Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sosial Budaya

Pers

Jagat pers di Indonesia mengalami dilema tersendiri di era reformasi. Para pemodal alias pengusaha menimbulkan fenomena tersendiri dalam kehidupan pers. Value dari berita ditengarai sebagai corong dari para pemodal yang juga pemilik dari media. Maka sejumlah stasiun tv swasta dimana pemiliknya juga politisi menjadi bias. Pun begitu dengan koran ataupun majalah yang menjadi perpanjangan lidah, vehicle opini dari para pemodal/pemilik media.

Penunggangan isu dalam berita ternyata menemukan relevansinya dalam film The Green Hornet. Dikisahkan Britt Reid merupakan pemilik dari koran the Daily Sentinel. Britt Reid yang juga merupakan Green Hornet menjadikan the Daily Sentinel sebagai perpanjangan pesan, opini yang diinginkannya. Meja redaksi pun dikooptasi demi kepentingannya. Ketika Green Hornet beraksi di masa-masa awal, patung milik keluarganya yang kehilangan kepala dikreasi, digodok menjadi sebuah isu publik. Dapur redaksi dengan intens mengulas siapa gerangan Green Hornet plus sepak terjangnya. Lupakan soal 10 kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value). Ada setidaknya sepuluh kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value): kehangatan, pertama kali, magnitude, tokoh atau nama besar, tren baru, dramatis, unik, prestisius, angle berita, dan misi (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo, hlm.VII).

creativity b

Bagaimana kiranya media dapat mengkreasi berita? Jika menilik check and balances dalam kehidupan sosial politik, maka pers ditabalkan sebagai pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, yudikatif. Lord Acton pernah bertutur bahwa power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Godaan untuk korup juga dapat terjadi pada ranah pers. Pers dapat menjadi sekadar unit ekonomi yang menjual dan mencari makan dari menjual berita.

Pada 1988 Noam Chomsky dan Edward Herman menerbitkan buku tebal berjudul Manufacturing Consent. Chomsky sudah mengingatkan bahwa media massa pada dasarnya menyuarakan kepentingan korporasi besar atau para pemilik modal, sehingga isi pokok media massa di Amerika sejatinya adalah propaganda untuk melindungi kepentingan korporasi. Chomsky menggunakan istilah “propaganda” tentu bukan tanpa alasan kuat (Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!, hlm. 116).

the amazing spiderman

Pers sendiri dapat menghadirkan dan memunculkan isu. Sampelnya adalah seperti Britt Reid yang memunculkan isu Green Hornet secara masif. Isu tersebut dapat dikupas dengan tingkat kejahatan di kota Chicago, peran aparat kepolisian, sosok Green Hornet yang misterius. Green Hornet menjadi komoditas yang diangkat dan dikemas oleh the Daily Sentinel. Sampel lainnya ialah J.Jonah Jameson yang gemar mengangkat isu bombastis terkait dengan Spider-Man. Dailly Bugle pun menghadirkan opini, peristilahan, dan menggiring opini publik. Dalam peristilahan, dapat ditelusuri dari nama Dr.Octopus. Dalam menggiring opini publik dapat ditelusuri dari Spider-Man yang terkadang dijadikan musuh publik oleh Daily Bugle.

Pers juga dapat dikangkangi oleh kekuasaan. Dalam ranah Indonesia sempat terjadi pembredelan pada sejumlah media dikarenakan content berita menyinggung pihak penguasa. Informasi adalah kekuatan. Maka di masa penjajahan Jepang radio disegel sehingga tiada dapat mendengarkan informasi dari radio luar negeri.

Pemberontakan dapat berawal dan tersulut dari informasi. Maka dalam kisah Harry Potter dan Relikui Kematian, gerakan perlawanan itu muncul dalam bentuk Pantauan Potter. Disana pesan-pesan pemberontakan, informasi saling terhubung bagi mereka-mereka yang menentang Voldemort. Untuk mendengarkan saluran radio ini juga dibutuhkan kata sandi serta harus klandestin.

media

Mengenai Pantauan Potter dipotret dalam cuplikan informasi berikut (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 578-580):

Pantauan Potter, apa aku belum bilang itu namanya? Program yang selama ini kucari-cari di radio, satu-satunya yang memberitakan hal sebenarnya yang sedang terjadi! Hampir semua program lain mengikuti jalur Kau-Tahu-Siapa, semuanya kecuali Pantauan Potter. Aku sungguh ingin kalian mendengarnya, tapi sulit mencari pemancarnya…”

“Kata sandinya biasanya ada hubungannya dengan Orde,” Ron memberitahu mereka.

“Tetapi sebelum kita mendengar dari Royal dan Romulus,” Lee melanjutkan, “kita lewatkan dulu beberapa saat untuk melaporkan kematian yang Wizarding Wireless Network News—Jaringan Berita Radio Sihir—dan Daily Prophet tidak menganggap cukup penting untuk dilaporkan.

daily prophet

Pers yang menjadi corong penguasa dapat dilihat sampelnya pada The Dailly Prophet. Bagaimana isu Voldemort yang kembali diredam melalui kanal The Daily Prophet. Pukulan pun diberikan kepada mereka yang percaya dan menarasikan Voldemort telah kembali. Dumbledore dianggap sudah terlalu tua dan kurang waras, sedangkan Harry Potter dikuliti bermasalah secara psikologis (Harry Potter dan Orde Phoenix). Opini-opini yang mendukung kementerian pun diinjeksikan. Namun Hermione memiliki akal dengan menggunakan media The Quibbler sebagai kanal penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. The Quibbler mengangkat wawancara dengan Harry Potter menjadi bahan dasar utama dari penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. Majalah The Quibbler pun memperoleh untung yang luar biasa. Suara lainnya, versi yang berbeda dari apa yang diciptakan The Daily Prophet menjadikan berita ini diburu dan didukung. Tangan kuasa tentunya kembali berusaha untuk mengikis berita ini. Seperti terlihat dari hukuman yang diberikan oleh Dolores Umbridge kepada siswa yang kedapatan membawa majalah The Quibbler.

barti 1

Terkait dengan kekuasaan, pers juga dapat “menyelamatkan kekuasaan melalui opini”. Upaya kudeta yang dilakukan oleh Simon Lovelace jelas-jelas mempermalukan pemerintahan Inggris. Bagaimana pemerintah Inggris diselamatkan oleh seorang bocah berumur 12 tahun yang bernama John Mandrake/Nathaniel. Simak perbincangan yang diujarkan oleh Bartimaeus dengan Nathaniel sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy # 1: Amulet Samarkand, hlm. 506):

“Suara orang-orang tidak bersorak.”

Ia merengut. “Maksudnya apa?”

“Maksudnya Pemerintah membungkam masalah ini. Di mana para fotografer? Di mana para wartawan surat kabar? Aku mengharapkanmu berada di halaman pertama The Times pagi ini. Mereka seharusnya menanyakan kisah hidupmu, memberimu medali di tempat publik, menempatkan wajahmu di prangko murahan edisi terbatas. Tapi mereka tak melakukan itu, bukan?”

Anak itu menyedot ingus. “Mereka harus membungkam masalah ini demi keamanan. Itu yang mereka katakan kepadaku.”

“Tidak, itu supaya mereka tak terlihat tolol. ‘Anak dua belas tahun menyelamatkan Pemerintah’? Orang-orang di jalan akan menertawakan mereka. Dan itu bukanlah hal yang diinginkan satu penyihir pun, percayalah padaku. Jika itu terjadi, akan merupakan awal dari akhir.”

Lika-liku dunia pers serta “jeroan” dari dunia pers kiranya memang telah dikisahkan dalam sejumlah kisah yang bertemakan fiksi fantasi. Boleh dibilang bagi saya yang berkecimpung di dunia jurnalistik, saya menemukan sejumlah kecocokan dari kisah di sejumlah cerita fiksi fantasi dengan kenyataan. Pers memang menunjukkan multifaset. Ia dapat mempesona dan dapat “membunuh”.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s