-tokoh tersebut melakukan tindakan tertentu. Perspektif kita dibawa untuk lebih bijak dalam melihat dan menilai.

Dan perspektif inilah kiranya yang dapat menjadi distingsi. Terkadang mungkin kita terlalu gegabah untuk memvonis seseorang adalah antagonis. Mungkin kita perlu lebih sabar, bijak, untuk melihat dari perspektif orang tersebut. Siapa antagonis, siapa protagonis dalam hidup memerlukan kecermatan dan ketelatenan dalam menyusun sejumlah fakta empirik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah

Soekarno Juga Manusia

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Soekarno? Keberaniannya melawan pihak asing dengan mengatakan ‘go to hell with your aid’, nasionalisme dan internasionalismenya, proklamasi yang dilakukannya, orasi pidatonya yang menggelegar. Film Soekarno: Indonesia Merdeka yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo boleh dibilang menempatkan Soekarno sebagai seorang manusia. Selama ini mungkin pesona publik telah sampai pada taraf mengkultuskan sang putera fajar ini. Dari rangkaian spanduk, poster tentang Sukarno, dari salah satu partai besar di Indonesia apakah yang dijual adalah pemikirannya atau sekadar sosok mitologis agungnya?

Jika mendedah secara historis dan keilmuan akan didapatilah bahwa sang putera fajar pengagum tokoh Bima ini adalah manusia biasa. Sepanjang menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka sejumlah literatur terkait beliau muncul di otak saya. Sebut saja mengenai hubungannya dengan Inggit Garnasih, maka saya terbetik ingatan pada buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno karya Ramadhan K.H. Ketika Soekarno muda belajar orasi, maka saya terbetik ingatan pada buku Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia. Ketika sejumlah wanita penghibur dilokalisasi untuk memenuhi nafsu para tentara Jepang, maka saya terbetik ingatan pada majalah Historia nomor 3 (halaman 35-66) yang membahas Perempuan dalam Cengkraman Jepang. Ketika Soekarno menyampaikan dasar-dasar negara yang dikenal dengan Pancasila, saya pun teringat pada buku Tudjuh Bahan2 Pokok Indoktrinasi.

soekarno

Jika meminjam kalimat dari Goenawan Mohamad maka “sang tokoh akan dianggap telah selesai, tinggal dipuja. Ada yang membeku dalam dirinya.” Maka dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ini maka sang proklamator ini “dihidangkan” kembali ke alam realitas kekinian dengan menghadirkan sisi kemanusiaannya. Soekarno dapat sakit seperti terserang malaria, Soekarno dapat galau terkait cintanya dengan Inggit dan Fatmawati, Soekarno yang berdebat dengan Sjahrir dan para pemuda, dan lain sebagainya.

Dalam kajian ilmu sejarah di luar negara merupakan sudah lazim untuk meneropong seorang tokoh sejarah secara lengkap. Bahkan hingga kisah ranjangnya diungkap. Sedangkan di negeri ini pembelajaran sejarah memang masih kerap terdistorsi. Rezim pemerintahan di masa lalu berkenan untuk menghegemoni makna dan wacana. Seperti diungkap oleh George Orwell dalam novelnya 1984 bahwa Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.

Masyarakat negeri ini juga seyogianya mulai membiasakan diri untuk menerima ragam versi dari sejarah. Masyarakat juga harus mulai menerapkan sikap ilmiah terhadap tokoh sejarah, bukan sekadar memperlakukannya sebagai tokoh yang beku, mitologis, dan tidak dapat diperdebatkan.

1984

Meneropong sosok Soekarno memang bukan merupakan hal yang mudah. Ada multifaset disana. Mana kiranya yang harus dipilah dan dipilih dari sisi kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia ini. Maka dipilihlah mozaik ketika Soekarno kecil, Soekarno muda yang memberontak, dipenjara hingga menghasilkan pidato Indonesia Menggugat, masa pengasingan di Bengkulu, masa pendudukan Jepang, hingga mencapai kulminasi pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dibedah secara sisi humanis, Soekarno juga memiliki banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri dan diangkat. Pembuat film ini bisa saja tergoda untuk mengulang resep sukses tokoh sejarah yang dipadukan dengan kisah cintanya. Film Habibie & Ainun merupakan contoh otentik dan generik yang merengkuh sukses luar biasa. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ada kisah cinta, namun rumit. Soekarno yang telah beristrikan Inggit Garnasih, untuk kemudian di masa pengasingannya di Bengkulu tertarik kepada Fatmawati.

Penyambung Lidah

Inggit yang dengan apik dimainkan oleh Maudy Kosnaedi ini memang merupakan sosok yang berperan besar bagi seorang Soekarno. Sebelumnya Soekarno pernah menikah dengan Oetari, lalu kemudian bercerai. Inggit semula adalah ibu kost dari tempat Soekarno bermukim. Perbedaan usia selama lebih dari 1 dekade tiada menjadi halangan bagi Soekarno dengan Inggit untuk memadu kasih. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka bagaimana dilema disajikan ketika Soekarno terpikat hati yang lainnya, problema dimadu, tiada memiliki keturunan.

Cinta ini rupanya berdampak sistemik bagi Soekarno. Namun hidup harus memilih, dan dengan berat hati Soekarno menceraikan Inggit dan menjemput takdir lainnya yakni bersama Fatmawati.

Bagian lainnya yang sarat kontroversi tentu saja ketika masa pendudukan Jepang. Perlu diingat pilihan Soekarno untuk bekerja sama dengan Jepang memang menuai kecaman dari beberapa kalangan. Kecaman itu digambarkan dengan pelemparan batu rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56, debat seru dengan Sjahrir.

soekarno-hatta

Soekarno juga terlihat “lemah” ketika harus berkompromi dengan memberikan alternatif dengan menghadirkan wanita-wanita penghibur untuk memuaskan hasrat seksual para tentara Jepang. Pun begitu dengan pengerahan kerja paksa dalam bentuk romusha. Bagaimana Soekarno digambarkan sebagai ikon propaganda dari kalangan pihak Jepang. Tentunya hal ini memerlukan kecermatan sejarah untuk menjawab mozaik masa pendudukan Jepang tersebut. Maka saran saya adalah silahkan sidang pembaca untuk membaca majalah Historia nomor 3 halaman 35-66 yang dimana akan memberikan pengetahuan mengenai para ianfu di masa pendudukan Jepang tersebut. Dengan pengetahuan sejarah tersebut maka akan menghindari penilaian, penghakiman yang tendensius. Seperti disarikan dari pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: “Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apapun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian –para perawan remaja pada 1943-1945- menderita semacam itu.”

Sisi lainnya yang menarik dari film Soekarno: Indonesia Merdeka ini dalam hemat saya adalah silang pendapat antara Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sayangnya Sjahrir yang intelek, diperankan terlalu meledak-ledak, dan terlihat sekilasan sebagai “antagonis”. Meski ketika detik-detik menjelang proklamasi diperlihatkan bagaimana Sjahrir (diperankan Tata Ginting) turut menyokong Soekarno-Hatta, namun kesan meledak-ledak dan “antagonis” belum sepenuhnya luruh. Sedangkan Hatta (diperankan Lukman Sardi) mampu memperlihatkan ketenangan, kehati-hatian, visioner.

chess

Seperti dituturkan oleh Herbert Feith bahwa tipikal Hatta adalah administrator sedangkan Soekarno adalah pembentuk solidaritas. Hatta dengan cermat mengutarakan kekhawatirannya yang terbukti di kemudian hari. Mulai dari bentuk pemerintahan, otonomi daerah, ketimpangan antardaerah, dan sebagainya.

Adapun mengutip pendapat dari Goenawan Mohamad mengenai adminstrator dan pembentuk solidaritas dapat dilihat dalam paragraf berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 479):

Soekarno menciptakan simbol dan menekankan kembali tuntutan mesianis serta janji-janji Revolusi. Hatta menyusun kebijakan administratif dan mendesakkan perlunya realisme. Seorang “administrator” menekankan perlunya legalitas dan terpeliharanya kontrol. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah.

film Soekarno

Saya teringat dengan uraian sejarawan Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah “Hidup atau Mati”, hlm. XI-XII).

Maka agar tiada membeku, menjadi kultus tanpa pemahaman, maka film Soekarno: Indonesia Merdeka ini menarik adanya untuk memantik kembali sosok dan pemikiran dari sang putera fajar ini.

Kita ogah – atau kita belum – menampilkan satu potret “antihero”, dalam sejarah kita. Pahlawan nasional bukanlah orang-orang lazim yang bisa dianalisa dengan pisau urai yang tajam. Bayangkan keributan yang terjadi jika seseorang berani menyajikan suatu risalah yang kritis tentang Bung Karno, atau Bung Hatta, Diponegoro, atau Pattimura. Mungkin itulah sebabnya kita terdiam (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm.47). Mungkin begitulah kiranya yang menyibak dan menyebabkan mengapa film Soekarno: Indonesia Merdeka menuai sejumlah kontroversi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sosial Budaya

Pers

Jagat pers di Indonesia mengalami dilema tersendiri di era reformasi. Para pemodal alias pengusaha menimbulkan fenomena tersendiri dalam kehidupan pers. Value dari berita ditengarai sebagai corong dari para pemodal yang juga pemilik dari media. Maka sejumlah stasiun tv swasta dimana pemiliknya juga politisi menjadi bias. Pun begitu dengan koran ataupun majalah yang menjadi perpanjangan lidah, vehicle opini dari para pemodal/pemilik media.

Penunggangan isu dalam berita ternyata menemukan relevansinya dalam film The Green Hornet. Dikisahkan Britt Reid merupakan pemilik dari koran the Daily Sentinel. Britt Reid yang juga merupakan Green Hornet menjadikan the Daily Sentinel sebagai perpanjangan pesan, opini yang diinginkannya. Meja redaksi pun dikooptasi demi kepentingannya. Ketika Green Hornet beraksi di masa-masa awal, patung milik keluarganya yang kehilangan kepala dikreasi, digodok menjadi sebuah isu publik. Dapur redaksi dengan intens mengulas siapa gerangan Green Hornet plus sepak terjangnya. Lupakan soal 10 kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value). Ada setidaknya sepuluh kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value): kehangatan, pertama kali, magnitude, tokoh atau nama besar, tren baru, dramatis, unik, prestisius, angle berita, dan misi (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo, hlm.VII).

creativity b

Bagaimana kiranya media dapat mengkreasi berita? Jika menilik check and balances dalam kehidupan sosial politik, maka pers ditabalkan sebagai pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, yudikatif. Lord Acton pernah bertutur bahwa power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Godaan untuk korup juga dapat terjadi pada ranah pers. Pers dapat menjadi sekadar unit ekonomi yang menjual dan mencari makan dari menjual berita.

Pada 1988 Noam Chomsky dan Edward Herman menerbitkan buku tebal berjudul Manufacturing Consent. Chomsky sudah mengingatkan bahwa media massa pada dasarnya menyuarakan kepentingan korporasi besar atau para pemilik modal, sehingga isi pokok media massa di Amerika sejatinya adalah propaganda untuk melindungi kepentingan korporasi. Chomsky menggunakan istilah “propaganda” tentu bukan tanpa alasan kuat (Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!, hlm. 116).

the amazing spiderman

Pers sendiri dapat menghadirkan dan memunculkan isu. Sampelnya adalah seperti Britt Reid yang memunculkan isu Green Hornet secara masif. Isu tersebut dapat dikupas dengan tingkat kejahatan di kota Chicago, peran aparat kepolisian, sosok Green Hornet yang misterius. Green Hornet menjadi komoditas yang diangkat dan dikemas oleh the Daily Sentinel. Sampel lainnya ialah J.Jonah Jameson yang gemar mengangkat isu bombastis terkait dengan Spider-Man. Dailly Bugle pun menghadirkan opini, peristilahan, dan menggiring opini publik. Dalam peristilahan, dapat ditelusuri dari nama Dr.Octopus. Dalam menggiring opini publik dapat ditelusuri dari Spider-Man yang terkadang dijadikan musuh publik oleh Daily Bugle.

Pers juga dapat dikangkangi oleh kekuasaan. Dalam ranah Indonesia sempat terjadi pembredelan pada sejumlah media dikarenakan content berita menyinggung pihak penguasa. Informasi adalah kekuatan. Maka di masa penjajahan Jepang radio disegel sehingga tiada dapat mendengarkan informasi dari radio luar negeri.

Pemberontakan dapat berawal dan tersulut dari informasi. Maka dalam kisah Harry Potter dan Relikui Kematian, gerakan perlawanan itu muncul dalam bentuk Pantauan Potter. Disana pesan-pesan pemberontakan, informasi saling terhubung bagi mereka-mereka yang menentang Voldemort. Untuk mendengarkan saluran radio ini juga dibutuhkan kata sandi serta harus klandestin.

media

Mengenai Pantauan Potter dipotret dalam cuplikan informasi berikut (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 578-580):

Pantauan Potter, apa aku belum bilang itu namanya? Program yang selama ini kucari-cari di radio, satu-satunya yang memberitakan hal sebenarnya yang sedang terjadi! Hampir semua program lain mengikuti jalur Kau-Tahu-Siapa, semuanya kecuali Pantauan Potter. Aku sungguh ingin kalian mendengarnya, tapi sulit mencari pemancarnya…”

“Kata sandinya biasanya ada hubungannya dengan Orde,” Ron memberitahu mereka.

“Tetapi sebelum kita mendengar dari Royal dan Romulus,” Lee melanjutkan, “kita lewatkan dulu beberapa saat untuk melaporkan kematian yang Wizarding Wireless Network News—Jaringan Berita Radio Sihir—dan Daily Prophet tidak menganggap cukup penting untuk dilaporkan.

daily prophet

Pers yang menjadi corong penguasa dapat dilihat sampelnya pada The Dailly Prophet. Bagaimana isu Voldemort yang kembali diredam melalui kanal The Daily Prophet. Pukulan pun diberikan kepada mereka yang percaya dan menarasikan Voldemort telah kembali. Dumbledore dianggap sudah terlalu tua dan kurang waras, sedangkan Harry Potter dikuliti bermasalah secara psikologis (Harry Potter dan Orde Phoenix). Opini-opini yang mendukung kementerian pun diinjeksikan. Namun Hermione memiliki akal dengan menggunakan media The Quibbler sebagai kanal penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. The Quibbler mengangkat wawancara dengan Harry Potter menjadi bahan dasar utama dari penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. Majalah The Quibbler pun memperoleh untung yang luar biasa. Suara lainnya, versi yang berbeda dari apa yang diciptakan The Daily Prophet menjadikan berita ini diburu dan didukung. Tangan kuasa tentunya kembali berusaha untuk mengikis berita ini. Seperti terlihat dari hukuman yang diberikan oleh Dolores Umbridge kepada siswa yang kedapatan membawa majalah The Quibbler.

barti 1

Terkait dengan kekuasaan, pers juga dapat “menyelamatkan kekuasaan melalui opini”. Upaya kudeta yang dilakukan oleh Simon Lovelace jelas-jelas mempermalukan pemerintahan Inggris. Bagaimana pemerintah Inggris diselamatkan oleh seorang bocah berumur 12 tahun yang bernama John Mandrake/Nathaniel. Simak perbincangan yang diujarkan oleh Bartimaeus dengan Nathaniel sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy # 1: Amulet Samarkand, hlm. 506):

“Suara orang-orang tidak bersorak.”

Ia merengut. “Maksudnya apa?”

“Maksudnya Pemerintah membungkam masalah ini. Di mana para fotografer? Di mana para wartawan surat kabar? Aku mengharapkanmu berada di halaman pertama The Times pagi ini. Mereka seharusnya menanyakan kisah hidupmu, memberimu medali di tempat publik, menempatkan wajahmu di prangko murahan edisi terbatas. Tapi mereka tak melakukan itu, bukan?”

Anak itu menyedot ingus. “Mereka harus membungkam masalah ini demi keamanan. Itu yang mereka katakan kepadaku.”

“Tidak, itu supaya mereka tak terlihat tolol. ‘Anak dua belas tahun menyelamatkan Pemerintah’? Orang-orang di jalan akan menertawakan mereka. Dan itu bukanlah hal yang diinginkan satu penyihir pun, percayalah padaku. Jika itu terjadi, akan merupakan awal dari akhir.”

Lika-liku dunia pers serta “jeroan” dari dunia pers kiranya memang telah dikisahkan dalam sejumlah kisah yang bertemakan fiksi fantasi. Boleh dibilang bagi saya yang berkecimpung di dunia jurnalistik, saya menemukan sejumlah kecocokan dari kisah di sejumlah cerita fiksi fantasi dengan kenyataan. Pers memang menunjukkan multifaset. Ia dapat mempesona dan dapat “membunuh”.

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Belajar dari Fantasi

Why so serious? Begitulah kiranya nukilan kalimat dari Joker. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Joker itu dapat tepat adanya. Saya selalu teringat dan berusaha didoktrinasi oleh berbagai pihak bahwasanya belajar adalah perkara yang serius. Maka belajar seolah menafikan unsur main-main. Tentunya sebagai manusia yang skeptis dan kritis, tesis utama tersebut layak untuk dipertanyakan. Benarkah? Validkah? Saya teringat ketika SD terjadi pemisahan yang serius dilakukan oleh ibu saya antara bermain dan belajar. Jam bermain saya dibatasi. Sementara belajar menjadi kadung kokoh dengan stempel ‘serius’ dalam pikiran saya.

Apa yang kemudian terjadi adalah ada resistensi tertentu yang saya lakukan. Misalnya saya tiada menyukai membaca buku pelajaran. Itu perkara yang serius (membaca buku pelajaran). Alhasil saya berada pada satu titik sempat tiada menyukai membaca buku pelajaran. Sampai sebuah bifurkasi menghampiri saya. Ketika itu kakak saya membelikan buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah). Belum pernah dalam hidup saya ketika itu, bagaimana saya terpesona, terpikat membaca halaman demi halaman dari buku. Semenjak buku Harry Potter dan Batu Bertuah tersebut, saya pun mulai menjadi pencinta buku. Buku pelajaran pun yang semula “berat dan serius” saya lahap. Dengan demikian karier akademik saya tercerahkan dikarenakan novel fantasi. Novel yang menurut sejumlah pihak sebagai main-main, tidak serius.

money

Sampel mengenai karya fantasi dengan pembelajaran tiada berhenti sampai di situ. Saya juga mendengarkan kisah dari seorang teman. Semenjak kecil dia adalah seorang gamer. Sebagai seorang gamer tentu banyak tantangan dalam berbagai level permainan. Dan tantangan tersebut membutuhkan pengetahuan bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris. Alhasil semenjak belia, dia telah belajar bahasa Inggris dengan semangat, ceria. Dikarenakan itu merupakan bagian dari upayanya untuk merampungkan berbagai macam game yang dia mainkan. Sekali lagi bagaimana fantasi yang dianggap main-main, tidak serius, menimbulkan efek positif bagi kehidupan.

Belajar yang mesti serius juga menemukan antidotnya. Misalnya dengan karya Adam Khoo dalam buku I Am Gifted, So Are You!. Bagaimana mind mapping dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Dan boleh dibilang mind mapping mengikutsertakan fantasi dalam metode pembelajaran. Ada visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, dan sebagainya. Dalam mind mapping juga dijelaskan untuk mengaktifkan otak kanan dan otak kiri dalam belajar.

creativity

Dalam acara Kick Andy, CEO Agate diwawancara. Agate sendiri memiliki motto Live the fun way. Arief Widhiyasa sang CEO Agate mengkomparasikan antara membuat PR dan bermain game. Mengapa kiranya membuat PR dihindari oleh sebagian besar anak didik dan mengapa lebih memilih untuk bermain. Saya pikir itu adalah hal yang klasik dan masih berlaku hingga kini. Apa pasal? Ternyata menyelesaikan game lebih menantang dibandingkan dengan membuat PR. Beranjak dari pendapat tersebut, maka metode pembelajaran juga layak dipertanyakan dan dievaluasi. Metode selama ini bisa jadi membuat anak didik antipati dan tidak menyukai pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah adalah beban. Pelajaran sekolah adalah tidak menyenangkan.

Maka adalah tugas berbagai elemen di negeri ini untuk merumuskan ulang mengenai metode pembelajaran yang tepat. Masukkanlah unsur fantasi, game dalam permainan. Unsur fantasi, permainan, tidak hanya dibutuhkan oleh anak usia TK. Sayangnya bahkan kini usia TK malah telah dibebani dengan kurikulum yang memberatkan. Alangkah menyedihkannya semenjak usia dini telah dituntut untuk bisa ini-itu. Atas nama persaingan di masa mendatang yang semakin berat. Atas nama untuk bekal anak di masa mendatang.

school b

Bahkan belakangan muncul kontroversi bahwa untuk masuk SD harus melalui ujian calistung (baca, tulis, hitung). Kiranya jika benar akan diterapkan, maka sungguh semenjak belia tuntutan belajar akan berat dan menjadi beban tersendiri.

Padahal sejatinya metode pembelajaran tiada perlu “serius-serius amat”, menegangkan, dan menimbulkan horor bagi anak didik. Menurut penelitian yang dilakukan bahwa mode otak yang paling baik untuk berada adalah ketika berada di posisi alpha. Posisi alpha ini dapat tercapai hadir dalam situasi menyenangkan dan tiada tertekan.

Beban dan kebencian terhadap kata ‘belajar’ menurut hemat saya dapat menimbulkan masalah serius bagi negeri ini. Akan ada “pemberontakan” tersendiri dari pelajar manakala pola pembelajaran tiada menyenangkan dan menggairahkan. Bayangkan beban dari ujian, ruang terbuka hijau yang kurang, tekanan sosial ekonomi, hormon yang bergejolak, masa pencarian jati diri. Satukan itu semua dalam satu wadah. Maka dapatlah terjadi erupsi emosi. Dapat terjadi letupan-letupan yang sifatnya destruktif. Kaum muda negeri dapat menjadi kaum muda yang frustasi.

school a

Saya percaya bahwa kata ‘belajar’ dapat dipadukan dengan fantasi. Ambil contoh dengan metode pembelajaran di Amerika Serikat yang memberikan siswanya untuk membaca sejumlah karya sastra yang bertemakan fantasi. Keponakan saya misalnya pada liburan musim panas yang lalu mendapatkan tugas untuk membaca novel 1984 karangan George Orwell. Metode pembelajaran lainnya ialah dengan mengakses game, permainan dalam pembelajaran. Game edukasi misalnya dapat menjadi jalan tengah. Developer game misalnya layak untuk melirik pangsa pasar membuat game seperti ini. Pemerintah juga misalnya dapat menyokong dengan memberikan bantuan ataupun mendanai game edukasi. Ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dapat aktif untuk memajukan game edukasi sebagai metode pembelajaran bagi anak usia sekolah.

Begitulah kiranya. Semoga kata ‘belajar’ di masa mendatang akan bertalian dengan kegembiraan, semangat, menyenangkan, dan gairah. Bukan lagi menjadi beban, malas, membosankan. Tentu saja untuk menuju harapan tersebut dibutuhkan usaha-usaha kekinian. Bukankah masa depan direbut hari ini?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa