Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Belajar dari Fantasi

Why so serious? Begitulah kiranya nukilan kalimat dari Joker. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Joker itu dapat tepat adanya. Saya selalu teringat dan berusaha didoktrinasi oleh berbagai pihak bahwasanya belajar adalah perkara yang serius. Maka belajar seolah menafikan unsur main-main. Tentunya sebagai manusia yang skeptis dan kritis, tesis utama tersebut layak untuk dipertanyakan. Benarkah? Validkah? Saya teringat ketika SD terjadi pemisahan yang serius dilakukan oleh ibu saya antara bermain dan belajar. Jam bermain saya dibatasi. Sementara belajar menjadi kadung kokoh dengan stempel ‘serius’ dalam pikiran saya.

Apa yang kemudian terjadi adalah ada resistensi tertentu yang saya lakukan. Misalnya saya tiada menyukai membaca buku pelajaran. Itu perkara yang serius (membaca buku pelajaran). Alhasil saya berada pada satu titik sempat tiada menyukai membaca buku pelajaran. Sampai sebuah bifurkasi menghampiri saya. Ketika itu kakak saya membelikan buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah). Belum pernah dalam hidup saya ketika itu, bagaimana saya terpesona, terpikat membaca halaman demi halaman dari buku. Semenjak buku Harry Potter dan Batu Bertuah tersebut, saya pun mulai menjadi pencinta buku. Buku pelajaran pun yang semula “berat dan serius” saya lahap. Dengan demikian karier akademik saya tercerahkan dikarenakan novel fantasi. Novel yang menurut sejumlah pihak sebagai main-main, tidak serius.

money

Sampel mengenai karya fantasi dengan pembelajaran tiada berhenti sampai di situ. Saya juga mendengarkan kisah dari seorang teman. Semenjak kecil dia adalah seorang gamer. Sebagai seorang gamer tentu banyak tantangan dalam berbagai level permainan. Dan tantangan tersebut membutuhkan pengetahuan bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris. Alhasil semenjak belia, dia telah belajar bahasa Inggris dengan semangat, ceria. Dikarenakan itu merupakan bagian dari upayanya untuk merampungkan berbagai macam game yang dia mainkan. Sekali lagi bagaimana fantasi yang dianggap main-main, tidak serius, menimbulkan efek positif bagi kehidupan.

Belajar yang mesti serius juga menemukan antidotnya. Misalnya dengan karya Adam Khoo dalam buku I Am Gifted, So Are You!. Bagaimana mind mapping dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Dan boleh dibilang mind mapping mengikutsertakan fantasi dalam metode pembelajaran. Ada visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, dan sebagainya. Dalam mind mapping juga dijelaskan untuk mengaktifkan otak kanan dan otak kiri dalam belajar.

creativity

Dalam acara Kick Andy, CEO Agate diwawancara. Agate sendiri memiliki motto Live the fun way. Arief Widhiyasa sang CEO Agate mengkomparasikan antara membuat PR dan bermain game. Mengapa kiranya membuat PR dihindari oleh sebagian besar anak didik dan mengapa lebih memilih untuk bermain. Saya pikir itu adalah hal yang klasik dan masih berlaku hingga kini. Apa pasal? Ternyata menyelesaikan game lebih menantang dibandingkan dengan membuat PR. Beranjak dari pendapat tersebut, maka metode pembelajaran juga layak dipertanyakan dan dievaluasi. Metode selama ini bisa jadi membuat anak didik antipati dan tidak menyukai pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah adalah beban. Pelajaran sekolah adalah tidak menyenangkan.

Maka adalah tugas berbagai elemen di negeri ini untuk merumuskan ulang mengenai metode pembelajaran yang tepat. Masukkanlah unsur fantasi, game dalam permainan. Unsur fantasi, permainan, tidak hanya dibutuhkan oleh anak usia TK. Sayangnya bahkan kini usia TK malah telah dibebani dengan kurikulum yang memberatkan. Alangkah menyedihkannya semenjak usia dini telah dituntut untuk bisa ini-itu. Atas nama persaingan di masa mendatang yang semakin berat. Atas nama untuk bekal anak di masa mendatang.

school b

Bahkan belakangan muncul kontroversi bahwa untuk masuk SD harus melalui ujian calistung (baca, tulis, hitung). Kiranya jika benar akan diterapkan, maka sungguh semenjak belia tuntutan belajar akan berat dan menjadi beban tersendiri.

Padahal sejatinya metode pembelajaran tiada perlu “serius-serius amat”, menegangkan, dan menimbulkan horor bagi anak didik. Menurut penelitian yang dilakukan bahwa mode otak yang paling baik untuk berada adalah ketika berada di posisi alpha. Posisi alpha ini dapat tercapai hadir dalam situasi menyenangkan dan tiada tertekan.

Beban dan kebencian terhadap kata ‘belajar’ menurut hemat saya dapat menimbulkan masalah serius bagi negeri ini. Akan ada “pemberontakan” tersendiri dari pelajar manakala pola pembelajaran tiada menyenangkan dan menggairahkan. Bayangkan beban dari ujian, ruang terbuka hijau yang kurang, tekanan sosial ekonomi, hormon yang bergejolak, masa pencarian jati diri. Satukan itu semua dalam satu wadah. Maka dapatlah terjadi erupsi emosi. Dapat terjadi letupan-letupan yang sifatnya destruktif. Kaum muda negeri dapat menjadi kaum muda yang frustasi.

school a

Saya percaya bahwa kata ‘belajar’ dapat dipadukan dengan fantasi. Ambil contoh dengan metode pembelajaran di Amerika Serikat yang memberikan siswanya untuk membaca sejumlah karya sastra yang bertemakan fantasi. Keponakan saya misalnya pada liburan musim panas yang lalu mendapatkan tugas untuk membaca novel 1984 karangan George Orwell. Metode pembelajaran lainnya ialah dengan mengakses game, permainan dalam pembelajaran. Game edukasi misalnya dapat menjadi jalan tengah. Developer game misalnya layak untuk melirik pangsa pasar membuat game seperti ini. Pemerintah juga misalnya dapat menyokong dengan memberikan bantuan ataupun mendanai game edukasi. Ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dapat aktif untuk memajukan game edukasi sebagai metode pembelajaran bagi anak usia sekolah.

Begitulah kiranya. Semoga kata ‘belajar’ di masa mendatang akan bertalian dengan kegembiraan, semangat, menyenangkan, dan gairah. Bukan lagi menjadi beban, malas, membosankan. Tentu saja untuk menuju harapan tersebut dibutuhkan usaha-usaha kekinian. Bukankah masa depan direbut hari ini?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s