Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Antagonis-Protagonis

Film Constantine membuka tirai penutupnya dengan menjadikan Gabriel sang malaikat sebagai tokoh antagonis. Bagaimana Gabriel menjadi perencana dan pelaksana bagi upaya dari anak Lucifer untuk menguasai bumi. Tuhan pun menghukum Gabriel dan menjadikannya sebagai manusia. Sebuah pukulan menghantam wajah dari John Constantine menjadi “ucapan” selamat menjadi manusia wahai Gabriel.

Film Angel & Demons yang digubah dari novel karangan Dan Brown juga menyingkap bagaimana pendeta Camerlengo Patrick Mckenna sebagai tokoh antagonis. Camerlengo Patrick Mckenna menunjukkan sisi angel and demons dalam dirinya.

Novel The Name of the Rose juga memaparkan sang antagonis adalah si buta pendeta Jorge Burgos. Jorge Burgos memiliki basis alasan bahwa tawa adalah bid’ah paling bejat dan bahwa buku para filsuf (karya Aristoteles yakni Poetics yang mengulas kedudukan penting komedi dan menyatakan tawa adalah satu-satunya tempat pengungsian dari doktrin kebenaran universal). Buku tersebut dianggap akan menjungkir-balikkan pemahaman manusia akan semesta seisinya dan akan terus membentangkan tafsir terbuka terhadap apa saja yang sanggup dijangkau akal (http://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/taman-umberto-eco/).

shinzanmono

Serangkaian sampel di atas menunjukkan bahwa siapapun dapat tergelincir dalam peran antagonis. Manusia selama hidupnya adalah sebuah koma. Hingga dirinya mati, barulah akan menemui titik. Itu pun tetap menarik adanya, dikarenakan berbagai bedah sejarah dapat mengungkap sejumlah fakta yang belum terkuak dari diri seorang tokoh sepanjang hidupnya. Tengoklah bagaimana Soekarno, Hitler yang masih menarik untuk dikaji secara sejarah dari berbagai sisi, meski mereka telah meninggal dunia semenjak lama. Definisi, penempatan sejumlah tokoh dalam sejarah memerlukan kehati-hatian dalam membedah hikayat masa lampau.

Saya pun teringat dengan kisah Shinzanmono. Bagaimana mula-mula penonton akan dihadapkan pada sejumlah fakta tindakan. Lalu di akhir episode barulah diungkap alasan dari tokoh-tokoh tersebut melakukan tindakan tertentu. Perspektif kita dibawa untuk lebih bijak dalam melihat dan menilai.

Dan perspektif inilah kiranya yang dapat menjadi distingsi. Terkadang mungkin kita terlalu gegabah untuk memvonis seseorang adalah antagonis. Mungkin kita perlu lebih sabar, bijak, untuk melihat dari perspektif orang tersebut. Siapa antagonis, siapa protagonis dalam hidup memerlukan kecermatan dan ketelatenan dalam menyusun sejumlah fakta empirik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s